Suamiku VS Masa Laluku

Suamiku VS Masa Laluku
part 20(Reno menginap)


__ADS_3

Melihat wajah Reno membuatku tak bisa tidur. Pikiranku berlarian kemana-mana. Mikirin mereka yang ada diluar, sedang ngomongin apa ya. Ah mending aku mandi aja lah. Dari pagi aku belum mandi.


Aku memanggil Mbok Tut untuk membantuku menyiapkan air hangat. Setelah itu aku mandi dan berdandan. Ya cukup merias wajah saja. Untuk berpakaian, sudah pasti itu pilihan Choky. Karna dulu dia yang sudah membelikan semua celana dan baju untukku. Sekarang tinggal pakai saja.


Kleek.


Pintu kamar terbuka. Aku melirik dari cermin didepanku. Terlihat Choky masuk kedalam, dia berjalan mendekatiku.


"Cantik banget, mau kemana?" Tanyanya sambil memegang kedua pundakku.


Aku tersenyum dan menatap wajahnya melalui cermin. "Mau merayu suamiku." Jawabku sambil tersenyum menggodanya.


"Panda sayang." Dia meletakkan dagunya dipundakku. Menggenggam erat tanganku. "Kamu sudah tau kan, sebuah hasrat yang sudah memuncak tiba-tiba putus ditengah jalan itu rasanya menyakitkan? Itu yang aku tahan setiap bersamamu."


Aku berdiri menghadapnya. "Maafkan aku sayang, aku nggak tau kalau kamu sakit. Maafkan aku ya." Aku memeluk tubuhnya, membenamkan kepalaku didalam dadanya.


"Iya, aku tau. Aku akan berusaha untukmu." Dia elus kepalaku dengan lembut.


"Aku akan membantu untuk menyembuhkanmu Sayang. Kita hadapi ini sama-sama."


-------------------


"Mbok Tut, tumben masaknya banyak? Papa nginep sini ya?" Tanyaku malam itu, karna aku memang selalu membantunya menyiapkan makanan. Tujuanku untuk tau kesukaan Choky. Karna Mbok Tut adalah orang yang mendampingi Choky dari dia kecil.


"Iya Non." Jawabnya singkat.


"Ini kok piringnya ada lima?"


"Ada Nona Vera dan Tuan Reno juga Non."


Apa? Jadi Reno nginep disini? Huufft mendengar namanya saja, membuat nafsu makanku hilang. Ngapain sih mereka nginep disini. Sebel jadinya.


Tak begitu lama, Vera keluar dari kamarnya bersama Reno. Dia keluar dengan dress tidur yang ada diatas lutut, dress tanpa lengan. Dan Reno, matanya langsung tertuju padaku. Entah hanya perasaanku saja atau memang nyata nya begitu. Dia selalu mengawasiku, memperhatikan setiap gerakanku. Tatapan yang masih sama seperti dulu saat dia masih menjadi kekasihku.


"Ini Kak Nova yang masak?" Tanya Vera dengan sangat ramah. Dia terlihat sangat bersahabat. Apa yang nembuat Choky begitu membencinya? Bahkan dia tidak seperti bawang merah.

__ADS_1


"Tidak Ver. Aku memang bisa masak. Tapi aku belum mempunyai cukup nyali untuk masak buat sekeluarga." Menyebutnya keluarga, malah membuat hatiku merasa aneh sendiri. Reno adalah bagian dari keluargaku.


"Mending ya, Kak Nova bisa masak. Aku malah nggak bisa sama sekali Kak. Untung Reno bisa masak. Jadi dia yang sering nyiapin makan buat kita." Dia menggelayut manja di pundak Reno. Terlihat Reno hanya tersenyum kecut.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Papa dan Choky datang, mereka duduk mengambil posisinya masing-masing. Seperti biasa, Mbok Tut yang mengambilkan nasi dipiring Papa.


Aku pun sama, mengambilkan nasi untuk Choky. "Mau pakai lauk apa sayang?"


"Sayur sawi ini, sama udang, kasih ayam dikit aja."


"Ok." Bisa kulihat Reno yang sedari tadi memperhatikanku dan Choky.


Vera mengambilkan nasi juga untuk Reno. Tapi ekpresi wajah Reno biasa saja.


Setelah acara makan malam, aku langsung membantu Mbok Tut membereskan piring dan dapur. Vera sudah ada didepan tv. Setelah selesai, aku langsung menuju kamar. Kamarku berada tepat disamping kamar Vera dan Reno. Kebetulan saat itu kamar Reno agak sedikit terbuka.


Aku melihatnya, Reno sedang selonjoran diatas ranjang bersandar papan tidur sambil memandangi ponselnya. Tapi aku buru-buru masuk kedalam kamarku. Aku menutupnya rapat-rapat. Jangan sampai dia salah masuk kekamarku. Ah memang nya Reno itu aku, yang pernah melakukan hal bodoh itu. Dasar bodoh!


Aku melihat Choky duduk diatas ranjang dengan memainkan laptopnya. Aku mengambil baju piyamaku dan segera ganti baju. Dengan sengaja, aku ganti baju didepan Choky. Aku melucuti pakaianku, dari baju sampai rok yang ku pakai. Sengaja mengulur waktu berharap ada reaksi dari Choky. Lalu kembali memakai piyamaku yang sedikit nerawang. Aku melirik Choky. Dia tetap diam tak bergerak. Hah, bener-bener ya. Coba itu Reno, pasti udah langsung dimakan akunya.


"Panda, elo nggak perlu dandan lagi ya." Ucapnya tiba-tiba.


"Emang kenapa?" Aneh kan, tiba-tiba begini. "Kasian lho alat make up ku. Mereka lama banget aku anggurin."


"Aku bisa lihat tadi. Reno ngelihatin kamu terus. Aku nggak rela istriku dilirik orang lain. Cuma aku yang boleh melihat kecantikanmu." Choky menutup laptopnya. Menaruhnya diatas meja. Lalu tidur disampingku, meraih tubuhku, membenamkannya didadanya. Dia sangat wangi, membuatku sangat nyaman.


Tak bisa kubayangkan jika Choky mengetahui masalaluku. Apa dia masih akan memperlakukanku seperti ini? Ada rasa takut kehilangannya.


"Sayang, apa Papa tau tentang sakitmu?"


"Tidak. Tidak ada yang tau."


"Sejak kapan kamu sakit?"


"Setelah lulus SMA." Dia menarik nafas panjangnya. Lalu menghembuskannya pelan. "Dulu saat SMA, aku masuk pada pergaulan bebas. Aku mulai pacaran, dan melakukan hubungan yang kotor itu berkali-kali. Sampai pacarku itu hamil. Saat itu aku masih kelas tiga. Aku takut, aku mengajaknya untuk menggugurkan bayi itu. Tanpa aku memikirkan apa akibatnya. Pacarku meninggal saat itu juga. Dia meninggal bersama dengan bayinya." Ada benih-benih dimata Choky yang hampir menetes. Choky menekan kedua matanya. "Saat itu hidupku tak tenang. Aku seperti dihantui oleh nya. Aku selalu mengkonsumsi obat tidur untuk menenangkan diriku. Dan karna obat-obatan itu, aku jadi begini sampai sekarang."

__ADS_1


Aku mengusap pipi Choky yang sudah basah. Pasti saat itu, adalah saat-saat terberatnya. Ternyata masalalu Choky juga tidak mulus. Apa dia juga bisa menerima masalaluku ya.


"Maafkan aku Panda, aku tidak bisa memuaskanmu." Dia benar-benar menangis.


"Sayang, sudah ya jangan nangis. Aku akan membantumu. Sekarang kita tidur ya. Kamu besok harus kerja."


"Makasih ya sayang." Choky menciumi puncak kepalaku lalu memelukku. "Aku sangat mencintaimu Panda."


Terimakasih untuk kasih sayang dan cintamu Choky. Aku harap kamu juga bisa menerima masalaluku. Aku akan menjelaskannya besok saat waktunya sudah tepat.


Choky tidur sambil memelukku. Kakinya sudah melingkar dikakiku. Aku dipeluknya layaknya guling.


Pukul 3 dini hari, aku merasa sangat haus. Tapi aku ingat aku tidak membawa botol minum kedalam kamar. Jadi aku harus keluar untuk mengambil minum. Membangunkan Choky lebih dulu, karna aku nggak mau kalau dia nanti mencariku kemana-mana.


Aku berjalan keluar kamar, menuju kulkas yang terletak diantara ruang makan dan dapur. Aku membuka kulkas, mengambil sebotol minuman dingin. Langsung aku meneguknya sampai habis. Mengambil satu lagi untuk Choky. Lalu kututup kulkasnya.


Aku menjintak kaget saat menutup kulkas, sudah melihat Reno ada di samping kulkas itu. Dan dengan reflek aku memukul kepalanya dengan botol minuman yang aku pegang. Entah sejak kapan dia ada disitu.


"Aduhh sakit Nov." Rintihnya sambil mengelus kepalanya.


"Maaf ya, aku nggak tau kalau kamu disini. Kamu ngagetin soalnya."


Kembali dia menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. Aku yakin, pasti dia akan membuatku baper lagi. Aku buru-buru melangkah pergi meninggalkannya. Tapi dia menarik tanganku.


"Nova. Aku mau bicara sebentar saja."


"Lepaskan Ren."


"Tapi jangan pergi dulu. Aku harus bicara."


"Bicara apa sih? Aku ngantuk mau tidur."


"Sebentar saja Nov."


Aku menatap wajahnya. Dia terlihat sangat serius. "Baiklah aku akan mendengarkan."

__ADS_1


__ADS_2