
Enam bulan sudah berlalu, selama itu Kevin tak henti membujuk Salim untuk tetap tenang berada di rumah. Hari-hari yang dilalui Salim tak pernah absen dari menanyakan tentang kapan orang-orang Kevin akan menemukan Sumayah?
Beruntung, kesabaran Kevin dapat ia pertahankan dan tidak tersulut emosi saat Salim menanyakan hal itu.
"Ayah, kapan mereka akan menemukan Ibu?" tanya Salim untuk terakhir kali selama enam bulan ini.
Kevin menggenggam tangan Salim dengan hangat, saat ini mereka sedang berada di tempat bermain bersama Cilla dan anaknya juga yang baru berusia dua tahun.
"Sabar, ya. Orang-orang Ayah sedang berusaha menemukan Ibumu. Mereka sudah mencari di tempat terakhir kalinya kalian bertemu, tapi Ibumu sudah tak lagi di sana," jawab Kevin selalu dengan senyum yang menghangatkan hati Salim.
"Mungkin Ibu ditemukan warga dan tinggal bersama salah satu dari mereka? Apa mereka sudah berusaha bertanya pada penduduk di sana?" ucap Salim lagi mencoba memberi saran untuk yang ke sekian lagi. Mungkin sudah lebih ribuan kali ia mengatakan usulan.
"Kau benar, Ayah akan mengatakannya pada mereka untuk memeriksa rumah-rumah warga di sana. Kau berdoa saja semoga Ibumu masih ada di sana," sahut Kevin meyakinkan.
Salim tersenyum, untuk pertama kalinya setelah enam bulan bersama baru ini ia melihat senyum Salim. Senyum yang serupa dengan milik Sumayah. Senyum manis dan menenangkan siapa saja yang melihat. Salim memilikinya.
"Terima kasih, Ayah," tutur Salim sembari memeluk leher Kevin yang berjongkok di hadapannya. Kevin terenyuh, ia tidak menyangka Salim akan memeluknya.
Ini sentuhan pertama Salim padanya setelah selama ini hanya dia yang melakukannya tanpa mendapat balasan. Kevin membalas pelukan anaknya dengan air mata bahagia yang ikut mengiringi. Disekanya air itu dengan cepat.
"Apapun untukmu, sayang. Semua yang membuatmu bahagia akan Ayah lakukan asal kau tetap di sisi Ayah dan tidak pergi lagi," balas Kevin dengan haru.
Tanpa mempedulikan keadaan sekitar, Kevin melepas kerinduan pada putranya tersebut. Tidak mengacuhkan kondisi Cilla yang tersulut api cemburu melihat Kevin mulai dekat dan akrab dengan Salim.
Cengkeraman di kakinya membuat Priscilla sadar bukan hanya dirinya yang sedang dikuasai api cemburu. Anaknya yang baru berusia dua tahun itu pun ikut merasakannya. Hanya saja, ia belum mampu mengungkapkannya lewat kata. Hanya perubahan riak wajah dan ekspresinya yang mengatakan itu.
Priscilla meraih anaknya dalam gendongan, memeluknya dan menciuminya. Air matanya menetes tanpa sadar saat balita itu membenamkan wajah di dadanya. Dendam seketika menguasai hatinya. Kevin belum pernah menyentuh anaknya sejak ia dilahirkan apatah lagi memeluknya.
Melirik saja ia enggan, apa lagi menanyakannya. Priscilla mulai tersingkir sedikit demi sedikit dari hati Kevin. Sejak kedatangan Salim, Kevin sudah tak lagi memperhatikan dirinya juga anaknya.
"Tenang saja, Nak. Kita akan balas semuanya. Kau pasti akan mendapatkan Ayahmu kembali," kecam Priscilla berbisik di telinga anaknya.
Tanpa disadarinya, Kevin secara tidak langsung membalaskan dendam Sumayah pada wanita ular itu.
"Ya sudah, ini sudah sore. Sebaiknya kita pulang," ajak Kevin melepas pelukan dan mengajak Salim beranjak.
__ADS_1
Salim melirik Priscilla yang memicingkan mata padanya. Ia tak acuh dan berjalan bersama Kevin meninggalakan mereka berdua.
"Kevin! Kevin! Apa kau melupakan aku?" teriak Priscilla sembari membawa langkah mengejar Kevin. Ia mencengkeram tangan Kevin membuat langkahnya terhenti.
"Tidak! Bukankah kau sudah berada di sini? Sudahlah, ayo pulang! Aku malas bertengkar," sahut Kevin melanjutkan langkahnya bersama Salim.
Priscilla melongo tak percaya, ia menghentakkan kaki dengan kesal mengejar Kevin.
"Setidaknya kau gendong anakmu yang ini juga, Kevin. Dia juga anakmu," hardik Priscilla memapak langkah Kevin dengan cepat.
Mata gelap milik Kevin menajam. Berang dengan sikap Priscilla yang dianggapnya terlalu banyak menuntut ini dan itu.
"Dia bukan anakku! Anakku hanya Salim seorang!" geram Kevin dengan merapatkan kedua rahangnya dan menarik Salim untuk segera meninggalkan tempat itu.
Priscilla hampir roboh karena seluruh otot dan sendi dalam tubuhnya seketika terasa lemas mendengar pernyataan Kevin yang begitu kejam jika saja seorang pengawal tidak menopang tubuhnya.
"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanyanya penuh perhatian. Priscilla tidak menyahut, ia berdiri dan berjalan lagi meninggalkan pengawal yang menolongnya.
"Sampai kapan kau akan bertahan, Cilla?" gumamnya seraya menatap punggung Priscilla yang kian menjauh. Ia mendesah dan ikut melangkah menyusul Tuan dan Nyonya-nya.
"Tidak, aku lelah. Aku ingin pulang saja," jawab Salim menyandarkan tubuhnya pada tubuh Kevin. Perasaan ini sungguh membuat Kevin menghangat. Kehadiran Salim dan penerimaannya membuatnya merasa menjadi Ayah yang sesungguhnya.
"Baiklah, kita pulang," sahut Kevin.
Priscilla geram dan marah, ia mengumpat dalam hati dan mengancam mereka berdua.
Kevin bahkan menggendong Salim saat tiba di mansion-nya. Tanpa memperdulikan Priscilla yang membanting pintu mobil, ia terus membawa langkahnya memasuki mansion.
"Tuan, ada sesuatu yang harus Anda tahu," lapor salah satu penjaga mansion-nya.
Kevin memberi isyarat untuk pergi terlebih dahulu, sementara ia membawa Salim ke kamarnya.
"Salim, istirahat dulu, ya. Ayah ada perlu sebentar," pamit Kevin yang hanya dibalas anggukan kepala dari Salim. Ia beranjak setelah memberikan kecupan di dahi anaknya.
"Jangan biarkan siapa pun masuk ke kamar putraku!" titahnya pada dua orang pengawal yang berjaga di depan kamar Salim.
__ADS_1
"Baik, Tuan!"
Kevin berlalu menuju lantai tiga mansion. Menemui para penjaga yang bertugas mengawasi sekitar kediamannya.
"Kevin, aku ingin bicara!" cegah Priscilla sebelum langkahnya menapaki anak tangga menuju lantai tiga. Ia menunggu dengan wajah yang merah padam. Perlakukan Kevin membuat hatinya sakit.
"Jangan sekarang, Cilla! Aku harus memeriksa sesuatu," ucap Kevin mencoba bersabar menghadapi sikap istri barunya itu.
"Aku ingin sekarang, dan memang harus sekarang, Kevin!" tegas Priscilla dengan keras. Ia harus membahas sikap Kevin yang tidak adil terhadap anaknya.
"Sudah aku katakan aku harus memeriksa sesuatu, apa kau tuli?" sarkas Kevin masih dengan tenang. Ia berlalu tanpa mengindahkan panggilan Priscilla yang berulang-ulang dan keras.
Membuka pintu dengan cepat dan memasuki sebuah ruangan rahasia yang dijaga ketat.
"Ada masalah apa?" tanya Kevin segera setelah ia berada di ruang kendali mansion-nya.
"Tuan, Anda harus melihat ini!" ucap salah satu dari mereka. Ia menunjukkan sesuatu yang muncul di layar pengawas.
"Sudah beberapa hari ini ada sesosok misterius yang mengintai mansion. Dia selalu berdiri di sana di jam dan hari yang sama, Tuan," jelas mereka menunjukan satu sosok yang berdiri tak jelas di balik sebuah pohon dekat mansion-nya.
"Kapan gambar ini diambil?" tanya Kevin sembari memperjelas gambar tersebut.
"Baru saja, Tuan, tapi setelah diperiksa sosok itu sudah pergi," jawabnya mengundang decak lidah dari Kevin.
"Kalian bisa menebak siapa orang itu?" tanya Kevin.
Mereka saling menatap satu sama lain sebelum mengatakan jawaban yang telah disepakati.
"Kami menebak itu adalah asisten Juan, Tuan," jawabnya.
Kevin memindai, mata tajamnya menelisik kembali sosok yang berdiri dalam layar.
"Bukan!" sahutnya tegas. Ia sangat mengenali Juan bahkan dalam kegelapan sekali pun, ia tetap akan mengenalinya.
"Berhenti di sana!" titah Kevin menghentikan jari penjaganya yang memperbesar gambar. Ia melihat dengan teliti dan ....
__ADS_1
"Maya!"