Sumayah

Sumayah
Perjuangan Belum Usai


__ADS_3

Sumayah berdiri di bawah terpaan sinar lampu mobil yang menyorot ke dalam hutan. Dadanya kembang-kempis, sesak menghimpit. Guyuran gerimis nampak jelas terkena bias cahaya lampu itu. Orang-orang yang berbaris di sana bersiaga. Sumayah terkepung.


Panik, bingung juga takut kian menyurutkan nyalinya untuk melawan. Geliat dari bayi dalam selimut menyadarkannya dari rasa putus asa.


"Kau benar, Nak! Perjuangan belum usai!" gumam Sumayah tersengal.


"Dia di sini!" Suara teriakan itu menggema hingga ke dalam hutan.


Tanpa berpikir, Sumayah masuk ke dalam semak. Tanah yang sedikit menurun, membuatnya terpeleset dan berguling bersama bayinya. Gelegar suara tangis bayi membahana, memantul di dalam hutan memberi tanda keberadaannya.


Sumayah merintih, meringis merasakan sakit yang mendera sekujur tubuhnya. Derap suara langkah puluhan orang kian mendekat.


"Ssssttt ... jangan menangis, sayang! Jangan menangis! Mereka akan tahu di mana kita, Ibu mohon jangan menangis!" tangis Sumayah dengan panik.


Ia membuka kancing baju atasnya dan mengeluarkan asi dari dalam sana. Menjejalkannya pada mulut bayi itu yang terbuka lebar. Dia bukan meminta makan, Sumayah! Dia merasakan sakit yang sama dengan yang kau rasakan.


Namun demikian, bayi itu terdiam setelah lidahnya berhasil menyesap butiran daging milik Sumayah. Ia bangkit meski tertatih, tetap menyeret langkah meninggalkan hutan itu.


Langkah-langkah cepat menyentak Sumayah, ia berlari dengan kaki terpincang-pincang. Kepalanya berkali-kali menengok ke belakang, memastikan posisi para pengejarnya. Ia tak peduli, bayi itu masih menyusu. Satu yang ada dipikirannya, ia harus segera keluar dari hutan ini.


Sumayah meringis. Sakit yang mendera tak menghentikan kakinya untuk melangkah. Hutan lindung itu berakhir, Sumayah sampai di pinggir jalan besar. Menjelang dini hari, jalanan nampak lengang dan sepi. Suara hiruk-pikuk mereka yang di dalam hutan masih terdengar di telinganya.


"Cepat dapatkan dia! Dia tidak mungkin bisa melarikan diri dari hutan ini!" Teriakan itu menggema di dalam hutan. Sumayah menyusuri jalan besar. Ia ingat hutan lindung itu berada di jantung kota tempatnya tinggal.


"Tidak jauh lagi! Sebentar lagi! Ayo, kaki ... kuatlah!" gumam Sumayah terus menyeret kakinya yang tanpa alas di jalanan beraspal. Pakaian yang ia kenakan telah dipenuhi lumpur bahkan wajahnya pun tak jelas lagi karena tertutupi oleh lumpur.


Sumayah tersenyum, semakin cepat kakinya ia kayuh saat bus-bus besar berjejer di hadapan. Ia tiba di terminal. Sumayah mencari bus yang akan mengantarkannya ke kampung halaman. Beruntung, bus itu masih ada. Mungkin sebentar lagi akan melaju.


Sumayah menjadi penumpang gelap. Ia masuk ke dalam bus saat Kondektur bus itu lengah. Melalui pintu bagian kedua, Sumayah duduk di kursi paling belakang. Menyandarkan punggungnya yang nyeri pada kursi. Ia menengadah, menghirup dalam-dalam udara untuk melebarkan jalan pernapasannya.

__ADS_1


Sumayah menunduk setelah cukup mengumpulkan napas. Ia mengusap wajah bayinya yang lahap menyusu. Dingin tubuhnya bertambah dingin saat AC mobil mengenainya. Ia eratkan selimut untuk menutupi tubuh bayinya. Mendekapnya erat menyalurkan rasa hangat untuknya.


"Terima kasih, sayang. Kamu memang bayi yang hebat," lirih Sumayah mengecup tangan bayi yang menempel di kulit dadanya. Jemari mungil itu menggenggam ibu jari Sumayah. Ia masih saja menyusu hingga mobil melaju perlahan meninggalkan pangkalan.


Pintu ditutup Kondektur, ia yang terbiasa duduk di kursi paling belakang terkejut saat mendapati Sumayah yang menatapnya memelas. Ia baru saja selesai menyusui bayinya.


Mata wanita itu berkaca, wajah yang dipenuhi lumpur semakin membuat Kondektur bus termangu tak percaya.


"Tolong, biarkan aku menumpang hingga keluar kota ini! Aku dan bayiku sedang dalam bahaya! Kami akan sangat berterimakasih kepada kalian karena telah menolong kami. Tolong ... izinkan aku menumpang hingga ke kota berikutnya," mohon Sumayah. Luruh sudah air matanya membanjiri pipi yang tertutupi lumpur.


Kondektur bus tersebut, memandangi Sumayah dari ujung rambut hingga ujung kakinya yang tanpa alas. Seluruh tubuhnya dipenuhi lumpur. Apa yang terjadi pada wanita ini? Belum lagi bayi dalam gendongannya, selimut yang menutupi tubuhnya nampak kotor. Ia merasa iba, lalu mengangguk kecil setelah melirik Supir di kursi kemudi.


Sumayah tersenyum, "Terima kasih," lirihnya dengan bibir yang gemetar. Kondektur yang melihat Sumayah menggigil, mematikan AC mobil. Memberikan rasa nyaman pada wanita itu. Sumayah menggeser duduknya memberi ruang untuk laki-laki paruh baya itu. Mereka duduk berdua dalam hening.


"Aku tidak punya uang untuk membayar ongkos," celetuk Sumayah menatap hampa ke depan.


"Tidak apa-apa," sahutnya pelan.


"Apa yang terjadi padamu, Nak?" Ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku melarikan diri dari Rumah Sakit, Pak. Aku baru saja melahirkan, suamiku ingin membunuhku dan wanita itu mengincar nyawa putraku. Aku terpaksa kabur dari Rumah Sakit, tapi orang-orangnya mengejarku sampai keadaanku seperti ini," ungkap Sumayah sembari menunjukkan keadaanya yang dipenuhi lumpur.


"Ya Allah ... kenapa dia tega ingin membunuhmu?" tanyanya berlanjut.


Sumayah menghela napas, seharusnya semua orang mengenalnya jika saja lumpur itu tak menutupi wajah.


"Aku juga tidak tahu, Pak. Aku pergi bukan karena memikirkan nyawaku, tapi nyawa anakku lebih berharga dari apa pun. Aku hanya ingin dia hidup," ucap Sumayah sembari menjatuhkan pandangan pada bayi dalam gendongannya. Pipi dan dahi bayi itu pun tak luput dari lumpur.


"Kalian memang luar biasa, bayi sekecil ini seharusnya tak kuat menahan dingin. Ditambah di luar sana hujan turun dengan lebat hingga sekarang masih gerimis. Kau Ibu yang hebat, Nak! Teruslah kuat demi putramu!" ujar laki-laki paruh baya yang menjabat sebagai Kondektur bus tersebut.

__ADS_1


Sumayah mengalihkan pandangan padanya, ia tersenyum. Ternyata masih ada orang baik di jalanan.


"Terima kasih, Pak! Aku memang harus kuat demi anakku!" sahut Sumayah. Bola matanya memancar penuh tekad. Itulah Sumayah, wanita kuat yang rela menerjang apa pun demi menyelamatkan nyawa putranya.


"Bapak tidak bisa memberikan apa pun untukmu, tapi mungkin ini cukup untuk membeli makan saat kau turun nanti. Kau harus memiliki tenaga untuk melanjutkan perjuanganmu," ucap Kondektur baik hati itu.


Ia mengepalkan uang kertas pada Sumayah yang tak tahu berapa nominalnya. Sumayah menangis haru.


"Tidak perlu, Pak! Bapak simpan saja uang ini," tolak Sumayah, tapi laki-laki itu mendorong kepalan tangan Sumayah.


"Untuk saat ini, Bapak sedang tidak membutuhkannya. Dan kau lebih butuh untuk melanjutkan perjuanganmu," ucapnya lagi menambah keharuan dalam diri Sumayah.


Ia tahu seperti apa kehidupan seorang Kondektur bus seperti dirinya. Sungguh, roda nasib itu terus berputar. Dulu, ia yang menyantuni para Supir dan Kondektur bus di kota ini. Sekarang, Kondektur ini yang mengasihaninya tanpa tahu siapa yang dia tolong.


"Terima kasih, Pak! Aku akan ingat kebaikan Bapak ini," tutur Sumayah tulus.


Bus melaju dengan kecepatan sedang di jalan besar yang licin. Gerimis masih turun, terus menerus membasahi jalanan. Sumayah merasa lega, bertemu dengan orang baik seperti bapak Kondektur ini.


Ia yang lelah, mencoba untuk tidur. Sumayah menutup kelopak matanya perlahan, pegangan di bayinya yang ia perkuat. Baru beberapa saat terlelap, mobil tiba-tiba berhenti. Tepatnya sekelompok orang berseragam hitam menghadang jalan mereka.


Sumayah yang terpejam, sontak bangun dan memanjangkan lehernya untuk dapat melihat apa yang terjadi di depan sana.


"Cepat periksa!"


Mata Sumayah membelalak, itu suara orang-orang yang dikirim suaminya. Ia gelisah, sang Kondektur yang berdiri untuk melihat situasi kembali ke sisi Sumayah.


"Jangan ada yang bergerak! Ini perintah! Jika ada yang bergerak, nyawa kalian yang akan melayang," ujar pemimpin kelompok itu menakuti para penumpang.


Sumayah menjatuhkan diri ke bawah kursi. Keringat dingin mencucuri seluruh tubuhnya. Derap langkah semakin mendekati tempatnya bersembunyi. Akankah kali ini ia tertangkap?

__ADS_1


__ADS_2