
Kevin tak beranjak sedetik pun dari ruang kerja setelah ia menerima selimut bayi yang dibawa salah satu pengawalnya. Ia mendekap erat selimut itu, gurat kesedihan jelas tercetak di wajahnya yang angkuh. Ya ... hanya Juan yang dia izinkan untuk melihat sisi lain dari dirinya. Juga wanita yang kini menjadi buronannya, tentu saja.
"Tuan, Anda belum memakan apa pun selama satu hari ini. Setidaknya makan buah ini saja sebagai ganjal di perut Anda," saran Juan yang merasa cemas dengan keadaan Tuannya.
'Keadaan ini mengingatkanku pada saat lamaran Tuan untuk pertama kalinya ditolak oleh Nyonya.'
Juan menghela napas mengingat betapa rapuh laki-laki di depannya itu. Hanya saja, ia tidak menampakkan sisi lain dirinya di hadapan semua orang bahkan di depan wanita iblis itu sekali pun.
"Aku sedang tidak berselera, Juan. Bagaimana aku bisa makan enak, sementara bayiku di luar sana ... aku tidak tahu apakah dia cukup minum susu? Ataukah dia kelaparan?" sahut Kevin sendu.
Ia sama sekali tidak mengangkat wajah dari selimut yang menutupinya. Hidungnya tak henti mengendus bau bayi hingga hampir hilang aromanya.
"Saya yakin, Nyonya tidak akan membiarkan Tuan Muda kelaparan, Tuan. Jadi, makanlah!" ucap Juan sembari mendorong sebuah piring yang berisi potongan buah.
"Apa kau masih mempercayainya, Juan? Setelah banyak hal busuk yang dia lakukan di mansion ini!" tekan Kevin menggeram dari balik giginya yang merapat.
"Aku tidak yakin dia mampu mengurus putraku. Dia tidak bisa dipercaya, Juan. Jika dia bisa dipercaya, tak akan dia menjual aset pribadiku kepada musuhku!" hentak Kevin wajahnya terangkat dengan pupil yang membesar hampir keluar.
Juan menunduk, ia berpikir. Ingin mengutarakan pendapatnya tentang kejadian tersebut, tapi ia takut Kevin akan semakin murka. Biarlah untuk saat ini ia menyimpannya sendiri karena dijelaskan bagaimana pun, Kevin akan tetap pada pendiriannya untuk saat ini.
'Dia sudah berhasil meracuni Anda, Tuan. Anda telah dibutakan cinta padanya hingga melupakan cinta Nyonya yang sesungguhnya.'
Juan kembali mengangkat wajah menatap datar Kevin yang kembali meratapi selimut putranya.
"Apa Anda menyesal, Tuan?" tanya Juan masih dengan datar tanpa emosi.
Kevin menaikkan wajah, bertatapan dengan Juan yang bergeming di tempatnya.
"Menyesal?" cibirnya sarkas. Juan bungkam menunggu kalimat lanjutan dari Tuannya.
"Apa maksudmu karena aku telah membunuh keluarga petani itu?"
__ADS_1
Juan masih bergeming, tidak menyahut bahkan dengan bahasa isyarat sekali pun. Kevin tertawa terbahak-bahak hingga sudut matanya berair.
"Tidak ada kata sesal dalam kamus seorang Kevin. Dia tetap bersalah dan sampai mati pun akan tetap bersalah karena telah bermain-main dengan Kevin Aji Negoro," lanjut Kevin. Matanya berkilat merah menyala bagai kobaran api yang melahap habis sebuah hutan di musim kemarau.
"Baiklah, Tuan. Apakah Anda ingin saya tinggalkan?" ucap Juan menyudahi drama melow Kevin malam ini.
"Apa kau ingin meninggalkan aku sendiri? Apa kau bosan peduli padaku? Apa kau juga ingin pergi jauh?" Kevin berdiri dengan kemurkaan di wajahnya.
Napasnya memburu karena secara tiba-tiba emosinya meluap tak terkendali. Juan sudah terbiasa dengan hal itu, ia tak lagi terkejut dengan sikap Kevin yang tiba-tiba.
"Tenanglah, Tuan. Jika Anda ingin ditemani, saya akan tetap di sini. Namun, jika Anda tidak menerima saran saya, maka lebih baik saya pergi saja." Juan mendorong piring itu kembali lebih mendekati Kevin.
Ia melirik piring tersebut dengan matanya saat pupil merah milik Kevin mendelik padanya. Kevin mendengus, mau tidak mau, suka tidak suka ia duduk jua. Menarik piring berisi buah itu dan melahapnya dengan cepat.
Juan tersenyum puas, ia merapikan piring tersebut dengan menyingkirkannya dari meja kerja Kevin.
"No! Tak ada wine malam ini!" Juan merebut botol anggur dari tangan Kevin. Laki-laki itu melongo tak percaya, kenapa sekarang seolah Juan-lah Tuannya.
"Kenapa kau mengaturku?" tanyanya tak suka.
"Hei! Kau akan membawanya ke mana, Juan?" teriak Kevin panik saat Juan memasukkan botol-botol itu ke dalam dus dan menutupnya rapat.
"Hanya akan menyimpannya di gudang penyimpanan, Tuan. Anda tidak perlu khawatir saya tidak akan membuangnya," ucap Juan tak menghiraukan Kevin yang panik dengan matanya yang melebar.
Kevin tak dapat bicara, lidahnya tiba-tiba kelu dengan sikap Juan yang tiba-tiba seperti tadi. Juan mengangkat dus berisi minuman Kevin dan membawanya keluar kamar. Ia memerintahkan salah satu pengawal yang berjaga di lantai tersebut untuk membawa dus anggur itu ke gudang penyimpanan.
Tak lama ia kembali. Mengunci ruangan tak ingin ada yang mengganggu mereka untuk malam ini. Kevin, ia telah berdiri di depan jendela menatap gelapnya malam tanpa cahaya bintang dan bulan.
"Tuan! Apa Anda ingin bermain?" tawar Juan bediri di depan meja kerja Kevin dengan segenggam batang lidi di tangan.
"Bermain?" beo Kevin tanpa menoleh.
__ADS_1
"Yah, Tuan. Bermain angkat lidi, Anda masih ingat cara mainnya? Dulu, Nyonya yang mengajarkan permainan ini kepada kita," sahut Juan diakhiri kekehan di ujung kalimatnya.
"Aku lupa dan tak ingin memainkannya," tolak Kevin tegas.
"Hanya mengisi kekosongan, Tuan. Bukankah Anda masih memiliki hutang yang harus Anda bayar?" Juan menyeringai.
Kevin mendengus sebal. Ia berbalik dan bertambah kesal saat melihat senyum Juan.
"Baiklah ... baiklah, akan kubayar lunas malam ini!" katanya seraya berjalan dan duduk berhadapan dengan Juan.
"Silahkan, Tuan! Lemparkan semua lidinya!" Juan memberikan lidi tersebut pada Kevin.
"Ayo, sayang lemparkan semua lidinya! Setelah itu, kau harus mengangkatnya dengan hati-hati. Jangan sampai menyentuh lidi lainnya. Semangat, Suamiku!" Suara girang Sumayah saat mengajarinya permainan itu mengiang dengan jelas di telinga Kevin.
Ia mendongak, samar pandangannya melihat sosok wanita cantik itu bertepuk tangan di hadapan dengan senyumnya yang polos dan ceria.
"Maya?"
"Tuan!"
Teguran Juan menyadarkan Kevin dari fatamorgana yang baru saja ia alami. Bayangan Sumayah berganti Juan yang mengibaskan tangan di depan wajahnya.
"Ah!" Kevin tersentak dan segera melempar lidi-lidi di tangannya ke atas meja. Ia menelisik mencari lidi yang mana yang tak bersentuhan dengan lidi lainnya.
"Cari dengan teliti, sayang! Kau pasti bisa!" Suara Sumayah yang menyemangatinya saat bermain kembali mengusik ingatannya. Ia memejamkan mata menepis bayangan gadis polos itu di pikirannya.
"Bagaimana, Tuan? Apa Anda menyerah?" tanya Juan tak sabar menunggu Kevin yang tak kunjung memulai permainan.
"Diam kau!" hardik Kevin tak suka. Ia kembali berkonsentrasi pada lidi-lidi yang membuatnya pusing tujuh keliling.
"Kalau kau menang, aku akan melakukan apa pun untukmu!" Tawaran dari Sumayah membangkitkan emosi Kevin. Entah mengapa tiba-tiba kerinduan terhadap sosok wanita itu mencuat ke permukaan. Permainan itu Sumayah yang mengajarkan. Jika ia menang, maka ia bebas melakukan apa saja terhadap wanita itu. Jika ia kalah, maka ia harus rela melakukan perintah Sumayah apa pun itu.
__ADS_1
Hal sederhana seperti ini yang ia rindukan. Sayang, kebencian dengan cepat menghapus rindu yang menggebu. Secara tiba-tiba Kevin menepis semua lidi-lidi itu hingga berserakan di lantai. Juan bergeming, tak berekspresi. Ia tahu, dalam lubuk hati terdalam milik Kevin masih ada cinta untuk Sumayah. Hanya saja, ia sedang dibutakan oleh hal lain.
"Jangan pernah memainkan permainan itu lagi!" hardik Kevin dengan jari telunjuk mengarah lurus di depan wajah Juan. Ia berbalik dengan kasar dan masuk ke ruangan lainnya. Pintu kamar yang tak bersalah menjadi sasaran amarah Kevin. Juan memejamkan mata, bibirnya tersenyum. Dalam penolakan Kevin, terbersit rindu di maniknya yang kelam.