Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 17(minta dipanggil sayang)


__ADS_3

Sehabis mandi, aku menyusul Choky duduk disofa depan Tv. Aku duduk disebelahnya. Dia menonton acara tentang pembisnis chanel luar negri. Dan tentunya aku tidak tau itu. Kepintaranku ada dibawahnya jauh. Jadi aku pura-pura saja ikut menikmatinya.


Saling diam tak ada obrolan, hanya terdengar suara tv saja. Hampir 15 menit kami saling diam.


"Chok gw...."


"Kamu tadi panggil aku apa?" Tanyanya sambil menatapku.


Apa lagi sih ini, dia kenapa coba.


"Choky." Jawabku.


"Kenapa panggil aku begitu? Dan lagi, kamu bilang 'gw'?"


"Ya memang biasanya kita begitu kan?" Dia sekarang kenapa sih. Memang namanya Choky kan. Dan biasanya memang kita begitu. Nggak ada yang salah kok.


"Kok nggak ngomong kayak dimeja makan tadi?"


"Oh tadi. Maaf ya, tadi aku cuma akting didepan Papa. Nggak enak sama Papa. Maaf ya. Aku nggak akan ulangi lagi kok."


"Kalau begitu, akting terus aja."


"Hah??"


Diam tak ada tanggapan. Dia fokus melihat layar besar didepan.


Maksudnya dia apa sih. Gw semakin bingung dibuatnya. Apa dia nyuruh gw panggil dia 'sayang'? Tapi itu kan gw memang cuma akting aja. Iiiiisshh kenapa juga harus akting begitu didepan Papa. Jadi gini kan urusannya.


"Chok...."


Belum juga ngomong, dia langsung melototiku. "Panggilnya gimana tadi?"


"Sayang....." Aku membuat suara yang terdengar sedikit manja. Hingga membuat Choky tertawa kecil.


"Nah gitu dong. Kalau didengar orang kan kesannya romantis." Lanjutnya dengan tersenyum puas.


Peduli banget sama pendengaran orang. Nggak peduli sama perasaan gw.


"Chok," Langsung melotot lagi. "Maksudnya sanyang," Huuuffttt cuma mau ngomong aja jadi ribet. "Aku boleh nggak keluar sebentar. Pengen liat luar."


"Nggak boleh." Jawabnya dengan cepat.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kamu kan lagi sakit. Nggak ingat ya kata dokter kemarin, kamu harus banyak istirahat. Kakinya nggak boleh banyak gerak. Aku nggak mau ya kalau sampai kakimu itu bengkak lagi."


Dia khawatir atau lagi merintah sih? Atau...


"Nggak usah GR. Aku cuma nggak mau kamu sembuhnya lama. Keenakan kamunya. Cuma tiduran dirumah. Harus guna dong. Udah dibeli masa' nggak guna. Malah ngerepotin." Lanjutnya tanpa menatapku sedikitpun.


Tu kan bener. Dasar aneh. Pinter baget sih dia mengelabuhi orang. Sampai Papa aja yakin kalau dia beneran sayang sama gw. Dan sekarang mintanya aneh. Pakai sayang-sayang segala. Nyebelin ya.


Aku berdiri dan berjalan meninggalkannya. Bingung banget mau ngapain. Ketaman lagi aja lah. Liat ikan, siapa tau si ikan bisa ngomong. Dengan susah payah aku berjalan ke taman. Duduk diruang terbuka. Rasanya suntuk, jenuh. Pengen banget punya kesibukan.


"Hey ikan, lo nggak jenuh ya, tiap hari cuma didalam situ? Cuma muter-muter ditempat yang sama. Kegiatan elo juga begitu-begitu terus. Kok bisa sih elo nggak jenuh." Aku ngomong sama ikan. Si ikan cuma diem nggak jawab. Ya iya lah, mana ada ikan ngomong. Itu kan adanya didunia dongeng aja. Yang ada gw bakalan kabur kalau sampai si ikan jawab omongan gw.


Nggak tau kenapa kalau cuma diem sendirian begini, ingatnya sama Reno terus. Semua keromantisan dia, bikin kangen. Masa-masa indah itu. Lihat ikan, jadi inget saat aku mancing bareng sama dia. Nyari sungai cuma pengen nyoba mancing, sampai disana, udah pasang pancingnya dipinggir sungai, eh hujan langsung turun. Akhirnya hari itu nggak jadi mancing. Kita berteduh digubuk pinggir sawah dekat sungai. Cukup lama kita berteduh karna hujannya sangat deras. Sampai kita bermesraan digubuk itu. Pertama kali dia menciumku, dan itu ciuman pertamaku. Bibirnya begitu lembut menyentuh bibirku.


Aaarrrggggg aku mengingat kenangan lagi. Tanpa kusadari, air mataku mulai menetes. Aku menangisi apa sih, aku rapuh banget. Aku mengelap pipiku dengan kasar.


"Panda, maafin aku ya."


Aku menjingkat kaget. Sejak kapan Choky ada disebelahku. Bahkan dia memegang tanganku. Tapi aku menarik tanganku dari genggamannya karna kaget.


"Maaf ya, aku nggak ada maksud menyakiti kamu. Aku minta maaf." Dia meraih tanganku lagi. "Maaf karna sudah membuatmu menangis. Maafkan aku." Dia mencium punggung tanganku dengan lembut.


Melihatnya begini, malah semakin membuatku menangis.


Dia meraih tubuhku dan memelukku dengan erat.


-----------------------


Sebulan berlalu, masih sama. Choky belum pernah menyentuhku. Walau kakiku sudah sembuh, bahkan aku sudah bisa berlari, dia tetap tidak menyentuhku. Hal paling romantis yang dia lakukan hanya mencium punggung tanganku saja. Iya memang hanya itu. Entahlah kenapa. Tapi lama-lama aku bisa merasakan kasih sayangnya. Aku tau dia mempunyai rasa sayang padaku. Entah rasa sayang yang bagaimana dia rasakan. Tapi aku tau itu ada didalam hatinya.


Pagi itu dia pergi kerja agak siang, karna katanya tidak ada meeting atau pun bertemu dengan orang penting. Saat itu aku sedang membantunya memakai dasi. membantunya merapikan jasnya.


"Sayang, aku nanti boleh pergi nggak?"


"Kamu mau kemana?" Pertanyaan yang sudah pasti akan mengintrogasiku.


"Aku mau ke G ambil motorku kemarin. Sudah jadi sejak lama pasti. Aku takutnya motorku dijual sama pemilik bengkel karna lama nggak aku ambil."


Aku memang tidak tau kabar motorku. Karna sejak kejadian aku menelfon Erik waktu itu, Choky mengganti nomorku. Menghapus semua kontak diponsel. Bahkan akun sosial media pun sudah tidak aku gunakan. Karna setiap dia pulang kerja, pasti hanya sibuk menggunakan ponselku. Tapi aku bisa apa, cukup nurut saja. Memang itu yang terbaik.


"Jangan!" Jawaban yang sudah aku bayangkan dari tadi. Aku mulai mengerucutkan mulutku. "Nanti siang aku pulang. Aku antar kamu. Kamu nggak boleh pergi sendirian."


Agak lega boleh ngambil motor walau harus diantar sama dia. Tapi sebenarnya aku ingin bermain sebentar ke toko, sedikit ngobrol sama Lia dan Erik. Sebulan dikurung dirumah, ibarat ulat, aku udah jadi kupu-kupu yang cantik.

__ADS_1


"Ok deh kalau gitu. Nanti aku tunggu." Aku tersenyum lalu mencium pipi kanannya.


Terlihat dia terkejut mendapat ciuman dariku. Aku yang takut kena omel, langsung berlari keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan secangkir susu dan beberapa lapis roti.


Semua sudah tersaji dimeja makan. Tinggal menunggu yang mau sarapan saja. Karna aku merasa tugasku sudah beres, aku pergi kedapur lagi untuk mempraktekkan resep-resep kue yang semalam aku baca di gogle.


"Panda." Panggilnya dengan berteriak.


"Iya."


"Sini." Pintanya.


Ada apa lagi ya, perasaan udah bener, selai nya tadi coklat campur kacang kan. Kenapa lagi sekarang.


"Kenapa sayang?" Tanyaku saat sudah didekatnya.


"Duduk sini." Dia membukakan kursi untukku.


Aku menurutinya, duduk dikursi itu. Dia mulai memotong rotinya, lalu menusuknya dengan garpu.


"Buka mulutmu."


"Tapi ini kan buat sarapan kamu sayang."


"Aku nggak mau kamu terlihat kurus."


Apa? Kurus? Apa aku kurus?


"Ayo buka mulutmu."


Lagi-lagi aku hanya bisa menurutinya. Satu suap roti sudah masuk. Sekarang roti dipiring itu sudah masuk semua kedalam mulutku. Sekarang dia juga menyuruhku meminum segelas susu yang aku siapkan untuknya.


"Sayang, aku sudah kenyang." Aku menepis gelas itu. "Buat kamu aja ya. Kamu kan harus kerja, pasti lebih butuh tenaga yang banyak dari pada aku."


"Setiap pagi aku selalu sarapan sendiri. Aku tidak mau."


Dia ini kenapa lagi, bukankah biasanya juga begitu. "Baiklah, besok aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua. Jadi aku akan menemanimu sarapan."


"Baiklah. Sekarang minum lah susu dulu." Dia mulai menyodorkan gelas susu itu ke mulutku.


Aku akhirnya meminumnya juga. Percuma menolak, aku juga akan kalah. Sekarang perutku terasa penuh.


Aku mengantarnya kedepan sampai dia masuk kedalam mobil yang biasa dia pakai kerja bersama sopir pribadinya. Aku masuk kedalam rumah setelah mobil itu tak terlihat.

__ADS_1


__ADS_2