Sumayah

Sumayah
Perasaan Kevin


__ADS_3

"Tuan, mereka tidak ada di sana. Kami sudah menggeledah seluruh rumah penduduk di desa itu, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan wanita itu dan bayinya," lapor salah satu pengawal yang ditugaskan Kevin mencari Sumayah di desa Hulu Sungai.


Kevin menggeram. Pandangannya menggelap, ia yang sedang berdiri menghadap jendela besar di ruang kerjanya mengepalkan tangan yang ia tumpu di belakang tubuh.


"Jadi, petani itu berbohong?" tanyanya menekan dengan geram.


"Kami tidak tahu persis, Tuan," jawabnya menundukkan kepala dalam-dalam. Jemarinya saling meremas satu sama lain, gugup sekaligus takut akan hukuman mati yang selalu membayang di pelupuk mata setiap kali menghadap Kevin.


"Juan, apa kau sudah memberi dia hadiah?" Ia beralih pada Juan yang selalu setia di sampingnya tanpa berpaling dari awan kelabu di langit.


"Sudah, Tuan. Apa saya harus menghukumnya, Tuan?" ucap Juan sigap berdiri di belakang Tuannya.


"Eksekusi semua yang ada di rumah petani itu! Tidak terkecuali! Ini pelajaran untuk mereka yang telah berani bermain-main denganku," titah Kevin. Pengawal yang menunduk itu semakin gugup mendengar perintah kejam Kevin.


"Baik, Tuan!" Tak ada tawar-menawar dengan penguasa itu. Juan membungkuk hormat apa pun yang diperintahkan Kevin akan ia jalankan. Mengerikan!


Juan berbalik dan menatap tajam pengawal yang berlutut dengan tubuh gemetar itu.


"Kau, ikut aku!" perintahnya seraya berjalan keluar meninggalkan ruang kerja Tuan mereka. Pengawal itu bernapas lega saat ia berhasil melewati pintu ruangan tersebut.


"Maaf, Nona! Tuan sedang tidak ingin diganggu!" cegah Juan saat melihat Priscilla yang berjalan mendekati ruang kerja Kevin.


"Ada apa? Aku hanya ingin bertemu dengannya. Kau tidak bisa mencegahku, Juan!" tolak Priscilla balas menatap tajam asisten Kevin itu.


"Jaga batasan Anda, Nona! Ingat-ingat siapa Anda di mansion ini!" Juan melengos bersama pengawal yang ikut berpikir tentang kalimat sarkas yang baru saja diucapkan Juan.


"Brengsek! Kau pikir kau siapa? Lihat saja nanti, begitu Kevin benar-benar berhasil aku taklukan kau yang pertama kali aku usir dari mansion ini," geram wanita ular itu sembari melirik Juan dengan sudut matanya yang sinis.


Tanpa ia duga, Juan menoleh ke arahnya. Tersenyum tipis seolah ia mendengar apa yang dibisikkan Priscilla barusan. Sorot matanya mengancam membuat wanita ular itu bergidik ngeri karenanya. Ia segera memutuskan pandangan dan berlalu dari lorong ruang kerja Kevin.


Sementara di dalam ruang kerjanya, Kevin yang berdiri tenang menatap arak-arakan awan kelabu di langit memicingkan mata geram.

__ADS_1


"Kenapa sulit sekali mendapatkanmu, Maya? Sama seperti saat dulu aku berjuang tanpa henti untuk mendapatkan hatimu," gumam Kevin sendu. Tak ada yang tahu bagaimana sebenarnya hati Kevin? Dan apa yang menyebabkan dia berubah menjadi benci pada wanita itu.


Kenangan indah saat pertama kali dia memulai mahligai rumah tangga bersama Sumayah, kembali membayang di pelupuk mata. Senyum indah merekah milik wanita itu, selalu membuatnya terpesona. Terlebih, kehadiran Sumayah dalam hidupnya menambah kewibawaan Kevin di hadapan semua orang. Baik rekan bisnisnya ataupun masyarakat biasa.


Kevin memejamkan mata, menepis semua kenangan manis yang pernah hadir dalam hidupnya bersama wanita itu. Wajahnya kembali mengeras, urat-urat di sekitar kepala ikut menonjol begitu kebenciannya terhadap Sumayah kembali mencuat.


"Tapi aku yakin, cepat atau lambat aku pasti akan mendapatkanmu. Dia harus bersamaku!" kecam Kevin saat mengingat bayinya yang dibawa pergi oleh Sumayah.


"Kenapa kau begitu menyulitkan aku? Apa salahnya kau berikan dia padaku dan pergi menjauh atau pergi untuk selamanya ke alam baka. Kau hanya mempersulit hidupmu sendiri dan membuatnya menderita. Maya ... jika sampai terjadi sesuatu pada anakku, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ancam Kevin merapatkan rahangnya kuat-kuat.


Lama ia berdiri hingga tanpa sadar Juan telah kembali dari menjalankan tugasnya.


"Tuan!"


"Kau sudah selesai?"


"Ya, Tuan!"


Tak ada lagi kata setelah itu. Hening. Ia tak ingin mendengar cerita tentang mereka yang memohon untuk tidak dihukum mati. Tak sudi telinganya dikotori oleh cerita-cerita menyedihkan itu.


"Mereka masih dalam pencarian, Tuan." Ia menunduk penuh hormat. Usianya tak jauh berbeda dengan Kevin. Hanya saja, Kevin memiliki postur tubuh lebih tinggi darinya. Namun, hal itu tidak menghilangkan wibawanya sebagai orang nomor dua yang disegani.


"Jadi mereka belum kembali?"


"Benar, Tuan."


Kevin mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Menghasilkan bunyi-bunyian yang abstrak terdengar telinga. Bosan, ia beralih mengambil gelas anggur dan menuangkan minuman itu ke dalamnya. Menyesapnya perlahan, menikmati setiap aliran rasa yang membasahi tenggorokannya.


"Tuan, apa Anda yakin melakukan ini?" tanya Juan hati-hati. Ia ingin tahu bagaimana perasaan terdalam dari Tuannya itu.


Kevin melempar lirikan pada Juan, tangannya tak henti memainkan bibir gelas di hadapannya. Dingin dan menghujam tepat di manik sama hitam milik Juan.

__ADS_1


"Apa aku selalu meragukan keputusanku, Juan? Kenapa kau bertanya seolah aku akan menyesali semua yang aku lakukan saat ini?" tuding Kevin mengulas senyum tipis di bibir. Namun, itu bukanlah senyum ramah. Senyum yang berhasil membuat seorang Juan meneguk saliva gugup.


"Tidak, Tuan!" sahut Juan segera menunduk memutuskan kontak mata dengan Tuannya.


"Pergilah, Juan! Cari tahu tentang tim lain yang belum kembali!" perintah Kevin untuk mengusir canggung yang tiba-tiba datang menyergap.


"Baik, Tuan!" Juan membungkuk seraya menarik diri dari hadapan Kevin. Membiarkan laki-laki itu sendiri kembali dalam sepi.


Kevin tertawa kecil, menertawakan dirinya yang selalu merasa sendiri meski di keramaian. Wajahnya sendu meratapi nasib diri.


"Kenapa kau menjauh di saat semua orang menginginkan dekat denganku? Katakan, Maya! Apa kau merasa jijik untuk berdekatan denganku?" Kalimat yang dulu ia ucapkan untuk merayu Sumayah kembali mengiang di telinga. Kevin tertawa sinis.


"Dan kini, kau pun sedang berlari menjauh dariku. Namun, kali ini pun aku akan tetap mendapatkanmu dan merebutnya dari tanganmu. Aku pun tak akan berhenti berjuang untuk mendapatkan dia. Maya ... Maya ... kau belum tahu sedang berhadapan dengan siapa? Kau harus membayar ini semua dengan nyawamu!"


Prang!


Gelas mewah itu hancur di tangan Kevin saat ia meremasnya dengan kuat. Darah segar mengucur dari luka di telapak tangan yang terkena pecahan beling.


"Tuan!" Juan yang mendengar segera berhambur masuk ke ruangan. Sigap ia mengambil kotak obat dan membawanya mendekati Kevin.


Dengan penuh perhatian, Juan membersihkan setiap kepingan beling yang menusuk kulit telapak tangan Kevin. Laki-laki itu bergeming, tanpa meringis dan mengaduh kesakitan. Juan memberikan pengobatan dengan cepat pada lukanya. Tak lupa, ia membalutnya juga.


Juan tak banyak bicara, ia mengembalikan kotak obat itu ke tempatnya. Kevin masih termangu pada satu itik. Pandanganya kosong ke depan. Laki-laki itu kembali tenang.


"Sayang! Apa yang terjadi?" Priscilla membuka pintu ruang kerja Kevin dengan kasar. Ia meringsek masuk meski Juan menghalangi jalannya.


"Maaf, Nona. Bukankah sudah saya katakan untuk tidak mengganggu Tuan saat ini?" geram Juan sembari melirik Kevin yang memejamkan mata emosi.


"Tapi aku ingin bertemu dengannya," sentak Priscilla dengan nada suara meninggi.


"Juan, apa kau tidak memberitahu wanita itu untuk tidak datang ke ruanganku!" tanya Kevin, melayangkan tatapan tajam dengan urat-urat wajah yang mengeras pada kedua orang di dekat pintu ruangannya.

__ADS_1


"Sayang, apa yang kau katakan? A-"


"Tutup mulutmu!"


__ADS_2