
Percaya adanya ikatan batin? Di mana seseorang dapat merasakan perasaan yang hangat dan begitu familiar saat berjumpa dengan seseorang lainnya.
Malam pertama wanita itu bekerja, ia mendengarkan peraturan yang harus dijalani di rumah besar itu. Mendengarkan apa saja yang harus dia kerjakan selama mengasuh Salim.
"Apa kamu mengerti, Sari?" tanya kepala pelayan setelah mengatakan semuanya pada wanita yang mengaku bernama Sari itu.
"Saya mengerti, Bu," jawabnya dengan sopan. Ia mengangkat pandangan menatap wanita sepuh yang masih kuat untuk mengemban tanggung jawab besar itu.
"Boleh saya bertanya sesuatu?" tanyanya sedikit ragu.
"Yah ... tanyakan saja, apa ada yang tidak kau mengerti dari semua peraturan di rumah ini?" tanya kepala pelayan bersiap untuk menjelaskan lagi.
"Ah ... tidak! Bukan soal itu yang ingin saya tanyakan, tapi sudah berapa lama Tuan Muda mengalami kelumpuhan? Saya pernah merawat orang lumpuh sebelumnya. Boleh saya tahu apa penyebab Tuan Muda lumpuh dan sudah berapa lama?" tanya Sari mengorek informasi dari wanita sepuh itu.
"Benarkah? Kenapa kau harus tahu?" tanyanya curiga.
"Ya ... itu karena supaya saya tahu metode apa yang akan saya berikan pada Tuan Muda untuk mempercepat pemulihannya," jawabnya dengan senyum meyakinkan.
Pandangan wanita sepuh itu terpatri pada manik kecoklatan milik Sari. Menelisik kebohongan dan kejujuran dari dalamnya.
"Tidak ada yang tahu apa penyebabnya, tapi kejadiannya setelah Tuan Muda terjatuh di dekat kolam ikan di belakang. Sudah dua tahun tepatnya sejak kejadian itu," jawab kepala pelayan setelah memindai tak ada yang perlu dicurigai dari sosok sederhana itu.
Sari mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Ia tersenyum lagi dan berpamitan.
"Baiklah, saya mengerti. Terima kasih, Bu. Kalau begitu saya permisi, saya harus membawakan makan malam untuk Tuan Muda," pamit Sari sembari membawa nampan makanan untuk Salim.
"Sari ... tunggu!" Suara wanita itu mencegah langkah kaki Sari. Ia berbalik dan bertanya lewat sorot matanya.
Wanita sepuh itu menghela napas sebelum berbicara, "Kau harus bersabar menghadapi Tuan Muda. Biasanya ia banyak permintaan dan permintaannya selalu yang aneh-aneh. Hanya itu saja, pergilah!" ucapnya.
Sari menganggukkan kepala sebelum kembali berbalik meninggalkan ruang dapur menuju kamar Salim. Pakaian pelayan berwarna hitam berupa terusan panjang melekat pas di tubuhnya. Kepalanya ditutupi kerudung berwarna putih yang hampir menguning warnanya. Ia berjalan di ruang tengah rumah besar sebelum menapaki anak tangga.
__ADS_1
"Makanan untuk Salim?" tanya Kevin tiba-tiba yang memapak langkahnya.
"Ya, Tuan!" jawabnya sembari sedikit membungkuk.
"Cicipi semuanya sebelum kau memberikannya pada anakku!" titah Kevin padanya. Tanpa ragu Sari mencicipi semua makanan di atas nampan. Nasi, sayur, lauk, dan lainnya semua tak ada yang terlewat.
"Jangan berikan sendok itu pada anakku!" katanya lagi seraya membuang sendok bekas makan Sari ke tempat sampah yang ada di ruangan itu, "pergilah!" titahnya lagi.
Sari melirik sekilas sebelum melanjutkan langkahnya. Di bawah tatapan Kevin yang berbeda ia berjalan menapaki anak tangga.
"Dia manis setelah membersihkan dirinya. Jika penampilannya seperti itu, maka aku tidak akan menolaknya menjadi pengasuh Salim," gumam Kevin sembari terus menatap punggung Sari yang menjauh.
"Ekehm! Apa kau baru saja memuji pembantu, sayang? Tidakkah aku lebih cantik darinya?" tegur Priscilla sembari bergelayut manja di pundak Kevin.
Laki-laki itu melirik sekilas. Tumben sekali wanita itu berdandan cantik malam ini, biasanya ia akan selalu sibuk dengan Teo yang terus merengek padanya.
"Ya ... tentunya, tapi sayang kau tak pernah memperlihatkan kecantikanmu lagi padaku! Aku hampir melupakan itu," sahut Kevin.
Ia tak menampik sebagai laki-laki normal Kevin perlu memenuhi kebutuhan biologisnya.
"Mmm ... tergantung seberapa hebat kau memuaskanku malam ini!" sambut Kevin dengan seringai licik di wajah.
"Baik, kau akan benar-benar puas malam ini, sayang." Priscilla menantang, menarik Kevin menuju kamar mereka. Beradu desah dan lenguh. Bermandikan keringat yang membanjiri tubuh. Keduanya bergulat setelah sekian lama tak saling menyentuh.
Sari yang sudah sampai di depan kamar Salim, menghela napas panjang sebelum mengetuk pintu tersebut.
Tok ... tok ... tok!
"Tuan Muda, ini saya! Saya membawakan makan malam untuk Anda," ucap Sari seraya membuka pintu kamar tersebut dan masuk dengan pelan.
Brak!
__ADS_1
Ceklak!
Salim yang bersembunyi di balik pintu menutup pintu tersebut dan menguncinya. Sari tersentak kaget, ia berbalik dan mendapati Salim yang duduk di kursi roda dengan pandangan sendu penuh kerinduan.
"Tuan Muda!"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Ibu!" tukas Salim dengan cepat.
"A-apa mak-"
"Aku tahu kau adalah Ibuku! Ibu bisa menipu semua orang, tapi Ibu tidak bisa menipu Salim. Meskipun Ibu berganti rupa Salim akan tetap mengenali Ibu. Ibu ... tidakkah Ibu rindu pada anakmu ini?" ucap Salim gemetar.
Kalimat itu sungguh menggetarkan hati Sari. Mata sendu Salim perlahan meneteskan air, Sari masih bergeming di tempatnya. Tak tahu harus apa.
"Ibu, bertahun-tahun Salim menunggu kedatangan Ibu. Setiap saat Salim berdoa meminta pada Yang Kuasa agar Salim dapat bertemu dengan Ibu. Salim ingin lari dari rumah ini, tapi keadaan Salim tidak memungkinkan, Ibu. Lihat anak Ibu ini! Salim lumpuh, Bu! Salim tidak berguna, Salim terlalu lemah hingga tanpa sadar mereka berhasil membuat Salim menjadi tidak berguna-"
"Ibu! Hanya Ibu yang Salim punya, jangan berpura-pura lagi di hadapan Salim!" ungkap Salim sambil menangis tersedu di hadapan Sari.
Wanita itu melangkah perlahan, meletakan nampan makanan di atas meja. Ia kembali mendekati Salim dan berjongkok di hadapannya.
Air matanya berlinang, lidahnya kelu tak mampu berkata-kata.
"Tidak, Ibu! Jangan menangis!" ucap Salim sembari mengusap air yang jatuh di pipi Sari.
"Salim ... anakku!" Sari memeluk tubuh Salim. Yah ... dia adalah Sumayah yang telah berganti rupa akibat kejadian penyiraman empat tahun lalu.
"Ibu!" Salim ikut membenamkan wajah di pundak Sumayah. Pelukannya mengerat. Rasa hangat itu terus mengisi seluruh pembuluh darah Salim.
"Ya Allah ... terima kasih. Terima kasih karena Salim telah mengenali Ibu. Selama bertahun-tahun ini Ibu selalu dihantui rasa takut. Takut Salim tidak mengenali Ibu dan tidak mau mengakui Ibu," ungkap Sumayah semakin erat memeluk tubuh putranya.
"Sejauh apa pun Ibu pergi, Salim akan tetap menunggu Ibu dengan ketidakmampuan Salim mencari. Bagaimanapun berubahnya bentuk wajah Ibu, Salim akan tetap bisa mengenali Ibu. Hati Salim tak pernah lupa bagaimana rasanya saat bertemu dengan Ibu," tutur Salim lagi menangis tergugu di pelukan Sumayah.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang. Terima kasih," ucap Sumayah penuh haru. Ia mengurai pelukan dan menggenggam tangan Salim. Diciuminya wajah anak yang ia rindukan itu.
"Sekarang Salim harus makan, setelah itu ceritakan semua apa yang terjadi pada Salim," pinta Sumayah sembari mengajak Salim mendekati ranjang. Anak itu menurut dan mulai makan dengan lahap dari tangan ibunya.