
"Apa maksudmu mengatakan itu pada Kevin? Apa kau sedang meracuni otaknya untuk tidak mengakui anak dalam kandunganku?"
Priscilla datang dengan kemurkaan yang jelas di raut wajahnya yang selalu dihiasi make-up berlapis. Ia menatap nyalang Juan yang bergeming di tempatnya. Laki-laki berpostur tinggi tegap itu bungkam. Maniknya yang coklat menelisik penampilan Priscilla yang dianggapnya tidak sopan.
Datang ke kantor dengan mengenakan pakaian yang minim. Bukankah itu sangat mencoreng nama baik Kevin yang ia dapatkan setelah kehadiran Sumayah di depan semua karyawannya.
"Apa tidak ada pakaian yang lebih baik untuk Anda gunakan Nona saat ingin datang ke kantor, Tuan?" sarkas Juan. Senyum tipis tercetak saat wajah Priscilla menampakkan keterkejutannya.
Mulut wanita itu menganga, matanya melirik penampilan sendiri dari atas hingga ujung heels yang ia kenakan. Ia menghentakkan kaki jengkel sembari melangkah mendekati Kevin yang masih duduk tenang di kursinya.
"Sayang, apa mulut asistenmu itu tidak pernah mendapatkan pendidikan fashion. Ini model terbaru dari artis Korea yang sedang terkenal itu. Aku bahkan harus menyewa perancang berkelas untuk mendapatkannya, tapi asistenmu itu malah menghinanya. Aku tidak terima," rengeknya. Ia bergelayut manja di lengan kekar Kevin.
Juan berdecih tanpa suara, ekspresinya jelas mencibir wanita yang tidak tahu malu itu.
"Juan benar, Cilla. Kau seharusnya berpakaian lebih sopan saat hendak datang ke kantorku. Ini bukan di rumah kau harus ingat itu," sahut Kevin semakin menyulut emosi. Menyiram minyak dalam bara.
"K-kau ...? Kenapa malah membelanya? Apa kau juga mau menghinaku seperti yang dia lakukan?" sentak Priscilla menjauhkan tubuhnya dari Kevin.
Kevin memandang lelah wanita yang merajuk padanya. Permasalahan harga barang yang anjlok dan masalah Sumayah yang belum diketemukan sudah membuat isi kepalanya ingin berhamburan keluar. Ditambah permasalahan Priscilla yang menuntutnya untuk segera diresmikan. Semakin kalut otak Kevin dibuatnya.
"Bukan begitu ... ya sudah, kali ini tidak masalah, tapi lain kali kau harus berpakaian lebih sopan," tekan Kevin tanpa ingin dibantah.
Priscilla mendengus, kesal tak terkira. Ia kembali menatap Juan yang bungkam seketika setelah terdengar kekehan kecil darinya.
"Apa kau baru saja menertawakan aku? Berani sekali kau menertawakan aku, calon Nyonya Kevin Aji Negoro!" bentak Priscilla yang membungkam Juan seketika.
__ADS_1
Matanya melirik Kevin yang menunduk. Priscilla bahkan sudah berani mengatakan hal itu. Padahal Kevin belum memutuskan akan menikahinya.
"Benarkah? Apa yang membuat Anda yakin bahwa Anda akan menjadi Nyonya Kevin, Nona?" Lagi-lagi pertanyaan Juan menohok hatinya. Ia gelagapan, detik kemudian tersenyum sambil melempar lirikan pada Kevin yang seperti orang bodoh hanya melihat bergantian mereka berdua.
"Karena aku sedang mengandung anak Kevin, darah daging Kevin yang kelak akan meneruskan perusahaan Ayahnya," jawabnya lugas dan tegas.
Percaya diri sekali! Juan mencibir dalam hati. Garis bibirnya tertarik ke salah satu sudut. Hati Priscilla semakin memanas dibuatnya. Ia geram, tapi tak dapat melakukan apa pun selain mengepalkan kedua tangan erat-erat.
"Anda yakin janin yang ada di rahim Anda itu adalah benih dari Tuan?" Juan kembali tersenyum. Tercetak penuh kemenangan saat wajah Priscilla berubah pucat.
Kevin menunggu dan memperhatikan kedua orang dekatnya berdebat. Ia hanya ingin tahu, seberapa besar keyakinan dalam hati mereka.
"Tentu saja! Kau pikir aku wanita apa? Kau seharusnya sadar diri, Juan. Sudah saatnya Kevin mendapatkan kebahagiaannya. Bukan malah membuatnya semakin terpuruk dengan terus-menerus memikirkan dia yang sudah pergi!" tutur Priscilla dengan kedua matanya yang menajam.
Hening. Juan masih bungkam dengan matanya yang berkilat tajam. Kevin masih terdiam menunggu lanjutan dari perseteruan kedua orang itu. Lalu, Priscilla tersenyum menang sudah membuat Juan mati kata.
"Saya tahu apa yang Anda lakukan, Nona. Jadi, mengaku saja kepada Tuan kalau janin itu bukanlah benih dari Tuan," ucap Juan tanpa rasa ragu sedikit pun.
Kevin membelalak mendengar Juan dengan berani mengatakan itu. Pandangnya bertemu dengan Juan, tapi laki-laki itu justru mempertegas pernyataannya lewat sorot mata.
Ia memutuskan pandangan dan kembali menjatuhkannya pada Priscilla yang semakin terlihat pucat pasih dan gelisah. Kevin ikut menjatuhkan pandangan pada wanita yang mengaku mengandung anaknya itu.
"Katakan, Cilla! Apakah yang dikatakan Juan itu benar bahwa anak yang kau kandung bukan anakku?" tanya Kevin. Ia menggeram, jika saja Priscilla berbohong maka habis sudah nasibnya di tangan Kevin. Tak ada ampun bagi siapa saja yang telah berani membohongi seorang Kevin Aji Negoro.
Wanita itu semakin cemas terlihat, pandangannya menatap ke segala arah mencari alasan yang logis untuk mematahkan kalimat Juan.
__ADS_1
"PRISCILLA!" Bentakkan Kevin menyentak tubuh wanita itu. Ia memejamkan mata sebelum berpaling pada Kevin dengan menampakkan sisi lemahnya.
"Bagaimana bisa kau lebih percaya padanya, Kevin? Sementara aku selalu menghabiskan waktu denganmu di ranjang, bukan dengan yang lain. Sudah pasti anak ini adalah anakmu, Kevin. Darah dagingmu sendiri!" tegas Priscilla.
Air matanya berurai tak terkendali. Tubuhnya berguncang seiring isak tangis yang semakin menjadi. Kevin dilanda kebingungan, ia tidak tahu siapa yang harus ia percayai untuk saat ini. Kenapa hidupnya bertambah runyam setelah Sumayah pergi.
"Jika memang Anda yakin itu adalah anak Tuan, maka buktikan agar keraguan saya ini hilang dan Anda bisa berada di sisi Tuan sebagai Nyonya," tantang Juan menatap tanpa berkedip manik kebiruan milik Priscilla.
Priscilla kembali gugup, Kevin menatap setuju pada pendapat Juan.
"Benar! Aku ingin bukti konkrit bahwa itu benar anakku. Setelah itu, aku pastikan kau akan menjadi Nyonya Kevin setelah kita menikah nanti!" Kevin ikut menantang Priscilla untuk membuktikan janin yang ada dalam kandungannya.
Ia semakin gugup, hanya bisa menggigit daging bibinya tanpa dapat berucap. Bergerak ke sana ke mari, gelisah tak menentu.
"Kita lakukan tes DNA, bukankah tes itu bisa dilakukan sebelum anak itu lahir, Juan?" ucap Kevin melirik Juan yang tersenyum mendengar kalimat Tuannya.
"Benar, Tuan! Jika Nona setuju. Maka, saya akan pergi ke Rumah Sakit untuk mempersiapkan semuanya dengan dokter ahli, Tuan," sambut Juan dengan senang hati.
"Bagiamana, Nona? Apa Anda setuju melakukan tes ini? Atau Anda justru takut untuk melakukannya karena hasilnya yang akan berbeda," sindir Juan. Matanya menyipit tajam ketika Priscilla menggeram dengan rahangnya yang beradu kuat.
"Siapa takut! Ayo, kita lakukan tes itu dan buktikan anak siapa yang aku kandung ini! Tapi aku punya satu syarat untuk kalian setujui," sahut Priscilla. Wajah liciknya terlihat jelas lewat senyum yang ia cetak di bibir.
"Apa syarat yang kau ajukan?" tanya Kevin setuju. Baginya, syarat apa pun akan ia terima asal semuanya bisa jelas.
"Jika hasil tes mengatakan anak ini bukan anak Kevin, maka aku akan angkat kaki dari rumah itu. Akan tetapi, jika anak yang kukandung ini adalah ternyata anak Kevin, aku ingin laki-laki itu pergi dari sisimu selamanya, Kevin!"
__ADS_1