
Hari-hari dijalani Sumayah dengan suka cita di desa yang damai itu. Bersama Salim ia tak pernah lagi menemukan penderitaan. Entah bagaimana kabar Kevin dan orang-orangnya di kota? Apa mereka masih mencari jejak keduanya? Sumayah tak memikirkan hal itu lagi.
Untuk saat ini yang menjadi prioritas utamanya hanyalah Salim. Bagaimana membesarkannya di desa yang masih sangat terbelakang itu. Di usianya yang sudah lima tahun, Salim belum mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Ia hanya menerima pembelajaran dari Sumayah. Tak apa, tinggal beberapa tahun lagi Sumayah sudah memutuskan untuk meninggalkan desa dan menetap di sebuah kota.
"Ibu, ada yang datang mencari Ibu," ucap Salim mendatangi Sumayah yang sedang menyiapkan sarapan.
"Siapa, sayang?" tanya Sumayah tanpa berpaling dari masakan yang sedang diaduk-aduknya di atas tungku api.
"Paman yang kemarin, dia mencari Ibu dan ingin berbicara dengan Ibu," jawab Salim masih berdiri di ambang pintu dengan wajah yang ditekuk.
Sumayah mengangkat dandang dan memindahkan sayur yang dimasaknya ke dalam sebuah wadah lain. Ia membawanya ke meja makan.
"Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu ditekuk?" Sumayah mendekat. Jari telunjuknya menyentuh dagu Salim dengan lembut.
"Aku tidak suka ada laki-laki yang mendekati Ibu. Apa Ibu menyukai Paman itu?" ujar Salim, ia mematri pandangan pada kejora Sumayah yang indah dan lembut.
Sumayah tersenyum, ia beralih memegangi kedua bahu Salim dan menyapunya lembut.
"Dengar, sayang! Untuk saat ini Ibu tidak memikirkan laki-laki mana pun. Hanya Salim laki-laki yang selalu menggangu pikiran Ibu. Tidak ada yang lain," ungkap Sumayah masih mengangkat garis bibirnya membentuk lengkungan ke atas.
"Bagaimana dengan Ayah? Bukankah ia laki-laki yang hebat? Kenapa Ibu tidak pernah menceritakan tentang Ayah padaku?" tuntut Salim. Senyum di bibir Sumayah raib. Rasa bahagianya menguap begitu saja saat bibir mungil itu menanyakan tentang Ayahnya. Bagaimana dia harus menjawab?
Manik mereka masih terpaku satu sama lain. Perlahan, Salim melihat riak di wajah Sumayah yang sendu. Manik hangatnya memancar kesedihan mendalam. Entah sadar atau tidak, tapi Salim dapat menangkapnya dengan jelas bahkan ia bisa melihat sudut mata Ibunya yang berair.
Bibir Sumayah berkedut, hatinya ingin mengatakan sesuatu tentang semua yang dilakukan Kevin kepada mereka, tapi lisannya seakan kelu menahan semua kata yang sudah berada di ujungnya.
Salim mengerti apa yang dirasakan Ibunya saat ini. Ia beranjak mengalungkan kedua tangannya di leher Sumayah. Menjatuhkan wajah di bahu kokoh yang selama ini menjadi sandaran untuknya.
"Maafkan aku, Ibu. Kalau cerita tentang Ayah membuat Ibu menangis, aku tidak akan menanyakannya lagi. Aku sayang Ibu, hanya Ibu yang aku miliki di dunia ini," lirih Salim semakin membenamkan wajah di bahu Ibunya.
Sumayah tak kuasa menahan tangis, buliran bening itu berjatuhan tanpa jeda. Ia membalas pelukan Salim menciumi bahu kecil nan rapuh di pelukannya.
__ADS_1
Salim melepas pelukan, kedua tangan kecilnya mengusap bergantian air mata yang merembes membasahi pipi bidadarinya.
"Jangan pernah meneteskan air mata kecuali untuk kebahagiaan, Ibu!" katanya. Sumayah teramat bahagia mendengarnya. Memiliki Salim seorang di dunia ini, sudah cukup baginya. Ia tak ingin apa pun lagi.
"Terima kasih, sayang," ucap Sumayah seraya menghujani wajah Salim dengan ciuman.
Perlahan cahaya datang kepadaku
Menerangi gelapnya jiwaku
Sosok mungil cerdas itu
Menyejukkan kerontangnya hatiku
Burung-burung bernyanyi merdu
Matahari berseri haru
Kau sosok pujaan hati Ibu
Lagu itu selalu dinyanyikan Sumayah di setiap malam menjelang tidur mereka. Salim sangat menyukainya, alunan nada yang lembut syair yang begitu syahdu. Membuat Salim tidak merasa takut saat harus memejamkan mata.
"Assalamu'alaikum!"
Suara salam membuyarkan keharuan Sumayah.
"Duduklah! Ibu akan temui dia dulu sebentar!" pinta Sumayah seraya beranjak meninggalkan Salim yang masih diliputi tanya di hati tentang bagaimana sosok sang Ayah.
Sumayah memakai kerudungnya, ia berjalan mendekati pintu bambu rumahnya.
"Wa'alaikumussalaam!" sahutnya seraya membukakan pintu untuk tamu yang datang tak diundang di pagi buta seperti itu.
__ADS_1
"Ya ... ada apa pagi-pagi datang ke rumah?" tanya Sumayah tanpa basa-basi saat sosok pemuda yang tak pernah lelah selalu mengejar dirinya demi mendapatkan balasan cinta.
Ia tersenyum kikuk, wajahnya merona. Sumayah berkerut dahi melihatnya. Ia tak mengerti apa yang terjadi pada laki-laki satu itu hingga membuatnya tak menyerah mengejar cinta Sumayah.
"A-anu, Sari ... sa-saya ingin mengundangmu ke acara sederhana yang diadakan Ibu di rumah. Apa kau bersedia datang?" ucapnya sembari memberikan selembar kertas bertuliskan undangan makan malam dari keluarga terkaya dan terpandang di desa itu. Tak banyak yang bisa menginjakkan kaki di rumah itu, kecuali mereka yang beruntung mendapat perhatian khusus dari orang-orang di rumah besar itu.
"Apa acaranya akhir pekan ini?" tanya Sumayah setelah membaca deretan huruf yang tertuang di atas kertas berwarna gold tersebut. Elegan dan mencirikan bagaimana si pembuatnya.
"Benar, Sari. Aku harap kau bisa hadir di acara itu, keluarga besarku ingin melihat dirirmu," harapnya dengan pupil yang sengaja dibuat beriak untuk meyakinkan Sumayah.
"Jika tidak ada halangan insya Allah aku datang, tapi mohon maaf saat aku tidak bisa datang nanti," jawab Sumayah tanpa ekspresi.
Pemuda itu kikuk, tersenyum canggung sembari menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
"Baiklah, Sari jika begitu saya permisi!" Tanpa salam dan tanpa menunggu sahutan Sumayah, pemuda itu berbalik pergi meninggalkan kediaman sederhana milik Sumayah dengan perasaan kecewa yang teramat.
Sumayah memang tidak menolaknya secara lisan, tapi mimik wajah datar itu cukup memberitahu dirinya dengan jelas bahwa Sumayah menolak datang. Ia sudah malas berurusan dengan orang-orang kaya. Mereka semuanya sama, memakai topeng untuk menutupi kebusukan mereka.
Sumayah meremas kertas undangan mewah itu, melemparkannya begitu saja pada tumpukan sampah di samping rumah, ia berbalik dan menutup pintu rapat. Semua itu, disaksikan pemuda tadi yang ternyata belum sepenuhnya pergi.
Kecewa, marah bercampur dengan tekad untuk menaklukan janda beranak satu itu. Begitulah pendapat penduduk desa setempat walaupun mereka tidak tahu persis seperti apa kehidupan Sumayah. Mereka menyebutnya begitu karena sejak kedatangannya ke desa, tak pernah sekali pun melihat gubuk Sumayah dikunjungi seseorang.
"Ibu!" panggil Salim begitu sosok sang Ibu muncul di balik tembok bambu yang menyekat antara kamar dan dapur.
Urat wajah Sumayah yang tegang, seketika melunak begitu mendengar suara panggilan Salim. Ia mengukir senyum sambil berjalan mendekati.
"Kenapa, sayang?" tanyanya seraya membuka piring untuk Salim dan untuk dirinya.
"Apa Paman tadi mengajak Ibu pergi lagi?" tanya Salim. Wajah datarnya mencerminkan sikap Kevin yang dingin, tapi di dalam hatinya ia memiliki cinta yang besar untuk mereka yang pantas ia cintai.
"Kau tahu? Hanya Salim yang akan Ibu terima ajakannya, selain Salim ... maka mereka tidak pantas mengajak Ibu pergi," ucap Sumayah berjongkok di kaki kecil Salim dan menggenggam jemarinya.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Salim kaku.
"Tentu saja! Karena hanya ada Salim seorang di hati Ibu. Tidak ada yang lain lagi!" tutur Sumayah yang sontak menerbitkan senyum di bibir mungil bocah lima tahun itu.