
"Hallo sayang." Sapaku pada Choky disebrang sana.
"Kamu lagi dimana?"
"Ini aku lagi dipasar beli bahan-bahan buat seminggu."
"Emang Mbok Tut kemana?"
"Tadi aku suruh ngepel, nyuci sekalian."
"Kamu cuma sendirian?"
"Eemm iya sih. Tapi jangan marah dulu. Aku memang sedang ingin pergi pakai motor. Aku nggak akan kenapa-kenapa sayang."
"Janji ya. Jaga diri baik-baik."
"Mbak, celana Mbak. Murah ini, tigapuluh rubuan saja." Seorang penjual celana kolor yang berjalan menghampiri setiap pembeli.
"Nggak Mas."
"Hey, siapa itu? Kenapa suara laki-laki? Kenapa dia memberimu celana juga? Apa yang sedang kalian lakukan?" Suaranya sudah meninggi. Dia benar-benar terlihat khawatir dan marah.
"Tadi itu penjual. Dia bukan siapa-siapa kok."
"Jangan bohong!"
"Sayang..."
"Minum Mbak, ini ada es kelapa, es cincau atau es cendol juga ada?"
"Siapa lagi itu? Perhatian sekali dia?!! Apa kamu tidak bicara padanya jika kamu sudah punya suami?? Kenapa dia perhatian padamu??!! Dia mau mati ya!!"
"Maaf ya Mas, saya nggak haus." Aku menepis tangan penjual itu dan langsung berjalan sedikit berlari menjauhinya.
"Panda!!"
"Sayang, dengarkan aku ya. Di pasar itu banyak sekali penjual yang berjalan keliling begitu. Dia akan menghampiri setiap pembeli yang bertemu dengannya. Walau tidak saling kenal."
"Kalau begitu, cepat pergilah dari tempat itu. Jangan membuatku marah!"
"Iya iya aku akan segera pulang. Tutup dulu telfonnya ya."
"Aku akan kembali menelfonmu 15 menit lagi."
Tut...tut....tut
Choky pun menutup telfonnya. Segera aku berlari membeli ikan dan ayam yang belum sempat kubeli. Selesai itu aku langsung ke parkiran dan melajukan motorku.
Benar saja, baru saja aku mematikan mesin motorku, ponselku sudah kembali berdering. Sekarang dia telfon vidio call. Aku langsung mencopot helmku dan berlari kedapur.
"Mbok, tolong belanjaannya diambil ya."
"Baik Non." Mbok Tut langsung pergi ke garasi.
__ADS_1
Aku mengatur nafasku agar stabil karna habis lari-larian. Baru aku geser tombol berwarna biru di layar ponsel. Terlihat Choky yang sepertinya ada didalam ruang kerjanya. Dia memakai kemeja biru berbalut jas warna hitam.
Aku tersenyum padanya. "Hallo sayang."
Dia tak membalas senyumku. "Kamu sudah dirumah ya?"
"Seperti yang kamu lihat. Aku sekarang sudah dirumah."
"Besok jangan pergi sendiri. Biar sopir yang mengantarmu."
Mataku membulat. "Lho, kenapa?"
"Cepat sekali kamu sampai rumah? Kamu tadi pasti ngebut kan? Bagaimana jika terjadi apa-apa padamu?"
"Tadi kan kamu sendiri yang bilang, aku harus sampai dalam waktu 15 menit."
"Siapa yang berkata begitu?"
"Kamu tadi kan."
"Aku hanya bilang jika akan menelfonmu kembali kan?"
Aku ingat lagi kata-katanya. Dia memang hanya bilang begitu sih. Tapi kan sama saja. Dasar Choky! Bikin kesel.
"Kamu sekarang nyalahin aku?"
Ah Choky, kamu bikin bingung ya. Pinter banget buat aku jadi salah. Sekarang terlihat wajahku yang cemberut.
"Kenapa cemberut? Marah?"
"Nah gitu dong, aku kan jadi tenang."
Huufftt iya iya situ tenang. Aku nya yang nggak bisa bebas.
Diam, hanya saling bersitatap.
"Panda kamu nggak kangen sama aku?"
"Aku sangat merindukanmu. Kamu kapan pulang?" Sebenarnya aku juga belum terlalu merindukanmu. Aku agak bisa sedikit bebas beberapa hari ini.
"Panda, kaya' nya aku besok belum bisa pulang. Ada tambahan proyek disini. Aku mau membangun pabrik baru."
"Kalau begitu kamu hati-hati ya."
"Kenapa kamu nggak sedih?"
Hah?? Apa aku harus menangis ya sekarang. Sepertinya berakting sedih itu yang terbaik. Aku memasak wajah sesedih mungkin.
"Aku sangat sedih sayang. Cepat selesaikan proyekmu ya. Agar kita bisa berkumpul lagi."
Tu kan, dia terlihat sangat senang dengan aktingku. "Panda kenapa kamu sangat menggemaskan. Membuatku ingin cepat pulang." Dia tertawa kegirangan.
"Permisi Pak." Terdengar suara seseorang di tempat Choky. Suara seorang wanita.
__ADS_1
"Masuk." Perintah Choky.
Aku diam mengamati wajah Choky yang sedang memperhatikan tamu itu.
"Ini berkas yang Bapak minta. Semua sudah ada disini."
"Baiklah. Aku akan mengeceknya. Sekarang pergilah."
"Apa Bapak masih membutuhkan sesuatu? Minum teh atau kopi?"
"Eeemmmm..." Choky melirikku. "Boleh dua dua nya."
"Baik Pak. Saya akan membawakannya."
Terdengar suara pintu ditutup.
Kembali Choky menghadap layar ponsel. "Panda apa kamu tidak cemburu?"
Aku tidak sepertimu Choky. Yang cemburu tidak masuk akal. Aku tersenyum. "Aku percaya padamu sayang. Kamu tidak akan mengkhianatiku. Benar kan?"
"Kenapa kamu begitu percaya diri?"
Aku mengeryitkan keningku. Apa dia memintaku untuk cemburu?
"Yasudah ya. Aku harus mengecek berkas ini dulu. Aku mencintaimu sayang."
"Aku juga mencintaimu."
Telfon langsung ditutup. Hah Choky sudah membuatku cukup lelah. Padahal dari pagi aku sudah merencanakan untuk jalan-jalan dipasar. Membeli apapun yang aku inginkan. Gara-gara dia telfon, semua jadi gagal. Aku menggerutu kesal.
Tercium aroma masakan dari dapur. Langsung aku taruh ponselku dan berlari kedapur.
"Mbok Tut bikin apa?"
"Ayam kecap ini Non kesukaannya Nyonya besar."
"Ooh Mama suka ayam ya." Aku duduk di dekat Mbok Tut masak. Hari ini memang rencananya aku mau kerumah sakit menjenguk Vera. "Mbok Tut ikut Mama sudah lama ya?"
"Ya sekitar 7tahun Non."
"Mama kandungnya Choky meninggalnya saat Choky umur berapa?"
"Saat Tuan umur 15tahun Non. Tuan benar-benar terpukul dengan meninggalnya Nyonya."
15 tahun? Bukannya kemarin Mamanya Vera bilang, dia datang saat Choky umur 12 tahun ya. Itu artinya dia menikah sama Papa sebelum Mama kandung Choky meninggal kan?
"Mbok, kenapa Choky terlihat tidak menyukai Vera dan Mamanya? Padahal menurutku mereka baik. Dan Mama juga terlihat sangat menyayangi Choky."
"Nyonya Sita memang menyayangi Tuan Choky Non. Dia juga memperlakukan Tuan Choky layaknya anak kandung." Mbok Tut mengangkat pancinya. Menaruhnya diatas meja. Sita itu namanya Mamanya Vera.
"Sebenarnya Nyonya Sita dan Nyonya Kinanti itu sahabat baik. Suami Nyonya Sita meninggal saat menyelesaikan proyek yang dikembangkan bersama Tuan Haryono. Dan Nyonya Kinanti sudah menderita kangker lambung sejak lama. Tapi dia menyembunyikannya. Dan saat terparah itulah, Nyonya meminta sahabat baiknya untuk menikah dengan suaminya sendiri. Jadi saat itu Tuan Haryono mempunyai dua istri dalam satu rumah. Disitu yang paling menderita adalah Tuan Choky. Mereka seperti tidak memikirkan perasaan anaknya. Tapi saya hanya pembantu Non. Saya hanya melihatnya. Merawat Tuan dengan kasih sayang saya. Tuan Choky membenci kedua Mamanya itu."
Mendengarkan cerita Mbok Tut mataku mulai berkaca-kaca. Pasti saat itu Choky sangat terpukul. Aku tak bisa membayangkan, seperti apa kondisi hati dan jiwa nya saat itu.
__ADS_1
Bukankah di usia itu juga dia masuk dalam pergaulan bebas? Jadi dia adalah korban dari broken home. Choky, seandainya aku yang ada diposisi kamu. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama.