
Sumayah tersentak kaget saat langkah kaki yang banyak mengetuk anak tangga di mana ia melarikan diri bersama Salim.
Kevin dan ketiga orangnya menuruni tangga dengan cepat tak ingin terlambat menemukan Sumayah. Pandangannya mengedar menatapi sebuah ruangan kecil yang tak pernah dimasukinya lagi semenjak Sumayah pergi.
Banyak buku-buku dan dokumen-dokumen penting tersimpan di dalam sana yang orang lain tidak tahu.
"Dia di sana!" teriak salah satu dari mereka menunjuk Sumayah dan Salim yang masih duduk di dekat pintu keluar.
Mereka berlari mendekat dan segera mengepung keduanya. Keadaan yang gelap menutupi mata mereka dari kedua sosok yang berdiam di tempat duduk mereka.
Ceklak!
Saklar lampu dinyalakan dan nampak apa yang tengah mereka kepung. Dua gundukan kain menyerupai dua orang terpampang nyata di hadapan mereka.
"Sial! Dia menipu kita!" umpat mereka dengan geram. Ditendangnya gundukan kain itu hingga berserakan di lorong.
Kevin yang merasa tertipu mengepalkan kedua tangan hingga memutih. Kedua rahangnya mengeras hingga gemelutuk gigi ikut terdengar dari dalamnya.
"Cepat, kejar mereka!" titahnya pada semua orang. Mereka berhambur keluar. Jalan keluar itu tepat di bawah pohon pinus yang ditunjuk Salim.
"Kau memang wanita licik! Tapi kali ini aku tidak akan membiarkanmu lari menjauh lagi!" ancamnya seraya membawa langkah dan memberi perintah kepada sebagian pengawalnya untuk menyebar mencari Sumayah.
"Kalian yang terlalu bodoh atau dia yang terlalu pintar hingga dia menyelinap tanpa kalian sadari. Terjadi lagi!" gumamnya sembari menatap punggung para pengawal yang berlarian menyebar ke segala arah. Ia masih berdiri di dekat pohon pinus tersebut.
"Kevin, ada apa? Kenapa kau nampak kesal?" tanya Priscilla yang belum mendengar jika Salim dibawa kabur. Ia yang melihat Kevin segera saja menghampiri.
"Dia berhasil masuk ke dalam mansion dan membawa kabur Salim. Kau senang, bukan? Akhirnya Salim pergi dari sini," sindir Kevin memberi tekanan pada kalimat akhirnya. Matanya ikut melirik tajam pada wanita yang berdiri di sampingnya.
Priscilla mengernyit, antara senang dan tidak mendengar kabar itu. Ia mendesah pasrah.
"Rasanya mustahil mendengarnya, bagaimana mungkin dia bisa masuk sementara orang-orangmu sudah berjaga di sekitar mansion ini? Apa dia selicik itu?" sahut Priscilla tak mengindahkan ucapan Kevin yang menyindirnya.
"Kau pun sama liciknya, Cilla!" sergah Kevin.
Priscilla melipat kedua tangan di dada dengan tenang.
__ADS_1
"Setidaknya aku tidak berniat untuk menghancurkanmu," katanya seraya berbalik meninggalkan Kevin seorang diri. Ia senang pada akhirnya anak itu pergi dengan sendirinya dari rumah. Tidak! Tapi kembali diculik oleh Ibunya.
Kevin yang kesal menyusul kepergian orang-orangnya mencari Sumayah. Ada yang menyebar ke jalan raya, ke kebun belakang mansion bahkan ke hutan kota yang tak jauh dari kediamannya.
Ia melakukan panggilan pada pihak kepolisian, kali ini ia berpikir harus melibatkan mereka untuk menangkap Sumayah. Kevin bergabung bersama orang-orangnya yang mencari di sekitar hutan kota karena hanya di tempat itulah mereka dapat bersembunyi.
Jauh di depan mereka Sumayah masih berlari bersama Salim dalam gendongan. Kakinya tak lelah berlari, tangannya tak letih menopang tubuh Salim. Keduanya terus berlari menyusuri jalanan komplek, menyelinap ke gang-gang sempit celah rumah warga.
"Ibu, berhenti! Turunkan Salim, biarkan Salim berlari sendiri. Salim tidak mau menjadi beban untuk Ibu. Turunkan Salim, Ibu! Kita lari sama-sama!" pinta Salim berkali-kali yang tak didengar Sumayah.
Ia terus saja berlari sambil menggendong Salim.
"Apa Salim tidak apa-apa lari sendiri?" tanya Sumayah tak kunjung menghentikan kakinya yang terus berpacu.
"Tidak apa-apa, Ibu. Salim bisa berlari sendiri, kita akan berlari bersama-sama," ucapnya dengan yakin.
Sumayah menurunkan Salim.
"Kalau Salim lelah, katakan pada Ibu. Ibu akan menggendong Salim lagi," katanya seraya menautkan jemari mereka. Salim mengangguk patuh.
Gelap merayap menyelimuti bumi. Sumayah mengajak Salim untuk duduk sejenak di belakang tembok sebuah rumah.
"Ayo, Nak! Duduk dulu, kita istirahat di sini dulu," ucapnya. Ia memangku Salim dengan napas tersengal-sengal.
"Maafkan Ibu, Salim. Salim harus mengalami kesusahan ini, apa Salim menyesal lari dengan Ibu? Kalau Salim ingin tinggal bersama Ayah, maka Ibu akan mengalah," sesal Sumayah saat melihat wajah letih Salim yang dipenuhi keringat.
"Jangan merasa bersalah untuk suatu kesalahan yang bukan Ibu buat. Salim lebih bahagia hidup bersama Ibu dari pada laki-laki itu. Jangan berikan Salim padanya, Ibu. Salim tidak ingin tinggal dengannya, Salim hanya ingin tinggal bersama Ibu," mohon Salim sembari mengangkat pandangan dan menatap Sumayah dengan mata kecilnya yang berkaca.
"Oh ... Salim! Anak Ibu, sampai mati pun Ibu tidak akan memberikanmu padanya. Kau harta Ibu satu-satunya hanya Salim yang Ibu miliki di dunia ini. Ibu mencintai Salim," sambut Sumayah sembari kembali merengkuh tubuh putranya yang dibanjiri keringat.
Hanyut dalam buai kerinduan hingga mereka lupa bahwa masih ada orang-orang yang mengejar mereka di belakang.
"Ibu, Salim sudah tidak lelah lagi. Apa tidak sebaiknya kita segera pergi dari sini, Ibu? Salim takut mereka akan berhasil menyusul kita," saran Salim menjauhkan sedikit tubuhnya dari Sumayah.
"Kau benar, Nak. Kita harus pergi secepatnya, Ibu akan membawamu ke tempat di mana mereka tidak akan pernah menemukan kita," ucap Sumayah seraya beranjak berdiri bersama Salim.
__ADS_1
Mereka berjalan cepat meninggalkan tempat beristirahat, masih bergandengan tangan tak sedetik pun dilepaskan. Kepala Sumayah sesekali akan menoleh ke belakang khawatir mereka sudah bisa menyusul.
"Kita tidak akan melewati hutan, Salim. Kita akan menyusuri jalan ini terus sampai di terminal bus kota," ucap Sumayah memberitahu Salim.
Orang-orang Kevin salah menduga, mereka kira Sumayah memasuki hutan dan bersembunyi di dalamnya. Mereka mencari Sumayah di dalam hutan kota. Sayang, sudah puluhan kali mengitari hutan Sumayah dan Salim tidak juga ditemukan.
"Mereka tidak ada di sini, Tuan. Saya menduga dia membawa lari Tuan Muda ke jalan raya ... terminal! Mungkin saja tujuannya adalah terminal," pekik salah satu pengawal saat sadar bahwa tak ada apa pun di sana.
"Kalau begitu tunggu apa lagi! Cepat pergi ke sana!" titah Kevin dengan keras. Kemarahan semakin meraja dalam hatinya, ia tak lagi dapat tenang selama Salim belum diketemukan.
"Hubungi pihak kepolisian, apakah mereka sudah melakukan pencarian?" perintah Kevin yang segera dilaksanakan olehnya. Ia melakukan panggilan telepon dan berbicara sebentar.
"Mereka bilang, kepolisian telah dikerahkan untuk mencari Tuan Muda, Tuan," lapornya.
"Bagus! Kita pergi ke sana!"
Gegas Kevin dan orang-orangnya pergi ke jalan raya menuju terminal kota. Di sana pihak kepolisian sudah berjaga. Tak ada celah untuk Sumayah melarikan diri.
"Ibu, kenapa banyak sekali orang-orang berseragam di sana!" tunjuk Salim saat mereka mengintai keadaan dari balik sebuah tembok bangunan yang usang.
"Ibu tidak tahu, sayang. Sepertinya, kita tidak bisa ke terminal. Ibu khawatir polisi-polisi itu suruhan Ayahmu. Kita kembali saja dan cari jalan lain," ucap Sumayah.
Ia membawa Salim berbalik arah dan kembali menyusuri gang sempit yang gelap. Tak apa, asal mereka tidak ditemukan.
Dor!
"Berhenti di sana!"
*****
Hallo assalamualaikum teman-teman! Boleh minta dukungannya ke novel baruku, like dan komen ya. Masih anget. Please!
Judul : Derita Istri Kedua
Atau klik profil aku dan cari novel terbaruku. Terimakasih banyak-banyak. Love you all ...
__ADS_1