Sumayah

Sumayah
Kemelut Hati Kevin


__ADS_3

Sudah lima tahun berlalu, tapi Kevin dan orang-orangnya belum juga berhasil menemukan keberadaan Sumayah juga bayinya. Kevin tidak berhenti begitu saja, ia justru memperluas daerah pencarian hingga ke ke pelosok-pelosok desa. Namun, hingga kini belum ada satu pun kabar dari sekian banyak mata-mata yang dia sebar.


"Tuan!" Seperti biasa Juan datang membawa makanan di tangan. Dan masih menjadi pilihan Kevin selama lima tahun ini, berdiri di dekat jendela menatap kosong keadaan di luar gedung kantornya.


"Bagiamana hasil pencarian kita, Juan? Apa sudah ada kabar dari salah satu orang yang kita sebar?" tanya Kevin tanpa beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri.


"Mohon ampun, Tuan. Sampai saat ini belum ada satu pun dari mereka yang datang melapor," jawab Juan hati-hati.


Jemari Kevin yang berpangku di belakang tubuh mengepal dengan kuat hingga urat-urat tangannya terlihat dengan jelas. Matanya menyipit tajam, menghujam kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan sekitar gedung kantornya.


"Apa saja yang mereka lakukan hingga selama lima tahun mencari belum satu pun yang membawa kabar?" geram Kevin dengan kesal.


Juan terdiam, ia tidak tahu harus memberikan jawaban apa untuk menyenangkan hati Kevin. Juan lebih memilih diam.


Kevin berbalik, wajahnya datar dan dingin berjalan mendekati meja kerja dan duduk di kuris kebesarannya.


"Apa kau memerintahkan orang untuk mencari ke Utara? Di sana banyak desa terpelosok bahkan belum terjamah oleh keadaan luar," tanya Kevin seraya mengambil makanan yang dibawa Juan dan mulai memakannya.


"Utara? Tapi itu daerah yang sangat jauh, Tuan. Apa kita perlu mengirim orang-orang ke sana?" Juan bodoh! Begitu umpat Kevin dalam hati.


Kevin menghentikan gerakan tangannya juga mulutnya yang sedang mengunyah. Ia meletakkan sendok dengan hati-hati, dan mengaitkan jemarinya satu sama lain sebelum menatap Juan.


"Jadi, belum ada yang mencari di daerah tersebut?" tekan Kevin menatap dingin manik coklat milik Juan.


"Benar, Tuan!" Juan mengangguk bodoh.


Kevin kembali mengambil sendok dan memalingkan wajah pada makanan. Makan dengan tenang tanpa bersuara.

__ADS_1


"Jika begitu, kirim orang-orang ke Utara dan sebarkan sayembara yang telah kita buat di daerah terpencil itu. Mereka pasti akan berlomba memberi laporan demi hadiah yang besar," titah Kevin tanpa mengangkat pandangan dari makanan di hadapannya.


"Baik, Tuan!" Juan membungkuk hormat.


Segera setelah Kevin menyelesaikan makannya, Juan mengumpulkan seluruh pengawal milik Kevin. Ia memberi perintah untuk menyebarkan sayembara di daerah Utara. Daerah terpencil dari kota-kota lainnya.


"Bagaimana? Apa mereka sudah berangkat?" tanya Kevin begitu pintu ruangannya terbuka tanpa permisi.


"Sudah, Tuan. Dua puluh orang bergerak ke berbagai daerah di Utara," jawab Juan pasti.


Kevin mengangguk-anggukan kepala sambil terus membaca setiap lembar laporan perusahaannya.


"Ada yang ingin kau bicarakan, Juan?" tanya Kevin menangkap sekilas gurat gelisah di wajah asistennya.


"Ya, Tuan mengenai Nona Priscillia dan-"


"Saya masih sangat curiga dengan mereka, Tuan. Terlebih, semua bukti yang mereka berikan tidak bisa dijelaskan oleh logika saya. Saya hanya curiga ada sesuatu dengan Nona dan pengawal itu? Saya hanya mengkhawatirkan keselamatan Nona terutama Anda, Tuan," ungkap Juan.


Matanya bergeming pada riak wajah Kevin, laki-laki itu masih datar seperti biasa. Ia lebih sering menyendiri di setiap malam-malam sepi yang ia lalui.


"Baiklah! Kau memang yang terbaik, Juan! Aku tidak meragukan semua tindakanmu," ungkap Kevin sedikit tersenyum yang membuat Juan membungkuk dan menarik kedua sudut bibirnya ke atas.


"Tuan, apa Anda lembur lagi malam ini?" tanya Juan lagi setelah melirik Kevin yang terpatri di tempat duduknya dan membuka laptop di hadapan.


"Yah ... jika kau ingin pulang, maka pulang saja. Aku akan menghabiskan malam di kantor," sahut Kevin fokus pada layar yang ia lihat.


"Sebentar, Tuan!" Juan beranjak menjauh saat merasakan getar ponsel di sakunya. Kevin melirik sekilas dan tak acuh seperti biasa.

__ADS_1


Juan berdiri di kejauhan sembari memandangi benda pipih di tangan. Entah apa yang sedang ia lihat? Namun, ekspresi penuh kemenangan jelas terlihat di wajahnya yang tegas.


Ia menaruh benda itu pada tempatnya sebelum mendekat ke meja kerja Kevin.


"Tuan, saya harus pergi. Hanya sebentar, setelah selesai saya akan kembali ke kantor," ucap Juan meminta izin pada Tuannya.


Kevin hanya mengibaskan tangan tanpa sahutan kata. Tinggallah ia sendiri dalam sepinya hati. Semenjak Sumayah pergi, semuanya tak sama lagi.


Ia menutup laptop, menjatuhkan tubuh pada sandaran kursi. Pandangannya terpaku pada lampu ruangan yang menggantung.


"Di mana kau sebenarnya, Maya? Kenapa bermain petak umpat seperti ini denganku. Dia anakku, Maya! Akan aku rebut darimu bagaimana pun caranya," ucap Kevin datar.


Ia beranjak, melangkah meninggalkan ruangan dan masuk ke ruangan lainnya. Berendam air hangat sepertinya akan menenangkan hatinya yang kerontang.


Ia bersandar di dalam bathtub dengan kedua mata yang terpejam. Wajah manis Sumayah saat menyambutnya pulang bekerja membayang di pelupuk mata.


"Kau pasti lelah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu berendam," ucap Sumayah kala itu sembari mengambil alih tas kerja Kevin dan menggandengnya ke kamar mereka.


Helaan napas keluar dengan berat dari mulut Kevin. Kini, tak ada lagi sambutan hangat seperti itu. Hanya ada kepala pelayan yang selalu menunggu kepulangannya dan menyiapkan segala keperluannya di rumah.


"Aku rindu ingin merasakan hal kecil seperti itu lagi, tapi aku benci bila mengingat semua yang sudah kau lakukan. Jangan pernah hadir lagi meski hanya dalam bayang-bayang."


Keinginan yang sungguh bertolak belakang dengan apa yang dirasakannya dalam hati. Hatinya ingin kembali merengkuh Sumayah, tapi ego dan kebenciannya menolak itu semua.


Hal-hal sepele yang sering dilakukan Sumayah saat bersamanya, menumbuhkan kebahagiaan tersendiri bagi Kevin kala itu. Ia tidak tahu, jika itu begitu membekas di hatinya. Sayang, wanita-wanita di sekitarnya tidak ada yang sejujur Sumayah kala itu.


Sampai kedatangan wanita itu, Sumayah perlahan menunjukkan sifat aslinya di hadapan Kevin. Mereka sering beradu pendapat dan tak jarang berdebat dengan hebat. Kehamilan Sumayah bahkan berkali-kali mengalami pendarahan karena kontraksi yang tiba-tiba dari rasa frustasi yang dialaminya.

__ADS_1


"Aku harus mendapatkan putraku! Kau tak pantas menjadi Ibunya ... sungguh sangat tidak pantas!" Kevin terus saja mengoceh tentang putranya yang entah di mana rimbanya kini. Semua cara telah ia lakukan bahkan memberikan imbalan yang tak sedikit pun sudah ia lakukan bagi yang melaporkan jejak Sumayah. Itu cukup baginya menyusuri langkah Sumayah.


__ADS_2