
"Aku keluar dulu ya. Ada yang harus aku bahas sama Wildan." Nova hanya mengangguk. Choky pun berjalan keluar dari kamar rawat.
Tinggallah Nova yang duduk memandangi Reno yang masih tak sadarkan diri. Air matanya menetes tanpa aba-aba. Hatinya terasa sakit dan begitu perih. Melihat kondisi Reno yang terbaring dengan banyak luka begini. Kedua kakinya diperban, tangannya juga diperban semua, wajahnya penuh luka dan beberapa memar. Hingga hampir tak terlihat lagi wajahnya yang ganteng.
Ya Tuhan aku sangat berhutang nyawa padanya. Jika saja dia tidak menolongku, pasti keadaannya tidak seperti ini. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya. Memang aku sudah tidak menyayanginya lagi. Tapi tak bisa kupungkiri, aku masih menyimpan sidikit rasa cinta untuknya. Apalagi setelah apa yang sudah dia lakukan. Tuhan tolong sembuhkan dia. Kata Nova dalam hatinya.
Choky mengamati Nova dari pintu. Melihat Nova yang sesenggukan menangis sambil menatap Reno lekat-lekat. Membuatnya sangat kesal. Memang Nova tak menyentuh Reno sedikitpun. Tapi Choky juga tau, Reno seperti ini karna sudah menolong istrinya. Choky berjalan mendekati Nova. Dia usap pipi Nova yang basah dengan sangat lembut.
"Sayang, maafkan aku ya." Ucap Nova. Lalu dia memeluk Choky. Menangis dipundak Choky. "Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu dengan Reno." Nova masih terus menangis. Membuat Choky semakin mengeratkan pelukannya.
"Dia akan baik-baik saja. Aku sudah memberinya dokter yang special untuk merawatnya. Kamu jangan khawatir ya." Choky mengelus punggung Nova dengan lembut.
Cukup lama dia berpelukan, Choky membiarkannya melepaskan segala kekhawatirannya. Sebenarnya ada rasa kesal juga dihatinya. Karna dia harus melihat Nova menangisi lelaki lain. Setelah hatinya tenang, Nova melepaskan pelukannya.
Kembali Choky mengusap pipi Nova dengan lembut. "Udah ya jangan nangis lagi. Aku nggak suka lho liat kamu nangisi lelaki lain."
"Pppcckkk...." Desis Nova dengan kesal. "Dia begini karna aku Chok. Aku ngrasa bersalah banget lho ini. Kamu bisa-bisanya bilang kek gitu." Mulutnya langsung mengerucut.
"Ya tapi nggak usah sampai sesenggukan gitu dong. Emang harus ya?"
"Kamu nih cemburunya kelewatan sih."
"Ya wajar kan. Dia itu mantan pacar kamu lho Pan."
"Dia itu adik ipar kamu Chok. Aku juga nggak mungkin selingkuh sama adik sendiri kan."
"Ooo jadi kalo bukan adik kamu mau selingkuh?"
"Nggak, aku nggak akan selingkuh."
"Tadi barusan bilang gitu."
"Tauk ah. Capek ngomong sama kamu." Kembali dengan mulut manyunnya.
"Terus maunya ngomong sama siapa kalau nggak sama aku? Tuh kan udah mau nyari yang lain."
"Iiiihhh Choky! Kamu apaan sih." Nova mencubit lengan Choky.
"Aaww sakit Pan." Dia elus tangannya.
__ADS_1
"Katanya mau bilang makasih sama Reno. Cepet sana."
"Nggak jadi."
"Eh kok gitu sih." Nova sudah terlihat kesal. Dia cubit lagi lengan Choky. "Ya udah deh aku nikah sama Wildan aja. Dia mah baik. Nyenengin pula. Dia juga..."
Belum selesai Nova ngomong Choky langsung membungkam mulut Nova dengan mulutnya. Buru-buru Nova mendorong tubuh Choky agar menjauh.
"Choky kamu nih apaan sih. Ini dirumah sakit lho. Asal cium-cium aja."
"Jangan muji-muji cowok lain. Aku ini suamimu yang lebih dari siapapun." Terlihat wajah kesalnya.
"Ya udah sana bilang makasih dan minta maaf juga sama Reno."
Choky menghela nafas kesalnya. Dia hampir nggak pernah ngucapin maaf sama orang lain kecuali Nova. Apa lagi makasih, itu cuma dia ucapkan saat dia berhasil dapat proyek atau dapat kontrak kerjasama. Lha ini suruh ngomongnya sama Reno. Deretan orang yang Choky benci. Jelas gengsi banget.
"Kalau nggak mau ya udah, aku ngomongin Wildan lagi ya. Wildan itu gan...."
"Iya iya ini aku mau ngomong!!" Choky terlihat semakin kesal.
Nova tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang bikin gemes. Bisa-bisanya dia cemburu sama Wildan. Nggak mungkin banget Nova akan selingkuh sama Wildan. Dasar aneh!
Gw nggak nyangka lo ngorbanin nyawa lo buat selamatin Nova. Padahal lo tau dia itu istri gw. Dan lagi, gw juga nggak tau tujuan lo apa dengan semua ini. Tapi jujur dalam hati gw yang paling dalam. Gw hutang nyawa sama lo. Nova itu orang paling penting dalam hidup gw, jika saja lo nggak tolongin dia. Gw nggak bisa bayangin apa yang sudah terjadi padanya. Makasih Reno. Batin Choky.
"Makasih. Maaf." Cuma itu yang keluar dari mulut Choky. Lalu dia berjalan menjauhi Reno. Mendekati Nova dan mendorong kursi Nova untuk meninggalkan ruang rawat Reno.
Nova masih saja bengong melihat suaminya yang bilang makasih dan maaf tanpa expresi apapun. Bahkan singkat banget. Bener-bener ajiip.
"Gw mau bawa Panda pulang. Lo juga pulang. Besok ada jadwal pagi nggak?" Tanya Choky pada Wildan saat sudah diluar ruangan. Mereka mengobrol sambil terus berjalan keluar dari rumah sakit itu. Nova hanya diam mendengarkan.
"Besok jam 10 ada undangan keacara peresmian caffe Cedron di G Tuan."
"Itu urusanmu. Aku tak suka diacara seperti itu."
"Baik Tuan."
"Jika tak ada yang penting, aku besok ingin free. Aku mau dirumah menemani istriku."
"Baik Tuan."
__ADS_1
--------------------
Jam 8 malam.
Choky masih sibuk dengan laptop didepannya. Nova serius membaca buku selingkaran ibu hamil yang dia dapat dari dokter kandungan tadi.
Tok....tok....tok
Suara pintu kamar terketuk.
"Kak Nova, Kak Choky, ini Vera." Suara dari luar kamar.
Nova dan Choky saling tatap. Mereka sampai melupakan Vera. Bagaimana mereka akan menyampaikan tentang keberadaan Reno. Sedangkan mereka berdua tau jika mental Vera masih harus dijaga baik-baik.
"Chok, gimana ngomongnya ya. Aku bingung." Ucap Nova yang memang khawatir akan membuat kondisi Vera memburuk.
"Biar aku aja yang ngomong." Choky mengerti kekhawatiran Nova. Karna dia tau jika Nova sangat peduli dan sayang sama adik tirinya itu. Choky langsung berjalan membukakan pintu. Terlihat Vera yang duduk dikursi roda depan kamar. Ada Bik Darmi yang berdiri dibelakangnya.
"Kenapa? Ganggu aja." Ucap Choky dengan ketus.
Lha, Choky gimana sih. Tadi bilang kaya' gitu kirain mau baik-baikin Vera. Nova yang khawatir, langsung berjalan mendekati Vera.
"Kenapa Ver?" Tanya Nova dengan tersenyum.
"Nggak papa sih Kak. Cuma pengen tanya kok dari siang aku chat Mas Reno nggak dibalas ya. Sampai sekarang juga, aku telfon nggak diangkat. Biasanya kalau lembur selalu bilang." Wajah Vera sudah penuh dengan kekhawatiran.
"Suami lo gw suruh ngurusin proyek baru. Jadi sekarang dia agak sibuk. Dia tadi gw suruh terbang ke Bengkulu. Pulangnya mungkin seminggu lagi." Jawab Choky dengan berbohong. Dia langsung masuk lagi dan kembali duduk didepan laptopnya.
Nova hanya diam tak percaya jika Choky akan mengatakan hal itu.
"Kak Choky kok tega sih. Aku kan jadi nggak ada temennya." Renggek Vera yang hampir menangis.
"Hey nggak usah nangis Ver. Apa aku temenin? Mau nggak? Aku temenin tidur sementara, biar kamu nggak sendirian." Kata-kata Nova yang berhasil membuat mata Choky melotot kaget mendengarnya.
"Beneran Kak?" Tanya Vera yang tak percaya. Nova hanya tersenyum sembari mengangguk. Dia berfikir, Reno dirawat juga karna dia. Jadi dia akan menggantikan posisi dia untuk menjaga istrinya selama dia belum sembuh.
"Tapi nanti Kak Choky marah." Vera melirik Choky yang sedah melotot. Karna sudah pasti Choky nggak akan setuju.
"Udah nggak papa. Dia marah juga cuma bentar. Nggak mungkin akan membakar rumah ini. Yuk kekamar kamu."
__ADS_1