
Sungguh hal yang tak pernah terduga oleh Kevin bahwa Salim akan divonis lumpuh oleh dokter. Ia tidak tega melihat Salim yang sehari-hari hanya duduk di atas kursi rodanya. Sudah berbagai macam terapi dilakukan, tapi tetap saja kondisi Salim masih sama.
Dua tahun telah berlalu, kondisi Salim semakin memburuk. Hampir seluruh otot dalam tubuhnya tak dapat berfungsi. Perawat yang ditugaskan Kevin untuk Salim tak pernah ada yang betah karena Salim tak ingin orang lain merawatnya.
Ia menunggu ibunya datang. Namun, sudah empat tahun berlalu Sumayah tak kunjung datang menjenguk. Hal itu, membuat Priscilla dan Teo menjadi senang. Sudah tak ada harapan lagi untuk Kevin menjadikan Salim sebagai penerus. Pasti Teo yang akan menggantikannya.
Hari ini beberapa perawat wanita pun didatangkan Kevin. Ia ingin perawat yang handal dan mumpuni. Berpengalaman dan bertanggungjawab akan tugas yang diberikannya.
Ada lima belas orang perawat wanita yang berjejer di ruang tengah mansion Kevin. Kesemuanya berseragam khas mereka kecuali satu orang saja. Dahi Kevin mengernyit melihatnya.
"Dari mana asalmu? Apa kau benar-benar perawat? Kenapa tidak memakai seragam?" selidik Kevin sembari menatap tak suka pada wanita itu.
Wanita dewasa dengan penampilan sederhana, kepalanya ditutupi kerudung ia cantik hanya saja tak terawat.
"Maafkan saya, Tuan. Saya dari kota Selatan, saya mendengar ada sayembara mencari pengasuh untuk merawat Tuan Muda dengan imbalan yang besar. Saya tertarik mengikuti karena saya sedang membutuhkan uang untuk biaya pengobatan orang tua saya, Tuan," ungkap wanita itu.
Ia yang menunduk perlahan mengangkat wajah, tersenyum memohon dengan matanya yang berkaca.
Deg!
Tiba-tiba jantung Kevin tak terkendali. Senyum itu, ia seperti mengenalnya. Mata itu, ia seperti tak asing. Hanya saja, dia baru pertama ini melihatnya. Cantik, tapi kumal. Kulitnya tak terawat, mungkin karena dia dari kasta rendah. Kota bagian Selatan memang terkenal akan kemiskinannya.
Siapa wanita ini? Kenapa rasanya sungguh tak asing?
Kevin memindai dari ujung kepalanya yang dibalut kerudung usang, tubuh yang dibungkus daster yang terdapat banyak tambalan di mana-mana, juga sandal jepit yang berbeda merk di kakinya yang kumuh. Ia bergidik jijik.
"Maafkan, aku, tapi keadaanmu yang membuatku tidak bisa menerima karena kau harus merawat anakku yang sakit. Aku tidak ingin ia bertambah sakit karena dirawat wanita yang tak bisa menjaga kebersihan dirinya sendiri," ucap Kevin tanpa perasaan.
Ke-empat belas perawat berkelas tersenyum puas mendengar penolakan Kevin terhadap wanita kumuh itu.
"Tapi, Tuan. Saya akan membersihkan diri saya setiap saat jika saya terpilih. Saya berjanji, Tuan. Keadaan saya yang seperti ini disebabkan karena desa sedang dilanda kekeringan, Tuan. Jadi kami mandi secukupnya dan sisanya untuk minum. Tolong, Tuan saya sangat membutuhkan pekerjaan ini," ibanya sembari menangkupkan kedua tangan di dada dengan air mata berderai.
Kevin bergeming, ia sama sekali tak tersentuh dengan penuturan menyedihkan dari wanita tadi.
"Maaf, tidak bisa! Aku tidak ingin anakku dirawat orang sembarangan. Aku ingin mereka yang merawatnya sudah berpengalaman dan tentunya bisa dipercaya," ucap Kevin lagi sembari berbalik dan beralih pada yang lain.
Wanita itu menatap Kevin dengan nanar, laju air matanya semakin deras saat laki-laki itu tak lagi menengok ke arahnya. Ia sedang menanyai satu per satu dari ke-empat belas perawat yang berbaris dengan penampilan mereka yang meyakinkan.
__ADS_1
Salim yang berada di lantai dua, melihat semuanya. Ia melihat wanita itu menangis dan memohon pada ayahnya.
Wanita itu seperti tertarik untuk melihat ke lantai dua. Matanya bertemu dengan mata Salim beberapa saat lamanya. Pandangannya yang mengiba berubah sendu dengan sendirinya melihat keadaan Salim yang hanya duduk di kursi roda.
Sementara anak usia sepuluh tahun itu pun, membeku saat bersitatap dengannya. Jantungnya berpacu dengan cepat, ingin ia berlari saja ke arahnya. Entah perasaan apa yang dia miliki saat ini, tapi ia seperti melihat sosok Sumayah dalam diri wanita itu.
"Bawa aku turun! Aku harus memastikan sesuatu," titah Salim pada kepala pelayan yang saat ini menjadi perawatnya sementara.
"Baik, Tuan Muda!" Ia membungkuk patuh seraya mendorong kursi roda Salim masuk ke dalam lift untuk sampai di lantai satu.
Wanita itu pun kecewa, melirik Kevin sekali lagi sebelum berbalik. Sudah tak ada harapan untuknya mendapatkan pekerjaan ini. Jadilah ia memutuskan untuk kembali saja.
"Tunggu!" Suara Salim yang menggema, menyita perhatian semua orang. Termasuk Kevin yang sedang mewawancarai para perawat wanita itu.
Namun, wanita yang ditolak Kevin tetap melanjutkan langkah meskipun sempat terhenti. Ia pikir Salim bukan memintanya.
"Tunggu, Bu!" pinta Salim seraya menggerakkan roda di kursinya mendekati wanita yang hampir mencapai pintu.
"Salim!" panggil Kevin yang tak diindahkan Salim sama sekali. Ia terus mendekat pada wanita kumuh yang masih memunggunginya itu.
"Ibu!" gumam Salim tanpa suara. Wanita itu pun memandang Salim dengan sedih. Ada sesuatu yang berdesir dalam dirinya melihat anak usia sepuluh tahun itu yang hanya duduk di atas kursi roda tanpa bisa melakukan apa pun.
"Tuan Muda, ada apa?" tanya kepala pelayan yang datang menghampiri. Salim bergeming, pandanganya masih terpatri pada manik wanita di hadapannya.
"Aku ingin wanita ini yang menjadi perawatku!" tegas Salim tanpa mengalihkan pandangan dari menatap wanita itu.
Senyum mengembang di bibirnya yang pucat, membuat Salim lagi-lagi membeku saat melihatnya.
"Ibu!" Sekali lagi ia bergumam tanpa suara melihat wanita yang tersenyum haru atas keputusannya.
"Tidak, Salim! Dia bukan perawat-"
"Dia atau tidak sama sekali!" tuntut Salim lagi menukas ucapan Kevin dengan cepat. Ke-empat belas perawat mulai gelisah, mereka sangat menginginkan pekerjaan itu karena selain bekerja dengan upah yang besar, mereka juga bisa menggoda Kevin.
"Kelas rendahan, memang tepat sekali pilihanmu!" cibir Teo yang memandang mereka dari lantai dua bersama Priscilla.
"Kau benar, sayang. Sekali dari kelas bawah tetap saja akan berada di bawah," timpal Priscilla lagi sembari tersenyum mengejek Salim yang memilih wanita lusuh itu.
__ADS_1
"Tapi, Salim-"
"Dia atau tidak sama sekali! Aku hanya menginginkan dia yang menjadi perawatku, tidak yang lain!" tukas Salim lagi tanpa berniat membuang pandangan dari wanita yang tiba-tiba menghangatkan hatinya.
Sungguh, wanita itu bahagia mendengarnya. Apa karena Salim terharu dan merasa kasihan dengan ceritanya? Tak apa, yang penting ia bisa bekerja dan menghasilkan uang.
Kevin mendesah pasrah. Ia mengusap wajahnya kasar dan memandang Salim dengan tidak percaya.
"Baiklah, jika itu memang pilihanmu!" putusnya.
"Terima kasih, Tuan Muda!" Wanita itu membungkuk kepada Salim, tapi dengan cepat Salim menjatuhkan diri dari kursi rodanya mencegah wanita itu.
"Jangan membungkuk padaku, Ibu!" katanya di bawah kaki wanita itu. Ia termundur karena terkejut, reflek tangannya merengkuh tubuh Salim dan membantunya duduk kembali.
Kevin yang melihatnya tak percaya, wanita kotor itu dengan berani menyentuh putranya. Ia geram, tapi tak dapat melakukan apa-apa.
Salim yang telah duduk di kursinya, membalas pelukan wanita itu dengan erat.
"Jangan lepaskan, Ibu! Biarkan aku memelukmu dulu!" pinta Salim yang membuat hati wanita itu terenyuh. Ia merasa tak enak pada Kevin.
"Salim! Lepaskan wanita kotor itu! Setidaknya kau bersihkan dulu tubuhmu sebelum menyentuh anakku!" hardik Kevin sembari melepas wanita itu dan menghempaskannya di lantai.
Salim berkaca melihatnya.
"Maafkan saya, Tuan!" cicit wanita itu.
"Bawa dia ke kamarnya, dan berikan dia alat mandi untuk membersihkan tubuhnya. Kau juga harus mandi, Salim. Ayah tidak ingin kau bertambah sakit karenanya," ucap Kevin yang melembutkan suaranya di akhir kalimat.
Salim terus menatap wanita itu saat Kevin membawanya. Wanita itu tersenyum dan mengangguk kecil.
*****
Ayo datang di novel terbaruku. Sudah up tiga bab lagi.
Judul : Derita Istri Kedua
Aku tunggu, ya!
__ADS_1