
Choky menurut mereka untuk masuk kedalam mobil van itu. Setelah sampai di samping pintu, dengan sigap Choky membalikkan badannya dan langsung menendang kaki salah satu pengawal dibelakangnya. Yang lain berusaha untuk melumpuhkan Choky dengan menendang kaki Choky. Tapi Choky bisa dengan tangkas menghindarinya. Namun seseorang memukul tengkuknya hingga dia pingsan.
"Choky! Choky!"
Salah satu diantara orang-orang itu mendengarkan teriakan dari dalam mobil. Dia mulai mendekati mobil itu. Mencoba untuk membuka pintunya. Tapi karna mobil terkunci dengan remote, jadi alarm mobil berbunyi membuat bising dan perhatian banyak orang.
Tiga mobil sedan warna hitam langsung menuju suara alarm mobil itu yang sangat terlihat jika itu adalah mobil milik Choky. Semua anak buah Wildan turun dari mobil adu tonjok pada mereka semua. Dengan sigap Wildan mengangkat Choky dan membawanya masuk kedalam mobil.
"Bawa Tuan Choky pergi dari sini. Cepat!!" Perintahnya pada ke 4 anak buahnya yang ada didalam mobil.
"Baik Pak."
Wildan langsung menutup pintu mobil dan mobil itu langsung membawa Choky pergi dari TKP.
Wildan mendengar sebuah teriakan dari dalam mobil Choky.
"Nona, apa anda didalam?" Ucapnya sambil mengetuk pintu mobil.
"Iya aku didalam. Tolong aku!" Teriak Nova yang terdengar samar karna mobil benar-benar tertutup rapat.
"Dimana kuncinya Nona?" Tanya Wildan lagi.
"Nggak tau."
Apa mungkin dibawa tuan Choky ya. Ah bisa jadi. Pikirnya.
Dia langsung merogoh saku celananya mengambil ponsel dan menelfon salah satu anak buahnya yang bersama Choky.
"Periksa celana Tuan Choky. Apa ada kunci mobil miliknya." Menunggu beberapa menit. "Bawa kesini. Nona Nova terkunci didalam mobil."
Penumpang dua mobil van itu menyerah karna kalah jumlah. Mereka langsung berlari masuk kedalam mobil dan melaju menjauh dari tempat.
"Maaf Pak kami tidak menangkap salah satu dari mereka." Ucap salah satu anak buah Wildan.
"Sudah tak apa. Aku sudah tau siapa mereka."
----------------------
Terlihat Choky masih berbaring di ugd rumah sakit terdekat. Ketiga anak buah Wildan menunggu Tuannya di luar pintu ugd. Tak lama kemudian Wildan datang bersama Nova dan dua anak buahnya. Ketiga anak buah Wildan yang sedari tadi menjaga Choky membungkuk saat Wildan dan Nova sudah di depannya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Nova pada mereka bertiga.
"Tuan tidak apa-apa Nona. Tapi dia belum sadar. Dia pingsan karna terkena pukulan yang sangat keras." Jelas salah satu pengawal.
"Biarkan aku masuk kedalam." Tanpa menunggu persetujuan semuanya, Nova langsung masuk kedalam.
Mengambil sebuah kursi yang ada di belakang pintu dan menempatkannya disamping brankar Choky. Dia duduk disana. Dia raih tangan Choky.
"Sayang bangunlah. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini." Ucap Nova, dia mengecup punggung tangan Choky dengan sangat lembut. Nova menangis sesenggukan melihat keadaan Choky. "Sayang aku mencintaimu." Bisiknya lirih.
Tak begitu lama, terasa jari-jari Choky mulai bergerak pelan. Nova yang merasakan itu, langsung berdiri dan menatap wajah Choky.
"Sayang." Ucap Nova lirih.
Mendengar suara Nova, dia berusaha untuk membuka matanya. Walau terasa sangat berat, tapi dia harus memastikan bahwa istrinya dalam keadaan baik-baik saja. Matanya mulai terbuka, dia bisa melihat Nova disampingnya.
"Apa kamu baik-baik saja Pan?" Tanyanya pada Nova.
"Aku sangat baik. Jangan khawatirkan aku Chok. Kamu lebih membuatku khawatir."
Choky tersenyum. "Aku tidak apa-apa."
"Aku panggilkan Dokter dulu ya." Nova berdiri dan berjalan menuju para penjaga yang masih ada didepan pintu.
Tak begitu lama, Dokter datang bersama dua orang suster. Mereka memeriksa tubuh Choky.
"Apa saya bisa langsung pulang Dok?" Tanya Choky setelah Dokter itu selesai memeriksa.
"Sudah Pak. Anda tidak perlu rawat inap. Perbanyak istirahat ya, agar lekas sembuh." Ucap Dokter lelaki itu.
"Baik Dok."
Seperginya Dokter itu, Wildan dan Nova masuk kedalam ruangan.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu sudah boleh pulang?" Tanya Nova.
"Tentu. Aku sudah bilang, aku baik-baik saja." Jawab Choky sambil tersenyum. "Panda, tunggulah dimobilku dan tolong belikan aku air putih. Aku ingin berbicara sebentar dengan Wildan."
"Baiklah. Aku tinggal sekarang." Nova langsung keluar dari ruangan.
Setelah dirasa Nova sudah pergi, Wildan langsung mendekati Choky.
"Siapa mereka?"
"Suruhan Pak Subroto Tuan. Beliau tidak terima karna anda sudah mengambil perusahaan miliknya."
Choky tersenyum menyeringai. "Berani sekali dia!" Tangan kanan Choky mengepal.
"Mulai sekarang saya akan memperketat penjagaan Tuan dan Nona."
-------------------
Beberapa hari berlalu, semua normal baik-baik saja tidak ada yang aneh. Kemana-mana Nova di antar supir pribadinya Choky.
"Nov kenapa lo sekarang bawa bodyguard? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Ardi saat mereka sedang makan siang bersama Jessy.
"Tiga minggu yang lalu gw dan Choky di begal orang. Jadi dia takut gw kenapa-napa. Makanya sekarang supirnya dia jagain gw."
"Di begal?" Tanya Ardi memperjelas.
Nova hanya mengangguk, dia fokus pada makanannya.
"Kok gw ngerasa tu kata-katanya nggak nyaman banget ya."
"Tau ah. Jess, lo ngrasa aneh nggak sih sama makanannya?"
"Emang kenapa? Enak kok. Kaya' biasanya." Jawab Jessy sambil memperlambat mengunyah makanannya.
"Kok gw jadi nggak selera makan ya. Makanannya rasanya aneh. Nggak enak." Nova menjauhkan sepiring makanan dari hadapannya.
Setelah selesai makan siang, mereka kembali ke kantor. Ardi sudah pergi dari tadi karna ada pertemuan penting. Tiba-tiba Nova terdiam sambil memegangi kepalanya. Sedikit memijit bagian betisnya.
"Nggak tau ini. Kok tiba-tiba kepala gw agak pusing."
"Tadi udah makan belom?"
"Udah kok."
"Mau gw pijit?"
"Nggak usah Lih."
"Nggak papa. Gw mau kok."
"Udah ah, lanjut kerja aja."
"Tapi...."
"Nov kamu kenapa kok wajahmu pucet banget?" Bu Dewi tiba-tiba berdiri dibelakang komputer Nova.
"Nggak papa Buk. Hanya sedikit lemes aja."
"Kamu hamil?"
"Hah?"
"Cuma nebak. Siapa tau memang hamil. Telat haid apa nggak? Di coba di tes sendiri pakai tespack." Lalu Bu Dewi pergi menuju ruangannya.
Apa iya aku hamil ya? Emang telat sih, tapi kan baru 3 hari telatnya. Batin Nova.
Sepulang kerja, Nova mengajak Pak Budi untuk mampir ke apotek membeli tespack seperti saran Bu Dewi. Baru saja keluar dari dalam mobil, ponselnya berdering. Telfon dari Choky.
"Hallo." Sapanya.
"Aku nanti pulang agak malam. Kamu kalau udah lapar, langsung makan aja. Tidurnya jangan kemalaman. Nggak usah nungguin aku."
"Memang kenapa kok pulang malam?"
__ADS_1
"Investor terbesarku yang dari Bangkok datang nanti malam. Aku akan menunggunya di kantor."
"Ok sayang. Kamu hati-hati ya."
--------------
Choky pulang kerja pukul 11 malam. Nova sudah tidur sedari tadi. Karna tubuhnya terasa sangat lelah. Choky langsung membersihkan diri dan menusul Nova tidur. Dia memeluk tubuh Nova dari belakang. Nova yang merasa disentuh, langsung membuka matanya.
"Sayang, kamu sudah pulang?"
Choky mencium kening Nova dengan lembut. "Sudah dari tadi. Maaf ya, aku pulang terlalu malam."
"Tidak apa-apa. Ayo kita tidur. Aku sangat ngantuk."
"Sayang, aku besok harus berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Investorku mengajakku untuk meninjau sebuah proyek yang baru."
"Iya Sayang. Bangunkan aku ya. Aku akan menyiapkan kebutuhanmu."
Choky langsung memeluk tubuh Nova dan merekapun tertidur.
Pukul 4 pagi, ponsel Choky sudah berdering lebih dari 10 kali. Choky meraba-raba meja sampingnya tanpa membuka matanya. Karna masih sangat ngantuk.
"Iya hallo." Sapanya dengan suara khas bangun tidur.
"Tuan, 30 menit lagi Pak Frans akan tiba di hotel Rose. Apa Tuan sudah siap? Saya sudah di ruang tamu menunggu anda."
"Baiklah gw mandi dulu."
Choky langsung menutup telfonnya. Mengumpulkan nyawanya lebih dulu. Memandang Nova yang masih terlelap. Dia tidak tega untuk membangunkannya. Dia hanya mengecup keningnya lalu beranjak untuk mandi. Setelah semua siap, dia langsung pergi meninggalkan rumah.
Pukul 7 pagi Nova baru bangun. Dia sudah tak melihat Choky ada disampingnya.
Ah iya dia pasti sudah berangkat kerja. Dia tidak membangunkanku. Batinnya.
Dia beranjak bangun untuk mandi. Tapi dia ingat sesuatu. Segera dia ambil barang itu dari dalam tasnya. Dengan perasaan yang tak karuan. Dia menaruh urine nya kedalam wadah kecil dan memasukkan tespack itu kedalamnya. Menunggu satu menit, dua menit.... Terlalu takut untuk melihat hasilnya. Dia ambil perlahan barang tipis itu. Ada dua garis merah disana. Betapa terkejutnya.
Aku hamil? Ini nyata. Aku sungguh hamil. Choky pasti sangat bahagia melihat ini. Aku akan memberinya kejutan saat dia pulang dari kerja nanti. Ah jangan. Aku sekarang akan berangkat ke kantor Choky. Aku akan memberi ini padanya. Batinnya sangat bahagia.
Segera dia membersihkan diri. Bersiap-siap untuk kerja. Keluar dari dalam kamarnya. Dia terlalu bahagia hingga terlalu keras saat menutup pintu. Tanpa dia sadari, barang tipis itu jatuh dari tasnya. Dia berjalan menuju meja makan. Sudah ada Reno dan Vera disana.
"Hey Kak, kok nggak bareng sama Kak Choky?" Tanya Vera.
"Dia sudah berangkat kerja dari jam 5 tadi Ver." Nova mulai memasukkan makanannya kedalam mulut. Dia berhenti mengunyah. Lalu dia keluarkan lagi makanannya.
"Kenapa Kak?" Tanya Vera yang melihat Nova aneh.
"Kok makanannya rasanya aneh banget sih."
"Masa' sih? Perasaan sama seperti biasanya deh Kak."
"Aku minum susu nya aja deh." Nova langsung meminum susu. " Kakak berangkat dulu ya Ver." Dia langsung pergi tanpa bertegur sapa dengan Reno. Ya memang begitu biasanya.
Reno menyudahi makanannya dan menuju kamar untuk mengambil tas kerjanya. Dia melihat barang tipis milik Nova yang terjatuh di depan kamar Nova. Dia ambil barang itu.
Sebuah tanda yang mengabarkan jika yang memilikinya sedang berbadan dua. Membuat kepala Reno terasa panas seketika. Buru-buru Reno menyimpan barang tipis itu dan segera mengambil tasnya. Dia bergegas keluar rumah menyusul mobil yang membawa Nova.
"Pak kita berhenti di toko roti depan itu ya." Ucap Nova pada Pak Budi.
"Baik Nona."
"Seperti permintaan Nova. Pak Budi menghentikan mobilnya didepan toko roti. Pak Budi hendak membuka pintu mobilnya.
"Nggak usah Pak. Saya sendiri aja. Bapak tunggu didalam saja." Tolak Nova.
"Baik Nona."
Di ujung jalan, mulai terlihat mobil Reno yang memang sengaja membuntuti Nova. Reno menjalankan mobilnya pelan mendekati mobil Nova.
Baru saja Nova membuka pintu mobil, tangannya sudah ditarik oleh dua orang lelaki bertubuh kekar yang menggunakan pakaian serba hitam.
"Pak Budi!!!!....eemmmm...emmmm" Mulut Nova dibekap menggunakan sebuah sapu tangan. Perlahan Nova lemas tak sadarkan diri.
Pak Budi keluar dari mobil hendak menolong Nova. Tapi dia sudah dihadang oleh 5 orang lelaki yang lainnya. Pak Budi tak bisa berbuat apa-apa. Dia digebukin, ditonjok hingga tak sadarkan diri.
__ADS_1