
Rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya, juga lelah yang merontokkan seluruh sendi, membuat Sumayah terlelap tanpa sadar bahkan ia tak sempat menutup kembali baju yang ia sibak di bagian dada.
Bayi itu pun terlelap setelah puas menyusu pada Ibunya. Ia menggeliat saat bias cahaya matahari menerpa wajah. Tangannya meraba-raba kulit Sumayah, ia melahap kembali butiran daging kecil yang sempat ditinggalkan semalam.
Rasa perih dari ASI yang mengering membuat Sumayah meringis. Sejak kemarin, tak ada apa pun yang melewati tenggorokannya selain air hujan yang sempat ia minum beberapa tetes.
Matanya berkedut, mengerjap perlahan menyesuaikan dengan sinar matahari yang menerpa kornea matanya. Sumayah masih berada di dalam gua semalam. Ia mendesis saat bayi yang sedang melahap ASI-nya itu tak henti menyesap.
"Oh ... betapa sakit rasanya! Perih, ya Allah!" rintih Sumayah menahan perih yang mendera bagian dadanya.
Ia membuka mata dan menatap sepasang manik kecil yang menyala. Pipinya kembang-kempis saat ia berusaha mendapat makanan dari ASI sang Ibu. Sayang, ASI di dalam kantung sepertinya mengering.
Sumayah merubah posisi bayinya, ia takut bahaya masih mengintai di luar. Ia tak akan membiarkan bayinya menangis dan memberitahu mereka keberadaannya.
Sama perihnya, saat kantung ASI yang lain disesap bayi itu. Kering, wajahnya pucat pasih. Kulit bibirnya yang mengering dan terkelupas akan mengeluarkan darah saat ia menggerakkannya.
"Ya Allah, sakitnya!" Ia merintih lagi merasakan sakit yang teramat.
"Sudah, Nak! Kita harus mencari makanan atau minuman dulu," ujar Sumayah melepas mulut kecil itu dari kulitnya. Sebagai ganti, Sumayah memasukkan ibu jari bayinya sendiri ke dalam mulut kecil itu.
"Tak apa, bukan? Setelah Ibu menemukan makanan, kau akan dapat menyusu lagi. Sabar, sayang," ucap Sumayah lagi sembari menutup kain di dadanya.
Ia menengadah menatap langit-langit gua yang terdapat lubang sedikit. Dari sanalah sinar matahari menelusup masuk dan menerangi gua. Tak ada apa pun di dalam gua itu, hanya bebatuan yang berlumut di dinding juga genangan air bekas hujan semalam.
Sumayah melirik kakinya, beberapa luka sayatan membekas dengan darah yang telah mengering. Di telapak kakinya pula, luka-luka menganga cukup lebar. Semalam Sumayah tak merasakan sakitnya, tapi kini ia meringis saat melihatnya apa lagi membayangkan ia harus berjalan keluar dari gua ini dan mencari tempat yang lebih aman.
__ADS_1
"Allahu ... bagaimana aku akan berjalan dengan kaki yang penuh luka begini?" ringisnya dengan air mata yang merebak. Ia tersedu sendiri meratapi nasib hidup yang harus ia jalani.
"Kevin, sialan! Aku tidak akan pernah memaafkan kalian! Aku bersumpah kalian tak akan pernah hidup dengan tenang!" geramnya dengan mata menatap sinis pada luka di kakinya.
Geliat dari makhluk kecil di perut, membuat amarah Sumayah melunak. Ia menatap nanar bayi mungil tak berdosa di pangkuan.
"Maafkan Ibumu ini, Nak! Kau harus mengalami semua ini. Baru saja kau hadir ke dunia penderitaan langsung menyambutmu, tapi kau tenang saja, sayang. Ibu berjanji setelah semua ini berakhir hanya kebahagiaan yang akan kau dapatkan. Ibu berjanji padamu, anakku. SALIM MAULA."
Ibu jari Sumayah mengusap pipi lembut bayinya yang masih menghisap jari sendiri. Air matanya menetes tak tega melihat bayi merah itu harus menanggung derita.
"Salim Maula ... beliau adalah sahabat Rasulullah yang berperang melawan Musailamah Al-Kazzaab. Jadilah kuat dan berani seperti beliau. Melawan keangkaramurkaan dan ketidakadilan di dunia. Jadilah laki-laki yang bijaksana, kelak menegakkan keadilan pada siapa saja. Ibu mohon, jangan ambil sifat Ayahmu yang buruk. Cukup rupamu saja yang sama persis seperti dirinya, tapi jangan sifat dan tingkah lakunya yang kau ambil pula. Salim ... anakku!"
Sumayah menjerit dalam hati. Setiap kata yang ia ucapkan menggetarkan penduduk langit dan bumi. Doanya menembus langit hingga lapisan ke tujuh. Semua Malaikat mengaminkan. Pun dengan seluruh makhluk yang ada di muka bumi ikut menghantarkan doa Sumayah menuju Arsy-Nya.
Sumayah, menengadah mengusap air matanya sembari menelisik keadaan di luar. Mungkin hari sudah beranjak. Bunyi kriuk di perut bertalu-talu meminta haknya. Sumayah mencengkeram perutnya sendiri. Menahan perih dari rasa lapar yang menghantam.
"Aku harus kuat, aku harus bisa bangkit dan keluar dari sini. Aku tidak boleh menyerah! Luka ini bukan apa-apa dari pada harus melihat anakku merenggang nyawa di tangan wanita iblis itu!" Sumayah bermonolog.
Matanya berkilat penuh tekad. Ia mengumpulkan seluruh tenaga yang ia miliki, perlahan membawa tubuhnya untuk bangkit. Berdiri sambil bersandar pada dinding batu yang berlumut. Napasnya tersengal, menahan perih dari luka di telapak kaki.
"Ya Allah ... perih, tapi aku tidak boleh mengeluh. Aku harus kuat demi anakku," ucapnya sembari merapatkan rahang menahan segala rasa yang menjalar dari telapak kakinya.
Dengan susah payah, Sumayah akhirnya dapat berdiri. Kakinya bergerak-gerak mencari-cari kulit yang tak terluka. Namun, semua kulit kakinya terluka. Ia kembali meringis sambil berderai air mata. Sumayah berjalan, berpegangan pada dinding batu. Merayap keluar melalui celah batu yang sempit.
Baju pasien yang ia kenakan sudah tak berupa. Dipenuhi lumpur hilang sudah warnanya. Rambutnya yang kusut menggumpal oleh tanah basah yang membungkusnya. Persis seperti orang gila yang tak pernah merawat diri.
__ADS_1
Matahari di luar sana sudah hampir terik saat Sumayah berhasil keluar dari gua tersebut. Beruntung, gua itu tersembunyi di dalam semak hingga mereka tidak dapat menemukannya.
Sumayah bernapas lega, ia pikir ia sudah selamat karena tak ada suara-suara semalam yang terdengar. Namun, tebakan Sumayah salah. Di kejauhan ia masih melihat orang-orang berseragam serba hitam sedang mengelilingi hutan. Memeriksa setiap pohon, menyibak setiap semak.
Sumayah bersembunyi, berjalan mengendap berlawanan arah dengan mereka yang masih mencarinya. Ia berkali-kali meringis dan merintih saat rasa sakit dari lukanya terasa menusuk-nusuk.
Sumayah menyeret langkahnya yang tertatih. Luka berdarah dari telapak kakinya, meninggalkan jejak merah di atas dedaunan kering. Ia harus berhasil keluar dari hutan ini. Sumayah semakin mempercepat langkah, saat pohon-pohon mulai merenggang dan ujung dari hutan terlihat.
Sekuat tenaga ia menahan sakit di kaki, tak peduli lukanya akan bertambah lebar. Ia harus segera menjauh dari hutan itu. Sumayah berhasil keluar. Ia terus menyeret langkah ke mana saja kaki membawanya. Ia tak menghentikan ayunannya meskipun kaki terpincang-pincang.
Sumayah menjatuhkan diri di balik sebuah batu besar. Duduk dengan napas tersengal dan wajah yang meringis. Tangannya mengurut-urut kakinya yang ngilu akibat luka yang melebar. Berdarah tak henti. Bibirnya semakin pucat pasih.
Berkali-kali ia menelan ludah guna membasahi tenggorokannya yang kering. Nihil, ludah itu pun tak dapat membasahinya. Tenggorokannya tetap kering.
"Haus ... aku haus sekali," gumamnya menoleh ke kanan dan kiri berharap ada sesuatu yang dapat ia makan atau minum. Sumayah menjatuhkan kepala pada batu, matanya terpejam. Menangis pun tak berair mata. Oh ... Sumayah! Betapa pelik hidupmu!
Bayinya mulai gelisah, menggeliat tak tentu. Wajahnya menelusup pada dada Sumayah dengan mulut terbuka mencari butiran daging yang biasa ia sesap untuk mengisi perutnya.
Menangis lah ia, membuat Sumayah dilanda kepanikan yang dahsyat. Ia terlalu lelah untuk berlari. Hanya menimangnya dalam buaian berharap bayi itu akan reda dan tenang.
"Ssssttt ... tenanglah, sayang! Jangan menangis, kalau kau menangis Ibu takut mereka akan mendengar dan kita akan tertangkap. Tenanglah, Salim! Putraku!" rayu Sumayah. Terpaksa ia membuka baju atasnya mengeluarkan apa yang dicari putranya meski perih. Kulitnya telah terkelupas dan mengeluarkan darah dari sela-sela luka itu.
"Oh ... ya Allah, perih!" rintih Sumayah saat bibir kecil itu menyesap kulit tersebut. Sumayah menangis, tapi air matanya pun tak ada yang menetes seolah habis terkikis. Telinganya menangkap sebuah suara di kejauhan, ia meneguk ludah.
"Apa itu?"
__ADS_1