Sumayah

Sumayah
Terancam


__ADS_3

"Apa? Jadi, bukan kau yang mengantar dia ke Rumah Sakit?" tanya Priscilla dengan raut terkejut yang tak ditutup-tutupi.


"Benar, Nyonya. Saya menunggunya di depan sana hingga berjam-jam lamanya, tapi dia tidak datang," lapor sang supir yang membuat amarah Priscilla meluap.


"Kurang ajar! Dasar pembantu tak tahu diri!" umpatnya seraya menaiki anak tangga menuju kamar Salim. Biasanya di jam makan siang seperti ini, Sumayah sedang memberi makan Salim.


Brak!


Pintu kamar Salim dibuka dengan kasar, membuat Sumayah dan Salim yang sedang duduk makan siang terlonjak kaget. Sumayah gegas berdiri melihat Priscilla datang dengan wajahnya yang merah padam.


"Apa kau tidak mendengar perintahku?! Kenapa kau tidak pergi dengan supir yang aku siapkan?!" hardik Priscilla dengan murka.


Sumayah mengangkat pandangan, menatap Priscilla dengan dahi yang mengernyit. Tak ada sedikit pun rasa takut di riak wajahnya.


"Maafkan saya, Nyonya, tapi Anda tidak menyuruh saya untuk pergi dengan supir. Jadi saya tidak tahu dan pergi sendiri," jawab Sumayah dengan yakin dan tegas.


Priscilla menggeram, teringat akan perintahnya tadi pagi memang benar ia tidak menyuruh Sumayah pergi dengan supirnya.


Ah ... sial! Bodoh sekali aku! Aku lupa menyuruhnya pergi dengan supir tadi pagi.


Priscilla mengumpati dirinya sendiri. Ia malu, tapi gengsi mengakui kesalahannya.


"Lalu, kamu sudah pergi ke Rumah Sakit dan menemui dokter yang aku maksud?" ketusnya dengan menekan rasa malu yang menyelubungi hatinya.


"Sudah, Nyonya," sahut Sumayah dengan tenang.


"Mana? Aku ingin melihatnya," pintanya sembari menjulurkan tangan pada Sumayah.


Sumayah merogoh sakunya dan mengeluarkan botol pil yang diberikan dokter Priscilla tersebut.


Wanita ular itu menelisiknya, ia melirik sinis Sumayah yang tetap berdiri dengan tenang di tempatnya. Ia bahkan tersenyum menunggu majikannya memeriksa.


"Ya sudah, jangan terlambat meminumkannya," titahnya lagi mengembalikan botol obat itu kepada Sumayah. Lantas pergi keluar.


"Baik, Nyonya," sahutnya sopan membungkukkan tubuh sedikit sebagai penyempurna aktingnya.


"Ibu!" Salim yang sedari tadi terdiam mendengarkan, memanggil Sumayah. Ia sekuat tenaga menahan tawa melihat raut wajah Priscilla tadi.


Sumayah berbalik dan tertawa kecil bersama Salim. Keduanya kembali melanjutkan makan siang dengan tenang.

__ADS_1


"Ibu, ini bukan obat yang sama, bukan?" tanya Salim saat menerima sebutir pil dari Sumayah dengan bentuk dan warna yang sama persis seperti pil yang biasa diminumnya.


"Tenang saja, sayang. Ini pil untuk menetralisir racun dalam tubuhmu. Minumlah supaya Salim cepat sembuh," katanya yang dengan cepat diminum Salim.


Sumayah membawa Salim turun ke lantai satu, berjalan ke taman belakang sepertinya tidak masalah.


"Salim!" tegur Kevin saat melihat Salim duduk di taman bersama Sumayah yang membacakan buku cerita.


Sumayah memanjangkan leher mendengar teguran Kevin, begitu pun dengan Salim ia menoleh sambil tersenyum.


"Ayah!"


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Kevin sembari mengusap kepala Salim dengan penuh kasih sayang.


"Sudah lebih baik, Ibu Sari merawatku dengan baik," jawab Salim dengan ramah. Sumayah berdiri memperhatikan interaksi keduanya.


Kevin menoleh pada Sumayah dan tersenyum.


"Terima kasih, Sari, kau sudah merawat anakku dengan baik," tutur Kevin dengan senyum ramah tercetak di wajahnya.


"Sudah kewajiban saya, Tuan," sahutnya menunduk sedikit.


"Tapi Ayah masih sibuk, sayang. Perusahaan Ayah sedang bermasalah, Ayah tidak bisa menemanimu bermain di sana," ucap Kevin penuh sesal.


"Bukankah ada Ibu Sari yang akan menjagaku? Ayolah, Ayah! Aku bosan," pinta Salim lagi memaksa.


Kevin mendesah, "Baiklah!" Ia menoleh pada Sumayah dengan pandangan mengancam.


"Apa aku bisa mengandalkanmu untuk menjaga anakku?" tanya Kevin tegas.


"Saya akan melakukannya meski nyawa saya menjadi taruhan, Tuan," jawab Sumayah meyakinkan. Tentu saja aku akan menjaganya karena dia anakku.


"Hah, baiklah. Kalian boleh pergi, tapi ingat harus kembali sebelum gelap," titah Kevin yang disoraki Salim dengan riang.


Akhirnya, siang itu juga Sumayah membawa Salim keluar dari rumah dan pergi menuju tempat di mana dokter dan rekannya menunggu. Memeriksa keadaan Salim dan memberikan penanganan yang tepat untuk mempercepat pemulihan Salim.


Usai melakukan pemeriksaan, Sumayah mengajak Salim bermain di taman. melakukan permainan sebisanya karena kondisi Salim yang hanya duduk di kursi roda.


Tertawa riang gembira tak ada derita dan luka. Hati Salim mendapatkan kehidupannya lagi. Tawa anak itu telah kembali bersama Ibu yang dinantinya selama ini.

__ADS_1


Sore datang begitu cepatnya, Sumayah mengajak Salim pulang ke mansion karena ingat akan perintah dari Kevin.


Tepat waktu, Sumayah kembali ke rumah. Ia segera memandikan Salim dan mengganti pakaiannya. Sumayah juga memasak sendiri makanan untuk Salim. Membawanya ke kamar dan makan berdua dengan tenang.


Prang!


"Sial!"


Suara gaduh terdengar dari arah ruang kerja Kevin. Sumayah tersentak bersama Salim, dan diam mendengarkan.


"Semua karena kau, Cilla! Seandainya kau tidak melakukan pertaruhan itu, Juan akan tetap di sini dan semua ini tidak akan pernah terjadi!" teriak Kevin membahana.


"Juan?" gumam Sumayah pelan.


"Kenapa semua salahku? Dia yang kalah dalam bertaruh, kenapa aku yang mau marahi?!" Priscilla ikut meninggikan suara karena terpancing emosi oleh Kevin.


"Kau ingin tahu kenapa? Karena dia adalah pemilik saham terbesar kedua setelah aku di perusahaan, dan dia ingin menduduki kursi kepemimpinan karena aku tidak dapat menyelesaikan masalah yang sedang terjadi di perusahaan," sahut Kevin kembali berteriak dengan lantang.


"A-apa? Bagaimana mungkin? Kenapa dia bisa menjadi pemilik saham terbesar? Itu mustahil, Kevin! Kau pemilik perusahaan itu! Dia tidak bisa mendudukinya begitu saja," tolak Priscilla dengan lantang pula.


Ia gelisah, jika Kevin dilengserkan ke mana dia akan pergi. Selama ini hidupnya bergantung pada laki-laki itu. Sementara Sumayah diam-diam tersenyum mendengar perdebatan mereka.


"Ya, Priscilla! Itulah kenyataannya. Sekarang, dia menginginkan kursi itu karena aku pernah berjanji akan membiarkannya menduduki kursi itu saat aku tidak mampu menyelesaikan masalah di perusahaan," ungkap Kevin dengan suara melemah.


Semakin cemas Priscilla, ia tidak tahu kalau ada perjanjian semacam itu di antara mereka. Apa yang harus dia lakukan agar Juan tidak merebut kursi kepemimpinan di perusahaan. Pikiran yang licik dan busuk akan tetap busuk.


"Kau bisa menyingkirkan Sumayah, kau juga pasti bisa menyingkirkan dia, Kevin. Jangan bodoh! Kau punya segalanya dan bisa melakukan apa saja. Bunuh saja dia dan buang ke mana saja mayatnya, maka kau tidak perlu risau lagi dia akan merebut posisimu," saran Priscilla setelah terdiam begitu lama.


Kevin memikirkan ide yang baru saja dilontarkan Priscilla secara spontan.


"Kau pikir, akan sangat mudah membunuhnya? Menyingkirkannya tak semudah kau mengatakan rencanamu itu!" ucap Kevin. Keduanya kali ini melemahkan suara khawatir terdengar oleh orang-orang di rumah mereka.


"Lalu, menurutmu sendiri bagaiman? Kau mau dia menggulingkanmu dari posisi sekarang dan menjadikanmu gembel di jalanan? Atau kau ingin mempertahankan itu semua? Terserah padamu, Kevin!" Priscilla beranjak keluar dari ruang kerja Kevin menuju kamarnya sendiri.


"ARGH!"


Prang!


Bugh!

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan itu hancur berantakan.


__ADS_2