
Dua hari berlalu tapi Vera belum juga sadar. keadaannya semakin kritis. Dan hari ini rahim Vera benar-benar akan diangkat. Kami sekeluarga sudah ada didepan ruang operasi menemaninya, tentunya menunggu kabar baik setelah operasi selesai.
Papa menarik tangan Choky dan berbicara padanya. Aku tak terlalu mendengarkan pembicaraan mereka. Reno terlihat sangat terpukul dengan keadaan Vera sekarang. Aku bisa melihat dia begitu mencintai Vera. Aku mendekati Mamanya Vera.
"Tan, yang sabar ya. Semoga semuanya akan baik-baik saja." Ucapku sambil mengelus lengan Mamanya Vera.
Dia mendongakkan kepalanya untuk menatapku. Lalu memelukku sambil terisak. Aku mengelus punggungnya sambil menggigit bibir bawahku. Aku sebenarnya juga nggak kuat ngelihat Vera seperti ini.
"Makasih ya Nak. Vera itu anak Mama satu-satunya." Bisiknya lirih sambil terisak. Lalu dia melepaskan pelukannya. "Baru seminggu yang lalu dia kasih kabar bahagia tentang kehamilannya. Hiks hiks..."
Aku mengelus lengannya kembali. Mengajaknya untuk duduk dikursi tunggu. "Kita doakan saja Tan, semoga Vera bisa melewati semua ini."
"Makasih ya Nov." Dia mengusap matanya yang basah. "Kamu panggil Mama saja ya. Jangan Tante."
Aku tersenyum. "Iya Ma." Lalu dia kembali memelukku.
"Nov, kamu temani Mama disini ya." Ucap Papa sambil duduk disamping Mama. "Ma, Papa harus pergi untuk menggatikan Reno ketemu orang penting. Tidak mungkin jika sekarang Reno harus pergi. Mama disini sama Nova."
"Iya Pa, Papa hati-hati ya." Ucap Mama. Lalu mereka berpelukan.
Apa yang membuat Choky nggak suka sama Vera dan Mamanya ya. Mereka terlihat baik. Bukan seperti Ibu tiri yang jahat.
"Nov Papa titip Mama ya. Papa pergi dulu."
"Iya Pa. Aku akan temani Mama."
Papa tersenyum dan langsung pergi meninggalkan kami. Sekarang Choky berdiri didepanku. Aku menatapnya, tatapan yang seperti mengkodekan sesuatu. Tapi tentunya aku tidak tau apa itu. Sehingga membuatnya mendegus kesal.
__ADS_1
"Ayo ikut aku sebentar." Ucapnya dan ngeloyor pergi.
"Ma, aku temui Choky sebentar ya. Nanti aku balik lagi."
Mama hanya mengangguk dan tersenyum. Aku berjalan mengikuti langkah kaki Choky. Dia menuju ke parkiran. Sampai diparkiran, dia langsung membuka pintu dan menyuruhku masuk.
"Tapi aku udah janji sama Papa, mau temenin Mama disini."
"Cuma sebentar."
Aku langsung masuk dan duduk. Pintu mobil pun ditutup. Choky kemudian masuk dan langsung memepetku. Aku terkejut dengan kelakuannya kali ini.
"Sayang kamu mau ngapain?"
"Tiga jam lagi aku harus berangkat ke luar kota. Ada masalah disana yang harus aku tangani secara langsung." Dia mulai memegang daguku. "Aku akan lama disana. Pasti aku akan sangat merindukanmu Pan."
Muah bibirnya mulai menyentuh bibirku. "Satu minggu mungkin." Kembali bibirnya menyentuhku. Sentuhan yang lembut. Tapi lama-lama tangannya masuk kedalam sweaterku, mulai bermain didadaku, dan menaikkan sweater yang kupakai. Sekarang mulutnya yang bermain disana. Kami bercinta didalam mobil sport Choky.
------------------
Operasi Vera berjalan lancar. Hanya saja Vera masih belum stabil. Dia membutuhkan tranfusi darah yang sangat banyak.
Dari hari pertama masuk sampai seminggu ini, Reno selalu berada disampingnya. Dia pergi hanya mandi dan makan saja. Melihatnya seperti ini, ada rasa kasihan juga. Walau dia jahat padaku, tapi dia juga pernah menjadi orang paling penting dihidupku. Hari ini aku pergi ke Rumah sakit membawakan makanan untuk mama dan Reno. Karna mereka sering lupa makan demi berada di samping anak dan istrinya.
Awalnya sih memang tidak di ijinkan oleh Choky. Tapi aku maksa, dengan datang ke Rumah sakit sama Mbok Tut. Jadi dia mengijinkanku. Masih aku ingat kata-katanya ditelfon.
Kamu harus pakai masker, pakai celana panjang, pakai jaket hodie. Nggak boleh deket-deket Reno. Nggak boleh lirik-lirik. Dan masih banyak yang lainnya.
__ADS_1
Ya begitulah dia. Begitulah cara Choky menyayangiku. Tapi tak apa, aku menikmatinya.
Aku masuk keruang ICU bersama Mbok Tut. Didalam sudah ada Mamanya Vera. Tapi cuma sendiri. Reno nggak ada disana. Ada sedikit kelegaan diwajah Mbok Tut saat melihat hanya ada Mama saja. Mbok Tut nggak jadi ikut masuk. Dia memilih menungguku diluar.
"Ma, Mama sudah makan?" Tanyaku sambil mengeluarkan sekotak tempat makan berisi nasi goreng. "Mama makan dulu ya. Ayo kita duduk disana." Mama menurut. Aku memapahnya untuk duduk disofa.
Aku menyuapi Mama pelan-pelan. Mama pun tersenyum. "Makasih ya Nov. Choky beruntung sekali mempunyai istri seperti kamu." Mama memegang pipiku. "Pasti banyak banget ya aturan jadi istrinya dia."
Aku tersenyum mendengarkan kata-kata Mama. Kok dia bisa tau ya. Memang iya sih. Ada banyak sekali aturannya. Udah gitu dia cemburuan juga.
"Dia itu anak yang baik. Mama datang saat dia berusia 12tahun. Dari saat itu dia sudah tidak menyukai Mama. Dia bilang karna Mama bukan Mama kandungnya. Tapi Mama tetap memperlakukannya dengan baik." Mama menarik nafas dalam. Lalu dia menyandarkan kepalanya di sofa. "Dia pergi dari rumah saat dia lulus SMA. Dia tinggal dirumahnya yang sekarang kalian tempati itu bersama Mbok Tut tadi. Dia lebih sayang sama Mbok Tut daripada sama Mama dan Vera. Tapi kemarin, tumben dia mau jenguk Vera saat ditelfon Papa kalau Vera kecelakaan."
"Mama seneng, dia mulai peduli sama kami." Lanjut Mama. "Uhuk....uhuk uhuk."
"Aduh aku lupa nggak bawa minum Ma. Aku beli diluar sebentar ya." Aku langsung keluar untuk membeli minum.
Kulihat Reno sendirian melamun didepan ruang poli gizi.Aku langsung menemui Mbok Tut, memintanya untuk membelikan minum Mama. Aku berjalan mendekati Reno. Dan duduk disebelahnya.
"Ren, yang sabar ya."
Reno menoleh kearahku. Menatapku, ada benih-benih yang hampir jatuh dari netralnya. Lalu dia menekan kedua matanya dan kembali menunduk.
"Aku tau ini berat buat kamu."
"Makasih ya Nov." Ucapnya tanpa melihatku. "Padahal aku baru saja merasa sangat bahagia. Aku akan memiliki anak. Tapi kebahagiaan itu hanya sebentar. Dan sekarang, aku tidak punya harapan lagi." Dia benar-benar terisak. Aku nggak tega lihat dia seperti ini. Air mataku ikut menetes. Aku nggak bisa bicara apa-apa lagi. Aku cuma bisa mengelus pundaknya saja.
"Kamu belum makan kan? Ini aku bawain nasi goreng. Kamu makan dulu ya." Aku memberinya sekotak nasi goreng.
__ADS_1
Dia pun tersenyum sambil mengusap matanya yang basah. "Makasih ya Nov."