
Bagai tertimpa reruntuhan, hatiku remuk redam karenanya. Bagai tertimbun tanah longsor, aku mati rasa dibuatnya.
Fisik yang terluka karena sebuah sayatan, tak akan sesakit hati yang terluka meski tanpa goresan.
Biarlah fisik tersakiti, biarlah kulit tergores luka, asal jangan ambil cinta dari hatiku. Biarkan ia tetap bersamaku meski tanpa harta yang berlimpah.
******
Satu tahun sudah berlalu, Sumayah menjalani kehidupan sebagai penjual ikan di lapak milik seorang juragan. Sikap dan segala tindak tanduknya yang ramah, membuat para penduduk menaruh simpati kepadanya.
Ia dapat bekerja dengan tenang meskipun tak pernah membuka penutup wajahnya. Hal itu tidak menjadi masalah bagi warga setempat. Mereka sangat menghargai Sumayah sebagai penduduk pindahan yang berkelakuan baik.
"Bu Sari, anaknya ke mana? Kok, tidak pernah kelihatan main di luar?" tanya salah satu rekan kerja di sampingnya.
"Anak saya sangat tertutup, Bu. Dia agak susah berteman, lebih suka sendiri. Katanya, di rumah saja menunggu Ibu pulang," jawab Sumayah sedikit berbohong tak apa, bukan? Semua itu ia lakukan agar ia tetap merasa aman selama pergi bekerja.
Dengan Salim yang tetap berada di rumahnya, anak itu akan aman dan orang-orang Kevin tidak akan menemukannya.
"Oh, begitu. Kalau memang anaknya mau seperti itu, ya, sudah mau bagaimana lagi?" sahutnya seraya kembali pada pekerjaannya sama seperti Sumayah.
Menyusun ikan-ikan segar untuk dijemur dan dijadikan ikan asin, adalah pekerjaan Sumayah selain harus berkeliling menjualkannya jika ingin tambahan uang. Apa pun, Sumayah lakukan agar secepatnya memiliki uang yang cukup untuknya keluar dari desa tersebut.
Sementara di tempat lain, lawan bisnis dari juragan tempat Sumayah bekerja dihebohkan oleh sebuah sayembara.
"Eh, apa kalian dengar di kota ada papan sayembara yang mencari seorang wanita. Hadiahnya sangat besar bisa menghidupi anak cucu selama tujuh turunan. Aku curiga, wanita yang bekerja di lapak sebelah itu yang ada dalam gambar, matanya mirip sekali," ujar seseorang pada sebuah perkumpulan.
"Kenapa? Bukankah dia sama sekali tidak mencurigakan? Dia selalu baik pada semua orang, sopan dan suka berbagi. Jadi apanya yang membuatmu curiga? Apakah karena wajahnya yang selalu tertutupi?" bela yang lain dengan ekspresi tak suka.
"Benar itu, selama dia tinggal di sini, kan, kita tidak pernah melihatnya melakukan hal-hal yang mencurigakan. Tidak boleh berburuk sangka pada orang lain, pamali!" timpal yang lain lagi ikut membela.
Gosip mereka terhenti saat ada sekelompok laki-laki berjalan melewati mereka. Orang-orang berseragam hitam rapi dan bersih, dituntun dua orang warga yang menjadi petunjuk jalan.
"Siapa mereka?"
"Tidak tahu."
__ADS_1
"Sepertinya mereka menuju ke kontrakan belakang masjid."
"Iya benar, lihat!"
Ibu-ibu yang serba ingin tahu itu pun berkerumun demi dapat mengetahui apa yang terjadi di tempat tersebut.
"Mereka mendatangi kontrakan Sari, mau apa mereka?"
Kasak kusuk terdengar seperti ribuan lebah menyerang. Suara pintu didobrak paksa menyentak tubuh mereka.
"Lepaskan aku! Siapa kalian! Kenapa kalian masuk ke rumahku tanpa izin?! Lepaskan aku?! Mau kalian bawa ke mana aku?"
Suara teriakan Salim terdengar membahana hingga ke rumah-rumah warga yang ada di sekitar tempat tersebut.
Dua orang membawa paksa Salim keluar dari rumah kontrakannya. Bocah itu memberontak meminta dilepaskan.
"Lepaskan aku, sialan! Akan aku laporkan kalian pada Ibuku!" jeritnya lagi sembari memberontak semakin kuat.
Satu orang mencekal Salim, mengurungnya dalam dekapan. Lainnya memberikan dua buah amplop berwarna cokelat pada dua warga yang menuntun jalan mereka.
"Kurang ajar kalian! Ternyata kalian yang melaporkan pada mereka!" jerit Salim memaki dua warga yang tertawa senang setelah mendapatkan hadiah.
Salim diseret paksa oleh orang yang mencekalnya. Otak kecilnya dipaksa berpikir keras mencari cara bagaimana dia bisa lari dari cekalan mereka.
Melirik tangan yang didadanya, sekuat tenaga Salim menggigit daging tangan tersebut. Hingga gigi kecilnya mengoyak kulit tangan itu dan mengeluarkan darah segar.
Cekalan tangannya terlepas diiringi jeritan yang memekakkan telinga, Salim segera melarikan diri dari mereka. Berkejaran dengan para pria berseragam hitam. Berlari dengan gesit, menghindar dengan lincah. Tubuh kecilnya sangat terlatih dalam hal berlari. Ia licin bagai seekor belut yang menggeliat di tangan pemburu.
"Ibu! Ibu! Aku harus mencari Ibu!" gumamnya dengan napas tersengal sambil terus berlari.
Tubuh kecilnya menyelinap ke gang-gang sempit rumah warga. Berlari secepat kilat bahkan hampir tak terlihat. Salim dengan kaki kecilnya berhasil menjauh dari kejaran mereka.
Ia menuju tempat kerja Sumayah. Semangatnya berkobar saat bangunan di mana Ibunya bekerja sudah terlihat di depan mata.
"Ibu! Ibu! Mereka mau membawaku, Ibu! Tolong aku!" teriak Salim begitu ia berhasil memasuki gedung tempat Sumayah bekerja.
__ADS_1
Sumayah yang sedang merapikan ikan-ikan yang akan dijualnya, terhenyak mendengar suara Salim yang berteriak.
"Salim! SALIM!" Sumayah tak lagi menghiraukan pekerjaannya. Ia berbalik dan segera berlari mendekati sosok kecil yang tersengal-sengal menunjunya.
"Salim! Apa yang terjadi?" tanya Sumayah seraya mengangkat tubuh Salim dalam gendongan. Tanpa menunggu dan tak acuh dengan pandangan orang-orang di sekitarnya, Sumayah meninggalkan gedung tempat mereka bekerja.
Berlari entah ke mana kakinya melangkah yang penting bisa menjauh dari kejaran mereka.
"Orang-orang berpakaian hitam datang ke rumah. Mereka mendobrak paksa pintu rumah dan memaksa Salim untuk ikut dengan mereka, Ibu. Salim takut, Ibu. Salim tidak mau ikut dengan mereka. Salim mau bersama Ibu saja, Salim tidak mau pisah dengan Ibu," lapornya sembari membenamkan wajah di pundak Sumayah.
"Sudah, ssssttt ... jangan menangis! Ibu akan membawa Salim pergi dari sini. Kita akan pergi dari sini," ucap Sumayah sembari terus membawa langkahnya berlari menjauh dari desa.
"Lalu, bagaimana dengan tabungan kita di rumah, Ibu? Apa kita akan meninggalkannya begitu saja? Bukankah Ibu sudah susah payah mengumpulkannya," ucap Salim teringat akan tabungan yang setiap hari dihitungnya dari hasil Sumayah berjualan ikan.
"Jangan pikirkan itu! Ibu bisa mencari lebih banyak lagi uang, tapi keselamatan Salim tidak bisa Ibu pertaruhkan!" sahut Sumayah dengan air matanya yang berjatuhan setetes demi setetes.
'Kurang ajar kau, Kevin! Lihat saja! Setelah aku berhasil melarikan diri, aku akan membalas semua yang telah kau lakukan!' ucap Sumayah dalam hati.
Kakinya terus memacu dengan Salim di gendongannga. Tak peduli peluh yang semakin deras bercucuran, juga air mata yang kian menganak sungai.
"Kita akan ke mana, Ibu?" tanya Salim saat mata kecilnya menatap hamparan laut. Sumayah berlari ke pantai.
"Kita akan ikut dengan para nelayan. Kita akan menumpang pada perahu mereka dan turun di tempat lain. Sudahlah, jangan banyak bertanya!" pinta Sumayah semakin cepat menggerakkan kakinya mendekati laut.
Beruntung, sebuah perahu sedang bersiap untuk pergi berlayar. Sumayah tidak ingin tertinggal.
Susah payah kakinya berlari di atas pasir yang kasar. Ditambah Salim di gendongannya.
"Anda tidak bisa lari lagi, Nyonya!"
Sumayah terhenyak, kedua kakinya tiba-tiba terhenti saat sekelompok pengawal Kevin menghadang jalannya.
Diteguknya ludah basi demi membasahi tenggorokannya yang mengering. Kedua tangannya mengerat di tubuh Salim. Mendekapnya dengan sekuat tenaga. Apa pun yang terjadi selama nyawa masih menyatu dengan jasadnya, ia akan tetap melawan dan mempertahankan Salim.
******
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya???
Bersambung!