Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 32 (Vera di Rumah sakit)


__ADS_3

Pagi yang mendung, bahkan tak lagi gerimis, melainkan hujan yang sangat lebat. Aku bangun kesiangan. Ya seperti yang aku pikirkan. Semalam sebelum Choky tidur dia benar-benar membangunkanku dulu. Berhasil membuatku merasa kembali lemas. Baru dia tidur dengan memelukku layaknya guling.


Aku membuka mataku. Menatap wajah disampingku. Wajah yang begitu tampan, sangat mempesona. Membuatku bisa dengan mudah mencintainya. Hanya saja, dia sedikit aneh. Tapi mungkin dia aneh hanya denganku saja.


Sekarang jam berapa ya. Aku ingat, sebelum tidur, Choky bilang dia akan kekantor siang. Karna semalam dia sudah menyelesaikan perkerjaannya.


Sekarang, bagaimana aku bangunnya ya. Kakinya ada diatas pahaku begini. Dan tangan ini, pasti selalu disini. Huufftt setelah sembuh, kebiasaannya pun jadi begini.


Aku menggerakkan perlahan tubuhku. Dia langsung meremas dadaku.


"Sayang," Panggilku sambil kupegangi tangannya itu, berharap menghentikan kelakuannya.


"Kenapa? Mau lagi ya?" Ucapnya dengan masih terpejam.


"Ah tidak. Hanya..."


"Kembali temani aku tidur. Aku masih ngantuk." Dia rekatkan lagi pelukannya.


Aku pun menurutinya. Aku kembali memejamkan mataku.


------------------


Seperginya Choky, aku kembali kekamar untuk tidur. Aku ingin mengganti tidurku yang kemarin-kemarin dan semalam yang sudah terganggu. baru saja hedak memejamkan mata, ponselku sudah berbunyi.


Klunting.


Ada sebuah pesan wa masuk. Pesan dari Choky.


[Bersiap-siaplah. Aku akan menjemputmu.]


Apa ini maksudnya? Singkat sekali. Dia mau mengajakku kemana? Apa dia mau mengajakku berlibur ya. Atau keluar sekedar jalan-jalan saja? Ah sudah lah, lebih baik aku bersiap.


Aku duduk dimeja rias yang sudah lama tidak aku duduki. Mulai merias wajahku secantik mungkin. Setelah itu aku mengganti pakaianku. Tentu seperti dulu. Atasan sweater dan celana jeans panjang. Mengikat rambutku keatas. Merapikan poniku. Aku mengamati diriku sendiri didepan cermin. Aku cantik sekali.


Tak perlu menunggu lama, mobil yang menjemputku sudah ada didepan.

__ADS_1


"Non, sudah ditunggu Tuan Choky didepan."


"Iya Mbok, saya mau minum sebentar." Aku membuka kulkas dan minum. Mencomot secuil kue yang ada dimeja makan. Lalu berlari menemui Choky.


Pak supir sudah berdiri disamping pintu mobil membukakan pintu untukku. Aku tersenyum pada Pak supir.


"Makasih Pak." Lalu masuk kedalam mobil.


"Sudah kubilang jangan tersenyum pada laki-laki lain." Ucap Choky.


"Dia kan supir kamu. Aku hanya mengucapkan terima kasih saja." Choky cemburunya asal ya. Pak supir kan sudah tua. Tidak mungkin juga aku akan meliriknya.


Tak perlu basa-basi mobil langsung melaju. Didalam mobil aku dan Choky sama-sama diam. Tapi aku tau, beberapa kali Choky melirikku sambil menggigit bibir bawahnya. Tapi aku pura-pura saja tak melihatnya.


Perjalanan kurang lebih 15 menit, kita sampai diplataran rumah sakit. Rumah sakit yang sangat besar. Kenapa dia mengajakku kerumah sakit? Aku fikir kita akan jalan-jalan.


"Sayang kenapa kita kemari?" Tanyaku saat mobil sudah berhenti diparkiran.


"Pakai dulu maskermu lalu kita turun." Perintahnya. Sedangkan pintu sudah dibuka oleh Pak Supir.


"Pak tolong mintakan masker didalam sana."


"Baik Tuan." Pak supir kembali menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke rumah sakit itu.


Memang ya Choky. Padahal aku sudah sengaja tak membawa masker. Berharap boleh keluar tanpa menutupi wajahku. Ternyata tetap saja ada cara lain.


Choky langsung mendekatiku, memegang daguku. "Kamu cantik sekali Panda." Dia langsung mencium bibirku sampai dia hisap bibir bawahku. Aku memukili dada Choky. Lalu dia melepaskan ciumannya. "Kenapa?"


"Ini kita di Rumah sakit."


"Kita ada didalam mobil." Kembali dia menciumku.


Tak lama kemudian terlihat Pak supir keluar dari dalam Rumah sakit itu. Buru-buru dia melepaskan ciumannya. Setelah aku sudah memakai masker, baru kita keluar dari dalam mobil. Dia menggenggam erat tanganku, berjalan menggandengku. Banyak mata yang tertuju pada kami. Tapi yang namanya Choky, dia nggak peduli.


Aku melihat Papa dan Reno ada didepan UGD dengan seorang wanita. Wajah ke tiga orang itu penuh kekhawatiran. Choky langsung menyalami Papanya, mencium punggung tangan Papa. Tapi tidak dengan wanita yang ada didekat Papa.

__ADS_1


Apa Vera yang didalam ya? Tapi kenapa? Choky juga hanya diam tidak menanyakan apapun. Aku juga tidak berani bertanya karna semuanya hanya diam. Dan Reno pun hanya duduk dikursi tunggu sambil terus menundukkan kepalanya. Choky menarik tanganku untuk duduk disampingnya.


"Sayang, apa Vera yang didalam?" Aku berbisik pada Choky.


Dia menganggukkan kepalanya.


"Dia kenapa?"


"Sakit."


Semua orang juga tau, siapapun masuk ke UGD pasti karna sakit kan. Aku juga tau itu lah.


Menunggu cukup lama, hampir satu jam. Dokter pun keluar, dia melepaskan sarung tangannya.


"Bagaimana dengan anak saya Dok?" Tanya wanita itu yang ternyata adalah Mamanya Vera.


"Apa dia baik-baik saja?" Timpal Papa. Reno hanya diam dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


"Vera mengalami keguguran dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Bahkan karna hentakan yang cukup keras mengenai pinggulnya, bisa saja itu mengakibatkan saraf kakinya tidak berfungsi lagi. Yang mengakibatkan dia lumpuh dikaki."


"Apa?? hiks hiks hiks..." Syok pastinya, seorang ibu mendengarkan kabar anaknya yang tidak baik seperti ini. Papa langsung memeluk Mamanya Vera. "Vera Pa, Hiks hiks hiks Vera."


"Maaf saya harus mengatakan ini. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan rahimnya juga. Agar tidak ada pengangkatan pada rahimnya." Lanjut Dokter itu. "Saya permisi dulu ya." Dokter itu pergi meninggalkan UGD, disusul dua orang suster.


Kami masuk kedalam untuk melihat keadaan Vera. Aku mencengkram erat tangan Choky yang dari tadi menggenggamku. Choky yang merasakan itu, langsung menolehku. Dia melihatku meneteskan air mata. Lalu dia merangkulku dan mengelus pundakku.


Hatiku terasa sakit melihat Vera seperti ini. Wajah cantiknya tak lagi terlihat. Ada jahitan dipelipisnya. Pipinya pun banyak goresan luka. Tangis Reno tumpah saat berada disamping Vera. Dia menggenggam erat tangan Vera. Tanpa berkata apapun, dia hanya menangis sambil mencium punggung tangan istrinya.


Apalagi Mama dan Papa. Aku tak lagi tega melihat mereka berdua. Aku memeluk Choky dan menangis dipundaknya.


----------------


Terimakasih untuk yang sudah Vote, like dan koment.


Salam kenal ya......

__ADS_1


__ADS_2