Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 25(main bola sama Reno)


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu, rasanya kecewa sekali. Berkali-kali berusaha menahannya, baru saja merasakan sedikit kenikmatannya, langsung putus gitu aja. Huuuffttt mengecewakan sekali.


Tapi tetap tidak aku tunjukkan rasa kecewaku. Aku tetap menyemangati Choky agar dia tetap berusaha.


Selesai sarapan dan mengantarkan kepergian Choky untuk berangkat kerja, aku memilih duduk di taman diruang terbuka itu. Jenuh juga jika hanya duduk tak melakukan apapun. Akhirnya aku menyuruh Mbok Tut untuk membelikanku bola. Awalnya Mbok Tut juga bingung, untuk apa bola. Tapi dia tetap membelikanku.


"Ayo Mbok temani aku main bola."


"Main bola Non?"


"Iya."


"Mbok nggak bisa main bola Non."


"Bisa Mbok. Nanti Mbok Tut yang jaga gawangnya. Ayo." Aku menarik tangannya dan mengajak Mbok Tut ketaman.


Aku membuat satu gawang. Hanya tendangan finalti saja.


"Siap ya Mbok." Aku sudah bersiap menendang bola. Sedangkan Mbok Tut membungkuk fokus melihat bola yang akan kutendang.


Duuull.


"Golll!!!" Teriakku. Karna tendangan pertamaku masuk kegawang. Mbok Tut sampai jatuh saat hendak menagambil bola. Rasanya agak lega bisa teriak-teriak begini. Karna dari semalam kepalaku terasa penuh. Permainan seperti itu terus bahkan saat giliran Mbok Tut yang menendang pun dia tak bisa memasukkan bolanya. Aku menjaga gawangku dengan baik. Sampai sekitar 1 jam kami bermain. Mbok Tut sudah menyerah. Dia kecapean. Dia pergi kedapur untuk melanjutkan aktifitasnya.


Akhirnya aku duduk menelentangkan kakiku di bawah pohon yang lumayan lebat, tapi tidak terlalu tinggi.


Tak begitu lama, aku melihat Reno datang mendekatiku.


"Kok berhenti sih main bolanya." Dia berdiri disampingku.


"Nggak asik. Nggak ada lawannya."


"Lawan aku aja."


Aku mendongakkan kepalaku. Dia beneran ngomong gitu? Tumben ngomongnya nggak nyeremin lagi.


"Ayo main sama aku."


"Ok."


Aku langsung berdiri dan membuat dua gawang. Mulai main kertas batu gunting sama Reno untuk menentukan siapa yang pertama menendang bolanya. Aku lah yang oertama menendang bola. Permainan pun kita mulai. Merebut bola dari kaki Reno, lari kesana kemari, menendangnya tapi terhalang kaki Reno. Susah banget masuk kegawangnya. Setelah itu giliran Reno menendang bolanya. Dia melesat dengan gesit langsung berhasil memasukkan bola kedalam gawangku.

__ADS_1


"Goolll!!!!" Teriaknya dengan girang.


"Kamu jahat!" Aku langsung mengambil bolaku dan memeluk bola. "Hiks hiks hiks"


"Nova, ngapain kamu nangis?" Reno terlihat khawatir karna tiba-tiba aku menangis.


"Kenapa kamu bisa dengan mudah masukin bolanya sih? Padahal aku udah berusaha, tapi kenapa nggak bisa?" Umpatku sambil tetap menangis. Sebenernya aku kesal karna semalam si anu Choky yang nggak bisa masuk kegawangku.


"Nova ini kan cuma permainan. Kenapa kamu sampai menangis sih?"


"Ya kamu harusnya ngalah dong Ren. Kamu kan laki-laki." Aku melemparkan bolaku dengan sangat kesal. "Hiks hiks hiks"


Reno terlihat bingung karna aku masih tetap menangis. "Ok maafin aku ya. Tapi ini kan cuma permainan Nov. Sudah jangan nangis lagi ya." Dia menepuk-nepuk punggungku berusaha menenangkanku. "Kita main bola lagi aja. Nanti aku ngalah. Kamu masukin bolanya kegawangku ya."


"Nggak mau." Aku berlari menuju ruang terbuka ditaman itu. Duduk disana, mengusap mataku yang masih basah.


Reno berjalan mendekatiku sambil membawa bola yang tadi kita pakai main. Lalu dia duduk disampingku.


"Geser duduknya. Agak jauh sana. Jangan dekat-dekat."


"Pppcckkk iya iya." Dia benar-benar menggeser duduknya agak jauh dariku. Ini Reno aneh, tumben dia nurut sama kata-kataku. "Kamu ada masalah apa?"


"Jangan bohong. Aku kenal kamu udah sangat lama Nov. Kamu kenapa? Cerita aja sama aku, setidaknya dengan berbagi cerita bisa membuat beban kamu jadi berkurang."


Aku cerita nggak ya. Tapi ini kan masalah pribadi. Choky adalah suamiku. Dan itu aib. Lebih baik aku menyimpannya dalam-dalam.


"Katanya kalian cuma nginep disini. Kok udah satu bulan belum juga pindah?" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Kamu ngusir aku?"


"Ya kan aneh, katanya cuma nginep tapi kok sampai sebulan. Lebih malah."


"Kita nunggu kasus rumah selesai."


"Kasus rumah?"


"Iya. Kemarin sesudah menikah, aku beli rumah didaerah G. Ternyata rumah itu sertifikatnya dicuri sama anknya. Sertifikat itu digadaikan anaknya. Padahal uang nya sudah aku kasih ke mereka. Ceritanya berliku. Itu sekarang baru diurus sama pengacaranya Papa."


"Kamu beli rumah pakai uang kamu sendiri?"


"80% pakai uangku, sisanya Papa yang lunasi. Vera nggak mau kalau cuma rumah biasa. Dia milih yang agak besar."

__ADS_1


Sebenarnya pengen tanya, kenapa kamu nikahin Vera? Kenapa kamu ninggalin aku? Tapi aku merasa sekarang itu tak penting lagi. Buat apa aku mengetahuinya. Aku sudah punya Choky.


"Kamu sudah punya istri, kok kamu nggak kerja?"


"Nunggu manager yang dipabrik cabang selesai kontraknya."


"Jadi kamu gantiin manager itu?"


"Iya. Atas permintaan Papa. Bahkan Papa menyerahkan pabrik itu padaku."


Mataku sampai membulat. Mertuaku benar-benar sangat baik. Dia sangat menyukai Reno, sampai memberikan perusahaan cabang pada Reno.


"Tapi itu terjadi setelah aku bisa bekerja dengan baik. Bisa mengembangkan pabriknya jadi lebih maju dan tentunya sudah punya anak."


"Punya anak?"


"Kamu kenapa sih. Kok terkejut banget?"


"Aku kaya' nggak percaya aja Ren. Papa baik banget ya."


"Ya dia memang baik kan. Masa' kamu baru tau sih. Dulu aja sebelum nikah, dia beliin mesin penggiling di pabrik gandum milik ayahku. Kalau nggak dibantu sama Papa, mungkin pabrik Ayahku sudah gulung tikar Nov."


Lagi aku melotot kaget. Jadi karna itu dia ninggalin aku?


"Maaf ya Nov. Aku sudah jahat. Sebenarnya aku sudah lama mendekati Vera. Aku sengaja mendekatinya untuk membantu pemasukan pabriknya Ayah. Maafkan aku ya Nov." Terlihat wajah penuh penyesalan diwajah Reno.


"Iya Ren, aku udah maafin kok. Nggak usah bahas masalalu lagi ya. Aku sudah nggak mau mengingatnya."


"Makasih ya Nov."


"Tuan Reno, anda ditunggu Tuan Choky diruang tamu." Tiba-tiba Mbok Tut datang sudah berdiri disampingku.


"Baik Mbok. Saya kesana." Reno langsung berjalan meninggalkan taman.


"Mbok, ada apa?"


"Maafkan saya Nona. Saya menceritakan perihal Tuan Reno yang selalu berusaha mendekati Nona."


"Apa??!!" Kaget bukan main. Aku langsung berdiri dan berlari menuju ruang tamu.


Hatiku sungguh tidak karuan. Apa dia akan benar-benar membunuh Reno? Apa yang harus aku lakukan sekarang?

__ADS_1


__ADS_2