
Jangan lupa vote sebelum membaca ya. Untuk mendukung tulisan saya.
Hampir satu jam acara Nova tanggung jawab karna kebodohannya. Mereka berdua keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono. Terpaksa Nova jadi mandi lagi karna ulah Choky.
"Duduk sini." Choky menyuruh Nova untuk duduk dikursi rias.
Nova menurut. Dengan lembut Choky mengusap rambut Nova yang Basah dengan handuk kecil yang dari tadi dia pegang. Nova menatap suaminya itu dari pancaran cermin. Serasa belum percaya jika yang bersamanya memang suaminya.
Choky, kamu selalu terlihat tampan. Bahkan dengan rambutmu yang masih basah itu, kamu sangat cool. Membuatku semakin mencintaimu. Batinnya dalam hati.
"Kenapa terus menatapku?" Choky yang memang dari tadi tau jika diperhatikan, dia mencoba menggoda istrinya. "Apa masih belum percaya jika aku suamimu?" Seperti mengetahui pikiran Nova saja.
Nova yang sadar ketahuan, langsung mengalihkan pandangannya. Dia masih saja merasa malu untuk mengakuinya dengan jujur.
"Sayang, lain kali jangan ngumpet di dalam lemari ya. Tadi aku sungguh-sungguh tidak tau."
"Ppcckkk kamu nya saja yang bodoh." Choky mendegus kesal karna tengkuknya ada sedikit goresan akibat terkena sikit wc.
"Aku tidak bodoh. Aku kan nggak tau." Nova paling nggak terima jika dibilang bodoh.
Choky melempar handuk kecil itu kesembarang arah. Lalu mengeringkan rambut Nova menggunakan hairdrayer dengan teliti. "Ayo pakai bajumu dan sarapan."
---------------
Reno duduk sendirian didepan kamar inap. Pikirannya muter kemana-mana memikirkan cara-cara yang bahkan extream agar bisa dekat lagi dengan Nova.
Dia ingat dengan betul, dulu Nova sangat patuh padanya. Hampir semua permintaannya pasti dia turuti.
Itu menandakan kalau Nova sangat mencintaiku kan. Tidak mungkin cintanya yang dulu begitu besar bisa dengan mudah memudar hanya karna seorang Choky. Gemuruh dihatinya. Menerka-nerka pemikirannya sendiri.
Apa yang bisa membuatmu kembali lagi padaku Nov? Reno memandangi layar ponselnya. Foto saat Nova tengah tertidur di pangkuannya waktu itu.
"Ren, tolong temani Vera dulu ya. Mama mau pergi beli makanan sebentar." Ucap Mama Sita saat baru keluar dari dalam ruang inap Vera.
Reno segera mematikan ponselnya dan memasukkannya di saku celana. "Iya Ma." Melempar sedikit senyum, dan berdiri untuk masuk menemani istrinya.
__ADS_1
Segera dia masuk untuk menemani Vera. Vera duduk bersandar papan dengan pandangan yang sayu. Dia sangat terpukul saat mengetahui calon bayinya sudah tak lagi ada, apa lagi kakinya lumpuh dan ditambah rahimnya diangkat. Tentu itu bukan hal yang bisa dengan mudah diikhlaskan.
Kembali air matanya menetes. Reno mendekatinya, duduk disampingnya. Dia elap pipi istrinya dengan sangat lembut. Vera menatap Reno hingga mereka saling berpandangan. Kembali air mata Vera mengucur dengan derasnya.
"Sayang jangan menangis lagi ya. Kita ikhlaskan semuanya. Memang ini tidaklah mudah. Tapi takdir kita harus begini. Kita hanya bisa menerimanya." Reno berusaha menenangkan Vera. Dia genggam erat tangan istrinya.
Vera mengusap pipinya dengan kasar. Hatinya terasa sakit harus menerima kecacatannya ini. "Mas....hiks hiks hiks aku mencintaimu Mas."
Reno tersenyum kalem mendengar ucapan Vera. "Aku tau itu sayang. Aku juga mencintaimu. Kamu tau itu kan?"
"Tapi sekarang aku seperti ini Mas. Aku cacat. Bahkan aku tak lagi bisa mengandung anakmu. Aku nggak mau kehilanganmu Mas. Tolong jangan tinggalkan aku."
"Vera kenapa kamu mikir sampai seperti itu sih. Aku nggak akan ninggalin kamu." Reno mencium lembut punggung tangan Vera. "Kita bisa adopsi anak nantinya. Aku tidak apa-apa asal selalu bersamamu."
Mendengar kata-kata Reno yang terakhir, hati Vera merasa sedikit lega. Terukir senyum di bibirnya. "Makasih ya Mas selalu menemaniku disini. Aku sangat beruntung memilikimu."
"Iya. Itu kan sudah tanggung jawabku. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian."
Sendirian? Dia mendapat sebuah ide dari kata-katanya sendiri. Aku akan menjadikanmu alat, agar aku bisa mendekati Nova. Batinnya sambil tersenyum nakal.
"Ver bagaimana keadaanmu sekarang?" Papa mendekati Vera dan menyalaminya. Vera pun mencium punggung tangan Papa.
"Sudah lebih baik Pa. Tadi dokter baru saja memeriksa Vera juga. Katanya dua hari lagi Vera sudah bisa pulang." Tutur Vera. Dia memang sudah merasa baikan, hanya harus memulihkan bekas jahitan diperutnya saja.
"Syukurlah. Papa senang sekali mendengarnya."
Mama pun ikut tersenyum bahagia. "Kalau begitu Mama besok bisa pulang ke Palembang ya, hampir dua bulan Mama meninggalkan rumah makan kita." Mama menatap Reno. "Ren, kamu bisa kan jagain Vera."
"Ah Mama kaya' minta tolong Reno jagain istri tetangga aja. Tanpa diminta sudah pasti aku akan jagain dia dong Ma. Vera kan istrinya Reno."
Mendengar ucapan Reno, Mama dan Papa tertawa kecil. Begitu juga dengan Vera.
"Pa, Reno punya sedikit saran." Dengan ragu Reno ingin mengatakannya.
"Apa Ren, katakan saja. Papa pasti akan lakukan jika itu bisa membuat keadaan Vera lebih baik."
__ADS_1
Mereka bertiga menatap Reno dengan penasaran.
"Eemmm..... gimana kalau Vera pulangnya ke rumah Kak Choky. Disana kan ada Nova. Jadi saat aku pergi kerja, ada yang jagain dia. Ya memang dirumah ada Bik Darmi, tapi kan kalau ada Nova, dia jadi ada teman ngobrolnya juga."
Papa terlihat berfikir. Apa Choky akan mengijinkannya ya. Waktu itu saja Papa memaksa agar Vera dan suaminya bisa numpang dirumahnya sebentar saja. Dan itu membuat Choky sangat marah sampai menolak clien yang sangat berharga.
"Iya Pa. Vera mau. Vera pulangnya ke rumah Kak Choky aja. Vera cocok kok sama Kak Nova. Kak Nova baik, pasti dia bisa temani Vera Pa. Bantu ngomong sama Kak Choky ya Pa."
Kali ini Papa nggak mungkin nolak kemauan anaknya. Walaupun dia bukan anak kandungnya, tapi Papa sangat menyayangi Vera layaknya anak kandung. "Iya Ver. Nanti Papa coba ngomong sama Choky ya."
"Asiiikkk....." Vera sudah teriak kegirangan.
Semoga berhasil Pa. Aku pasti akan mendoakan Papa. Semoga Choky mau mendengarkan Papa. Doa Reno dalam hati.
----------------
Sebuah mobil putih berhenti didepan rumah Choky. Pak Haryono keluar bersama istrinya Nyonya Sita.
Mbok Tut yang mendengar bel berbunyi, langsung berlari kepintu utama untuk membukakan pintunya.
"Sayang itu ada tamu. Kamu punya janji sama siapa?" Tanya Nova. Saat itu mereka berdua sedang duduk santai diruang terbuka di taman.
Choky terlihat berfikir. "Nggak ada." Lalu kembali dia memberi makan ikan dikolam kecil itu. Ikan yang menurut Nova jenuh.
"Coba aku liat ya." Nova sudah menurunkan kakinya.
"Mau kemana?" Choky menarik lengan Nova.
"Mau lihat tamunya."
"Nggak usah. Aku aja. Duduk sini aja." Nova hanya bisa nurut. Dia duduk lagi ditempat semula.
Choky berdiri, dengan tiba-tiba dia membungkuk dan memegang dagu Nova. Mendaratkan sebuah ciuman dibibir Nova. Nova yang kaget tiba-tiba dicium, langsung membulatkan matanya. Karna Choky tau Nova membuka matanya dengan lebar, dia malah semakin menghisap bibir bawah Nova.
Di pintu belakang, Mbok Tut berdiri menyaksikan kedua majikannya itu. Buru-buru dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tapi agak sedikit membuka jarinya. Yaampun Tuan Choky nggak punya tempat rahasia ya. Masak nyosornya disembarang tempat sih. Nggak malu sama ikan itu apa?
__ADS_1