Sumayah

Sumayah
Kekalahan Juan


__ADS_3

"Ada kecurangan di sini! Saya yakin kalian telah salah atau memang disengaja karena ada sesuatu yang kalian sembunyikan. Ingat, Dokter! Kalian telah disumpah hidup dan mati untuk berbuat jujur!"


Juan mengungkapkan apa yang sejak tadi mengganggu hatinya. Sungguh, ia tidak menyangka bahwa pihak rumah sakit pun dapat dimanipulasi seperti ini. Apakah semua tim medis telah kehilangan harga dirinya hingga mereka bisa melanggar sumpah yang dulu terucap mulut mereka dengan lantang.


"Maafkan saya, Tuan, tapi ini hasil yang sesungguhnya. Anda bisa melihat sendiri segel amplop ini bahkan belum ada yang membukanya, itu artinya hasil ini baru dikeluarkan pihak laboratorium," kilah dokter berusaha menyembunyikan gugupnya dengan sangat baik.


Namun, bukan Juan namanya jika ia akan menyerah begitu saja. Mata tajamnya menatap nyalang dokter yang masih bisa bersikap tenang di hadapannya.


"Bukan masalah segel atau pun hasil yang baru keluar, tapi masalahnya harga diri kalian yang telah kalian jual dengan harga murah. Aku tidak menyangka pihak medis bisa diperjualbelikan seperti ini," sarkas Juan dengan mata menggelinjang melirik Priscilla yang memicing kepadanya.


"Tuan, apa Anda mempercayai saya yang selama hampir seumur hidup Anda saya layani? Atau Anda justru mempercayai kertas tes ini yang sudah dimanipulasi?" tanya Juan menjatuhkan pandangan pada Kevin yang masih saja diam.


Ia sendiri bingung, di dalam hatinya ia mempercayai Juan, tapi kertas di tangannya jelas-jelas menyatakan bahwa DNA mereka cocok. Ke mana Kevin yang cerdas selama ini? Hilang begitu saja seiring perginya cinta pertama.


"Kenapa Juan? Apa kau meragukan kemampuan para ahli di bidang ini? Siapa kau yang berani-beraninya merendahkan profesi mereka sebagai tim handal di kota ini? Aku tahu, kau mengatakan itu hanya untuk menutupi rasa takutmu, bukan? Kau takut kehilangan pekerjaan yang selama ini membuat hidupmu enak? Kau takut kehilangan sumber uang yang selama ini membiayai ibumu yang pesakitan itu? Aku tahu, keberadaanmu di sisi Kevin bukan karena kau ingin benar-benar melayaninya, tapi karena kau masih membutuhkan uangnya agar wanita renta itu tetap hidup di dunia ini," sambar Priscilla yang sontak membuat para pengawal terperangah tak percaya.


Kevin menganga dengan gelisah, melihat Juan lewat pandangan menyelidik tak suka. Sementara Priscilla tersenyum sarkas dengan bungkamnya Juan tanpa menyahut.


Laki-laki itu masih bersikap tenang, seolah apa yang dikatakan Priscilla hanyalah angin lalu yang tak semestinya mendapat tanggapan.

__ADS_1


"Kenapa kau diam? Apa kau takut kedokmu terbongkar? Apa kau takut Kevin akan mengetahui semua Kebusukanmu itu? Aku tahu, Juan, kau bekerjasama dengan wanita itu untuk menghancurkan bisnis Kevin. Aku tahu semuanya, Juan-"


"Tutup mulutmu, rubah licik! Kau mengatakan itu semua seolah memang aku penjahatnya, tapi sebenarnya kau-lah pelakunya," tukas Juan memangkas kalimat Priscilla dengan nada menggeram marah.


Priscilla terkejut matanya sedikit melebar saat Juan berani menyebutnya rubah licik.


"Tuan, saya tidak akan membela diri karena saya sudah mengatakan semuanya kepada Anda. Sekarang tinggal Anda sendiri yang harus menentukan, apakah Anda mempercayai nurani Anda atau Anda justru mengikuti kelicikan wanita rubah itu?" ucap Juan yang semakin membuat Priscilla membuka mulutnya lebar-lebar.


Kevin gelisah, Kevin resah, Kevin bingung bagaimana harus bersikap? Ia menunduk tanpa ingin mengangkat wajahnya.


"Kevin, bukankah kau sudah melihat sendiri bagaimana asisten yang kau banggakan itu melakukan kecurangan di belakangmu? Apa semua bukti kemarin tidak cukup bagimu untuk membuktikan bahwa dialah ular sesungguhnya yang bersembunyi di dekatmu. Sedangkan aku hanyalah korban keserakahannya, dia menjadikan aku kambing hitam untuk menutupi kebusukannya. Dia-"


"Ke-kevin-"


"Cukup! Diam, jangan ada yang bicara lagi!" ucap Kevin melemah tanpa memandang siapa pun. Juan bergeming, sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran akan posisinya yang sedang terancam. Untuk apa? Kalau semua itu hanyalah fitnah belaka yang suatu saat pasti akan terbongkar juga kebenarannya.


Kevin, laki-laki itu mengangkat pandangan dan menjatuhkannya tepat di manik coklat milik Juan. Laki-laki itu bahkan berani membalasnya tanpa rasa takut sedikit pun yang menggetarkan hatinya.


"Kau tahu perjanjiannya, bukan? Dan kau, harus menepatinya. Perjanjian itu sudah kalian setujui sebelum tes ini dilakukan. Jadi, aku memintamu pergi dan jangan lagi datang menemuiku!" titah Kevin menuding Juan tanpa belas kasihan.

__ADS_1


Alih-alih akan mengiba dan memohon, Juan justru tersenyum manis. Tabah dan menerima perintah Kevin yang sedang dikuasai ego dan amarah. Sementara Priscilla ia pun tersenyum mendengar Kevin mengusir Juan sekaligus memecat laki-laki itu dari jabatannya sebagai asisten. Ia merasa senang karena setelah ini ia bisa bebas melakukan apa saja tanpa takut dimata-matai.


Namun, senyumnya lenyap begitu saja saat melihat reaksi Juan yang diluar dugaannya. Dahinya berkerut melihat laki-laki yang masih berdiri tegak dengan berani itu. Pikirannya mengelana tentang apa yang sedang direncanakan Juan setelah ini.


"Baik, sesuai perintah Anda, Tuan. Maka saya akan pergi dan tidak akan menampakkan diri di depan Anda lagi, tapi saya pastikan cepat atau lambat Anda akan menyesali semua ini dan di saat itu terjadi tak satu pun yang datang menolong Anda. Saya permisi, Tuan! Semoga Anda dijauhkan dari segala marabahaya dan tipu muslihat orang-orang yang ingin menggulingkan Anda."


Juan membungkuk sebelum berbalik. Kevin masih dikuasi amarah, hidungnya kembang-kempis menahan luapan emosi dalam diri. Ia berpaling dari menatap Juan, hatinya merasa sakit saat mendengar kata perpisahan dari orang yang begitu ia percayai.


Juan beralih melirik Priscilla, senyum kemenangan tercetak jelas di bibir merah wanita itu.


"Selamat atas kemenangan Anda, Nona. Bersenang-senanglah sebelum semuanya terbongkar dan Anda akan menemui penderitaan yang lebih dari yang Nyonya alami," ucap Juan seraya menegakkan kepala dan melangkah dengan wibawanya sebagai pengawal setia Kevin.


Punggung tegap itu kian menjauh, semakin membuat perasaan Kevin tak menentu. Keraguan hinggap mengganggu keyakinan Kevin atas keputusan yang baru saja diambilnya. Air matanya luruh tak tertahan, mengingat sosok Juan-lah yang selama ini mendukungnya dalam mendapatkan segala kemewahan yang kini ia miliki.


Namun, sosok itu telah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang walaupun sebentar saja.


Tak bisakah kau menengok sebentar saja agar aku bisa melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya.


Namun demikian, Juan sama sekali tidak mendengar kata hati Kevin. Di bawah tatapan semua orang, laki-laki itu pergi membawa serta wibawanya. Para pengawal yang dilintasinya bahkan tetap membungkuk hormat karena Juan satu-satunya orang yang mereka hormati setelah Kevin.

__ADS_1


Selamat tinggal, Tuan. Saya harap Anda dapat membuka mata hati Anda dan melihat siapa sosok wanita yang Anda bela saat ini. Mulai saat ini, hiduplah tanpa saya dan jangan pernah terpuruk lagi. Saya tidak akan pernah meninggalkan Anda sekalipun Anda tidak melihat saya.


__ADS_2