
Terbitlah mentariku
Teruslah kau bersinar
Terangi hariku
Dengan cahayamu yang berbinar
Tegarlah kau bintangku
Teruslah berkelip
Terangi hidupku
Yang semakin gelap semakin pelik
Senandung lagu yang tersirat makna dalam setiap liriknya, dilantunkan Sumayah dengan lirih. Pandangannya tak putus dari wajah rupawan yang masih terlelap dalam dekapannya. Tangannya dengan lembut mengusap-usap dahi yang dipenuhi bulu-bulu halus. Sesekali akan menepuk-nepuk bagian belakang tubuh bayi merah itu.
Sumayah membenarkan letak kepalanya yang bertumpu pada tangan kanan. Kejoranya yang indah nampak suram, kulitnya yang halus terdapat banyak goresan di sana sini. Sumayah meraih jemari kecil Salim dan menciuminya. Harum khas bayi begitu menenangkan hatinya.
"Kau tahu, Nak? Lagu tadi Ayahmu sendiri yang menciptakannya. Ibu ingat hari nahas itu, di mana Nenek dan Kakekmu meregang nyawa secara bersamaan karena kecelakaan lalulintas-"
"Ibu terpuruk, tak dapat makan karena lidah tak menginginkannya. Menangis sepanjang siang dan malam. Ayahmu ... mendatangi Ibu, ia menghibur Ibu dengan menciptakan lagu itu. Lagu yang mengandung harapan dari laki-laki yang sedang tergila-gila pada Ibumu ini dulu."
Sumayah meneteskan bulir bening dari kelopak indahnya yang bagai mawar merekah saat terbuka. Teringat akan kenangan manis di mana Kevin menjadikannya ratu dalam hidupnya.
__ADS_1
"Maya, sampai kapan kau akan terus seperti ini? Aku membutuhkanmu, sayang. Kau pelitaku, bagaimana aku bisa berjalan tanpa pelita di tanganku?" rayu Kevin kala itu.
"Kau pembual, brengsek!" umpat Sumayah tertahan di kala ingatan itu mencuat ke permukaan.
"Kau mau dengar? Aku membuatkan lagu untukmu. Coba dengarkan, kau harus menyempurnakannya nanti," ucap Kevin lagi sembari memperlihatkan sebuah kertas yang dipenuhi coretan tinta hitam di permukaannya. Sumayah bergeming, ia tak melakukan apa pun hanya menjatuhkan kepalanya di bahu lebar milik Kevin.
Yah ... bahu itu dulu menjadi tempatnya melepas keluh dan kesah dari pahitnya kehidupan yang ia jalani. Bahu itu dulu tak pernah lelah menampung setiap tetes air mata yang ia jatuhkan.
Namun, kini tak lagi menjadi harapan. Sumayah justru ingin menghancurkan bahu kekar itu, bahu yang kini menjadi sandaran wanita rubah yang licik.
"Aku sangat membencimu, Kevin! Aku benci kalian semua! Lihat saja, kalian akan menderita setelah ini meski bukan dengan tanganku, tapi aku yakin Tuhan akan bertindak adil pada setiap umatnya yang terzalimi," geram Sumayah. Ia mengeratkan pelukan pada Salim menciumi dahi bayi itu penuh cinta.
Sumayah memejamkan mata, kenangan manis saat membina rumah tangga bersama Kevin tak dapat dihapusnya begitu saja. Laki-laki penguasa itu begitu menyayanginya sebelum iblis wanita itu hadir dalam mansion mereka.
"Dengar! Aku berharap setelah ini, kau tak lagi bersedih. Kau tahu, Maya? Aku seperti si buta yang kehilangan tongkat saat kau terpuruk seperti ini. Semua ini hanya ujian, sayang. Dan kau pasti bisa melewatinya," ujar Kevin lemah lembut. Tangannya menyapu rambut Sumayah yang bersandar di bahunya sembari bernyanyi lagu yang ia ciptakan sendiri.
Ia beralih pada putranya yang masih terlelap. Mungkin dia masih merasa kenyang setelah menghabiskan satu botol susu tadi. Sumayah memejamkan matanya yang lelah, menepis semua kenangan tentang Kevin saat bersama dulu.
"Kau harus memiliki pondasi yang kuat, Salim, agar tidak mudah goyah seperti Ayahmu," ucap Sumayah sembari menyapu rambut tebal bayi itu yang belum sempat dimandikan.
"Nyonya! Nyonya! Turunkan tangganya!" Sumayah tersentak saat suara laki-laki tua yang menolongnya mengusik indera rungu.
Tanpa menyahut, Sumayah beranjak membuka pintu dan mengulurkan tangga dari akar kebawah. Wanita tua itu menapaki anak tangga sambil membawa rantang makanan di tangan, ia merangkak masuk dan duduk berdampingan dengan Sumayah di rumah pohon itu.
"Makan dulu, Nyonya! Kami yakin Nyonya pasti belum memakan apa pun dari kemarin," ucap wanita renta itu sembari memberikan rantang bekal pada Sumayah.
__ADS_1
"Bu, ini baju ganti dan selimut!" Pak tua melongo ke dalam rumah pohon, ia meletakkan selimut dan baju ganti untuk Sumayah di lantai papan tersebut.
"Terima kasih, aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan kalian. Aku sudah tidak memiliki apa pun lagi," tutur Sumayah penuh sesal.
"Tidak perlu memikirkan itu, Nyonya. Selama ini Nyonya telah banyak membantu kami, mungkin ini saatnya bagi kami membalas semua kebaikan Nyonya walaupun tak sepadan," sahut wanita renta itu tulus.
Sumayah tersenyum, ia mulai memakan nasi dan lauk pauk yang ada di dalam rantang tersebut dengan lahap hingga tak bersisa. Ia harus mengisi ASI yang telah habis dikuras Salim.
"Nyonya kami akan membawa Anda ke rumah baru kami di desa Selatan," ujar pak tua setelah Sumayah menenggak air putih di botol.
"Desa Selatan?" Dahi wanita itu berkerut seolah berpikir ada apa di desa Selatan? "Tapi dari sanalah wanita iblis itu berasal. Penduduk di desa itu sangat memujanya. Apa itu tidak seperti aku mendatangi sarang macan? Tinggal di kandang macan itu yang setiap hari tentunya akan membuatku resah," lanjut Sumayah lagi.
"Justru karena itu, orang-orang Tuan tidak akan mendatangi desa itu dan mencari Anda di sana, Nyonya. Anda hanya harus berada di rumah dan tidak perlu keluar untuk berinteraksi dengan penduduk di desa itu. Kami pun tidak mengenal penduduk di sana, rumah kami sendiri berada di ujung desa terpencil dengan rumah-rumah warga yang lain," ungkap laki-laki tua tadi.
Sumayah berpikir tentang segala kemungkinan yang dikatakan laki-laki tua itu. Juga resiko tinggi saat mereka tak sengaja mengenalinya nanti. Sumayah tak akan bisa melarikan diri dari sana dengan mudah.
"Bagaimana kalau mereka mengenaliku?" tanya Sumayah, raut cemas tak dapat disembunyikan dari wajahnya.
"Kita akan pergi saat malam nanti. Anda akan tinggal di sana hanya selama kondisi Anda seperti ini. Setalah pulih nanti, Anda akan bisa pergi dengan mudah tanpa takut tak dapat berlari saat mereka mengejar," ucap wanita tua pula menjawab kegelisahan Sumayah.
"Baiklah, mungkin aku bisa tinggal di sana beberapa Minggu saja. Aku harus segera pergi begitu semua luka di kaki telah pulih. Terima kasih karena telah menolongku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika saja bukan kalian yang menemukan aku waktu itu," tutur Sumayah dengan mata berkaca memandang bergantian sepasang orang tua di depannya.
"Jangan bicara seperti itu, Nyonya. Semua penduduk di desa Hulu Sungai bahkan rela menukar nyawa mereka untuk menyelamatkan Nyonya. Selama ini Nyonya yang selalu membantu kesulitan kami, mencarikan solusi saat kami gagal panen hingga anak dan istri kami tetap bisa makan meski tak ada apa pun untuk dituai. Memberi semangat agar kami tak berputus asa dari mengeringnya ladang. Anda selalu datang dengan membawa berkah Tuhan ke desa kami. Jangan merasa sungkan atas pertolongan kecil yang kami berikan ini, Nyonya," papar laki-laki tua tadi yang membuat air mata Sumayah merembes membasahi kulitnya yang pucat.
"Terima kasih, Nyonya." Wanita tua itu pula berucap dengan senyum yang terulas di bibir. Tangannya menyapu lembut punggung tangan Sumayah.
__ADS_1
Tanpa segan, Sumayah merengkuh tubuh renta wanita itu karena rasa haru yang teramat. Ia akan bersiap pergi malam nanti semoga tak ada halang melintang yang menjadi beban di pertengahan jalan.