Sumayah

Sumayah
Sumayah bak Dewi Sri


__ADS_3

"Apa dia putramu, Ibu?" Sumayah menunjukkan figura di tangannya ke depan wajah wanita tua itu.


Dengan mata tuanya yang menyipit ia menelisik foto tersebut. Mengusapkan ibu jarinya pada gambar seorang pemuda yang gagah. Senyum kerinduan tersirat di kulit bibirnya yang keriput.


"Benar, Nyonya dia putraku." Ia menengadah mengarahkan tatapan pada kejora indah Sumayah, "apa Nyonya mengenalnya? Dia bekerja sebagai bodyguard di kota," lanjutnya bercerita. Garis lengkung di bibirnya tertarik sempurna. Betapa ia bangga pada putranya itu!


Sumayah tak kuasa untuk menjawab walaupun sekedar sebuah anggukan kepala atau gelengannya.


"Saya masih ingat waktu, itu ...," ucapnya menjeda kalimat. Tatapannya kembali berpijak pada pemuda dalam gambar tersebut.


" ... saat pertama Anda datang ke desa kami di Hulu Sungai untuk membantu penduduk desa yang gagal panen tahun itu. Dia yang waktu itu belum memiliki pekerjaan dan masih membantu Bapaknya di ladang, begitu mengagumi Anda. Terlebih, saat ia melihat dua orang pengawal yang berdiri tegak di belakang Anda. Apa Anda tahu apa yang dia katakan waktu itu?" Ia kembali melirik Sumayah garis wajah membangga dari seorang Ibu untuk putranya.


"Dia mengatakan, aku pun pantas menjadi pengawal Nyonya. Aku akan berlatih dan akan mencalonkan diri sebagai pengawal Nyonya yang handal. Di tanganku, keselamatan Nyonya akan terjamin. Dan Tuan akan merasa tenang saat berjauhan dengan Istirnya. Begitu, Nyonya," jelas wanita tua itu.


Sudut matanya berair saat mengingat betapa kuatnya tekad sang Putra yang ia miliki. Sumayah beranjak duduk di sampingnya. Ia merangkul bahu rapuh itu dan menjatuhkan kepala di atasnya.


"Putra Ibu memang hebat, aku sudah melihatnya sendiri. Dan ... apa Ibu tahu?" Sumayah mengangkat kepalanya, bertatapan dengan netra keabuan milik wanita itu untuk beberapa saat.


"Putra Ibu berhasil meraih cita-citanya. Dia pernah menjadi bodyguard-ku, Ibu. Dulu ... sebelum kesalahfahaman ini terjadi. Dan dia sangat hebat, sigap dan siaga. Tak pernah membiarkan sedikit pun hal bahaya mendatangi aku. Putra Ibu memang hebat," puji Sumayah dengan senyum tulus di bibirnya.


Kalimat pujian itu membuat hati rapuhnya terhibur. Ia tersenyum sambil meneteskan air mata. Bangga atas pencapaian yang luar biasa dalam hidupnya.

__ADS_1


"Jika itu dulu ... lalu, sekarang bagaimana, Nyonya?" tanyanya was-was.


"Untuk saat ini, semua pengawal berada di bawah kendali Kevin. Ia menarik semua pengawal yang menjagaku saat terjadi satu masalah yang menjadikan aku kambing hitam di mansion itu. Semuanya berubah sejak aku mengandung Salim. Banyak hal tak terduga terjadi di istana Kevin. Semua karena iri dan dengki juga ketamakan," papar Sumayah.


Wajah cantik berseri itu seketika bermuram, tak ada cahaya yang berkilat memancarkan keindahan dari lukisan Tuhan yang terpatri sempurna di wajah wanita bersahaja itu. Teringat akan rangakaian kejadian yang selalu memojokkan dirinya dan mengkambinghitamkan dia yang sudah tidak berdaya.


"Maafkan saya, Nyonya." Wanita renta itu menangis merasa malu dan tak enak pada Sumayah. Hari itu, semua curahan isi hati Sumayah tumpah pada wanita tua tersebut.


Enam bulan berlalu sejak mereka saling menceritakan kehidupan masing-masing, Sumayah dan kedua orang tua itu semakin akrab. Kehidupan mereka subur makmur berkat kehadiran Sumayah dalam hidup mereka.


Panen selalu melimpah, ditambah Sumayah yang tak segan membantu pekerjaan rumah saat mereka pergi ke ladang. Selama itu juga, ia hanya berada di dalam rumah tak pernah sekali pun melangkah keluar dari pintu depan. Sehari-hari ia habiskan dengan mengajak Salim bermain di halaman belakang rumah yang dipagari tinggi dan rapat oleh Pak tua agar mereka yang melintas di luar pagar dapat dapat melihat Sumayah.


Hari itu, sepasang orang tua penolong pergi ke desa Hulu untuk memanen padi di ladang. Seperti biasa, hasil panen mereka yang paling melimpah. Dengan perasaan bahagia, keduanya tak kenal lelah memetik padi yang tumbuh subur di ladang mereka.


"Kenapa, ya, Pak semenjak Nyonya tinggal bersama kita panen kita selalu melimpah. Tidak pernah sekali pun kita gagal panen, sayur dan buah-buahan semuanya tumbuh subur dan memberikan kita hasil yang melimpah," celetuk wanita tua itu di arah jalan pulang.


"Iya, Bu. Alhamdulillah!"


Hari itu mereka membawa banyak uang dari hasil menjual padi mereka. Keduanya ingin memberikan uang tersebut kepada Sumayah sebagai bekalnya di perjalanan nanti saat ia harus pergi dari desa itu.


Kedua orang tua renta itu mengernyitkan dahi saat memasuki kawasan desa, banyak poster dipasang. Di pohon-pohon, di ruang-ruang listrik, di gedung-gedung, di bangunan rumah pun tertempel poster tersebut.

__ADS_1


"Itu gambar apa, Pak?" tanya si wanita menunjuk pada gambar di pohon besar pinggir jalan.


"Bu, itu gambar Nyonya. Berisi pengumuman bagi siapa saja yang menemukan wanita beserta bayinya maka dia akan diberi hadiah satu miliyar rupiah, Bu," bisik si Pak tua di telinga istrinya.


Mata wanita itu membelalak mendengarnya. Gegas ia memacu langkah menuju rumah, tak mau menunggu lagi ingin memberi kabar tentang apa yang sedang dilakukan Kevin. Ia bertekad akan membawanya pergi malam itu juga dari desa.


Hari semakin senja saat mereka tiba di desa Selatan, awan-awan jingga memayungi seluruh jagat menyuguhkan pemandangan indah tiada tara. Sumayah sedang menikmati senja di halaman belakang rumahnya.


Ia beranjak saat terdengar ketukan pintu dari luar.


"Kenapa Ibu dan Bapak mengetuk pintu? Biasanya mereka akan langsung masuk tanpa permisi," gumam Sumayah sembari masuk ke dalam dan berjalan menuju bagian depan rumah. Ia tidak menyahut meskipun ketukan di pintu tak kunjung usai.


Sementara kedua orang tua itu masih berada di jalan desa belum sampai di rumah mereka. Siapa yang mengetuk pintu. Sumayah tertegun saat peringatan dari sepasang orang tua itu mengiang dalam ingatan.


"Nyonya, jika ada yang mengetuk pintu tolong jangan mendekat pada pintu. Tetaplah di dalam dan tunggu sampai ketukan itu hilang. Kami berdua tidak akan pernah mengetuk pintu saat datang. Ingat itu, Nyonya!"


sumayah yang penasaran karena ketukan di pintu itu terus berlanjut tak berhenti. Ia menaruh Salim di kereta bayi di dalam kamar. Sementara ia melangkah perlahan mendekati pintu. Disibaknya sedikit gorden untuk dapat melihat siapa yang mengetuk pintu tiada henti.


Mata Sumayah membelalak begitu yang dilihatnya adalah pemuda yang ada dalam foto di kamar yang ia tempati saat ini.


"Ya Allah, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" gumam Sumayah yang hanya bisa didenger oleh telinganya sendiri. Ia mengigit ujung jari telunjuknya berpikir apa yang harus ia lakukan agar laki-laki itu tidak bertemu dengannya. Apakah dia harus pergi dari rumah itu tanpa pamit? Sumayah dilema.

__ADS_1


__ADS_2