
Reno mondar-mandir didepan ruang inap Vera. Pikirannya kalang kabut.
Bagaimana aku mendapatkan 1 milyar di setiap bulannya? Syarat Choky benar-benar diluar dugaanku. Kenapa suami Nova bisa gila seperti itu sih? Bagaimana Nova bisa betah hidup dengan orang gila seperti Choky itu. Batin Reno tak henti-hentinya bergelayut. Sama saja aku harus bekerja siang dan malam untuk mendapatkan target itu. Tapi untungnya Papa dan Mama membantu. Andai saja aku tidak mengusulkan ide untuk tinggal dirumah Choky, pasti tidak akan begini. Dan lagi, Vera sudah mantap untuk tinggal dirumah Choky. Dia ingin bersama Nova lebih lama. Dan itu keinginan yang sudah tidak bisa ditawar lagi.
Reno duduk dikursi tunggu sambil memegangi kepalanya dengan menunduk.
"Mas, Mas Reno." Panggil Vera dari dalam.
Reno yang mendengar panggilan itu, langsung berdiri dan masuk ke ruangan. "Kenapa Ver?"
"Bantu aku untuk keluar jalan-jalan ya. Aku jenuh disini terus."
"Oh baiklah." Reno mengambil kursi roda yang ada disamping pintu, lalu menggendong tubuh Vera dan dia menurunkannya dikursi roda itu.
Dengan hati-hati Reno mendorong Vera keluar dari ruangan itu, menuju taman samping Rumah sakit. Lalu dia duduk dikursi yang ada ditaman itu.
"Mas, bisakah kamu berjanji padaku?" Vera menggenggam erat tangan suaminya.
"Janji apa sayang?"
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku." Pinta Vera dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku mengijinkanmu untuk menikah lagi Mas. Tapi jangan tinggalkan aku ya. Aku sangat mencintaimu Mas."
Reno mengusap pipi Vera yang sudah basah dengan tangannya yang satu. Lalu dia balas menggenggam tangan Vera. Dia cium tangan Vera dengan lembut.
Vera, andai kamu tau jika aku tak sepenuhnya mencintaimu. Apalagi dengan keadaanmu yang sekarang, bagaimana bisa aku mencintaimu?
"Mas, kenapa hanya diam? Aku rela dimadu Mas, asal kamu tidak meninggalkan aku."
"Kamu jangan ngomong begitu. Aku mencintaimu. Aku janji tidak akan meninggalkanmu." Ada rasa sakit dihati Reno saat dia ragu akan kata-katanya sendiri.
Benarkah aku tidak akan meninggalkannya? Bahkan aku tidak bisa sepenuhnya mencintainya. Ah tapi mau bagaimana lagi, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk pabrik Ayahku.
Lalu Reno mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Makasih ya Mas." Bisik Vera dengan senyum bahagianya.
---------------------
Pagi yang cerah, secerah wajah Choky pagi ini. Dia sudah bangun lebih awal dari Nova. Tapi tak juga beranjak dari ranjang. Dia masih dengan tubuhnya yang telanjang bulat berbalut selimut. Dia pandangi wajah istrinya yang berada dalam pelukannya. Dia kecup kening istrinya dengan lembut.
__ADS_1
Sayang kebahagiaan terbesarku adalah memilikimu. Memiliki cintamu, kasih sayangmu. Aku sangat bahagia bisa bersamamu. Aku harap kamu juga merasakan hal yang sama. Aku akan menjagamu dengan seluruh hidupku. Aku memang mebiarkan masalalumu itu kembali masuk kerumah kita. Tapi aku akan menghukumnya untukmu. Semoga kamu bahagia. Batin Choky dengan tersenyum.
Dia rapikan setiap helai rambut yang menutupi wajah Nova. Sepertinya Nova merasakan ada yang menyentuhnya. Dia menggerakkan tangannya sedikit.
Buru-buru Choky pura-pura masih tidur dengan kebiasaannya. Tangannya sudah memegang bagian tubuh Nova yang menjadi favorit nya.
Nova membuka matanya, dia tersenyum menatap wajah tampan disampingnya.
"Choky suamiku." Lalu dia elus pipi Choky dengan lembut. "Kamu tampan sekali, sangat menggemaskan. bikin pengen nyubit." Nova tertawa kecil. Lalu dia raba bibir Choky dengan lembut. "Bibirmu sangat manis, tapi sayangnya terlalu nakal. Dan sering membuatku frustasi. Sering aneh juga. Nggak bisa selayaknya orang normal. Dasar orang aneh." Nova tersenyum sendiri mengingat keanehan Choky setiap waktu.
Choky yang memang tidak tidur, dia tidak terima dikatakan aneh. Dia remas yang dia pegang. "Kamu mau mati ya. Kamu tadi mengatakan aku apa?"
"Aahhhh.." Desah Nova karna ulah tangan Choky. "Maaf sayang. Jadi kamu sudah bangun ya?"
"Jadi seperti itu ya yang sering kamu ucapkan saat aku tertidur? Berani sekali kamu mengataiku." Ucap Choky dengan tatapannya nakalnya.
"Tidak sayang. Aahh hentikan sayang. Maafkan aku ya." Nova berusaha menepis tangan Choky yang sudah aktif. Mulutnya sudah mendarat dileher. "Sayang, hentikan ya. Ini sudah pagi. Hari ini pertama kali aku masuk kerja, aku tidak mau terlambat. Aku mau mandi."
"Kalau begitu ayo mandi bersama. Karna aku juga takut terlambat."
Apa?? Wajah Nova terlihat sangat frustasi. Bahkan dia sudah menghabisiku semalam. Kenapa pagi ini dia aneh lagi sih.
----------------
"Dandannya jangan berlebihan. Nggak perlu mencolok." Belum juka memakai apapun diwajahnya, sudah dikomentari. Huuufftt....
"Iya sayang." Jawabnya dengan lembut. Ya dari pada tidak diperbolehkan kerja, lebih baik nurut saja.
Choky berdiri didepan lemari pakaiannya. Tidak seperti biasanya, Choky memilih memakai kaos lengan panjang warna maroon dan celana panjang warna hitam.
"Sayang, kenapa kamu tidak pakai kemeja?" Tanya Nova sambil mengeryitkan keningnya.
"Aku hari ini akan menjadi supir pribadimu. Jadi aku akan kerja siang dan pulang untuk menjemputmu pulang juga." Jawabnya lalu berjalan keluar kamar.
"Apa?" Ucap Nova lirih. Bukannya tadi dia bilang takut terlambat, makanya memaksaku untuk mandi bersama. Hingga dia melakukan kejahilannya dikamar mandi. Dia benar-benar ya. Sudah membohongiku.
------------------
Memasuki gedung yang cukup besar. Untung tadi menyuruh Choky untuk mengantarnya didepan kostnya dulu. Jadi dia bisa masuk ke kantor bareng sama Jessy.
__ADS_1
Jessy langsung masuk keruangannya. Dan Nova duduk diruang tunggu menunggu intruksi dari atasannya. Tiba-tiba seorang lelaki duduk disebelahnya.
"Hey, lo juga pemagang baru?" Sapa lelaki itu.
Nova tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit menunggu, akhirnya seorang wanita yang bernama Dewi memanggil mereka berdua. Dan menunjukkan tempat kerja mereka. Mereka berdua duduk bersampingan hanya terhalang skat saja. Sama-sama kerja didepan komputer. Wanita yang bernama Dewi itu memberikan beberapa map yang berisi laporan-laporan perusahaan yang belum Nova tau itu. Dia menyuruh Nova untuk mengerjakan pekerjaan itu sampai waktu istirahat nanti.
Belum ada satu jam, Ardi sudah datang menghampirinya.
"Hey anak magang, kerja yang bener ya." Candanya pada Nova yang dari duduk tadi sudah fokus dengan layar komputer didepannya.
"Ardi, jangan ganggu gw. Gw masih baru, gw nggak berani ladeni elo. Pergi sana lo!" Usir Nova.
"Ardi, nanti lo temani gw ketemu sama clien yang dari Singapura ya." Ucap seseorang dari belakang Ardi.
"Siyap bos!" Jawab Ardi.
"Nova?" Ucap orang yang dibelakang Ardi saat mengetahui yang sedang duduk didepan Ardi adalah Nova.
Yang dipanggil pun mendongakkan kepalanya. Seorang lelaki yang berkulit putih, tubuhnya tinggi setinggi tubuh Erik manik matanya berwarna abu-abu. Dia memakai lensa mata. Nova mencoba mengingat ingat orang itu.
Dia bahkan mengenalku, itu berarti aku juga mengenalnyakan. Tapi siapa dia?
"Elo kenal sama dia?" Tanya Ardi pada orang itu.
"Kenal. Tapi itu sudah lama. Dia masih saja cangik seperti dulu." Jawab orang itu. Jawaban yang semakin membuat Nova berfikir lebih dalam mengingat tentangnya kebelakang lagi.
"Ah, sepertinya kamu nggak mengingatku ya Nov. Jahatnya kamu." Ucap orang itu dengan menatap Nova.
"Maaf ya Pak. Saya benar-benar tidak ingat." Kata Nova dengan wajah penuh bersalahnya karna tidak berhasil mengingatnya.
"Aku memang tak sepopuler kamu Nov. Tak apa jika tak ingat." Lalu si lelaki itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Nova. "Namaku Doni. Aku teman waktu SMA mu dulu."
Apa? Dia Doni? Aku tak begitu ingat. Tapi aku ingat ada seseorang yang sudah mengirimiku surat cinta beberapa kali atas nama Doni. Apa itu dia?
"Kamu Doni yang dulu ada di kelas IPA bukan?" Tanya Nova dengan ragu.
Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1