
"Pak!" pekik wanita tua yang berjalan di depan mereka. Sontak, laki-laki itu menoleh ke belakang tubuh. Tidak! Mereka bukan mengarah ke sini, mereka berjalan serentak menuju desa Hulu Sungai.
"Ayo, Bu! Cepat! Mereka bukan menuju ke sini, mereka menuju desa," ucapnya seraya membenarkan letak tangan Sumayah yang merangkul bahunya.
Ketiganya kembali berjalan semakin masuk ke dalam hutan.
'Hutan lagi?' keluh Sumayah dalam hati. Ia yang baru saja keluar dari hutan kembali masuk ke hutan lainnya. Apakah hutan adalah tempat teraman untuk saat ini?
"Bu, pohon mana yang dibangun rumah di atasnya?" tanya laki-laki tua dengan napasnya yang terputus-putus. Mereka telah sampai di jantung hutan tempat tumbuhnya pohon-pohon besar tinggi menjulang. Daun-daunnya yang lebat, menutupi ketinggian setiap pohon yang ada di dalam sana.
"Sebentar, Ibu cari dulu, Pak." Wanita renta itu menatap sekeliling, mencari-cari pohon mana yang seingatnya dibangun rumah di atasnya.
"Di sini, Pak!" serunya sembari menunjukkan sebuah tali akar yang menggantung di pohon tersebut. Tali yang berbeda dari tali-tali lainnya meskipun sama-sama terbuat dari akar pohon.
"Ayo, Nyonya! Istri saya sudah menemukan tempatnya," ajaknya seraya kembali memapah Sumayah mendekati pohon yang ditunjukkan wanita tua itu.
Sumayah meneguk ludah begitu ia menengadah tak terlihat apa pun di atas sana. Hanya ada dedaunan yang menutupi batang pohon hingga pucuknya.
"Di balik daun-daun itu ada rumah dari papan yang dibangun para orang tua untuk tempat bermain anak-anak mereka saat mencari kayu bakar," jelas laki-laki tua tadi menjawab kebingungan Sumayah.
"Apa Nyonya bisa memanjat ke atas?" tanyanya ragu mengingat kaki Sumayah yang dipenuhi luka.
"Aku akan mencobanya, Pak," sahut Sumayah sembari melepas tangannya dari bahu laki-laki tua itu.
Wanita tua yang membantunya menarik tali akar tadi, seketika sebuah tangga yang terbuat dari akar pun turun membuka gulungan dari atas hingga menjuntai ke bawah.
"Apa kalian yang membuat ini semua?" Sumayah terkagum-kagum melihat bagaimana penduduk di desa itu begitu cerdik hingga dapat membangun tempat tersembunyi itu.
"Benar, Nyonya. Kami sengaja membangunnya di sini," sahutnya lagi sambil tersenyum.
"Bismillahirrahmanirrahim!" Sumayah memegangi kedua tali kanan dan kiri dengan erat. Ia mulai mengangkat kaki kanannya menapak di atas anak tangga yang terbuat dari bambu.
"Argh!" rintihnya saat rasa perih dari luka yang beradu dengan bambu itu begitu terasa menusuk kakinya.
__ADS_1
"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" tanya si Pak tua cemas.
"Tidak ... tidak! Aku tidak apa-apa," sahut Sumayah dengan napas yang berat. Ia menarik udara sebanyak-banyaknya sebelum membuangnya perlahan. Ia tepis semua rasa lelah dan mulai memanjat anak-anak kayu yang dirakit menjadi alas untuk berpijak.
Sekuat tenaga, ia terus menapakinya sesekali akan berhenti untuk menarik napas sebelum melanjutkan langkah hingga ia tiba di bawah dedaunan yang menutupi pohon. Disibaknya semua daun itu dan nampaklah sebuah papan yang menyerupai pintu.
"Dorong saja, Nyonya! Itu pintunya," ucap laki-laki tua tadi sembari menahan suaranya agar tidak berteriak.
Sumayah mendorongnya hingga terbuka sebuah celah cukup untuk satu orang dewasa memasukinya. Sumayah masuk ke dalamnya, tidak seburuk apa yang terlihat dari luar. Dalamnya cukup luas bahkan ia bisa berbaring di sana. Bentuknya persegi bersih dan rapi.
Sumayah merangkak masuk ke dalamnya, ia membersihkan lantai papan itu untuk menyambut kedatangan putranya.
"Ini, Pak! Bawa bayi ini kepada Nyonya. Setelah ini kita harus pergi dari sini, Ibu ingin memasak untuk makan Nyonya," ucap wanita renta itu.
Pak tua mengambil alih bayi Salim dan membawanya naik ke rumah pohon. Ia tak ikut masuk ke dalamnya, hanya melongo sedikit karena ruangan di dalam tak cukup untuk ditempati banyak orang dewasa.
"Nyonya, maafkan kami, tapi kami harus pergi dari sini. Tinggallah di sini sampai keadaan cukup aman untuk Nyonya. Kami akan mengambilkan Nyonya pakaian untuk ganti juga selimut, dan makanan ... tentu saja," ucap Pak tua sembari menyerahkan Salim pada Sumayah.
"Terima kasih, Pak. Aku tidak masalah tinggal di sini sementara sampai tubuhku pulih dan luka-luka di kaki mengering. Apa aku tidak merepotkan Bapak dan Ibu?" Sumayah beranjak mengambil bayinya. Mendekapnya dengan hangat.
"Benar, Nyonya. Ah ... kami pasti telah meninggalkan jejak tanpa sadar karena meninggalkan selimut itu di sana," ucap si laki-laki tua ikut merasakan emas yang melanda Sumayah.
"Lalu, bagaimana, Pak? Apa mereka tahu tempat ini? Aku tidak sanggup untuk berlari lagi," ucap Sumayah putus asa.
"Anda tenang saja, Nyonya. Mereka tidak akan tahu tempat ini, sekarang saya akan menggulung talinya dan menyimpannya di sini," sahutnya.
Ia menarik dan menggulung tali tersebut dan menyimpannya di dalam rumah pohon.
"Masalah tangga ini, Anda bisa menariknya setelah saya turun," sambungnya yang diangguki Sumayah.
Ia turun dan meninggalkan Sumayah sendiri bersama bayinya. Keduanya memikul kayu bakar saat keluar hutan yang sengaja mereka kumpulkan untuk mengelabui orang-orang berseragam hitam.
"Ya Allah ... sampai kapan semua ini akan berakhir? Aku lelah," lirih Sumayah. Ia membaringkan tubuh bersama Salim. Tidur sebentar tidak masalah, bukan?
__ADS_1
"Kami menemukan ini di dalam gubuk," lapor salah satu dari orang berseragam yang menggeledah gubuk milik sepasang orang tua itu.
Ia membawa selimut bekas bayi serta kain yang digunakan Sumayah untuk menggendongnya.
"Tidak salah lagi! Dia di sini, kemungkinan dia sedang bersembunyi di desa itu," ucap ketua mereka sembari meremas selimut yang digenggamnya.
"Cepat! Jangan sampai dia melarikan diri lagi kali ini!" perintahnya membawa serta selimut itu bersama rombongannya.
Mereka adalah kelompok kedua yang diutus Kevin mencari Sumayah di desa Hulu Sungai. Derap langkah terdengar serentak mengguncangkan tanah pesawahan yang dipijak kedua orang tua di belakang gubuk.
"Alhamdulillah, Kita selamat, Pak," syukur wanita renta itu mengusap dadanya lega.
"Iya, Bu." Keduanya beranjak meninggalkan gubuk menuju rumah mereka yang berada di pinggiran desa.
Rumah itu pun, telah diperiksa oleh mereka. Sepasang orang tua itu berjalan tanpa dosa seolah tak ada apa pun yang mereka tahu. Orang-orang yang mengelilingi rumahnya tidak merasa curiga sama sekali karena mereka datang dengan membawa kayu bakar di tangan masing-masing.
"Ada apa ini, Tuan?" tanya Pak tua dengan suaranya yang bergetar khas orang tua renta.
"Kami sedang mencari seorang buronan yang kabur," sahut mereka. Tak banyak bicara lagi, mereka berdua membiarkan rumah gubuk itu digeledah orang-orang Kevin. Setelah tidak menemukan apa pun, semuanya pergi begitu saja.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, menyiapkan pakaian ganti untuk Sumayah dan juga makanan.
"Pak, kalau Nyonya tetap di sana cepat atau lambat mereka pasti akan menemukannya," celetuk wanita tua itu sembari mengaduk-aduk makanan yang dimasaknya menggunakan kayu bakar.
"Apa sebaiknya kita bawa Nyonya ke rumah baru kita, Bu?" sahut si laki-laki tua setelah berpikir beberapa saat.
"Kita akan bicarakan ini dengan Nyonya saat mengantar makanan nanti." Keduanya sepakat.
*****
Baca juga novel baru aku yang lain, ya! Baru up tadi pagi. Bantu ramaikan juga di sana.
Judul: RUN or DIE
__ADS_1
Author: Aisy Hilyah
Jangan salah, ya. Authornya Aisy Hilyah.