Sumayah

Sumayah
Sesal Kevin


__ADS_3

"Apa kau mencintai Ibuku? Katakan, apa kau mencintai Ibuku? Ibu bilang Ayahku sangat mencintainya. Katakan padaku, apa kau mencintai Ibuku? Karena aku tidak ingin memakan apa pun dari tangan orang yang tidak mencintai Ibuku apa lagi ingin membunuhnya!"


Mata kecil itu membentuk tatapan menuntut pada manik kelam Kevin. Dingin dan tajam sama persis seperti miliknya. Kevin bahkan serasa sedang bercermin pada cermin waktu yang bisa membawanya kembali ke masa silam.


Ia menegakkan tubuh, emosi seketika meluap. Pandangan Salim tak sedikit pun terlihat keraguan darinya. Bercak benci dan dendam pun tak disembunyikan bocah enam tahun itu.


Prang!


Dengan berang Kevin melempar piring ke lantai hancur berkeping-keping. Sedikitpun Salim tak beranjak bahkan walau hanya lirikan matanya saja. Ia tetap berdiri tegak menatap lurus netra Kevin yang sudah menggelap.


"Apa yang dia ajarkan padamu hingga kau tak ingin mengenalku sebagai Ayahmu?! Kau ingin tahu jawabannya? Apa kau juga ingin tahu kenapa aku ingin membunuhnya?! Dengar!"


Kevin mendekat, mencengkeram kedua bahu Salim dengan kuat. Bocah itu bergeming, meringis saja tidak ia lakukan.


"Dengar, Salim! Dengarkan baik-baik! Aku ... dia adalah wanita yang sangat aku cintai. Kau dengar?! Apa kau mendengarnya?! Aku mencintai Ibumu! Tapi ...."


Salim beriak, antara senang dan benci berkumpul jadi satu. Senang karena Kevin mengakui bahwa ia mencintai Sumayah. Benci karena Kevin mengatakannya dengan penuh amarah dan dendam.


"Kau ingin tahu kenapa aku ingin membunuhnya, bukan?!" Kevin mengguncang-guncang tubuh kecil Salim membuatnya mengernyit kesakitan. Cengkeram tangan Kevin menyakiti tubuhnya. Bukan hanya itu, suara tingginya juga menambah luka di hati kecil Salim.


"Karena dia ...." Kevin menunjuk udara dengan napas tersengal tak beraturan, "dia telah mengkhianatiku, dia bersekongkol dengan musuhku untuk menghancurkan aku. Kau dengar?! Apa kau mendengarnya?! Ibu yang kau banggakan itu adalah seorang pengkhianat, dia penjahat yang harus dihukum!"


Kevin menghempaskan tubuh Salim hingga tersungkur di sudut kamar. Tubuhnya gemetar ketakutan melihat kilatan api amarah di manik Kevin. Ia menekuk kedua lutut dan membenamkan wajah padanya.


"Ibuku bukan pengkhianat, Ibuku bukan penjahat! Kalian-lah penjahat yang sesungguhnya. Kaulah pengkhianat itu! Ibu bilang kau tidak pernah tahu ada seseorang yang ingin membunuhku selain menginginkan kematian Ibu. Untuk itu, Ibu membawaku lari karena ingin menyelamatkan nyawaku. Ibu bahkan rela menukar nyawanya demi kehidupanku-"

__ADS_1


"Apa kau tahu? Seberapa banyak penderitaan yang harus Ibuku jalani? Apa kau tahu, seberapa besar perjuangannya untuk menumbuhkan aku. Jika kau memang Ayahku, seharusnya kau membela Ibuku. Jika kau memang mencintainya, seharusnya kau mempercayainya. Bukan malah ikut berkonspirasi untuk membunuhnya. Kau-lah penjahatnya, Kevin! Aku tidak sudi menjadi anakmu! Kau bukan Ayahku!" cecar Salim dengan mata yang basah menatap Kevin.


Kesedihan, kekecewaan, luka dan penderitaan tersirat jelas di manik kecilnya. Ia terluka saat ada orang yang menghina Sumayah. Hati kecilnya tidak terima saat ada yang merendahkan ibunya itu.


"Pergi dan jangan temui aku! Aku bukan anakmu, kurung saja aku sepuasmu! Aku tidak akan menerima apa pun dari tangan penjahat sepertimu!" lanjut Salim kembali membenamkan wajah di lutut.


Kevin terkesima mendengar semua yang dikatakan Salim. Pandangannya kosong ke depan menatap tubuh gemetar Salim karena tangis yang kian melaju.


"Ibu tidak pernah memarahiku, Ibu tidak pernah membentakku, Ibu tidak pernah membiarkan aku terluka," gumam Salim disertai isak tangis yang terdengar pilu.


Kevin melirik kedua tangannya yang baru saja mendorong tubuh Salim hingga membentur tembok. Mulutnya terbuka tak percaya, matanya membelalak penuh sesal. Hatinya mencelos nyeri melihat Salim yang menangis di sudut kamar.


Terlebih, saat anak enam tahun itu tidak mengakui dirinya sebagai Ayah. Hatinya sakit tak terkira. Apakah dia sudah berlebihan? Demi apa pun, Kevin menyesal telah tersulut emosi dalam menghadapi Salim.


"Sa-salim-"


"Pergi! Tinggalkan aku sendiri!" pintanya lagi dengan suara yang semakin tenggelam.


"Salim!" Kevin tak mengindahkan penolakan Salim. Ia berjalan mendekat dan berjongkok di sampingnya.


"Salim, maafkan Ayah, Nak! Maafkan Ayah, anakku! Ayah menyesal," ungkap Kevin bergetar. Setetes air mata jatuh dari pelupuknya. Bisa nangis juga si Kevin!


"Salim, anakku. Maafkan Ayah, sayang," pintanya lagi sembari merengkuh tubuh Salim yang tak lagi berguncang.


"Le-pas-kan a-ku ...."

__ADS_1


"Salim! Salim! SALIM!" Kevin berteriak begitu tubuh kecil itu lunglai di pangkuan. Salim tak sadarkan diri. Wajahnya pucat pasih. Bibirnya kering dan terlihat bercak darah di sela-selanya.


"Salim! Sayang, bangun, Nak! Salim!" Kevin dilanda kecemasan yang luar biasa. Panik bukan main, ia segera mengangkat tubuh Salim dan membawanya ke Rumah Sakit.


"Cepat, jalankan mobilnya! Kita harus segera ke Rumah Sakit!" titah Kevin pada seseorang yang berdiri di samping mobilnya. Ia membukakan pintu belakang untuk Kevin dan bergegas masuk. Matanya sempat melirik Salim yang terkulai di pangkuan Kevin.


"Cepat, Ju ...." Kata-katanya tak pernah usai saat ia ingat bahwa laki-laki itu tak lagi di sampingnya. Kevin gelisah tak ada perintah lanjutan darinya.


Anda masih mengingat saya, Tuan. Percayalah, Tuan saya tidak pernah meninggalkan Anda. Saya akan melindungi Anda dari orang-orang jahat di rumah Anda sendiri. Terutama Tuan Muda.


Hati kecil laki-laki yang mengemudi bergumam. Yah ... dia Juan. Yang setiap hari selalu mengawasi Kevin tanpa sepengetahuan laki-laki itu. Ia menyembunyikan wajahnya di balik sebuah topi yang menutupi.


Ban mobil berdecit saat tiba di parkiran Rumah Sakit. Sang supir yang tak lain Juan, membukakan pintu untuk Kevin dengan gegas.


"Dokter! Tolong anak saya!" teriak Kevin dengan panik.


Seisi Rumah Sakit gempar seketika saat mendengar suara teriakan Kevin. Para tenaga medis segera berdatangan dan mengambil alih Salim dari tangan Kevin. Selepas itu, menyusul para pengawal Kevin tanpa perintah. Mereka berjaga di sekitar Rumah Sakit dengan awas.


Juan menyelinap menjadi salah satu dari mereka. Mengawasi Kevin dari dekat, ia tahu ada salah seorang pengawal Kevin yang sedang berkhianat dan ingin mencelakakan Salim. Insting pemburunya bekerja. Ia memiliki kepekaan yang luar biasa untuk mengendus bau-bau pengkhianatan dan kejahatan yang akan terjadi pada orang yang dilindunginya.


"Maaf, Tuan! Tunggu saja di sini, biarkan tim medis yang menangani Tuan Muda!" pinta salah satu Dokter pada Kevin yang merangsek ingin ikut masuk.


Kevin pasrah, duduk melantai sembari menjambak rambutnya sendiri.


Anda begitu menderita, Tuan. Maafkan saya karena tidak bisa berdiri di samping Anda lagi.

__ADS_1


Juan berempati pada sosok Kevin yang tidak sesempurna biasanya. Ia berantakan seperti bukan Tuan Kevin yang arogan dan dingin. Ia bahkan tidak peduli orang lain akan melihat sisi lemahnya.


"Maafkan Ayah, Salim. Maafkan Ayah!" pintanya berulang-ulang dengan penyesalan yang teramat dalam.


__ADS_2