Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 67


__ADS_3

Setelah puas melihat Wildan makan ice cream, Wildan segera undur diri. Dia kembali bekerja.


"Panda, kamu disini aja ya temani aku. Kamu bisa istirahat didalam." Choky berjalan mendekati istrinya.


"Tapi aku bosan Chok."


"Didalam ada tv. Kamu bisa nonton tv, atau kamu mau melihat seluruh kantor juga boleh. Biar Rosa yang menemanimu."


"Nanti saja. Belikan aku cemilan saja, dan dimana ponselku?"


"Iya, aku panggil Rosa dulu." Choky meraih gagang telfon dan memencet nomor. "Ke ruanganku sekarang."


Enak sekali ya jadi bos. Merintah seenaknya gitu. Nggak peduli yang diperintah lagi kejepit atau makan cilok. Batin Nova.


Tak perlu menunggu lama, Rosa sudah berdiri di ambang pintu.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"


"ponsel yang aku kasih tadi dimana? Apa sudah kamu ganti kartunya?"


Nova melotot kaget. "Kamu mengganti sim card ku?"


"Iya." Choky menjawab sekenanya. "Cepat bawa kemari."


"Baik Tuan." Rossa keluar ruangan.


"Choky, kenapa kamu berlebihan sih. Kenapa juga harus ganti nomor lagi."


"Aku nggak mau kamu berhubungan dengan mantan kekasihmu itu."


Nova terdiam dengan muka ditekuk. Mulutnya sudah mengerucut.


"Sudah nggak usah bikin aku marah. Kamu ingat tadi pesan dokter. Jangan stres, dan jangan banyak pikiran." Choky meraih tubuh Nova dan memeluknya.


Saat itu Rossa masuk. Dia kaget saat melihat bos nya sedang berpelukan. Dia berniat untuk melangkah keluar lagi, namun Choky segera melambaikan tangannya meminta ponsel milik Nova.


Choky melepaskan pelukannya dan memberikan ponsel milik Nova.


"Ros, belikan camilan untuk istriku. Camilan yang sehat ya."


"Baik Tuan." Jawab Rossa seraya membungkukkan badannya.


"Rossa, apa aku bisa minta tolong untuk dibelikan burgger sekalian?"


"Tentu Nyonya. Saya akan membelikannya."


"Ya sudah sana cepat belikan." Perintah Choky kemudian.


Rossa kembali membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan Choky.


-------------------

__ADS_1


Sekarang usia kandungan Nova memasuki 5 bulan. Dia sudah tidak sering muntah lagi. bahkan nafsu makannya bertambah banyak. Kebiasaan tengah malamnya adalah makan.


Seperti malam ini. Dia terbangun di jam 1 malam. Perutnya terasa perih karna lapar. Dia toleh sampingnya. Choky tertidur pulas hingga terdengar suara dengkuran halus.


Dia tepuk-tepuk lengan suaminya perlahan.


"Sayang, yank bangun." Tapi tak ada pergerakan pada tubuh Choky.


"Sayang, bangun aku lapar." Tetap sama dia masih merem. hanya menggeser posisi saja.


Nova mencium bibir Choky. Menghisap bibir bawah Choky. Spontan Choky langsung membuka matanya kaget. Melihat Choky sudah melek, Nova segera melepaskan ciumannya.


"Ada apa Pan?" Dia menatap kaget pada istrinya.


"bikinin telur ceplok. Aku lapar, pengen maem telur ceplok yang di kasih kecap."


"Apa???" Choky terlihat heran. "Kamu serius?"


"Iya sayang. aku pengen kamu yang bikinin."


"Panda, jangan bercanda. Aku dari dulu belum pernah masak. nyalain kompor aja belum pernah."


Nova mulai cemberut. "Hiks hiks hiks aku pengen telur ceplok." Tiba-tiba Nova menangis. Membuat Choky segera bangun dan mendekati istrinya.


"Jangan nangis dong sayang. Aku panggil Mbok Tut saja ya." Choky meraih tubuh Nova.


"Nggak mau, aku pengen kamu yang bikinin."


"Hiks hiks hiks kamu nggak mau ya?"


"Iya ini aku akan bikinkan ya. Kamu tunggu sebentar. Aku kedapur dulu." Choky mengusap pipi Nova dengan lembut. "Jangan nangis lagi ya." Nova menganggukkan kepalanya.


"Telur ceploknya 2 tapi harus mata sapi ya. Matanya yang bulat."


"Iya sayang." Choky mengelus puncak kepala Nova. Lalu memeluknya.


Dia jadi teringat masa kecilnya dulu. Meminta telur pada Mamanya saat usianya 6 tahun. Bahkan Choky marah saat tau mata telurnya nggak bulat. Kenapa bisa sama ya?


"Aku kedapur dulu ya." Kembali Nova mengangguk.


Choky duduk di meja dapur, dia melihat 2 butir telur ayam yang sudah dia taruh diatas meja.


Meraih ponselnya dan menonton yutube. Menonton cara membuat telur ceplok mata sapi. Sekitar 15 menit dia nonton yutube. Saat dirasa sudah faham, dia memulai membuatnya.


setelah 1 jam, akhirnya dia menciptakan karya terbaiknya. Menghabiskan telur satu kilo untuk menciptakan 2 telur mata sapi dengan mata yang bulat. Yang lain gosong, mata tak bulat karna kuning telurnya pecah. Ada yang telurnya nglinding dan jatuh ke lantai. Perjuangan sekali bagi seorang Choky.


Saat memasuki kamar, dilihatnya Nova sudah tertidur. Dia berniat untuk tak membangunkannya dan kembali keluar membawa karyanya itu.


"Choky, apa sudah matang?" Suara Nova yang terdengar masih serak.


"Sudah sayang. Kamu mau makan sekarang?"

__ADS_1


"Hu'um." Nova segera bangun. Choky mulai berjalan mendekati istrinya. Dia berikan sepiring nasi yang sudah ada 2 telur mata sapi di tengah piring itu.


Tanpa basa-basi lagi, Nova segera menyendok makanannya dan memasukkannya kedalam mulut. Dia tersenyum senang.


"Enak. Makasih sayang." Dia lanjut makan.


"Syukur lah jika kamu menyukainya."


"Sudah kubilang aku menginginkan kamu yang membuatnya. Pasti akan aku makan."


"Jadi itu tidak enak? Biarkan aku mencicipinya."


Choky berusaha merebut sendok Nova. Tapi Nova berusaha menjauhkannya.


"Jangan minta! Ini untukku. Aku tidak akan kenyang jika kamu juga ikut memakannya."


"Panda, kenapa kamu pelit sekali. Aku hanya ingin mencicipinya sedikit saja."


"Nggak mau. Kamu tidur saja. Aku mau makan."


Kenapa Nova jadi punya kepribadian baru begini? Dia semakin mirip denganku.


Choky beranjak dan mengacak rambutnya. Dia kembali merebahkan tubuhnya di samping Nova.


--------------------


Di kawasan lapas kota XX.


Seorang lelaki duduk untuk menjenguk salah satu penghuni lapas. Menunggu sekitar 5 menit, seorang pria penghuni lapas duduk di meja depannya.


"Pak...." Ucap penghuni lapas itu dengan sangat terkejut.


"Ssstttt" Yang di ajak ngomong malah menaruh telunjuknya di bibir. Menandakan bahwa 'jangan berisik.'


Pria terpidana itu pun menurut. Dia mulai merilekskan wajahnya. "Kenapa anda kemari?"


"Aku ingin mengajakmu bekerja sama."


"Bekerjasama? Denganku?"


Orang itu mengangguk. Mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto. "Bukankah kamu sangat membenci nya?"


Si pria pidana menggeratkan kepalan tangannya. Matanya pun menatap tajah.


"Ayo kita bunuh dia." Ucap lelaki itu dengan penuh keseriusan.


"Itu adalah hal yang akan aku lakukan saat aku keluar dari sini." Tatapan penuh kebenciqn tersirat di matanya.


"Jika begitu aku akan membantumu agar bisa keluar dari sini secepatnya."


"Aku akan tunggu 'waktu itu'."

__ADS_1


"Bersabarlah 2 minggu lagi aku akan menjemputmu."


__ADS_2