Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 29 (Kejutan)


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, mobil Choky memasuki parkiran sebuah hotel.


"Pak, bawa mobil ini pulang dan antarkan mobilku kemari." Perintahnya pada Pak supir.


"Baik Tuan."


"Ayo turun." Ajaknya padaku. Pak supir membukakan pintu untuk kami berdua.


Aku berniat untuk kabur, lari dari hotel ini. Baru saja melangkahkan satu langkah kakiku.


"Hey, kamu mau kemana? Berani lari ya? Kalau begitu biarkan Ayahmu saja yang menebus kesalahanmu." Tanpa melihatku lagi, Choky langsung berjalan dengan santai masuk ke hotel. Tak ada pilihan lain. Aku terpaksa mengikuti langkah kakinya.


Didepan kami sudah disambut oleh seorang lelaki memakai pakaian serba hitam.


"Apa sudah kau siapkan yang aku katakan?" Tanya Choky pada lelaki itu.


"Sudah Tuan."


"Bagus." Balas Choky sambil menyeringai.


Melihatnya tersenyum seperti itu, aku semakin yakin jika dia sungguh ingin membunuhku. Ketakutan mulai menyelimutiku.


Dia mengajakku untuk masuk kesebuah kamar hotel. Kamar yang sangat luas. Aku masih berdiri mematung dipintu masuk. Aku benar-benar merasa ketakutan.


"Kenapa berdiri disitu?" Tanyanya lagi.


Dengan sangat takut, aku terpaksa masuk kedalam hotel itu. Pintu menutup dengan sendirinya. Padahal aku sangat berharap jika pintu itu masih terbuka lebar. Jadi aku bisa langsung kabur saat dia hendak menggantungku atau menusukku dengan belati, atau mencekik leherku.


"Apa kau sudah makan?"


"Su...sudah." Jawabku dengan terbata-bata.


"Baguslah. Aku harap kamu menikmati makanan terakhirmu tadi." Kembali dia menyeringai. Membuatku bergidik ngeri.


"Pakai ini." Dia melemparkan baju tidur kearahku. Tepat didadaku. Aku melihat baju yang dia lemparkan. Baju tidur yang sangat sexy, karna memakainya seperti tak memakai baju. Aku masih diam membolak-balikkan baju itu.


"Masih tak mau pakai?" Ucapnya lagi.


"Untuk apa aku pakai seperti ini?"


Dia menyeringai lagi. "Cepat pakai." Dia membuka laci meja. "Atau......"


Apa dia akan membunuhku sekarang? Dia sedang mencari pisau? Atau pistol? Atau gunting?


"Iya iya aku akan memakainya." Aku berjalan sedikit berlari menuju kamar mandi.


Dia menarik lenganku. "Kenapa harus kekamar mandi. Ganti nya disini saja."


"Apa??" Dia kenapa sekarang? Lama tak bertemu, kenapa dia semakin menakutkan.


Akhirnya aku menuruti perintahnya. Aku melucuti semua pakaianku kecuali BRA dan CD ku. Lalu aku kenakan baju tidur warna pink yang sangat tidak aku sukai itu. Baju tidur diatas lutut, bahkan pahaku benar-benar sangat terlihat jelas. Apalagi dadaku, baju ini hanya menutupi separu dadaku saja. Ini tidak bisa disebut baju.


Choky memperhatikanku dari atas sampai bawah. Aku menjadi risih ditatap seperti itu. Sebenarnya dia mau apa sih. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci itu. Tiba-tiba dia melemparkan amplop panjang warna coklat ke meja sampingku.

__ADS_1


"Apa kamu sedang mencoba menggodaku? Itu hadiah untukmu." Hanya bilang seperti itu, dia langsung masuk kamar mandi.


Bergetar seluruh tubuhku. Apa ini surat cerai? Dia pergi selama sebulan, tanpa kabar apapun, sekarang pulang, menjemputku dan memberiku surat cerai. Kenapa dia begini? Mataku mulai berkaca-kaca. Aku akan menjadi janda. Kenapa? Apa dia sudah tidak mencintai aku lagi?


Tunggu.


Lalu untuk apa dia menyuruhku memakai pakaian seperti ini? Bukankah ini pakaian yang sering digunakan oleh pasangan suami istri? Lagian, dia kan juga sakit. Aku memutar otakku lagi.


Aku tau sekarang. Dia pasti akan menjualku. Dia pasti menjualku untuk membayar hutang Ayahku. Jahat sekali dia. Aku harus pergi dari sini. Aku harus pergi sebelum orang yang membeliku itu datang. Buru-buru aku mengambil semua pakaianku. Aku berjalan sedikit berlari keluar kamar.


Baru saja sampai di depan pintu, sebuah tangan melingkar diperutku. Aku langsung menyiku orang itu dengan sekuat tenagaku.


"Aawww!!!" Teriak orang itu yang ternyata adalah Choky.


Aku menolehnya. Choky jatuh tergeletak karna tanganku mengenai perutnya dengan keras.


"Choky! Kamu sudah gila ya!" Aku membentaknya. Bahkan suaraku terdengar sangat keras. Dan aku tidak menolongnya. "Sesudah menceraikanku, sekarang kamu mau menjualku? Jahat sekali kamu! Apa diotakmu itu hanya ada uang? Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini?" Aku marah. Aku tak bisa lagi menahan emosiku.


Choky berusaha berdiri dengan susah payah karna perutnya sakit terkena sikuku. "Kamu ngomong apa sih?"


"Aku nggak bodoh Chok!! Aku tau. Kamu menjualku untuk melunasi kerugian yang Ayahku buat kan?"


"Menjualmu? Siapa yang menjualmu?"


"Kamu akan menjualku kan?"


"Dan...tadi kamu bilang, aku menceraikanmu? Kapan itu?"


"Kamu sendiri tadi yang memberiku surat itu."


"Surat cerai. Apa lagi?"


"Dimana suratnya?"


"Tadi yang kamu berikan padaku itu. Surat apa itu kalau bukan surat cerai."


"Apa??" Choky terlihat sangat kaget. Lalu dia duduk diatas ranjang.


"Kamu boleh menceraikan aku. Tapi aku tidak mau dijual. Aku pasti akan membayar kerugian yang dibuat Ayahku. Jangan pernah berfikir untuk menjualku."


Choky terlihat sedang menahan tawanya. Lalu "Hahahahhaha...." Dia tertawa lepas. Dia tertawa sampai guling-guling diatas ranjang.


Hah, kenapa dia jadi tertawa begitu sih. Apa yang membuatnya tertawa? Aku tidak sedang melucu. Menyebalkan sekali dia.


Dia bangkit dan berdiri mendekatiku. Dia jitak keningku dengan jarinya. "Kenapa sebulan tak bertemu denganmu kamu semakin bodoh?"


"Bodoh?" Sekarang dia mengatakan aku bodoh? Berani sekali dia.


"Bagaimana bisa pikiranmu terurai sampai kesana? Bodoh sekali kamu!"


Aku masih tak mengerti yang dia katakan. Aku terdiam dengan pikiranku.


"Apa kamu sudah membaca surat yang tadi aku berikan?"

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku tidak siap untuk membacanya. Pasti itu menyakitkan."


"Apanya yang menyakitkan?"


"Isi suratnya."


"Bagaimana kamu bisa bilang itu menyakitkan? Bahkan kamu belum membacanya kan?"


"Ya.....menebaknya."


"Panda, kenapa sih istriku ini bodoh sekali." Choky mengacak acak rambutnya. Dia membaringakan tubuhnya diatas ranjang.


Panda? Dia memanggilku dengan panggilannya itu? Apa itu artinya dia tidak marah lagi?


"Ambil surat itu dan bawa kemari."


Aku masih menuruti perintahnya. Aku mengambil amplop itu diatas meja. Membukanya, dan membawanya pada Choky yang masih terbaring diatas ranjang.


"Bacalah dengan teliti. Jangan sampai ada yang terlewatkan. Atau kamu akan menjadi semakin bodoh."


Aku membaca setiap kata di kertas putih itu. Mataku membulat. Kaget, iya aku sangat kaget.


"Choky, kamu sudah sembuh? Jadi waktu itu kamu pergi keluar negri untuk berobat? Benarkah?"


Dia tersenyum. "Ya seperti yang ada di dalam surat itu. Kamu nemanggiku apa tadi?"


"Cho.... Sayang." Aku tersenyum penuh kebahagiaan. Jadi dia pergi berobat.


"Panda, apa kamu tidak merindukanku?" Aku duduk ditepi ranjang. Tepat disampingnya.


"Aku nerindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Tapi....aku takut. Kamu sudah marah padaku."


"Iya waktu itu memang aku sudah marah padamu."


"Maafkan aku ya. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku hanya belum bisa jujur saja. Masalaluku sangat menyakitkan. Saat bersamamu, aku tak lagi mengingat masalaluku. Jadi aku tak ingin mengingatnya."


"Apa saat dirumah Reno pernah menyentuhmu?"


"Sayang, sudah ya. Jangan bahas dia lagi. Aku tak mau mengingat dia. Aku bahagia bersamamu." Aku meraba dadanya yang bidang.


Dia bangun dan duduk menghadapku. "Panda, apa sekarang kamu mencoba menggodaku?"


"Ah tidak. Aku hanya merindukan suamiku saja." Aku hendak berdiri tapi Choky meraih lenganku. Memegang tengkukku. Mencium bibirku dengan sangat lembut. Membuatku sangat menikmatinya.


"Panda selamat ulang tahun ya." Bisiknya lirih.


Mataku kembali membulat, apa sekarang hari ulangtahunku? Bahkan aku tidak mengingatnya. Aku terdiam dengan wajah berfikirku.


"Sudah jangan menampakkan ekpresi bodohmu itu."


"Kamu mau pesta yang meriah? Kue yang besar? Atau berlibur kepulau yang indah?"


"Ah tidak sayang. Aku tidak mau itu semua. Kehadiranmu, adalah hadiah paling istimewa untukku."

__ADS_1


Terbentuk senyum bahagia di bibir Choky. "Terimakasih sayang. Aku sangat mencintaimu."


Kembali dia mengecup bibirku. Ciuman yang lembut, berubah menjadi penuh nafsu. Hingga percintaan itu terjadi.


__ADS_2