Sumayah

Sumayah
Aku Merestui


__ADS_3

Ketiga orang yang baru saja masuk ke ruangan di mana Sumayah berada terperanjat kaget saat melihat tiga orang polisi berseragam duduk di hadapannya.


"Ada yang ingin bertemu dengan kalian," ucap Sumayah menunjuk pada tiga orang polisi yang duduk dengan wajah datar dan dingin.


Baik Kevin maupun Priscilla keduanya berdiri dengan kaki yang gemetar. Kecuali Rai yang pasrah akan hidupnya. Ia merasa hidupnya sudah berakhir semenjak orang tuanya memutuskan meninggalkannya.


Ketiga polisi itu berdiri dan mendekati ketiganya.


"Selamat siang! Kami mendapatkan laporan bahwa kalian melakukan perencanaan pembunuhan terhadap Nyonya Sumayah, dan juga melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan terhadap Tuan Muda Salim. Kalian harus ikut kami ke kantor untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian," ucap salah satu polisi seraya memerintah yang lainnya untuk memborgol ketiganya.


"Tidak ... tidak! Aku tidak melakukannya, semua itu adalah rencana wanita itu. Aku tidak terlibat," tolak Kevin sembari memberontak dari cekalan salah seorang polisi yang hendak memborgolnya.


"Maya! Maya! Tolong aku, Maya! Jangan biarkan mereka membawaku, Maya. Aku adalah Ayah Salim tidak mungkin aku mau mencelakakan anakku sendiri juga ibunya. Maya, percaya padaku, aku tidak terlibat dalam rencana itu," mohon Kevin sembari menggeliat dalam cekalan seorang polisi.


"Apa? Apa yang kau katakan? Dia yang merencanakan pembunuhan itu, Pak. Dialah dalangnya karena menginginkan harta wanita itu. Dia saja yang Bapak bawa jangan aku!" teriak Priscilla dengan suara yang melengking tinggi. Ia juga menggeliat dalam cekalan polisi lainnya.


Terjadilah perdebatan antara keduanya, Sumayah tersenyum samar melihat bagaimana keduanya saling melempar kesalahan.


"Diam! Kalian bisa menjelaskannya di kantor nanti," bentak kepala polisi yang membungkam mulut keduanya, "bawa mereka!" lanjutnya memberi perintah.


"Tidak! Maya, tolong ampuni aku. Aku tidak mau di penjara, Maya! Maafkan aku. Aku minta maaf atas semuanya, Maya. Aku menyesal aku akan melakukan apa saja untuk menebus semua kesalahanku. Maya! MAYA!"


Suara teriakan Kevin tak diindahkan oleh Sumayah. Wanita itu bergeming dengan senyum di bibir. Puas rasanya melihat Kevin yang memohon seperti tadi. Ia melambaikan tangan melepas kepergian mantan suaminya.


"Membusuklah kalian di penjara, kalian akan tahu bagaimana dinginnya berada di balik jeruji besi itu," geram Sumayah dari balik giginya yang merapat.


Juan mengantar kepergian mereka hingga memasuki mobil polisi. Ia kembali masuk ke dalam setelah mobil polisi itu pergi meninggalkan halaman mansion Sumayah.


Ia menghadap Sumayah yang berdiri di bawah tangga bersama Salim.

__ADS_1


"Nyonya, saya izin pergi sebentar," ucap Juan sembari membungkukkan tubuh di depan Sumayah.


"Kau akan ke mana, Juan? Tidak bisakah kau tinggal?" pinta Sumayah dengan raut memohon pada laki-laki di hadapannya itu.


Juan tersenyum samar, lalu terkekeh. Entah apa yang sedang ia tertawakan. Alis Sumayah berkedut heran melihat tingkah Juan.


"Kau tenang saja, Maya. Aku hanya sebentar," katanya dengan senyum dan mata yang berkedip nakal.


Sumayah terhenyak, ia menoleh ke kanan dan kiri panik. Khawatir ada orang di sekitarnya dan melihat tingkah nakal Juan.


Keduanya tak sadar bahwa anak yang berdiri di depan Sumayah memasang wajah dingin pada Juan.


Sumayah mengangguk, laki-laki itu berbalik dan kembali hendak melangkah. Namun, suara Salim menghentikannya.


"Apa Paman menyukai Ibuku?" tanya Salim datar. Sumayah menggigit bibir bawahnya terkejut dengan pertanyaan Salim yang tiba-tiba.


Juan yang hendak pergi pun terpaksa urung. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sebelum akhirnya berbalik bertatapan dengan netra hitam milik Salim.


"Asal Paman tahu, aku tidak bisa berbagi cinta dengan yang lain. Ibuku hanya milikku seorang, tidak boleh ada yang lain yang mencuri perhatiannya dariku," tegas Salim sembari memegangi kedua tangan Sumayah di atas bahunya.


Sumayah tersenyum melihat ekspresi Juan yang terdiam mencari jawaban. Anak dan laki-laki itu beradu pandang, beradu kekuatan siapa yang lebih kuat di antara mereka.


"Bagaimana kalau saya telah berhasil mencuri hatinya, Tuan Muda? Apa Anda akan tetap bersikap keras seperti sekarang?" tanya Juan yang membuat Salim justru tersenyum mencibir.


"Hanya laki-laki yang bisa menghargai Ibuku sebagai wanita terhormat yang pantas menjadi pemimpinnya. Bukan laki-laki yang tak bisa menghargai setiap usaha dan cintanya. Aku sendiri yang akan menyingkirkannya," tegas Salim tidak mau kalah.


"Baiklah, jika begitu saya akan pergi dalam waktu yang lama untuk memantaskan diri saya," sahut Juan sembari membungkuk di depan Salim.


Ia memandang Sumayah yang menggigit bibirnya tak enak dengan penolakan Salim. Juan kembali berdiri tegak dan berbalik hendak pergi.

__ADS_1


"Paman!"


Panggilan Salim kembali menghentikan langkah Juan.


"Perlu Paman tahu, Ibuku sudah tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini selain aku. Akulah wali Ibuku, yang akan menentukan siapa yang akan aku terima untuk mendampingi Ibuku-"


"Karena Paman telah berhasil membuatku terkesan, aku mungkin akan mempertimbangkan perasaan Paman pada Ibuku. Jangan sia-siakan kesempatan ini, Paman. Jangan jadi bodoh seperti dia," sambung Salim sembari tersenyum jenaka.


Juan berbalik, ia pun balas tersenyum.


"Jadilah Ayah sambung untukku, Paman. Aku tahu Paman telah banyak membantu Ibu. Ibu juga membutuhkan seseorang yang bisa melindunginya di dunia ini karena aku belum merasa mampu melindunginya," lanjut Salim lagi.


Sumayah tersenyum haru, sampai-sampai air matanya jatuh karena rasa bahagia yang memenuhi relung hatinya.


Begitu pun dengan Juan, bukannya ia tak bahagia. Hanya saja, dia harus menjaga wibawanya dan tidak bersikap berlebihan.


"Baiklah, bersiaplah memanggil aku Ayah!" katanya sembari menunjuk Salim. Lantas berbalik pergi dan tidak menoleh lagi.


"Salim!" Sumayah membalik tubuh Salim dan memeluknya.


"Tenang saja, Ibu. Paman Juan adalah orang yang tepat untuk mendampingi Ibu," ucap Salim dalam pelukan sumayah.


******


Berbulan telah berlalu, keduanya memutuskan untuk menikah. Pesta sederhana diadakan Sumayah di mansion-nya. Tak banyak yang diundangnya hanya kolega bisnis mereka dan kerabat jauh yang masih tersisa.


Teo tumbuh menjadi anak yang bertanggungjawab, dia diasuh Sumayah menjadi saudara Salim. Tak lagi ada pertengkaran dan kebencian di antara keduanya. Salim pun dapat menerima dengan baik sosok Teo sebagai saudara sekaligus teman.


Sementara mereka di dalam penjara, semakin terpuruk. Kevin tak henti memohon ampun pada Sumayah, Rai terus-menerus bergumam meminta maaf pada kedua orang tuanya, dan Priscilla seorang Ibu yang dipisahkan dari anaknya. Ia tak henti memanggil-manggil Teo bahkan terkadang berteriak meminta dikembalikan.

__ADS_1


Mereka berada di sel berbeda, terpisah karena seringnya membuat keributan. Berseteru, bertengkar di tengah malam hingga mengganggu ketenangan tahanan lain.


Sungguh malang nasib kalian. Mungkin itu saja belum cukup untuk membalas semua perbuatan yang telah kalian lakukan pada Sumayah.


__ADS_2