Sumayah

Sumayah
Sementara Waktu


__ADS_3

Dor!


Salim membeku mendengar suara tembakan yang membahana di dekatnya. Begitu pun dengan Sumayah. Ia meneguk ludah basi dengan susah payah, keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya.


"Ibu!" Salim merengek dengan air mata yang bercucuran membanjiri pipinya yang telah dibanjiri keringat.


Sumayah mengeratkan genggamannya saat merasakan tubuh Salim yang gemetar. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam mengisi udara pada paru-parunya yang tiba-tiba menghilang.


Sumayah menarik tubuh Salim ke depan dan membenamkan tubuh kecil itu dalam pelukannya.


"Tenang, sayang. Kita akan hadapi bersama-sama. Kau jangan takut, ada Ibu di sini," ucap Sumayah menatap kosong ke depan pada kegelapan malam.


Drap ... drap ... drap!


Suara derap langkah yang banyak terdengar di sekeliling mereka. Sumayah tahu ia telah dikepung saat ini. Air matanya menetes tanpa aba-aba. Pelukan tangannya pada Salim menguat seiring rasa takut yang kian meraja.


"Berhenti di sana, Nyonya! Anda telah terkepung!" ujar salah satu dari mereka.


Blash!


Sebuah lampu sorot menerangi keadaan tempat tersebut. Di belakang sebuah bangunan yang terbengkalai Sumayah berdiri dengan tegak bersama Salim yang membenamkan wajah dalam pelukan.


Orang-orang berseragam polisi berbaris mengelilingi keduanya. Konyol! Apa Kevin memang perlu orang sebanyak ini hanya untuk menangkap Sumayah? Luar biasa wanita yang satu ini, dia hanya sendirian sedangkan Kevin butuh belasan hingga puluhan orang untuk menghadapinya. Pengecut!


Sungguh tidak masuk akal sama sekali.


"Siapa kalian? Kenapa kalian mengepungku? Apa tujuan kalian sebenarnya?" tanya Sumayah setelah berhasil menguasai rasa takut yang tiba-tiba datang tak terduga.


"Kami mendapat laporan bahwa Anda telah menculik seorang anak, Nyonya. Kami datang untuk menangkap Anda karena hal tersebut. Jadi, serahkan diri Anda baik-baik dan ikut kami ke kantor!" katanya menjelaskan. Ia berjalan mendekat dan berhenti beberapa langkah dari posisi Sumayah.


"Ibu!" Salim masih merengek, basah pakaian Sumayah karena air mata anak itu terus mengalir.


Sumayah mencibirkan bibir, mengejek apa yang baru saja dikatakan pihak kepolisian.

__ADS_1


"Menculik anak? Siapa yang menculik anak siapa? Aku hanya mengambil kembali anakku dari tangan orang-orang yang ingin mencelakainya, apa salah? Katakan, di mana kesalahanku?" tegas Sumayah tanpa takut sedikit pun.


Ia menatap tajam wajah polisi yang berhadapan dengannya. Sumayah menunjukkan perlawanannya, ia tak gentar meski senjata api ditodongkan padanya.


Polisi di depannya masih bersikap tenang, ia berpikir Sumayah yang sendirian tak dapat melawannya. Dia hanya wanita lemah yang bisanya cuma bersembunyi di balik kuasa laki-laki.


"Tentu Anda salah, Nyonya. Anda membawa pergi seorang anak dari kediamannya tanpa sepengetahuan Ayah dari anak itu. Itu sudah melanggar hukum, Nyonya, dan Anda harus ikut dengan kami ke kantor. Jika ingin menjelaskannya Anda bisa menjelaskannya di kantor nanti," katanya lagi masih di tempat yang sama.


Sumayah terkekeh mendengarnya, Salim yang menyembunyikan wajahnya mulai tenang melihat Sumayah yang tidak menunjukan rasa takut sedikit pun.


"Salah? Dia yang telah menculik anakku dan aku hanya ingin mengambilnya kembali. Untuk apa aku ikut kalian. Jika kalian tidak percaya, tanyakan saja pada anaknya! Biar dia menjelaskan semuanya," sahut Sumayah sembari mengendurkan pelukan tanpa menurunkan kewaspadaan.


Salim mendongak menatap ibunya, wanita itu bergeming dengan pandangan terpatri pada laki-laki berseragam hitam di depannya. Salim ikut berpaling, dia dapat melihat dengan jelas orang-orang bersenjata mengelilinginya.


"Dia Ibuku, dan dia tidak menculikku. Aku sendiri yang memintanya untuk membawaku pergi dari rumah itu. Aku ingin ikut dengan Ibuku, biarkan kami pergi!" ucap Salim dengan berani menatap sosok laki-laki tegak gagah di depannya. Ia berdiri menghadapnya sambil memegangi kedua tangan Sumayah.


Polisi itu memutar bola mata, menatap bergantian Ibu dan anak itu. Tidak peduli pada tatapan kecil itu, tidak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar. Ia hanya harus menjalankan perintah atasannya untuk menangkap Sumayah.


"Maaf, Nak, tapi kami harus tetap membawa Ibumu karena dia telah melanggar undang-undang negara dengan membawa kabur seorang anak dari rumahnya. Jadi, biarkan kami membawanya dan kembalilah pada Ayahmu," katanya tidak menyerah.


"Ibu, Salim tidak ingin berpisah lagi dengan Ibu, tapi Salim tidak ingin mereka menyakiti Ibu seperti waktu dulu. Ibu, Salim ingin ikut ke mana pun Ibu pergi. Jangan ambil Ibuku!" tangis Salim sungguh meruntuhkan hati Sumayah. Ia tidak tega mendengar tangisannya, ia tak kuasa mendengar rintihannya.


"Tenang, Salim! Jangan menangis," ucap Sumayah menenangkan.


"Bawa wanita itu dan ambil anaknya!" titahnya tanpa mengindahkan tangisan Salim dalam pelukan Sumayah.


"Kalian tidak bisa melakukan ini! Kalian tidak bisa membawaku! Aku tidak bersalah, aku tidak bersalah! Lepaskan aku!"


Dua orang polisi mulai memegangi tangan Sumayah. Satu orang lagi mencoba menarik Salim dari pelukannya.


"Ibu ... Ibu! Lepaskan aku! Aku tidak ingin berpisah dengan Ibuku, aku ingin ikut dengannya ke mana pun!" teriak Salim memberontak.


"Lepaskan tangan kotor kalian dari tubuhku! Aku tidak ingin ikut dengan kalian!" jerit Sumayah lagi.

__ADS_1


Ketiga polisi itu masih berusaha memisahkan ibu dan anak yang saling memeluk satu sama lain. Teringat kejadian lalu, Salim tak ingin sampai Sumayah terluka dan hampir mati seperti dulu.


Perlahan ia mulai melepaskan pelukan bersamaan dengan kedua tangan Sumayah yang dilumpuhkan polisi. Mereka memborgol kedua tangan itu di belakang tubuhnya.


"Ibu! Jangan bawa Ibuku! Aku tidak ingin kembali ke rumah itu, aku ingin bersama Ibuku! Ibu ...!" jeritan Salim memekakkan telinga. Di malam yang gelap dan sepi, suaranya sungguh menggelegar memenuhi jagat raya.


Ia berdiri dalam cekalan seorang polisi bersenjata. Meronta dan memberontak meminta dilepaskan. Sayang, mereka bergeming dan tak peduli suara tangisannya.


"Ibu! Jangan bawa Ibuku!" teriak Salim saat Sumayah digiring masuk ke dalam sebuah mobil.


"Salim! Maafkan Ibu, Nak!" lirih Sumayah dengan air mata berderai menatap putranya yang meronta dalam cekalan seorang polisi. Ia berubah kejam saat kedua matanya menangkap sosok Kevin yang berjalan mendekat.


Sumayah memberontak saat Kevin mengambil alih Salim dan menggendongnya.


"Jangan bawa anakku, kau bajingan! Kembalikan dia padaku, kembalikan!" teriak Sumayah sembari terus memberontak ingin menerjang makhluk kejam itu.


"Dia akan tetap bersamaku, membusuk-lah di penjara karena semua perbuatanmu!" ucap Kevin dengan kejam.


"Lepaskan aku! Aku tidak ingin ikut denganmu, aku ingin ikut dengan Ibuku!" tolak Salim mencoba melepaskan kedua tangan Kevin yang mengurung tubuhnya.


"Dia penjahat, Salim. Kau akan ikut dengan Ayah selamanya, biarkan wanita itu mendekam di penjara untuk membayar semua yang telah dia lakukan," ucap Kevin tanpa mendengar dan melihat sosok kecil yang menderita dalam gendongannya.


"Ibuku bukan penjahat, kau-lah penjahatnya, Kevin! Aku tidak ingin ikut denganmu!" tolak Salim lagi masih meronta-ronta dalam gendongan ayahnya.


"Jangan pergi, bajingan! Kembalikan anakku! Kau tidak berhak membawanya!" jerit Sumayah lagi yang ikut meronta-ronta dalam cekalan dua orang polisi saat melihat Kevin yang berbalik pergi bersama Salim.


Ia dipaksa masuk ke dalam mobil, dan diapit dua orang polisi menuju kantor. Mereka menjebloskan Sumayah ke dalam jeruji besi dengan kejam.


Masih berteriak meminta dilepaskan, sampai lelah sendiri.


*****


Jangan lupa tengok juga novel terbaru aku.

__ADS_1


Derita Istri Kedua.


Terima kasih selalu setia di sini. Love you all.


__ADS_2