
"Hiro?"
Kedua orang tua itu mengulum senyum saat mengulang panggilan Sumayah untuk Rai. Wajah pemuda itu memerah secara tiba-tiba. Apakah ia tengah malu? Atau tengah mengenang masa manis saat menjadi pengawal Sumayah.
"Aku menyayangimu, Hiro!" ulang sang Ayah lagi menggoda.
"Ayah, Ibu, hentikan semua itu!" pintanya dengan semu di wajah yang semakin memerah.
"Katakan! Apa kau mengganti namamu saat menjadi pengawal Nyonya?" tanya sang Ibu sembari berjalan mendekat.
Rai berbalik membawa langkahnya memasuki rumah lewat pintu belakang disusul kedua orang tua yang terus tersenyum menatap punggung putra mereka.
"Namaku tetap Rai, Bu. Nyonya sendiri yang ingin memanggilku begitu, katanya aku sudah seperti super hero yang selalu sigap menolongnya," sahut Rai setelah mendaratkan bokong di bangku yang ada di dapur.
"Jadi, kau merasa berharga saat menjadi pengawal Nyonya?" Tangan sang Ibu membelai lembut rambut putranya sembari berlalu membuatkannya minum.
"Sepertinya memang begitu. Nyonya selalu bersikap baik kepada semua pelayan yang melayaninya. Tak pernah sekali pun Nyonya berlaku kasar kepada semua pekerja di mansion Tuan. Hal itu, membuatnya begitu disegani dan dihormati oleh semua orang." Rai menghela napas panjang mengingat kenangan yang begitu membekas di ingatannya.
"Lalu, kenapa kau sekarang seperti benci kepada Nyonya?" tanya sang Ayah pula yang ikut duduk bersamanya di sana. Ibunya datang dengan membawa dua cangkir kopi di tangan.
Rai terdiam, mengingat apa yang menyebabkan rasa kagumnya menjadi benci pada Sumayah.
"Nyonya telah melakukan kesalahan yang fatal. Membuat kegaduhan di mansion Tuan dengan ulahnya yang tak terkendali. Nyonya bahkan sering memberi hukuman berat pada semua pelayan. Hal itu membuat Tuan murka dan mengucilkan Nyonya," jelas Rai menatap kosong udara di langit-langit rumah.
"Lalu, kau percaya begitu saja setelah semua yang Nyonya lakukan hanya karena sesuatu yang masih samar kau lantas membencinya?" tukas Ibunya sembari mendudukkan tubuh di dekatnya.
Rai bergeming mencerna setiap untaian kata dari lisan wanita tua yang telah melahirkannya itu. Tangan tua itu menyapu lembut bahu kekarnya menyalurkan keyakinan pada hati sang putra.
__ADS_1
"Gunakan akal sehatmu, Nak! Ibu dan Ayahmu yakin kau bukan orang bodoh dan tidak mudah dibodohi!" nasihat Ibu tegas.
Meninggalkan Rai yang termangu setelah mendengar nasihat sang Ibu, Sumayah terus membawa langkah kakinya melewati ladang jagung penduduk yang siap dipanen. Bayi Salim ia tutupi agar saat berpapasan dengan penduduk mereka tak melihatnya.
Ia yang menggunakan sebuah kerudung panjang pemberian wanita tua itu membuatnya tak mudah dikenali. Sumayah melewati ladang jagung dan tiba di sebuah padang rumput yang subur. Banyak ternak yang digembalakan di sana.
Ia berjalan tanpa melihat ke kanan dan kiri terus membawa langkahnya melewati padang rumput tempat hewan ternak mengisi perut. Di ujung tempat ini adalah jalan besar, kendaraan berbagai ukuran lalu-lalang tiada henti.
"Itu dia jalan rayanya! Aku harus menaiki bus dan pergi dari kota ini," gumam Sumayah saat jalanan beraspal sudah nampak oleh indera penglihatannya.
Ia memacu langkah dengan cepat, mencari sebuah tempat untuknya berteduh bersama Salim. Sumayah duduk di sebuah gubuk menunggu bus datang. Tak ada apa pun yang dibawanya selain pakaian yang melekat di tubuh juga kantong plastik berisi uang pemberian dari orang tua yang menolongnya.
Sebuah bus berhenti saat ia melambai, Sumayah dengan tenang duduk di dalamnya tanpa membuka kerudung yang ia kenakan.
Lima tahun telah berlalu sejak kepergian Sumayah dari rumah orang yang menolongnya. Ia pergi ke sebuah desa nun jauh dari asalnya. Hidup sebagai petani berbaur dengan penduduk setempat. Desa terpencil jauh dari ibu kota juga desa-desa lainnya.
Ia sedang berada di ladang, menanam segala jenis sayur tanpa mengeluh. Banyak yang memuji keuletan Sumayah, ia bekerja tanpa merasa terbebani saat harus menggendong Salim di ladang. Sumayah wanita yang kuat.
"Tidak, Ibu! Aku ingin mengambil Siro ke lapangan," sahut bocah Lima tahun yang sudah dipenuhi lumpur seluruh tubuhnya.
Sumayah menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Ia kembali merapikan perlatan berkebun miliknya dan bersiap pulang.
"Bu Salim, sudah mau pulang? Sudah rapi?" tanya salah satu warga yang juga berladang di dekat ladang milik Sumayah.
"Iya, Bu. Salim sudah lebih dulu mengambil ternak kami di lapangan, saya permisi, Bu!" pamit Sumayah seraya mengangkat hasil panen hari ini yang akan dijualnya pada tengkulak di desa.
Ia berjalan di tepi ladang, menyusuri jalan setapak menuju tanah lapang tempat biasa Salim menggembala kambing miliknya. Ia tersenyum saat Salim sudah berdiri menunggunya di pinggir lapangan.
__ADS_1
"Ayo, Nak! Bagaimana dengan Siro? Apa dia makan banyak?" tanya Sumayah. Mereka berjalan bersisian menuju rumah gubuk sederhana yang dibangunkan warga setempat saat ia tiba di desa tersebut.
"Siro menghamili kambing lain, Bu. Kenapa dia tidak mengawini kambing betina di rumah saja?" sungut Salim sembari menyeret tali yang mengikat leher Siro. Kambing jantan miliknya.
"Ya ... kau harus menyatukan mereka di kandang, sayang. Jika mereka tinggal terpisah, maka kambing betina milikmu itu tak akan pernah mempunyai anak," sahut Sumayah yang membuat Salim berpikir.
"Menyatukan mereka dalam satu kandang? Membiarkan Siro melakukan pendekatan pada kambing betina baru itu. Ide bagus!" ucapnya yang membuat Sumayah mengacak rambutnya gemas.
"Kau pintar!" katanya. Salim menepuk dadanya yang ia busungkan dengan bangga.
Cahaya jingga senja, memayungi jalan desa yang mereka lalui. Hidup sebagai petani tak membuat Sumayah berkecil hati, ia justru terlihat bahagia dengan kehidupannya yang saat ini.
"Ayo, cuci tangan dan kaki setelah memasukkan Siro ke dalam kandang," titah Sumayah pada Salim yang berjalan ke belakang rumah tempat Siro tidur.
"Siro! Mulai malam ini kau akan tidur dengannya. Berkenalan-lah dengannya dan berikan aku anak kambing yang lucu!" ucap Salim sembari mengusap bulu-bulu Siro sebelum menutup pintu kandang dan menguncinya.
Ia menghampiri Sumayah yang masih menunggunya untuk mencuci tangan dan kaki sebelum memasuki rumah. Gubuk yang terbuat dari anyaman bambu cukup untuk melindungi mereka dari terik matahari dan guyuran hujan.
"Ibu, kudengar dari teman-teman kalau kita bukan berasal dari desa ini? Apa itu benar?" tanya Salim setelah menunaikan ibadah empat rakaat di malam hari.
Sumayah berbalik, ia mengusap pipi Salim dengan lembut sambil tersenyum manis.
"Benar, sayang. Ibu berasal dari kota yang jauh dari sini karena satu alasan maka, Ibu membawamu tinggal di sini. Suatu saat kita pasti akan kembali ke sana saat kau dewasa nanti," sahut Sumayah.
Ucapannya membentuk binar di manik kelam milik Salim. Persis dengan mata Kevin.
'Saat kau dewasa nanti, Ibu akan memperkenalkanmu kepada seluruh dunia hingga Ayahmu tahu bahwa putranya dapat hidup dengan baik tanpa uluran tangannya!' ucap Sumayah dalam hati terkecilnya.
__ADS_1