Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 59


__ADS_3

Nova mengeliatkan tubuhnya, mulai membuka matanya perlahan. Semalam, tidurnya terasa sangat nyenyak. Hingga sekarangpun sangat malas untuk beranjak. Dia lihat di sampingnya, suaminya sudah tak lagi ada diranjang. Kamar mandi pun gelap dengan pintu terbuka.


Masih pagi, kemana Choky pergi? Batinnya.


Dengan malas dia beranjak dan berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh telanjangnya. Sesaat dia berkaca didepan cermin sebelum membersihkan dirinya. Dia melihat ada beberapa warna merah kebiruan di dadanya karna ulah nakal suaminya.


"Iiihh dasar mesum ya! Untung aja nggak dileher. Bisa-bisa kalo Lina tau, dia alih profesi jadi wartawan!" Umpatnya dengan kesal.


Selesai membersihkan diri, dia keluar kamar dengan daster favoritnya dulu. Daster berbahan katun yang panjangnya dibawah lutut dan berlengan pendek dengan motif bunga. Sangat nyaman jika digunakan dirumah.


Dia hampiri Ibunya yang ada didapur. Disana Ibunya sudah sibuk memetik sayuran dan menanak nasi.


"Pagi ini bikin sarapan apa Buk?" Nova duduk dimeja panjang depan Ibuknya.


"Ibuk bikin lotek buat kamu. Biar dedek bayinya makan sayuran. Nggak makan roti terus."


Nova pun tersenyum. "Makasih ya Buk. Ini kok sepi sih, semua belum bangun ya Buk?"


"Kamunya yang bangun kesiangan, pasti lelah ya semalam habis tempur." Goda ibuknya.


"Iihh Ibuk apaan sih. Ngaco ngomongnya."


"Eh Ibuk semalam denger semuanya. Kamu teriak nya kenceng sih." Ibuknya tertawa kecil.


Wajah Nova terlihat memerah karna malu. Yaampun dia sampai lupa kalau kamarnya nggak kaya' kamar Choky yang kedap suara. Uuuggghh malunya nggak ketulungan.


"Suamimu diajak Ayah jalan-jalan sama Fani, Lina, adiknya juga ikut."


"Emang Ayah nggak kerja Buk?"


"Sekarang hari sabtu Nov. Pabrik ayahmu juga libur."


"Oh baru ingat kalo sekarang hari sabtu."


"Eh itu adiknya Choky kenapa nggak bisa jalan?" Ibuk mulai terlihat penasaran.


"Dia kecelakaan Buk. Kakinya lumpuh."


"Yaampun kasian. Padahal cantik gitu ya."


"Lebih parah lagi Buk. Dia keguguran dan rahimnya diangkat."


"YaAlloh..." Ibuknya membungkam mulut dengan jari tangannya. Dia sangat terkejut dan tak lagi bisa berkomentar.


"Nova juga kasian sama dia Buk. Makanya Nova ajakin dia kesini. Apalagi sekarang suaminya baru sakit." Ujar Nova lagi.


"Suaminya sakit apa?"


"Eemmm anu..." Dia bingung mau bilang apa, dia sudah keceplosan. Nggak mungkin banget kalau dia akan jujur dengan apa yang sudah menimpanya.


"Kenapa Nov?"

__ADS_1


"Anu Buk...su...suaminya jatuh Buk. Sampai sekarang belum sadar. Masih dirumah sakit. Tapi Ibuk jangan bilang ke Vera ya. Kita menyembunyikannya."


"Kenapa harus disembunyikan?"


"Soalnya psikologis Vera bisa keganggu. Ini dia baru tahap penyembuhan Buk. Mentalnya belum kuat jika harus mendengar berita-berita buruk."


"YaAlloh, kasian sekali dia." Ibuk mengelus dadanya. Dia merasa sangat beruntung anak-anaknya selalu sehat.


"Nov Ibuk jadi ingat. Coba Vera kamu ajak berobat di rumah Mbah Guniem itu. Dia kan bisa menyembuhkan saraf-saraf yang rusak. Siapa tau kakinya nak Vera bisa kembali berjalan." Tutur sang Ibuk.


Mbah Guniem itu sesepuh dikampung Nova. Beliau disebut orang kuno yang mempunyai barang pusaka. Dia sering membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya.


"Iya ya Buk. Namanya berobat, apapun hasilnya kita memang harus mencobanya."


Setelah lama membantu Ibuknya sambil berbincang, Nova memutuskan untuk menunggu suami dan keluarganya dihalaman depan. Saat berjalan melewati depan kamarnya, dia mendengar dering ponsel Choky berbunyi. Dia langsung masuk ke kamar dan mengambil ponsel Choky yang tergeletak diatas meja.


Sebuah panggilan telfon dari Wildan. Dia geser tombol berwarna hijau dilayar ponsel.


"Hallo, ada apa Wil?" Sapanya.


".........."


"Dia sedang keluar. Katakan saja. Tak apa-apa."


".........."


"Benarkah? Baiklah. Nanti akan aku sampaikan dan aku akan segera kesana."


Tut..tut..tut


Terdengar suara rame didepan rumah. Itu pasti mereka sudah pulang. Buru-buru Nova keluar kamar untuk melihat yang datang. Benar saja, adik bungsunya bergelayut ditangan suaminya dengan sangat manja. Nova kaget melihat itu.


Choky pun terkejut saat melihat Nova yang berpakaian santai dengan daster tipis yang terlihat sangat cocok untuknya. Jujur dia mengaguminya. Nova terlihat sangat cantik dengan balutan daster bunga-bunga itu.


"Hey Kak Nova. Berterimakasihlah padaku. Aku sudah menjagakan suami Kakak dengan sangat baik." Ucapnya.


"Iiihh Lina sih kecentilan Kak." Seru Fani.


"Aku nggak kecentilan ya. Aku cuma ngejaga kakak ipar aja kok." Belanya.


Terlihat Ayahnya, Choky, Vera dan Bik Darmi hanya tertawa kecil.


"Kenapa suamiku harus dijaga? Ada apa memangnya Lin?"


"Kak, tadi ibuk-ibuk kompleks ganjen sama Kak Choky. Godain Kak Choky. Nyebelin banget deh." Adu si Lina dengan penuh kekesalannya. Dia benar-benar nggak terima jika kakak iparnya digangguin.


Choky tertawa kecil melihat Lina yang super protektif. Punya adik itu terasa menyenangkan. Bikin geli nih bocah.


"Sudah sini ayo kita sarapan dulu." Teriak Ibuk dari meja makan.


Semuapun berjalan menuju meja makan. Duduk ditempatnya masing-masing. Setelah selesai mengambilkan makanan untuk suaminya, Nova mengambil untuknya sendiri dan kembali duduk. Choky terlihat bingung dengan sayur-sayuran yang ada diatas piringnya.

__ADS_1


Nova yang menyadari raut muka suaminya yang berbeda, langsung mendekat. "Kenapa sayang?"


"Bukankah ini salad? Kok mayonaise nya ada begini sih?" Tanya Choky sambil membolak balikkan sayurannya dengan sendok.


Nova tersenyum mendengar kata-kata Choky. "Ini namanya lotek Chok. Coba deh kamu icipin. Enak lho. Kamu belum pernah makan kek gini ya?" Nova menyuapi Choky menggunakan sayur yang ada dipiringnya. Bahkan dia tak lagi malu walau ada keluarganya disitu.


Choky membuka mulutnya dan memakan sesendok berisi sayuran itu.


"Cie, cie kak Nova dan Kak Choky harus ingat dong. Disini ada Lina dan Fani yang masih jomblo lho." Goda Fani yang membuat semua ikut ketawa.


"Nak Vera, ibuk sudah tau dari Nova apa yang sudah kamu alami. Ibuk turuk berduka." Ucap Ibuk sambil mengelus lengan Vera.


"Iya Buk, makasih ya. Vera udah nggak apa-apa kok." Vera tersenyum simpul.


"Nanti siang kalo kamu mau, Ibuk mau memperkenalkan kamu sama Mbah Guniem tetangga Ibuk. Dia bisa membantu terapi buat kaki kamu. Biar bisa kembali berjalan."


"Benarkah?" Vera tersenyum sumringah. Tentu dia akan sangat bahagia saat dia bisa kembali berjalan. Bisa kembali melayani suaminya. Itu sudah hal yang sangat dia inginkan.


"Ya namanya berobat Ver, harus selalu yakin dan niat itu harus ada. Agar kamu cepat sembuh." Lanjut Nova.


"Vera mau banget Buk. Makasih ya kak Nova."


Selesai makan, Nova mengajak Choky untuk masuk kekamarnya. Karna ada yang mau dia bicarakan berdua. Sesampainya dikamar, Choky datang dengan membawakan segelas susu untuk Nova.


"Ini susunya diminum dulu sayang."


Nova tersenyum dan meraih gelas itu. Setelah habis meminumnya, di letakkan gelas itu di atas meja. Dia perhatikan suaminya yang dari tadi memandanginya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Choky, kamu kenapa sih liatin aku kek gitu. Risih banget." Nova membalikkan tubuhnya.


Choky memeluknya dari belakang. "Kamu sangat mempesona Panda. Membuatku tidak tahan untuk tidak menyentuhmu." Bisiknya tepat ditelinga Nova.


"Iiihh mulai deh mesumnya." Nova membalikkan badannya. Hingga mereka berhadapan. "Tadi Wildan telfon."


Choky mencium pipi kiri Nova dengan lembut. "Apa katanya?" Dia kembali mencium pipi kanan Nova.


"Dia bilang Reno sudah sadar." Kembali Choky mencium kening Nova. "Kita jenguk Reno ya Chok. Aku mau...." Mulutnya berhasil dibungkam Choky dengan bibirnya. "emmmm...eemm" Nova berusaha untuk lepas dari ciuman Choky. Tapi dia malah memegang tengkuk Nova, mendorongnya semakin masuk dalam lumatannya. Setelah dia hisap bibir bawah Nova, lalu dia lepaskan ciumannya.


"Aku tau kamu ingin segera mengunjungi mantan pacarmu itu kan." Wajah Choky sudah terlihat masam. Cemburunya mulai kumat.


"Sayang, aku hanya ingin melihat keadaannya. Aku merasa sangat bersalah padanya."


Choky kembali mencium lekuk leher Nova.


"Geli Chok." Nova pun bergidik. "Boleh ya sayang." Rengek Nova dengan senyum manisnya.


"Tergantung."


"Tergantung apa?"


"Pelayananmu padaku saat ini. Jika itu memuaskan, maka kita akan berangkat nanti sore. Jika kurang memuaskan, aku tidak akan mengijinkanmu menjenguknya." Ucapnya, lalu tangannya mulai menyentuh bagian-bagian vaforitnya. Mengecupnya perlahan. Dan lanjut......

__ADS_1


Visual Nova Astria



__ADS_2