
"Selamat pagi!" sapa Sumayah dengan ramah pada Salim yang duduk di dekat jendela memandang jalanan. Tempat kesukaannya saat ia menunggu kedatangan Sumayah.
Ia menoleh begitu mendengar suara Sumayah menyapa rungunya. Senyum sehangat mentari pagi menyambut dengan gembira.
"Ibu!" sahut Salim sembari membalas senyum Sumayah.
"Sudah shalat subuh?" tanya Sumayah seraya meletakkan nampan sarapan di atas nakas.
"Sudah, tapi Salim belum mandi," jawab Salim dengan senyum jenaka berharap Sumayah mau memandikannya.
"Oh ... jadi anak Ibu mau Ibu mandikan?" tanya Sumayah berjongkok di depan Salim. Anak itu mengangguk dengan senyum malu-malu.
"Baiklah, kita mandi dulu sebelum sarapan," ajak Sumayah sembari mendorong kursi roda Salim menuju kamar mandi.
Tak sengaja pintu kamar Salim yang terbuka membuat Kevin menghentikan langkahnya saat melintas. Ia tersenyum saat melihat Salim yang lebih ceria semenjak bersama pengasuh barunya.
Ia melanjutkan langkah dengan pakaian resmi, ada meeting pagi ini membahas masalah bisnis.
Salim sangat menikmati setiap sentuhan Sumayah yang menggosok tubuhnya. Terdengar gelak tawa dari keduanya hingga keluar kamar Salim membuat para pekerja yang melintas terheran-heran karenanya. Begitu pun Priscilla dan Teo.
"Sekarang, makan dulu sarapannya." Sumayah menyuapi Salim perlahan hingga makanan di piring itu tandas dilahapnya.
"Minum obat dulu!" Sumayah memberikan segelas air pada Salim.
"Salim tidak mau minum obat itu!" tolak Salim sembari mencengkeram gelas dengan erat.
Sumayah terkejut mendengar penolakan Salim. Semalam ia lupa meminumkan obat kepada Salim.
"Ada apa? Kenapa Salim tidak mau minum obat? Bukannya Salim ingin cepat sembuh?" tanya Sumayah masih berjongkok di hadapan Salim.
"Ibu harus tahu, setiap kali Salim meminum obat itu seluruh otot dalam tubuh Salim melemas. Salim tidak ingin meminum obat itu, Ibu," ucap Salim lagi dengan wajah yang memelas.
"Mungkin itu hanya reaksi obat, sayang," katanya. Salim menggeleng.
"Sudah dua tahun Salim tak pernah absen meminum obat itu, Ibu, tapi sama sekali tidak ada perubahan. Kata dokter, kelumpuhan yang Salim alami ini permanen. Padahal, Salim pernah hampir bisa menggerakkan kaki Salim saat tidak meminumnya selama hampir satu bulan, tapi sayang wanita itu tahu dan selalu memaksa Salim meminumnya," ungkap Salim membeberkan semuanya pada Sumayah.
__ADS_1
Sumayah termangu mendengar penuturan Salim. Ia menatap obat di tangan, dan Salim bergantian. Rasa tak percaya pada apa yang didengarnya, mungkinkah obat ini salah? Namun ...,
"Apa dia tidak ingin meminum obatnya lagi?" tanya Priscilla tiba-tiba sudah berada di dalam kamar Salim. Sumayah tersentak, sejak kapan wanita itu berada di ruangan yang sama dengannya?
"Kau dengar, aku tidak ingin lagi meminum obat itu!" ketus Salim dengan berani seperti biasanya.
Priscilla mendekat perlahan, ia membungkuk di depan Salim dengan tatapan sinis. Sumayah diam memperhatikan, melihat dan menilik sikap Priscilla terhadap anaknya.
"Bukankah kau ingin cepat sembuh? Bagaimana mau sembuh, kalau kau tidak ingin meminum obat itu?" tegas Priscilla penuh penekanan. Ia menegakkan tubuhnya kembali.
"Aku tidak mau meminumnya, aku tidak ingin sembuh. Jadi jangan memaksa aku untuk meminumnya!" ucap Salim lagi masih menolak meminum obat tersebut.
"Kenapa? Apa kau berhayal lagi seperti dulu?" sengit Priscilla melipat kedua tangan di dada. Ia melirik Sumayah yang masih duduk melantai dengan wajah menunduk.
"Hei, kau! Paksa dia meminum obat itu! Jika tidak, maka hari ini juga kau akan kehilangan pekerjaanmu," titah Priscilla memerintah Sumayah lewat tatapan mata yang mengancam.
"Saya lupa, Nyonya. Obat Tuan Muda sudah habis, apakah saya harus membelinya dulu," ucap Sumayah. Ia menunjukkan tempat obat Salim yang telah kosong kepada Priscilla.
"Kenapa bisa sampai kehabisan? Aku harus pergi hari ini, dan obat itu harus segera diminum olehnya. Kalau tidak, dia akan tetap seperti itu selamanya," ucap Priscilla memberitahu Sumayah.
"Baiklah, kau bisa membelinya di sini. Sebutkan saja namaku, tidak perlu mengantri lagi," perintah Priscilla sembari memberikan secarik kertas pada Sumayah.
Sumayah membacanya, sebuah nama Rumah Sakit lengkap dengan nama dokternya tertera di sana.
"Jika sudah dapat kau segera minumkan padanya!" ucap Priscilla seraya berbalik meninggalkan kamar Salim.
"Ibu, aku tidak ingin minum obat itu," rengek Salim dengan wajah mengiba pada Sumayah.
Sumayah tersenyum, ia menyentuh lembut tangan Salim memberinya ketenangan.
"Salim jangan khawatir, Ibu akan memeriksa obat ini pada dokter yang menolong Ibu. Salim tunggu di sini, ya. Ibu harus pergi dulu," ucap Sumayah.
Salim menganggukkan kepala. Ia akan berdiam di kamar menunggu Sumayah kembali.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, Sumayah pergi lewat jalan yang tak pernah dilalui para pekerja Kevin. Ia tahu di depan sana seorang supir telah menunggunya, tapi dia tidak ingin diantar siapa pun karena tujuannya adalah bukan tempat itu.
__ADS_1
Sumayah pergi ke arah berbeda dari Rumah Sakit yang ditunjukkan Priscilla. Ia pergi ke sebuah rumah terpencil tak jauh dari mansion Kevin. Dokter yang dulu menolongnya, juga seorang teman yang berada di sisinya saat ia terpuruk.
"Nyonya, dari mana Anda mendapatkan pil ini?" tanya dokter itu setelah Sumayah memberikan pil yang dibawanya tadi.
"Itu obat yang biasa diminum anak saya, Dokter. Ada apa?" Sumayah berkerut dahi melihat ekspresi dokter di depannya.
"Ini bukan obat yang membantu Tuan Muda sembuh, Nyonya. Ini adalah pil yang melumpuhkan seluruh otot dalam tubuh manusia secara bertahap. Tuan Muda tidak memiliki penyakit keturunan, tapi ia diracuni dengan pil ini," terang dokter yang membuat Sumayah terkejut bukan main.
Air matanya merembes tak tertahan, benar dugaannya. Salim diracuni.
"Tapi Salim mengatakan, sudah dilakukan pemeriksaan dan tidak ada unsur racun dalam tubuhnya," ucap Sumayah lagi.
"Tidak mungkin! Mungkin saja dokter itu salah mendiagnosa?" celetuk teman Sumayah yang sejak tadi berdiam diri mendengarkan.
"Bukan seperti itu, Tuan. Bisa jadi ada permainan antara dokter tersebut dan orang yang ingin mencelakakan Tuan Muda dengan satu alasan. Hanya saja ini baru tebakan saya, kita harus memeriksa Tuan Muda untuk dapat mengetahui sejauh mana kondisinya. Bisakah Anda membawa Tuan Muda keluar? Berikan saja alasan yang logis," ucap dokter itu lagi menyarankan.
"Nyonya, saya tahu Anda pasti kesulitan untuk mendapatkan izin dari Tuan, tapi-" ucap temannya harus terputus karena Sumayah cepat menukas.
"Saya akan membawanya keluar, tapi untuk saat ini saya harus pergi menemui dokter yang-"
"Ah ... apakah dokter tersebut bekerja sama dengan wanita ular itu?" pekik Sumayah saat teringat ke mana seharusnya dia pergi.
"Dokter? Apa Anda mengenalnya?" tanya dokter tersebut sembari menatap Sumayah dengan selidik.
"Sebentar!" Sumayah mengeluarkan secarik kertas yang diberikan Priscilla dari saku pakaian yang ia kenakan, "ini, wanita itu meminta saya untuk datang ke Rumah Sakit ini dan menemui dokter tersebut. Katanya hanya tinggal menyebutkan namanya saja maka tak perlu mengantri lagi," sambung Sumayah memberikan kertas tersebut pada dokter itu.
Ia tersenyum setelah membaca nama seorang dokter dalam kertas tersebut.
"Saya sangat mengenalnya, sudah pasti wanita itu bekerjasama dengannya. Sebaiknya, Anda cepat pergi ke sana. Ambil saja obatnya, tapi jangan pernah meminumkannya pada Tuan Muda. Ini, berikan ini pada Tuan Muda. Pil ini akan memulihkan racun di dalam Tuan Muda," katanya memberikan sebuah botol pada Sumayah.
"Terima kasih, Dokter. Saya tidak tahu akan seperti apa jadinya jika tidak ada kalian," ungkap Sumayah penuh haru.
"Tak perlu sungkan, Nyonya. Lagi pula, laki-laki di samping saya ini selalu mengkhawatirkan keadaan Anda," sahut dokter tersebut sembari melirik seorang pemuda di sampingnya.
"Ekehm!" Ia hanya berdehem menetralkan hatinya yang gugup. Sumayah tersenyum padanya, semakin membuat hatinya berbunga-bunga.
__ADS_1
Siapa laki-laki itu?