
"Begitulah, Ibu. Salim juga tidak tahu kenapa tiba-tiba waktu itu seluruh otot tubuh Salim rasanya lemas dan tidak berfungsi," ucap Salim setelah mengakhiri ceritanya.
Sumayah mulai bisa mengerti setelah mendengar cerita dari Salim.
"Apa sudah dilakukan tes lab atau pemeriksaan oleh dokter? Ibu pikir Salim diracuni, apa ada yang berpikir begitu selama ini?" tanya Sumayah.
"Sudah, Bu. Ayah curiga kalau Salim diracuni, tapi saat diperiksa dokter katanya tidak ada racun dalam tubuh Salim. Dokter itu bilang Salim memiliki penyakit langka keturunan," jawab Salim lagi.
"Penyakit langka karena keturunan? Dari siapa? Ya sudah, Salim istirahat saja. Ibu yang akan mencari tahu penyebab Salim sakit," ucap Sumayah sembari membantu Salim merebahkan diri di atas kasur.
"Ibu, kenapa wajah Ibu bisa berubah?" tanya Salim saat Sumayah berbaring di sampingnya. Anak itu langsung berbalik dan memeluk ibunya.
"Ceritanya panjang, singkatnya setelah bermain di taman waktu itu ada orang jahat menyiramkan cairan kimia ke wajah Ibu. Kemudian ada teman lama Ibu menolong dan beginilah. Lain waktu Ibu akan memperkenalkan Salim padanya saat kita bisa keluar dari sini," ungkap Sumayah sembari mengusap-usap punggung Salim dengan lembut.
Anak sepuluh tahun itu semakin membenamkan wajahnya di dada Sumayah. Rasa rindu yang menggunung kini dapat ia tumpahkan.
"Tidak apa-apa, bagaimana pun Ibu sekarang Salim tetap senang akhirnya bisa bertemu dan berkumpul bersama Ibu lagi," ucap Salim lagi.
Aku datang membawa kehancuran untuk kalian. Lihatlah, Kevin! Permainan Sumayah akan segera dimulai.
"Bisakah Salim menjaga rahasia kita? Sampai Ibu menguak semua masalah dan dalangnya," pinta Sumayah setelah mendengarkan cerita anaknya.
"Tentu saja, Ibu. Salim akan menjaga rahasia kita," katanya berjanji.
Sumayah tersenyum. Ia melirik Salim dan mengecup pucuk kepala anak itu. Menunggu hingga Salim terlelap barulah ia beranjak. Dengan membawa nampan di tangan Sumayah keluar dari kamar Salim.
Tak ada yang curiga padanya, ia bersikap biasa dan leluasa di rumah itu.
Prang!
"Ah ... Tuan! Maafkan saya, maaf!" ucap Sumayah saat ia bertabrakan dengan Kevin. Nampan yang dibawanya jatuh membuat piring dan gelas di atasnya hancur berserakan.
Mata Kevin membulat, ia menepuk pakaiannya tak ada apa pun bahkan basah pun tidak. Ia melirik pecahan piring dan gelas yang sedang dipunguti Sumayah tak ada nasi dan air. Amarahnya seketika berubah menjadi bingung.
__ADS_1
"Tuan, sekali lagi maafkan saya. Sungguh, saya tidak sengaja," ucap Sumayah sekali lagi setelah mengumpulkan pecahan beling sembari membungkuk.
"Apa Salim memakan semuanya?" tanya Kevin menunjuk lantai yang bersih tak ada sisa nasi dan tumpahan air.
"I-iya, Tuan. Tuan Muda makan semuanya," jawab Sumayah berpura-pura gugup.
"Kau berhasil merayunya untuk makan? Atau memang dia yang mau sendiri?" tanya Kevin lagi dengan rasa tak percaya.
"Saya membujuk Tuan Muda untuk makan, Tuan," sahut Sumayah lagi dengan wajah yang menunduk.
"Angkat kepalamu!" titah Kevin.
Sumayah mengangkat wajah dan pandang mereka bertemu. Hati Kevin berdesir.
"Apa kita pernah bertemu?" tanyanya tanpa sadar.
"Apa maksud Anda, Tuan? Apa Tuan pernah ke desa Selatan? Kalau iya, mungkin saja kita pernah bertemu secara tidak sengaja," jawab Sumayah alias Sari sangat logis.
"Ah ... sudahlah, lupakan saja!" katanya mengibaskan tangan seraya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sumayah kembali melangkah menuju dapur. Membuang pecahan beling ke tempat sampah dan mencuci nampannya.
"Apa Tuan Muda tidak memintamu melakukan hal aneh?" Suara kepala pelayan yang tiba-tiba terdengar membuat Sumayah tersentak kaget.
"Astaghfirullah! Ibu kenapa datang tiba-tiba seperti hantu? Jantungku serasa mau copot," pekik Sumayah sembari berbalik dengan raut terkejut.
Mata wanita tua itu masih menatap tak percaya pada Sumayah karena baru kali ini ada pengasuh Salim yang berhasil membujuknya untuk makan.
"Tuan Muda benar-benar mau makan?" tanyanya lagi.
"Iya, dia bahkan menghabiskan semuanya tanpa sisa. Memangnya Tuan Muda tidak pernah mau makan?" Sari balik bertanya dengan rasa ingin tahunya.
Wanita sepuh itu menghela napas sebelum menjawab, "Yah ... selama ini Tuan Muda selalu menolak makanan yang dibawakan pengasuh. Beliau selalu meminta ini dan itu pada pengasuhnya dan menyusahkan pengasuh itulah yang membuat mereka tidak merasa betah mengasuh Tuan Muda."
__ADS_1
Sumayah mengerti, itu karena Salim hanya ingin dirawat ibunya. Bukan wanita lain.
"Istirahatlah, kau sudah bekerja dengan baik hari ini," titahnya sembari menepuk bahu Sumayah dan berlalu. Sumayah mengangguk dengan sudut mata melirik tajam kepala pelayan itu.
"Malam ini, aku harus bisa mendapatkannya," gumam Sumayah seraya membawa langkah menuju kamar yang disiapkan untuknya.
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkannya?" tanya Sumayah pada seseorang lewat sambungan telepon.
Ia terdiam mendengarkan. Sumayah yang berganti rupa bukan lagi Sumayah yang dulu. Yang lemah dan mudah ditindas.
"Baiklah, tunggu rencana selanjutnya," tandasnya menutup sambungan telepon.
Tak lama sebuah pesan masuk, Sumayah tersenyum saat membaca pesan itu.
"Terima kasih karena berada di sisiku saat aku terpuruk," gumamnya setelah membaca pesan tersebut. Ia menyimpan ponselnya kembali dan menatap langit-langit kamar sederhana. Kamar para pelayan di rumah besar itu.
Sumayah tersenyum, tapi dengan cepat senyum itu menghilang berubah menjadi kemarahan.
"Kau sudah berani menyentuh anakku. Kalian sudah berani membuatnya lumpuh, aku tidak akan lagi berbaik hati pada kalian. Kalian akan menanggung akibat dari semua yang telah kalian lakukan," kecamnya dengan pandangan menajam pada lampu kamar yang berwarna kuning.
Malam terus merangkak hingga ke puncaknya. Semua orang terhanyut dalam buai alam mimpi kecuali si kepala pelayan yang harus memastikan semua pintu dan rumah besar itu terkunci rapat.
Pukul satu malam, Sumayah terbangun. Ia mengambil wudu dan melakukan shalat Sunnah sebelum keluar dari kamarnya. Di kegelapan rumah besar itu, Sumayah berjalan tanpa rasa takut sedikit pun.
Ia hafal di mana saja letak CCTV yang ada di rumah tersebut. Dengan cerdik Sumayah menaiki anak tangga menuju lantai dua. Bukan kamar Kevin, atau pun kamar Salim.
Ruang kerja Kevin. Di sana lah dia berdiri, di depan pintu yang selalu terkunci itu. Sumayah dengan mudah dapat membukanya, mengandalkan semua ingatan yang ia miliki Sumayah memasuki ruang kerja Kevin dan menguncinya.
Ceklak!
Lampu ruangan dinyalakan Sumayah, ia mulai mencari apa yang menjadi tujuannya. Semua laci dibukanya, semua lemari diacak-acak Sumayah. Entah apa yang dia cari di dalam sana.
Pandangan Sumayah tertuju pada sebuah lemari yang selama ini selalu menjadi misteri untuknya. Lemari yang tak boleh dibuka siapa pun selain Kevin sendiri.
__ADS_1
Setelah menemukan kunci, Sumayah membuka lemari itu. Debu-debu berterbangan saat pintu lemari terbuka. Sebuah peti terdapat di dalamnya. Sumayah mengambilnya, dan membukanya. Tak ada apa pun selain tumpukan kertas yang tidak penting setelah dibaca Sumayah.
Namun, ia menemukan sesuatu di dalam sana. Tersenyum Sumayah saat mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.