Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 18(mengambil motor)


__ADS_3

Sore hari aku sudah siap menunggu suamiku pulang. Sesuai janjinya, dia akan mengantarkanku mengambil motor. Ya memang cuma pergi ngambil motor sih, tapi aku kan bisa keluar rumah. Sudah pasti seneng banget. Bayangin aja, sebulan lebih nggak pernah keluar rumah. Jelas jenuh banget kan. Padahal dulu setiap hari aku selalu keluyuran. Siapa yang nggak jenuh.


10 menit berlalu, yang ditunggu nongol juga. Choky keren banget. Ganteng sempurna. Dengan celana panjang dan kaos lengan panjang warna hitam, terlihat santai tapi sangat keren. Aahhh bikin gemes, pengen peluk dia. Tapi harus tahan. Nanti dia bisa marah dan melakukan sesuatu diluar dugaanku.


Saat sudah didepanku, dia menatapku sangat lama. Sampai tak berkedip. Aku sudah takut akan kena komentar dari dia. Dan benar saja.


"Cuma mau ambil motor kok kamu dandannya secantik ini?"


Memang kali ini aku dandan. Sebulan nggak pernah merias wajah karna cuma dirumah, sekali kali dandan nggak papa kan ya.


"Aku sudah lama nggak dandan. Kasian kan make up ku mubazir nggak kepakai."


"Bener cuma itu alasannya."


"Iya sayang. Memangnya apa?"


"Kalau gitu pakai masker. Ambil di laci meja depan tv."


"Hah? Kenapa? Aku nggak flu kok." Tanpa menjawabnya, dia hanya menatapku tajam. "Ah iya iya aku ambil masker dulu."


Kenapa juga harus begini. Apa dia takut ada yang melirikku? yang ada, dia yang akan banyak dilirik orang. Menyebalkan sekali.


Setelah aku mengambil masker, aku langsung mengikutinya masuk kedalam mobil.


-------------------------


Sesudah mengambil motorku dibengkel, dia nenyuruh Pak supir untuk membawa motorku pulang. Dan aku pulang naik mobil bareng Choky. Tapi kangen banget pengen ketemu Lia sahabatku. Hampir setiap hari selalu chatingan sama dia, tiap hari liat mukanya, ngomelin dia dan tiba-tiba harus tanpa dia sebulan penuh. Rasanya kangen bangeett. Tapi tentu tidak akan dengan mudah membuatnya menuruti keinginanku.


"Sayang, kita jalan-jalan sebentar ya." Pintaku dengan manja.


"Kemana?" Terlihat dia mengeryitkan keningnya.


"Ke mall. Bentar aja." Aku mulai menggelayut manja dipundaknya.


"Kamu mau ketemu sahabat kamu itu?"


"Iya tapi buka Erik. Aku mau ketemu Lia. Boleh ya." Aku menatapnya dengan manja. Sangat berharap dia mau memenuhi permintaanku.


"Boleh. Tapi sama Lia aja ya. Jangan sama cowok." Jawabnya datar tanpa melihatku.


"Aaaa makasih sayang." Muach aku mencium pipi kirinya. Reflek saking senengnya dibolehin ketemu teman lama.


Terlihat dia menolehku, mengelus pipinya yang tadi aku cium. Tapi aku tak mau melihatnya. Aku menyibukkan diri dengan memasang sabuk pengaman.


"Sekarang udah berani cium-cium ya." Dia menatapku tak berkedip. Nada-nada ingin mengeluarkan ancaman atau apa lah itu.


Aku nyengir kuda. "Maaf ya. Aku tadi seneng banget soalnya."


"Coba ulangi?"


"Apa? Apa nya yang diulangi?" Huufftt kenapa tadi aku bisa reflek mencium pipinya. Habis wajah ngantengnya bikin gemes sih.


"Kita pulang aja kalau nggak mau." Dia sudah menyalakan mesin mobil.


"Ah iya iya aku ulangi."


Muaach. Lagi dipipi kirinya. Dia tersenyum puas. Lalu melajukan mobilnya meninggalkan bengkel motor itu.


Cuma butuh waktu sekitar 5 menit untuk sampai ke parkiran mall tempatku bekerja dulu. Aku langsung membuka pintu mobilnya tapi dengan cepat dia menarik tanganku.


"Kenapa?" Tanyaku dengan heran. Apa dia mau membukakan pintunya untukku. Ini kan mobilnya yang biasa dia pakai buat kerja. Jadi aku bisa buka sendiri.


"Pakai maskernya."


"Ah iya aku lupa." Aku langsung memasang masker di wajahku.

__ADS_1


Kami turun dari mobil bersamaan. Memasuki pintu belakang mall. Karna aku memang mengajaknya melalui pintu belakang. Jadi pas masuk, langsung ada didepan toko tempatku bekerja. Dia langsung menggenggam erat tanganku. Menarik tanganku agar aku berjalan disampingnya.


Baru mau masuk ke toko, sudah banyak mata memandang kami. Tentu mereka memandang wajah Choky yang sempurna gantengnya. Harusnya aku tadi menyuruhnya menggunakan masker juga.


Aku melihat Erik yang sedang berdiri di samping etalase tempat mainan anak. Sayangnya dia tidak sedang melihatku. Dia sibuk dengan HT ditangannya. Kangen banget pengen menyapanya, sekedar ngobrol sebentar sama dia.


Sepertinya Choky menyadari aku yang dari tadi memperhatikan Erik. Dia langsung memegang pipiku untuk menatapnya.


"Lihat apa?" Ucapnya tepat didepan mataku.


"Boleh ngobrol sebentar sama Erik nggak?" Aku sedikit tersenyum, tapi senyum yang tak terlihat karna tertutup masker.


"Nggak boleh. Dimana tempat Lia?"


Huufftt kesel deh. Tapi aku hanya diam. Menuntun tangannya menaiki tangga eskalator dan lanjut berjalan memasuki bagian elektronik. Karna Lia ada dibagian elektronik. Tak perlu susah mencarinya. Langsung terlihat dia sedang sibuk mengemasi sebuah kipas angin yang akan dipromosikan didepan.


"Itu Lia. Aku kesana ya." Terlihat Choky hanya mengangguk. "Lepaskan dulu tanganku sayang." Ucapku dengan berbisik.


Setelah dia melepaskan tangannya, aku langsung berjalan setengah berlari kearah Lia.


"Mbak, kipas anginnya lagi promo ya?" Tanyaku dengan basa-basi.


"Iya ini Mbak. Tapi hanya yang merk ini aja. Diskon 30% Mbak." Jawabnya. Ternyata dia tidak mengenaliku.


"Selain bisa bikin adem, kipasnya bisa apa aja Mbak?"


"Ini bisa hemat listrik Mbak. Nggak bikin boros listrik."


"Kalau bikin dompet jadi tebel bisa nggak Mbak?"


Lia menatapku tajam, ada rasa kesal disana. Jelas aja aku tersenyum puas. Lalu perlahan membuka masker yang menutupi wajahku.


"Nova." Ucapnya dengan sangat terkejut. Dia langsung memelukku. Akupun balas memeluknya.


Terlihat Choky yang sedari tadi memperhatikanku. Dia menggerutu kesal karna aku membuka penutup wajahku. Tak apa lah, dia tidak akan marah ditempat umum seperti ini.


Jelas beda dong. Aku sekarang kemana-mana pakai celana panjang dan baju lengan panjang. Seperti saat ini. Aku pakai celana panjang dan sweater. Rambutku aku ikat diatas dengan acak. Tapi tak perlu aku jelaskan kenapa. Cukup aku yang tau.


"Lo sekarang agak berisi Nov. Pasti hidup lo enak banget ya. Gw jadi iri."


"Ya gitu deh Li. Gw kangen ngomel sama elo."


"Elo ganti nomor ya Nov. Beberapa kali gw chat elo tapi nggak bisa masuk."


"Ah iya Lia. Ponsel gw hilang. Jadi gw ganti nomor."


"Elo catat nih nomor elo." Lia menyodoriku pena.


"Aduh, gw nggak hafal Lia. Elo aja yang catat ya. Nanti gw telfon. Ponsel gw ketinggalan di mobil."


"Hah mobil? Elo kesini naik mobil? Elo dah bisa bawa mobil sekarang?"


"Belum. Gw diantar sama suami gw."


"Oh gitu. Dimana suami elo?"


"Itu disana." Aku menunjuk kearah Choky. Lia tersenyum pada Choky dan melambaikan tangannya. Tapi Choky tak membalasnya. Dia hanya diam memperhatikan barang didepannya.


"Suami lo jutek banget Nov."


"Ya gitu deh."


"Eh, gimana? Elo sering ketemu Reno nggak?"


"Ya enggak lah. Gw kan nggak serumah sama dia."

__ADS_1


"Ah enaknya ya jadi orang kaya. Rumahnya banyak."


"Lia, gw kangen kerja tauk."


"Hey hidup lo udah enak kan. Suami elo kaya. Kenapa harus kerja."


"Gw jenuh dirumah terus. Enakan kerja, bisa bercanda tawa bareng teman-teman."


"Makanya elo sering-sering main kesini dong."


Ah elo karna nggak tau aja. Gw nggak dibolehin keluar rumah sendirian.


Aku ngobrol sama Lia cukup lama. Lalu aku pamit karna aku tak tega membiarkan Choky menungguku lebih lama lagi. Dia langsung menggandengku berjalan menuju mobil. Lalu kami masuk kedalam mobil.


"Dulu kamu kerja pakai baju seperti Lia?"


"Iya seperti Lia."


"Oh." Dia langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju keluar parkiran.


Ngapain tanya soal baju kerja. Kaya'nya sih nggak ada yang salah.


Sampai dirumah, aku langsung mandi dan menyiapkan makan malam. Setelah selesai kami makan malam bersama. Tidak ada obrolan yang menarik. Selesai makan Choky langsunhmg kekamar. Aku masih sibuk membantu Mbok Tut membereskan dapur. Baru setelah beres, aku menyusul Choky masuk ke kamar.


Terlihat dia sudah tidur miring membelakangiku. Aku ganti baju piyama dan menyusulnya tidur.


Entah kenapa dengan mata dan pikiranku. Aku tidak bisa tidur. Padahal aku tidak sedang memikirkan Reno atau pikiran yang lainnya.


Aku tidur miring memandangi punggung Choky. Lelaki yang sempurna, tapi kenapa dia tidak mempunyai keinginan untuk menyentuhku. Apa aku tidak menarik? Atau karna memang dia tidak mencintai aku? Lalu untuk apa dia mengaturku sedemikian rupa. Mengurungku dirumahnya. Untuk apa semua ini. Bodoh sekali aku mempercayai lelaki seperti dia. Dia sama saja dengan Reno. Lelaki memang tidak ada yang bisa aku percaya.


Memikirkan itu, aku menangis sesenggukan. Aku membalikkan tubuhku membelakanginya. Memeluk guling dan menangis menumpahkan semua rasa sakitku.


"Panda, kamu kenapa nangis?"


Tenyata tangisanku membangunkan tidur Choky. Tapi aku tetap diam tak menjawab. Dia meraih tubuhku dengan paksa untuk menghadapnya. Tubuhku yang lebih kecil dari tubuhnya, tentu dengan sangat mudah bisa berbalik arah. Dia menyentuh pipiku yang sudah basah. Dielapnya dengan lembut.


"Kenapa kamu nangis?"


"Choky, apa kamu tidak mencintai aku?" Aku langsung memanggil namanya karna aku sudah muak dengan semua yang dia lakukan.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti ini?"


"Jawab saja. Jujur lah. Aku tidak akan marah."


"Aku mencintaimu Pan. Bahkan aku sangat mencintaimu."


"katakan kenapa kamu tidak pernah menyentuh tubuhku?"


"........." Diam tak menyahut.


"Apa aku tak menarik?"


"Bukan. Bukan karna itu."


"Lalu apa?"


"......." Dia diam lagi. Dengan expresi wajah yang aku tak tau apa maknanya.


Aku kesal sekali melihatnya seperti ini. Aku beranjak bangun dan berjalan hendak keluar dari kamar. Tapi dia menarik lenganku hingga aku berbalik menghadapnya. Dia memegang tengkukku dan mencium bibirku. Dia menghisap bibir bawahku hingga bibirku terasa perih. Dia ***** lagi bibirku dengan sangat buas. Sepertinya dia marah padaku. Aku memukuli dadanya agar dia melepaskanku.


"Ini kan yang kamu inginkan?" Katanya dengan nafas yang memburu. "Mari aku tunjukkan."


Dia menggendongku menuju ranjang. Menurunkanku diatas ranjang. Lalu menciumku lagi. Melakukan pemanasan padaku. Sampai aku merasa sudah lemas dia mainkan terus-terusan. Tapi dia tidak segera membuka celananya dan melakukan itu padaku. Karna aku yang sudah tidak sabar, aku mendorong tubuhnya. Hendak kubuka celananya.


"Jangan Pan." Ucapnya lirih.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku sakit."


__ADS_2