
Kevin yang menggelap hilang kendali pada dirinya sendiri. Ia menyambar golok yang menjadi hiasan dinding rumahnya. Kalap dan berteriak bagai kesurupan.
"Kalian harus mati! Kalian pantas mati!" Kevin berjalan ke arah Priscilla dan Rai dengan sebilah golok di tangan. Bersiap mengayunkannya untuk memecah kedua batok kepala mereka.
Tepat saat golok itu diayunkan, pintu rumah terbuka dengan kasar. Membuat tangan Kevin berhenti di udara.
Brak!
"Stop! Hentikan semuanya!" Kevin membeku. Ia menoleh, golok di tangannya jatuh begitu saja. Salah satu pengawalnya dengan cepat mengamankan benda tajam tersebut.
Semua orang melihat ke arah pintu, seorang pemuda gagah berjalan tegak memasuki rumah besar Kevin. Tampilannya yang elegan, membuat siapa saja terpesona oleh karisma yang menguar dari sosoknya.
"Ju-juan!" Bibir Kevin bergumam, detik kemudian ia tersenyum merasa ada harapan dengan kedatangan pemuda itu.
Juan menatap lurus ke depan, ia melirik sekilas pada tiga orang yang sedang bertikai. Lalu, kembali tak acuh dan terus berjalan lurus.
Kevin segera berlari mendekat seperti seorang penjilat yang rela menjual harga diri demi suatu hal.
"Juan, syukurlah kau datang. Mereka menipuku, Juan. Mereka berdua mengkhianati aku. Bukankah mereka pantas mati, Juan! Mereka pantas mati," cerocos Kevin sembari mendekat pada Juan.
"Juan!"
"Juan!"
Kevin memanggil-manggil Juan begitu ia berada di dekatnya, Juan tidak menanggapinya sama sekali. Laki-laki itu terus berjalan melewatinya tanpa melirik sedikit pun padanya.
"Juan!"
"JUAN!"
Kevin berteriak memanggil nama mantan asistennya itu, sayang Juan seolah tak mengenalnya. Terus saja melangkah ke arah yang berlawanan dengannya.
Semua orang pun ikut memberikan tatapan bingung pada Juan. Kevin mengedarkan pandangannya pada arah tujuan Juan. Ia tercengang, dan semua orang ikut membesarkan mata saat melihat Salim yang berjalan menuruni anak tangga bersama pengasuhnya dan kepala pelayan juga.
Salim tersenyum begitu pun dengan wanita yang mengasuhnya saat pandang keduanya bertemu dengan Kevin.
__ADS_1
Priscilla orang yang paling terkejut melihat keadaan Salim. Bocah itu tak lagi lumpuh, ia berdiri bahkan berjalan dengan normal seperti seseorang yang tak pernah mengalami kelumpuhan.
"Sa-salim?"
"Tu-tuan Muda?"
"Sial, kenapa anak itu bisa sembuh?" geram Priscilla dengan kedua rahang yang mengeras.
"Kau bilang dia lumpuh, kenapa dia bisa berjalan?" tanya Rai sama geramnya dengan Priscilla.
"Aku juga tidak tahu, ini pasti karena pengasuh sialan itu yang sudah berani mengkhianati aku!" Priscilla masih terus mengumpat mengingat Sumayah yang tidak menuruti perintahnya.
"Selamat siang, Nyonya! Bagaimana kabar Anda?" sapa Juan setelah berada di hadapan Sumayah dengan membungkukkan tubuh padanya. Sumayah mengangguk pelan menjawab pertanyaan Juan.
Kevin menganga tak percaya, begitu pun dengan Priscilla dan Rai.
"Apa-apaan ini, Juan? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau justru mendatangi dia bukan aku?" hardik Kevin tidak senang melihat Juan yang datang pada Sumayah.
"Siapa kau sebenarnya?" Kevin memicingkan mata pada Sumayah.
"Apa kau tidak mengingatku? Kukira kau sudah lebih pintar, Kevin. Nyatanya kau masih sama bodohnya seperti dulu. Seandainya bukan Juan yang berdiri di sampingmu dan menyokongmu, aku yakin kau tak akan seperti kemarin. Yah ... seperti inilah sosok Kevin tanpa Juan. Bodoh dan mudah dibodohi-"
"Kau bahkan dengan bodoh mengusir Juan dari sisimu hanya karena wanita ular itu. Sekarang kau tahu, bukan? Bagaimana rasanya berdiri seorang diri tanpa penyokong di belakangmu. Bodoh! Kau pikir bisa bekerja tanpa Juan, kau bodoh, Kevin!" Panjang lebar Sumayah mencemooh mantan suaminya.
Kevin menggeram tertahan, ia masih menerka siapa wanita yang selama ini menjadi pengasuh anaknya. Sumayah tersenyum sinis.
"Kau-"
"Yah ... akulah Sumayah. Wanita yang kau buru dan kau inginkan nyawanya. Dengar, Kevin! Aku akan berkali-kali hidup meskipun kau terus-menerus membunuhku! Aku tidak akan pernah mati selama anakku belum mendapatkan kedamaiannya. Aku akan tetap datang membalas," ungkap Sumayah.
Tak ada lagi raut ramah di wajahnya, kelembutan yang dimilikinya kini berganti dengan sikap tegas yang selama ini tak pernah nampak.
"Hei, kalian! Siapa pun kalian sebaiknya kalian pergi dari rumah ini karena rumah ini sudah menjadi milikku!" bentak Priscilla yang sudah berdiri bersama Rai tak jauh dari mereka.
Sumayah meliriknya, ia lantas tertawa mendengar penuturan Priscilla.
__ADS_1
"Juan, beritahu orang-orang bodoh itu semua yang ada di sini milik siapa?" titah Sumayah yang diangguki Juan.
Pemuda gagah itu berjalan dan berdiri di samping Sumayah. Tegak dan berwibawa.
"Menurut surat wasiat yang selama ini disembunyikan oleh Kevin, mantan suami Nyonya Sumayah bahwa semua peninggalan Tuan Negoro adalah hak mutlak milik Nyonya Sumayah. Kevin diberi wewenangan hanya pada saat ia memperlakukan Nyonya Sumayah dengan baik, selebihnya ia tak berhak apa pun atas harta yang selama ini dinikmatinya. Maka, semua harta dikembalikan pada pemiliknya, Nyonya Sumayah."
Demi apa pun, semua orang yang berada di ruangan itu ternganga tak percaya. Priscilla dan Rai bahkan membuka mulutnya lebar-lebar. Kevin pun membeku melihat kertas di tangan Juan. Kertas yang ditemukan Sumayah di sebuah peti dalam lemari yang selama ini disembunyikan Kevin.
"Sudah jelas?" tanya Sumayah dengan senyum mencibir di bibir.
"Tidak mungkin! Tidak ada yang seperti itu selama ini, kalian bohong! Kalian pembohong! Kalian hanya menginginkan rumah dan seluruh harta Kevin saja, bukan? Baiklah, aku akan berbaik hati bagaimana kalau kita jual saja semua dan bagi rata. Kalian pasti tertarik, bukan?" tawar Priscilla dengan wajahnya yang licik, tapi bodoh.
Sumayah tertawa mendengarnya, detik kemudian, "Ringkus mereka dan kurung dalam ruang bawah tanah! Termasuk anak mereka yang selalu berbuat jahat pada anakku!" titah Sumayah tanpa belas kasihan.
Tak dinyana, mereka yang berbaris segera melakukan perintah Sumayah. Diam-diam Juan bergerak dan mengurung para pengkhianat terlebih dulu.
"Tidak! Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!"
Sahut menyahut Kevin, Priscilla dan Rai berteriak dan memberontak.
"Maya! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku Ayah dari anakmu, aku ayahnya Salim!" teriak Kevin sembari memberontak dari cekalan orang-orangnya sendiri.
Sumayah berpaling pada laki-laki itu, senyum dinginnya sungguh membuat Kevin tidak mengenali Sumayah.
"Apa kau yakin kau ayahnya?" sarkas Sumayah.
"Tentu saja, lihat kami begitu mirip," sahut Kevin dengan cepat.
"Sayangnya, tidak ada Ayah yang menginginkan anaknya menderita. Kau ingin membunuhku bukan karena aku mengkhianatimu, tapi karena kau menginginkan seluruh hartaku. Kau bekerjasama dengan wanita ular itu untuk menyingkirkan aku. Lantas, kau ingin merebut Salim agar memperkuat posisimu sebagai ayah Salim untuk tetap menguasai semuanya. Aku benar, bukan?" ungkap Sumayah lagi.
"A-aku ... k-kau ...!"
"Cepat bawa mereka semua ke ruang bawah tanah! Jangan berikan mereka makanan karena mereka sudah menikmati hartaku selama ini!" titah Sumayah lagi seraya membalik tubuh dan meninggalkan lantai satu rumah besar tersebut bersama Salim dan kepala pelayan. Diiringi dengan suara teriakan memohon dari ketiga orang itu juga tangisan dari Teo.
Juan memimpin di depan, membuka pintu ruang bawah tanah dan memasukkan empat orang itu ke dalamnya. Mengurung mereka bersama para pengkhianat lainnya.
__ADS_1