
"Bodoh!"
Cacian bernada rendah itu, bagai gelegar petir yang menyambar. Penuh dengan tekanan membuat atmosfer dalam ruangan yang dipenuhi susunan buku itu berubah dingin. Suhu ruangan menurun drastis, udara seolah-olah hilang meninggalkan sesak di setiap dada mereka yang sedang berlutut di hadapan seorang laki-laki dewasa.
Prang!
Gelas burgundy yang mewah hancur berkeping-keping menghantam lantai marmer ruangan itu saat tangan Kevin mengayun kuat penuh amarah. Red wine yang di dalamnya pun berserakan di lantai. Sebagian pecahan belingnya menyambar ke wajah mereka yang sedang berlutut.
Mata Kevin merah menyala, memancar penuh api amarah yang menjilat-jilat.
"Menangkap wanita lemah itu saja kalian tidak becus!" lanjutnya masih bernada rendah menekan setiap kalimat.
Kevin berjalan mendekati meja kerjanya. Setiap ketukan sepatu di lantai itu menghantarkan gelenyar aneh yang membuat bulu di tubuh mereka berdiri tak terkendali. Bergidik ngeri akan hukuman yang sudah membayang di pelupuk mata.
"Apa saja yang kalian lakukan semalaman? Percuma aku memiliki tim handal jika satu wanita saja kalian tak mampu menangkapnya!" Kesal. Bukan berarti Kevin akan meluapkan kekesalannya dengan amarah yang meluap. Ia tetap tenang, tapi tindakannya tak pernah terduga.
Ia mengambil gelas lain dan menuang wine ke dalamnya. Menenggaknya sekaligus hingga tandas. Sepuluh orang yang berlutut di belakangnya, meneguk ludah gugup sekaligus takut mendengar pertanyaan dari Kevin.
Prang!
Gelas itu pun menjadi korban kemarahan Kevin. Kedua tangannya mengepal di atas meja, wajahnya yang menghitam membuat sorot mata Kevin semakin merah menyala. Dia seperti Malaikat penjaga pintu neraka yang tak pernah tersenyum. Wajahnya yang dingin akan berubah menyeramkan di saat ia sedang dikuasai api amarah.
"Hukuman apa yang layak kalian dapatkan karena kegagalan kalian dalam bertugas!" Kevin berbalik menghadap ke sepuluh orang yang berlutut dengan tubuh gemetar.
Wajah-wajah menunduk itu semakin membuat hati Kevin memanas. Ia melangkah dengan angkuh mendekat. Kedua tangan diselipkannya di saku celana. Berdiri di hadapan sepuluh orang yang menjadi kepercayaannya.
"Tegakkan kepala kalian dan katakan dengan lantang hukuman apa yang pantas kalian terima!" tekan Kevin. Kewibaannya tak luntur meski setiap nada yang ia alunkan pelan dan lembut. Hanya saja, disertai dengan tekanan pada setiap intonasinya.
Itulah Kevin, sosok laki-laki dengan pembawaan yang tenang sekalipun amarah sedang menguasai hatinya. Ia tak pernah ceroboh, hati-hati dan teliti sebelum mengambil keputusan. Hanya pada satu wanita, emosinya selalu tak terkendali. Apa pun yang menyangkut tentang dia, Kevin selalu dibuat kalang-kabut.
Ke-sepuluh orang itu menegakkan kepala mereka, mengarahkan pandangan ke depan lurus dengan beragam raut wajah yang tergaris.
Kevin menyunggingkan senyum, menunggu dengan sorot mata yang tajam mulut-mulut orang di hadapannya berucap secara serentak.
"Kami pantas mati, Tuan!" seru mereka lantang.
"Katakan sekali lagi!" tekan Kevin sembari menggeram. Ia sedikit membungkuk menatap wajah di hadapan, mengintimidasi mereka semua.
"Kami pantas mati, Tuan!" teriak mereka kompak dan lantang.
__ADS_1
"Lagi!" seru Kevin menaikan nada bicaranya lebih tinggi.
"Kami pantas mati, Tuan!" Mereka berteriak lebih kencang.
Tawa Kevin menggelegar, membuat tubuh semua orang yang ada di ruangan bergidik ngeri. Ke-sepuluh pengawal yang masih berlutut semakin gemetaran dengan keringat dingin yang bercucuran di sekujur tubuh mereka.
Wajah-wajah tegang mereka telah basah bagai disiram air pun dengan rambut mereka. Peluh tak henti mengucur dari pori-pori kulit mereka.
"Mati! Itu hukuman yang pantas untuk orang yang telah gagal dalam menjalankan tugas dariku!" hardik Kevin dengan suara yang semakin meninggi menusuk gendang telinga mereka.
"Eksekusi mereka semua!" tudingnya sembari berbalik membelakangi ke-sepuluh orang pengawalnya.
Mereka menunduk, itulah konsekuensi bekerja di bawah kuasa Kevin. Mereka hidup dengan layak bahkan berkecukupan, tapi resiko yang harus mereka ambil saat gagal menjalankan tugas adalah membayarnya dengan nyawa mereka.
"Tuan!"
"SIAPA!" Suara Kevin tak lagi ramah. Ia tidak suka ada pengganggu lain saat ia sedang sibuk mengurusi satu hal.
"Biar saya yang menemuinya, Tuan!" Kevin mengibaskan tangan dengan kesal saat asistennya Juan berpamitan padanya.
Kevin menunggu, ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mengurai emosi dan ketegangan dalam dirinya. Ia kembali pada Kevin yang tenang.
"Ada apa?" tanya Kevin penuh wibawa.
"Dia mengatakan ada beberapa penduduk mendengar suara tangisan bayi di sekitar sungai, Tuan," lapor Juan membungkuk hormat pada Tuannya.
Kevin menegang, ia menegakkan tubuh untuk dapat memastikan kabar tersebut.
"Suruh dia masuk!" titahnya tak terbantahkan. Juan kembali keluar dan masuk bersama seorang pengawal juga salah satu penduduk.
"Apa dia yang melapor?" tunjuk Kevin pada laki-laki yang berpakaian petani. Ia mengangguk sambil menundukkan kepala tak berani bertatapan dengan penguasa itu.
"Dari mana kau tahu bahwa aku sedang mencari bayi?" tekan Kevin sembari membawa langkahnya mendekati laki-laki tua itu.
Tubuh yang kurus kering itu termundur gelisah. Bergerak ke kanan dan kiri sambil tangannya sesekali menyeka keringat yang turun di wajahnya.
"Ma-maaf, Tuan. Pada waktu itu sa-saya sedang berada di sawah, tidak sengaja melihat pengawal Tuan yang menyusuri sungai dan berteriak-teriak menyebut perempuan dan bayinya-"
"Dan saat itu saya tidak sengaja juga mendengar suara tangisan bayi di sepanjang sungai, Tuan," terang laki-laki itu dengan tetap menundukkan wajah.
__ADS_1
"Ke mana perginya suara itu?" Kevin bertanya sembari mendekatkan wajahnya pada wajah lusuh itu. Ia bergerak memundurkan kepala khawatir bau matahari dari tubuhnya akan tercium indera pembau Kevin.
"Ke hulu sungai, Tuan," jawabnya tergagap.
Kevin kembali menegakkan tubuh. Pandangannya terpaku pada laki-laki petani yang berdiri dengan tubuh gemetar.
"Hulu sungai?" gumamnya mengulang.
"Juan! Bukankah salah satu pengawalku ada yang berasal dari sana?" ucap Kevin setelah beberapa saat berpikir.
"Benar, Tuan!"
"Siapa?"
"Sa-saya, Tuan! Saya dari desa hulu sungai, Tuan," jawab salah satu dari sepuluh orang yang berlutut saat lirikan mata Juan terjatuh padanya.
Kevin berbalik dengan sikapnya yang selalu jumawa. Kedua tangannya disimpan di belakang tubuh, manik kelam miliknya terjatuh pada seorang pemuda yang menjawab pertanyaannya tadi.
"Kau berasal dari sana?" tanya Kevin.
"I-iya, Tuan, tapi saya sudah memindahkan orang tua saya ke desa lain. Mereka tidak lagi tinggal di sana, Tuan," jawabnya menunduk takut.
"Bagus! Kalian selamat! Pergilah ke desa hulu sungai, periksa setiap rumah-rumah penduduk di desa itu. Oh ... ingatlah! Penduduk di desa hulu sungai sangat memuja wanita itu, sudah pasti mereka akan berani bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Jangan sampai mereka mengelabui kalian, periksa setiap sudutnya. Jika ada yang menyembunyikan wanita itu, penggal saja mereka di hadapan semua orang!" titah Kevin terdengar kejam. Akan tetapi, menjadi angin segar untuk ke-sepuluh orang yang hampir kehilangan nyawanya hari ini.
"Pergi! Jangan sampai Tuan berubah pikiran dan menghukum kalian saat ini juga!" Perintah Juan menjadi perintah kedua yang tak boleh dibantah oleh mereka. Ke-sepuluh orang itu bergegas bangkit, membungkuk pada Tuan mereka sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
"Juan! Beri Pak tua itu hadiah. Jika dia berbohong, datangi rumahnya dan eksekusi seluruh keluarganya!" perintah Kevin.
Laki-laki tua itu mengangkat wajah dengan mata membelalak, Kevin tersenyum saat mata mereka beradu. Jakunnya yang menonjol bergerak naik-turun meneguk saliva gugup.
Kejamnya kau, Kevin! Karma sedang menunggu lengahmu!
Juan berjalan mendekati lelaki tua tadi, sedangkan Kevin beranjak duduk di kursi kebesarannya. Ia menuangkan wine ke dalam gelasnya, dan menyesapnya perlahan.
"Pulanglah! Hadiahmu akan diantar ke rumah. Berterimakasih-lah pada Tuan karena ia telah berbuat baik padamu," ucap Juan pada laki-laki tua itu.
"Terima kasih, Tuan. Semoga Tuhan membalas setiap kebaikan yang Tuan lakukan," tuturnya.
Kevin mengernyit, detik kemudian ia mengibaskan tangan mengusirnya. Laki-laki itu membungkuk lantas keluar diantar pengawal yang membawanya tadi.
__ADS_1