
Setelah menggunakan seluruh tenaganya untuk memuaskan suaminya, Nova kembali tertidur dengan masih telanjang sempurna. Dia sungguh sangat kelelahan.
Jujur Choky merasa sangat puas. Lebih puas dari semalam. Tadi Nova benar-benar sangat agresif, dia sampai membuat Choky kewalahan. Tapi disisi lain, dia merasa sangat khawatir.
Apa hanya demi melihat Reno dia sampai menghabiskan seluruh tenaganya begini? Itulah yang sekarang berlarian dikepala Choky. Saat ini ada rasa takut yang teramat sangat. Mengingat akan semua hal yang sudah Reno lakukan untuk nyawa Nova. Dan barusan yang Nova lakukan pada dirinya hanya demi mengunjungi Reno.
Dia pandangi wajah putih Nova yang masih ada sisa-sisa keringat menetes. Bibirnya yang merah muda, sungguh sangat cantik. Aku takut kehilanganmu sayang. Aku teramat sangat takut. Aku sangat mencintaimu. Bisiknya dalam hati.
Dia kecup kening istrinya yang tengah tertidur itu, lalu kedua matanya dengan bergantian, kedua pipinya, dia gesek-gesekkan hidungnya pada hidung Nova dan kemudian dia kecup bibir Nova dengan lembut. Dia pun beranjak ke kamar mandi. Segera dia membersihkan diri.
Pukul 1.30 pm
Nova sudah dandan rapi dengan celana jeans panjang dan sweaternya. Rambutnya sudah di ikat diatas dengan acak. Lalu dia dekati suaminya yang sedang sibuk memainkan ponsel diranjangnya.
"Sayang," Dia mulai bergelayut ditangan Choky. "Bagaimana permainanku tadi? Apa kau puas?" Tanyanya penuh harap.
Choky menghembuskan nafas kasarnya. Dia berusaha untuk percaya pada istrinya. "Kau sangat memuaskan. Apa ini semua kamu lakukan untuk bisa bertemu dengan mantan pacarmu itu?" Penuh cemburu.
Wajah Nova berubah pias. Dia lepaskan lingkaran tangannya. Sebenarnya memang iya sih. Tapi bagaimana lagi, karna syarat dari Choky seperti itu. Bingung mau jawabnya gimana sekarang.
"Hanya demi bertemu dengannya, kamu sungguh rela menghabiskan seluruh tenagamu untuk memuaskanku." Choky mulai beranjak dari ranjang, memakai jam tangannya. "Bersiaplah, aku pasti akan mengantarkanmu. Aku tidak akan mengingkari janjiku. Tapi ingatlah, kamu istriku. Jangan melampaui batasmu." Kata-katanya penuh penekan. Hati Novapun sedikit gusar. Tapi dia tetap berusaha tenang.
Nova berusaha mengatur nafasnya. Masih bingung harus bersikap bagaimana pada Choky. Diapun mengemasi barang-barangnya dan mengendong ranselnya. Mengikuti langkah Choky keluar kamarnya.
Saat di ruang tamu, dia mendapati keluarganya berkumpul disana. Termasuk Vera.
"Lho Nov kok bawa ransel?" Tanya Ayah.
"Nova pamit Yah. Kita harus balik sekarang karna ada urusan." Jawab Nova, dia pun mendekati Ayahnya dan memeluknya. "Besok Nova kesini lagi Yah."
"Emangnya urusan apa nak?" Tanya Ibuk.
"Urusan kerjaan Buk." Jawab Choky. "Saya ada urusan kerjaan dan Nova mau membesuk temannya yang sedang sekarat."
Nova membulatkan matanya. Nggak nyangka Choky akan mengatakan hal itu. Padahal udah jelas Wildan bilang jika Reno sudah sadar. Dasar menyebalkan!!!
Choky terlihat sangat cuek. Bahkan dia mencibirkan bibir atasnya saat melihat expresi Nova yang sangat terkejut mendengar kata-katanya.
__ADS_1
"Kak tapi Vera nggak bisa ikut pulang sekarang. Besok Vera harus kembali kerumah Mbah Gun lagi."
"Kamu tadi jadi kesana?" Tanya Nova antusias.
"Jadi Nov. Mbah Gun akan memulainya besok. Dan mulai memijit kaki Vera setiap pagi. Jadi biarkan dia menginap disini."
"Tapi dia akan sangat merepotkan Buk." Sahut Choky. Kata-katanya selalu membuat Vera menjadi cemberut.
"Tidak Nak, Vera adalah adikmu. Dia juga adalah bagian dari keluarga kami. Kami akan sangat senang membantunya." Sahut ibuk.
"Iya Kak, kami juga akan sangat senang. Karna ada kak Vera yang bisa membantu tugas sekolah kami saat kami tidak tau jawaban soalnya." Fani menimpali. Diikuti anggukan dari Lina juga.
Nova mendekati Vera. "Kakak akan selalu doain kamu Ver. Semoga kamu cepat sembuh. Kamu harus optimis dan semangat ya. Kamu pasti bisa sembuh."
Vera memeluk Nova. "Makasih Kak Nova. Vera janji Kak. Vera nggak akan ngecewain Kakak dan keluarga kakak."
"Yaudah ya, Kakak pulang dulu."
Selesai berpamitan, Nova dan Choky langsung masuk kedalam mobil. Tanpa basa-basi, Pak Budi langsung melajukan mobilnya. Choky menyuruh Arif untuk tetap tinggal menjaga Vera. Dan melaporkan segala yang terjadi jika itu perlu.
"Tuan, apa kita langsung pulang?"
"Iya."
"Tidak."
Jawaban yang dilontarkan secara bersamaan. Membuat Pak Budi jadi bingung. Sedangkan yang dibelakang saling melototi.
Nova, jika saja kamu tidak sedang hamil, aku sudah benar-benar mengurungmu. Kau akan kuborgol agar tak bertemu pria manapun. Tapi untuk sekarang, aku tak ingin membiarkan anakku jadi korbannya. Aku harus sedikit bersabar. Gemuruh Choky dalam hati.
Melihat Nova yang mulai terlihat masam, muka merah karna marahnya. Ada sedikit ketakutan. Choky takut terjadi sesuatu pada buah hatinya.
"Kita kerumah sakit dulu Pak." Lanjut Choky.
"Baik Tuan."
Mendengar perintah Choky, Nova langsung mengalihkan pandangannya. Wajahnya pun agak sedikit santai.
__ADS_1
Satu jam lebih mereka menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah sampai didepan Rumah sakit. Nova dan Choky keluar dari dalam mobil. Sedangkan Pak Budi membawa mobilnya untuk parkir.
Choky langsung menggandeng tangan Nova. Mereka berhenti di depan tempat pendaftaran.
"Mbak, masih ada masker?" Tanya Choky pada si penjaga.
Terlihat Mbaknya tersenyum genit. "Ada mas." Lalu dia mengambilkan dua masker penutup wajah. Tapi Choky hanya mengambil satu masker saja.
"Satu aja." Tanpa bilang makasih atau apapun, dia langsung berbalik menghadap Nova. Dia pakaikan masker itu pada wajah Nova.
Heran ya Choky, ketemu Reno aja harus pake masker gini. Segitunya banget dia. Batin Nova.
Tapi dia hanya diam menurut saja. Tingkah Choky sangat membuat para perawat dan pengunjung memperhatikan mereka berdua. Tapi yang namanya Choky, dia sama sekali tak mempedulikannya.
Kembali dia menggandeng Nova menuju ruangan Choky. Menaiki lif, kemudian berjalan menyusuri lorong dan sedikit berbelok. Terlihat ada dua lelaki bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam yang berdiri disamping pintu ruangan. Mereka berdua membungkukkan badan saat melihat Choky dan Nova berada disana.
"Apa dokter sudah memeriksanya?" Tanya Choky pada mereka.
"Sudah Tuan."
"Apa katanya?"
"Tuan Reno sudah lebih baik. Tapi kakinya masih belum bisa untuk bergerak." Tutur salah satu orang itu.
Nova terlihat sedikit lega mendengar penuturan orang itu. Dia menatap Choky lekat. Yang mengisyaratkan, 'apa aku boleh melihatnya?'
Choky yang sudah mengetahui itu, dia menarik tangan Nova yang sedari tadi digenggamnya untuk masuk kedalam. Dia buka pintu ruangan itu, kemudian masuk bersama istrinya.
Reno sedang berusaha memasukkan sesendok makanannya dengan tangannya yang hampir seluruhnya diperban. Nova yang mengetahui itu, dengan reflek langsung berlari menghampiri Reno hingga genggaman tangan Choky terlepas.
"Sini biar aku bantu." Dengan cekatan Nova langsung meraih mangkok bubur yang ada dipangkuan Reno. "Bagaimana bisa suster membiarkanmu makan sendiri dengan keadaan tanganmu yang belum membaik begini? Sungguh keterlaluan." Gerutu Nova yang tidak terima. Dia mulai menyuapi Reno.
Choky mengepalkan tangannya melihat istri tercintanya begitu manis oada pria lain yang menyandang status mantan pacarnya. Dia mendekati Nova.
"Choky, jangan hentikan aku. Aku sedang membalas perbuatan Reno kemarin yang sudah menolongku. Aku tak ada maksud lain. Aku sangat berhutang nyawa padanya. Apa kau percaya padaku?" Belum juga Choky ngomong, Nova sudah menghujaninya dengan kalimat-kalimat itu lagi.
Kesal bukan main. Tapi Choky hanya bisa diam dan duduk disamping Nova. Dia diam melihat Nova yang dengan manis menyuapi Reno. Ada sebuah senyuman terukir di bibir Reno.
__ADS_1