
"Tutup mulutmu!"
Suara tinggi Kevin menyentak kedua manusia yang masih berdiri berhadapan di ambang pintu ruangannya. Priscilla amat terkejut mata merah menyala penuh amarah itu tertuju padanya, sedangkan Juan bergeming membelakangi laki-laki angkuh itu.
Jeda. Kevin menuang wine ke dalam gelasnya. Menyesapnya dengan penuh perasaan membuat tenggorokan Priscilla bergerak naik-turun karena saliva yang terasa sulit melintas.
"Kenapa kau ingin bertemu denganku?" Kevin menjatuhkan lirikan pada wanita seksi itu tanpa mengangkat wajah dari gelas anggur yang dimainkannya.
"Kenapa? Apa aku harus memiliki alasan untuk bertemu dengan kekasihku sendiri?" kesal Priscilla jelas nampak di garis wajahnya yang mengeras. Kerutan di dahi sempitnya pun mempertegas ketidaksukaannya akan pertanyaan Kevin barusan.
"Hmm!" Kevin menarik sebelah sudut bibirnya ke atas. Priscilla merasa diacuhkan oleh laki-laki yang hampir setiap malam menghabiskan waktu bersamanya untuk bercinta.
"Kau harus memiliki alasan untuk bertemu denganku, Cilla!" tegas Kevin kembali pada wine di tangan. Ia menenggaknya hingga tandas dan menjatuhkan gelas itu ke lantai.
Suara nyaring dari pecahan gelas kaca di lantai menyentak tubuh wanita itu. Ia bahkan memejamkan matanya karena terkejut.
"Seperti gelas itu! Dia tidak bersalah, tapi dia harus memiliki alasan untuk tetap berada di dekatku. Memuaskan dahagaku!" tekan Kevin memainkan pupil matanya dengan tajam pada kedua sisi.
Priscilla tertegun mendengar penuturan Kevin. Ia tidak mengerti tentang sikap Kevin. Selama ini hubungannya baik-baik saja bahkan setiap kali bercinta laki-laki itu selalu mendesahkan namanya dalam erangan nikmat penuh gairah. Namun, apa yang terjadi sekarang? Kenapa jalan pikiran Kevin selalu tak terduga?
"Apa maksudmu, Kevin?" tanya Priscilla lirih. Suaranya terdengar bergetar menahan sebak di dada. Sekuat tenaga ia menahan air matanya yang merangsek hendak turun.
"Jaga ucapan Anda, Nona! Panggil dengan sebutan Tuan!" geram Juan dengan mata berkilat merah.
Priscilla melirik laki-laki di depannya tak acuh. Ia bahkan mengangkat dagu tinggi mempertegas posisinya di dekat Kevin.
"Aku tak butuh pendapatmu!" desis Priscilla dari balik giginya yang merapat.
"Kau pasti tahu apa yang aku maksud, Cilla," ucap Kevin menautkan jemarinya di atas meja sambil memandang rendah wanita di ambang pintu itu.
Kerutan di dahinya semakin banyak terbentuk. Kevin terkekeh kecil melihat raut bingung di wajah gadis cantik di depannya.
"Apa kau merasa lebih istimewa?" Pertanyaan Kevin meluluhlantakkan perasaan Priscilla. Ia semakin tidak mengerti. Namun, bukan Priscilla namanya jika ia akan menyerah begitu saja. Dia sudah berhasil membuat Kevin mengusir wanita itu, dan kali ini pun ia akan berhasil membuat Kevin bertekuk lutut di kakinya.
__ADS_1
"Tentu saja! Kalau tidak, bagaimana mungkin kau akan selalu mendatangiku setiap malam!" jawab Priscilla jumawa.
Kevin semakin tertawa lebar. Matanya menutup saat ia melakukan itu. Tawa yang terdengar hambar tanpa gairah. Tawa yang berasal dari sebuah hati yang kehilangan cinta untuk selamanya.
Sementara laki-laki di depan Priscilla melirik tajam wanita tak tahu malu itu. Priscilla tak peduli pada Juan. Ia hanya peduli pada sikap Kevin yang berubah.
"Apa yang membuatmu berpikir kau istimewa untukku? Hanya karena aku yang mendatangimu setiap malam?" cibir Kevin menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.
Priscilla semakin tidak suka dengan suasana saat ini. Suhu ruangan naik secara drastis. Tubuh dan hatinya memanas, pikirannya pun ikut terbakar kala Kevin mencemoohnya demikian.
Priscilla tersenyum, Kevin menunggu, Juan mengernyitkan dahi.
"Kau ingin aku membuktikannya saat ini juga?" Priscilla melangkah perlahan. Halus dan lembut dengan pakaian seksi yang selalu memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya.
"Berhenti di sana, Cilla!"
Perintah dari Kevin yang tegas membuat kaki wanita itu berhenti mengayun. Ia berdiri dengan wajah cemberut.
"Aku yang akan mendatangimu nanti. Untuk sekarang, pergilah! Jangan ganggu aku!" titah Kevin semakin membuat Priscilla kesal.
"Juan!"
"Silahkan, Nona!"
Juan beranjak memiringkan tubuh. Membuka jalan untuk Priscilla pergi dari ruangan Tuannya. Tangannya ikut bertindak menunjuk pada pintu yang terbuka lebar.
Priscilla yang kesal, berbalik sembari menghentak-hentakkan kakinya di lantai. Kesal, malu, marah, dan kecewa berbaur dalam hatinya berkecamuk tak menentu.
Juan menutup pintu ruangan dan kembali berhadapan dengan Kevin.
"Urus wanita itu agar tidak selalu bertindak semaunya!" perintah Kevin sembari mengambil satu berkas yang selalu menumpuk di sudut meja kerjanya.
"Baik, Tuan!" sahut Juan membungkuk hormat.
__ADS_1
Kevin tak lagi bicara, ia fokus pada berkas di tangannya. Laporan keuangan dari perusahaan yang dirintisnya.
"Bagaimana dengan para buruh di pabrik, Juan? Apa mereka memprotes kebijakan baru dari kita?" tanya Kevin masih fokus pada berkas yang dibacanya.
"Sejauh ini mereka masih menerima kebijakan itu, Tuan. Mereka hanya menyayangkan, bukan lagi Nyonya yang menangani masalah mereka di pabrik," jawab Juan cukup membuat gerakan tangan Kevin yang hendak membubuhkan tandatangan terhenti sejenak.
"Lama-lama mereka akan terbiasa dengan kondisi saat ini. Beritahu mereka bagi siapa saja yang masih membicarakan wanita itu, aku tidak akan segan-segan untuk memecatnya!" tegas Kevin melanjutkan kembali gerakan tangan memberikan stempel sah kepemilikannya.
"Baik, Tuan!"
Hening datang kembali, Juan masih tetap berdiri di depan Kevin menunggu laki-laki itu selesai dengan pekerjaannya.
Tak lama ketukan di pintu memecah hening antara keduanya. Disambut suara seseorang meminta untuk masuk.
"Tuan, saya datang untuk melapor!" Suara itu bagai angin segar untuk Kevin. Ia menghentikan pekerjaannya dan menatap pintu dengan sejuta harap memancar di pupil matanya.
"Biar saya temui, Tuan!" Juan menunduk lantas melangkah mundur keluar menemui orang yang datang melapor.
Kevin mengangguk dan menunggu Juan membawa pengawal yang ditunggu-tunggu kedatangannya sejak tadi.
"Kabar apa yang kau bawa?" tanya Kevin begitu dua orang itu berdiri membungkuk di hadapannya.
"Ampun, Tuan! Kami memang tidak menemukan Nyonya dan bayinya, tapi kami menemukan ini di sebuah gubuk tengah sawah sebelum desa Hulu Sungai," lapornya sembari menunjukkan selimut bayi juga kain yang digunakan Sumayah untuk menggendong bayinya.
"Berikan padaku!" Kevin mengulurkan tangan ke depan meminta apa yang di tangan pengawalnya.
Dengan cepat Juan mengambil alih dan memberikan pada Kevin.
"Tunggu perintah selanjutnya!" Juan mengibaskan tangan mengusir si pengawal dari ruangan saat suasana Kevin berubah sendu.
Laki-laki itu menciumi selimut bayi tersebut. Kesedihan memancar jelas di maniknya yang kelam. Juan tahu, Tuannya begitu merindukan sosok kecil yang akan membuatnya tak lagi merasa kesepian.
"Aku bahkan belum sempat melihat wajahnya, kau sudah membawanya pergi! Sebegitu takutkah engkau padaku, Maya!" gumam Kevin yang tertangkap indera rungu Juan dengan jelas.
__ADS_1
'Anda sendiri yang ingin membunuh Nyonya, tapi sekarang Anda justru menyalahkan Nyonya. Aku tidak mengerti jalan pikiran Anda, Tuan.' Juan menggerutu dalam hati.
Sudah ia katakan, kalau Kevin pasti akan menyesal. Akan tetapi, laki-laki itu terlalu egois. Dia menginginkan bayi di dalam rahim Sumayah, tapi tak menginginkan Ibunya. Dia pikir Sumayah akan memberikannya begitu saja. Namun, dia salah! Ternyata Sumayah tak kalah keras darinya. Sekarang tinggallah ia yang berjuang mencari keberadaan anaknya.