
Aku mengeliatkan tubuhku, membuka mataku perlahan. Terlihat baju kemeja yang ada disampingku. Dan bau badan ini, bukan bau badan Choky. Aku langsung menjingkat bangun. Mataku membulat kaget saat mengetahui aku tidur dipangkuan Reno.
Perasaan semalam aku nggak sama Reno deh. Makanya aku larang Mbok Tut kemari. Kenapa sekarang jadi ada dia. Dan lagi, kenapa aku bisa tidur dipangkuannya juga?
Mumpung dia masih tidur, mending aku pulang saja lah. Pasti nanti Choky telfon aku. Jangan sampai pas dia telfon aku masih ada disini.
Dengan sangat hati-hati aku mengemasi rantangku dan segera aku pergi dari ruangan itu. Keluar dari Rumah sakit itu dan langsung mengajak Pak supir untuk membawaku pulang. Tak butuh waktu lama untuk sampai dirumah. Karna masih sangat pagi, jadi jalanan masih sepi.
Sesampainya dirumah, aku gosok gigi dan cuci muka. Ganti pakaian, langsung naik kelantai dua. Aku ingin mencoba beberapa alat fitnes yang sering Choky gunakan.
Tapi aku terkejut melihat perubahan penataan disana. Bahkan sekarang ada peralatan untuk yoga juga. Ada hulahoop juga. Choky benar-benar membelikanku hulahoop. Aku tersenyum bahagia untuk perhatiannya yang membuatku semakin mencintainya.
Aku mencoba hulahoop itu beberapa kali. Lalu mencoba alat fitnes yang seperti orang bersepeda itu.
"Nona sedang olahraga Tuan." Tiba-tiba Mbok Tut muncul ditangga memegang telfon.
Aku mendekatinya dan meminta gagang telfon itu.
"Hallo sayang."
"Berkali-kali aku menelfonmu tapi tidak kau jawab."
"Iya aku meninggakan ponselku dikamar."
"Kau sedang apa?"
"Aku sedang olahraga. Makasih ya sayang sudah membelikanku hulahoop."
"Apa kau menyukainya?"
"Aku sangat menyukainya. Aku tadi sudah menggunakannya."
"Panda, apa semalam kamu baik-baik saja?"
"Memangnya ada apa sayang?"
"Aku semalam tidak bisa tidur karna memikirkanmu."
Semalam aku tidur dengan Reno di Rumah sakit. Bagaimana bisa pikiran Choky sekuat itu.
"Panda, kamu baik-baik saja kan?"
"Aku sehat, aku juga tidur dengan nyenyak. Sayang, jangan terlalu memikirkan aku. Aku baik-baik saja disini. Cepat selesaikan pekerjaanmu ya."
__ADS_1
"Apa kamu juga tidak sabar ingin bertemu denganku?"
"Tentu sayang. Kamu kan suamiku."
"Hanya itu?"
"Iya. Memangnya apa lagi."
"Ya sudah. Aku mau mandi. Aku harus segera pergi ke kantor."
"Baiklah. Hati-hati ya sayang."
Tut..tut...tut
Telfon terputus. Apa Choky marah ya? Tapi kenapa? Apa aku salah ngomong ya. Ah sudahlah, lebih baik aku mandi.
Aku langsung turun menuju ke kamar. Selesai mandi, aku merias diri didepan cermin.
Perasaan pipiku tambah tembem deh, apa karna aku kebanyakan makan ya, harus aku kurangi porsi makanku. Dan ini payudaraku juga. Kenapa semakin besar ya. Benar-benar jadi gendut kan. Harus diet extra ini.
"Non, sarapannya sudah siap." Suara Mbok Tut dari luar kamar.
"Iya Mbok, sebentar."
"Hallo." Sapaku pada si penelfon.
"Hallo Nov, gimana kabar elo?" Suara yang tidak asing. Aku ingat kembali.
"Ini Ardi ya?"
"Iya sepupuku sayang."
"Eh kok lo bisa tau nomor gw sih? Ini kan nomor gw baru."
"Dilamaran kerja elo kemarin, elo nulis nomor telfon kan."
"Eh iya. Kenapa telfon? Main kerumah sini Di."
"Nggak ah, gw masih takut mati."
"Ah sialan lo!"
"Hahahhh...ya itu kan ancam suami ganteng lo itu."
__ADS_1
"Suami gw keluar kota. Gw cuma dirumah sama pembantu aja. Kesepian tauk."
"Bener gw boleh kesitu?"
"Iya sini. Ajak Jessy sekalian ya."
"Ok deh. Kita otw ya. Share lok dong."
"Siyap. Gw tunggu ya."
Telfon mati. Aku langsung share lok ke Ardi. Eh, nanti kalau Choky marah gimana ya. Tapi kan Ardi kesini ajak pacar nya juga. Nggak cuma sendirian. Baiknya ngomong nggak ya. Ah nggak usahlah. Aku nggak mau ganggu dia kerja.
Aku langsung keluar kamar. Ngomong sama Mbok Tut untuk masak lebih lagi. Katanya Mbok Tut sih nggak papa ngundang saudaraku kesini. Apalagi Choky juga udah kenal sama Ardi.
Tak perlu menunggu lama. Bel pintu depan berbunyi. Itu pasti mereka. Segera aku berlari menuju pintu utama. Benar saja, Ardi dan Jessy berdiri diluar.
Seperti biasa, jika ketemu Ardi pasti langsung pelukan. Jessy sepertinya juga nggak keberatan. Aku langsung mengajak mereka masuk untuk menemaniku sarapan.
"Nov, rumah elo bagus banget deh." Ucap Jessy dengan penuh kagum.
"Bukan punya gw Jess, ini punya suami gw. Gw sih cuma numpang disini."
"Iya juga ya. Tapi tetap aja elo tinggalnya disini."
"Udah ayo makan dulu. Gw tau derita anak kost itu gimana. Hehehe..."
Jessy nyengir kuda. "Nanti bungkus boleh kan ya."
"Iihh malu-maluin." Timpal Ardi.
"Nggak papa Jess. Ah dia sih nggak tau derita anak kost. Biarin aja dia. Makan yang banyak ya."
"Nov, elo dah siap kerja belum. Minggu depan kalau lo dah siap. Langsung masuk aja. Gw udah rekomendasikan elo."
"Hah?? Serius Di?"
"Iya. Elo magang di kantor gw."
"Mau dong. Elo tau kan, di rumah yang gede ini, gw nggak ada temen. Sepi banget, jenuh rasanya."
"Ok deh. Minggu depan gw tunggu ya."
Seharian aku nggak kesepian lagi. Ardi dan Jessy ada dirumahku. Kita ngobrol-ngobrol di taman, sorenya main di lantai atas. Rasanya seneng banget ada temannya gini.
__ADS_1