Sumayah

Sumayah
Biarkan Salim Memilih


__ADS_3

Satu malam penuh Sumayah meratapi nasibnya yang kembali berpisah dari sang putra. Dan yang lebih menyakitkan kini ia mendekam di dalam penjara. Dinginnya jeruji besi tak menyurutkan tekad Sumayah untuk mendapatkan Salim kembali.


Kalian bedebah, lihat saja aku pasti akan keluar dan membalas semuanya. Lihat saja, Kevin! Kau adalah orang yang akan aku buat paling menderita!


Kejora indah itu tak lagi nampak damai di dalamnya. Ia-nya terlihat kelam dan memancar penuh dendam. Hanya ada kegelapan di dalamnya. Siapa saja yang melihat, akan dapat merasakan dendam membara di dalam diri Sumayah.


"Selamat pagi, Nyonya!"


Sebuah suara menyapa telinga Sumayah, ia yang duduk meringkuk menekuk lutut, berpaling keluar jeruji yang menghalanginya dari dunia luar.


Di sana berdiri seorang laki-laki tua bersama seorang sipir. Ia tersenyum penuh makna, menatap hangat manik indah milik Sumayah.


"Apa Anda masih mengenal saya?" tanyanya masih dengan senyum hangat yang menenangkan.


Dahi Sumayah mengernyit bingung. Ia tidak ingat laki-laki tua yang berdiri di sana. Sumayah tak acuh, ia berpaling kembali dan menatap kosong pada tembok penjara itu.


"Aku tidak mengenalmu, aku tidak mengenal siapa pun saat ini. Pergi saja, aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun," ketus Sumayah tanpa melihat maksud dari kedatangannya.


Laki-laki itu memberi isyarat kepada sipir yang mengantar agar meninggalkan mereka. Ia kembali memandang Sumayah dengan hatinya yang perih.


"Nyonya, Anda sangat mengenal saya. Anda adalah orang yang menolong saya waktu itu, apa Anda ingat pada orang tua yang dituduh membunuh anak kecil? Padahal ia hanya tak sengaja menemukannya tergeletak di tempat sampah?" tutur laki-laki tua itu mengingatkan Sumayah pada kejadian sepuluh tahun lalu di mana ia mati-matian membela seorang laki-laki tua yang memohon padanya.


Sumayah terhenyak perlahan pandangannya mulai berubah. Ia berpaling dan menelisik penampilan laki-laki tua itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


"Bapak pemulung tua itu? Tapi bagaimana mungkin ... Bapak sungguh berubah. Aku bahkan tidak mengenali Bapak. Maafkan sikapku tadi, aku sedang ...."


Sumayah tak kuasa melanjutkan kata-katanya, ia menangis tersedu mengingat nasibnya yang malang kini.


"Saya tahu, Nyonya. Untuk itu saya datang dengan maksud membantu Anda, kebetulan anak saya adalah seorang pengacara dan dia bersedia membantu Anda keluar dari tuduhan ini. Izinkan saya membantu Anda, Nyonya," ungkapnya sembari membungkuk di luar jeruji.


Sumayah berlari mendekati tiang-tiang besi itu sambil menangis ia mengucapkan terimakasih pada laki-laki tua itu.


"Benarkah? Terima kasih, Pak. Terima kasih, aku tidak tahu pada siapa aku meminta tolong karena tak ada yang bisa aku percaya lagi di dunia ini. Aku benar-benar putus asa tidak tahu lagi harus apa," ucap Sumayah penuh haru.

__ADS_1


Ia memegangi kedua tangan renta itu sembari menciumi punggungnya. Sungguh, Sumayah merasa harapan yang mulai terbang kini kembali perlahan. Setidaknya ia tidak sendiri, ada seseorang yang bersedia berdiri di sampingnya. Berjuang bersama mendapatkan kembali haknya.


Pagi itu juga sidang perkara digelar pengadilan setempat. Sumayah duduk di kursi terdakwa dengan segala perasaan yang berkecamuk dalam dada. Tadi baru saja anak dari pak tua itu menanyainya banyak hal tentang segala kasus yang sedang menimpanya.


"Untuk kali ini, kita lihat dulu bagaimana pergerakan dari mantan suami Anda, Nyonya karena untuk mencari bukti dan saksi tidak memungkinkan. Anda tidak perlu risau, setelah ini saya akan mencari bukti sebanyak-banyaknya dan membuktikan bahwa Anda tidaklah bersalah."


Kata-kata sang pengacara, gadis muda yang cerdas mengiang di telinganya. Ia mengagumkan masih semuda itu sudah menjadi pengacara.


Sumayah menghela napas, menarik udara sedalam-dalamnya demi mengurai rasa gugup di dada.


"Ibu!" Salim berteriak keras semua orang menoleh pada pintu masuk termasuk Sumayah. Ia beranjak berdiri menatap putranya dengan air mata yang jatuh tanpa sadar.


"Lepaskan aku!" Salim memberontak melepas cekalan Kevin dan berlari memeluk Sumayah saat tangan kekar itu akhirnya terlepas.


"Ibu!"


"Salim! Anakku!"


"Tenanglah! Kita memiliki banyak bukti dan saksi dia tidak akan bisa melawanmu," ucap Priscilla sembari mengelus lengan Kevin dan mengajaknya duduk di kursi belakang Sumayah.


Keadaan menjadi sunyi, saat ketiga hakim memasuki ruang sidang.


"Salim, kemari!" panggil Kevin pada Salim yang duduk di atas pangkuan Sumayah.


Mata kecil itu memandang wajah Ibunya, satu sapuan diterimanya dengan lembut di kepala. Sumayah mengecup dahi Salim dan mengangguk meminta anaknya untuk memenuhi panggilan sang Ayah.


Sidang dimulai dengan pernyataan Kevin yang membeberkan semua kesalahan Sumayah. Wanita itu menunduk sedalam-dalamnya sembari menahan segala amarah yang bergolak dalam dada.


Salim, memandangi Sumayah dengan sendu. Ia menyangkal semua yang dikatakan Kevin. Namun, ingin berbicara Priscilla mengancamnya. Jadilah, ia hanya bungkam mendengarkan semua tuduhan yang dilayangkan ayahnya untuk ibunya.


"Bagaimana saudari terdakwa? Apakah semua yang dikatakan Tuan Kevin benar adanya?" tanya hakim setelah Kevin mengakhiri pernyataannya.


Sumayah mengangkat wajah memandang ketiga hakim yang menunggunya berbicara.

__ADS_1


"Maafkan saya, tapi semua yang dikatakan laki-laki itu hanyalah kebohongan. Saya tidak pernah melakukan semua yang dikatakannya tadi. Untuk kejadian terakhir, saya hanya ingin mengambil kembali anak saya yang direbutnya secara paksa beberapa bulan lalu. Dia bahkan membuat saya mengalami cedera di bagian kepala saya jika saja waktu itu tidak ada yang menolong, saya pasti sudah mati dan tidak ada yang tahu tentang itu," tutur Sumayah dengan tenang.


"Saya bisa mendatangkan saksi dan memberikan semua bukti!" tukas Kevin kembali berdiri.


Satu per satu bukti dan saksi dihadirkan Kevin, dan kesemuanya menyudutkan Sumayah. Pengacara yang menolongnya pun, tak dapat melakukan apa-apa karena mereka tidak memiliki bukti selain Sumayah sendiri.


"Klien saya mengatakan, dia tidak menculik anak. Dia hanya ingin mengambil kembali anak yang direbut paksa darinya. Pak hakim yang bijaksana, kenapa kita tidak membiarkan anak itu saja yang memilih dengan siapa dia ingin tinggal?" ujar pengacara Sumayah diakhir semua sidang.


"Tidak bisa! Salim akan tetap bersama saya," sergah Kevin dengan cepat.


"Apakah Anda takut anak ini akan memilih Ibunya dari pada Anda?" tanya sang pengacara dengan berani.


Kevin gelisah, Sumayah memandang Salim penuh cinta seperti biasanya. Sedangkan Salim, justru menangis sejadi-jadinya saat pandangnya bertemu.


"Maafkan aku. Aku tidak ingin Ibuku celaka lagi, aku tidak ingin Ibuku disakiti lagi apa lagi sampai mereka membunuhnya. Salim menyayangi Ibu, Salim ingin hidup bersama Ibu, tapi Salim tidak bisa ikut dengan Ibu. Maafkan Salim, Ibu!" ungkap Salim sembari memutus pandangan dari Sumayah dan menundukkan kepala dalam-dalam.


"Kalian dengar! Apa kalian semua dengar! Dia memilihku, dia lebih memilih hidup denganku!" ucap Kevin membangga.


Sumayah tersenyum tabah saat Salim kembali mengangkat pandangnya. Ia mengangguk setuju, inilah rencananya. Sembari mengumpulkan bukti dan mencari saksi Sumayah akan meminta penangguhan pada majelis hakim, dan selama itu Salim akan lebih aman bersama Kevin.


Sidang pun dibubarkan dengan Kevin sebagai pemenang.


"Aku ingin bertemu Ibuku sebelum ikut pulang denganmu," pinta Salim setelah berada di luar ruang sidang.


Kevin mengizinkan meskipun enggan.


"Ibu!" Salim mengejar Sumayah dan memeluknya.


"Buat dia menyukaimu, Nak. Ibu berjanji akan segera datang dengan semua bukti dan saksi. Kita akan berjuang bersama menjatuhkan para penjahat itu! Salim bisa bersabar, bukan?" pinta Sumayah.


"Baiklah, Ibu! Salim akan bersabar menunggu Ibu!"


Keduanya kembali berpisah dengan sebuah rencana.

__ADS_1


__ADS_2