
Pagi datang menjelang, meninggalkan Kevin yang mengurung diri di kamar dengan segala bentuk emosi yang menggelegak di dadanya. Laki-laki itu masih meringkuk di dalam kemul saat Juan memeriksa keadaannya. Biarlah mungkin dia lelah, Juan, meratapi bayangan Sumayah yang kerap hadir akhir-akhir ini dan mengusik hidupnya.
Di belahan lain kota itu, Sumayah baru saja membuka mata saat sinar mentari menerpa wajah. Suara keributan di belakang rumah pun mengusik gendang telinganya menimbulkan kerutan di dahi. Apa yang sedang orang tua itu lakukan di belakang rumah?
"Ah!" Sumayah merintih sembari memegangi area intimnya yang tiba-tiba berdenyut, "kenapa sakit begini? Gatal dan perih," keluhnya. Ia meringis, area itu terasa perih saat bergesekan dengan kulit lainnya.
Ia beranjak dengan sangat hati-hati, tangannya terjulur menggapai apa saja untuk menopang tubuhnya yang lemah. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok wanita tua yang menolongnya semalam.
Suara keributan di belakang rumah, membawa langkah kakinya yang tertatih ke asal suara itu.
"Bu!" lirihnya bergetar.
Wanita itu yang sedang membantu suaminya membangun sebuah pagar dari bambu tinggi dan rapat segera berbalik begitu mendengar panggilan Sumayah. Ia beranjak menghampiri. Cemas di wajahnya tergaris sempurna saat melihat Sumayah yang kepayahan menahan sakit.
"Ada apa, Nyonya? Apa yang terjadi?" tanyanya panik. Sumayah mendekatkan diri pada wanita tua itu dan berbisik.
Mata rentanya mendelik hampir keluar. Mulutnya terbuka menjadi jalan untuk lalat dapat masuk ke dalamnya.
"Ayo, Nyonya! Anda duduk dulu, saya akan menyiapkan sesuatu untuk Anda berendam," ucapnya cepat. Ia membawa Sumayah kembali ke kamarnya, mendudukkannya di sofa menunggu ia menyiapkan sesuatu.
Wanita itu terlihat sibuk, Sumayah meringis keadaan intimnya semakin gatal dan perih terasa. Mungkin saja terkena infeksi jamur atau sejenisnya.
Wanita renta tadi masuk kembali ke kamar Sumayah dengan sebuah ember yang mengepulkan asap. Aroma rempah tercium indera pembau Sumayah sangat khas.
"Ayo, Nyonya! Anda harus berendam di dalam air rempah itu agar rasa gatal dan perihnya hilang," titahnya sembari memapah Sumayah ke dalam kamar mandi dan membantunya melepas pakaian tanpa segan.
"Maaf, Bu," cicit Sumayah saat ia harus menanggalkan semua pakaiannya di depan wanita renta itu. Banyak luka gores di sekujur tubuh mulus Sumayah. Wanita tua menitikan air mata menyaksikannya. Pantas saja Sumayah selalu kesakitan saat mengerakkan tubuh. Luka lecutan dari ranting pohon dan lainnya begitu nampak nyata di kulitnya yang seputih susu.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Ini akan terasa perih saat di awal, tapi menjadi nyaman setelah beberapa saat. Anda harus bisa menahannya, Nyonya," ucap wanita itu sembari membantu Sumayah masuk ke dalam bathtub dan mendudukkannya.
"Saya akan menunggu di luar, khawatir Tuan Muda akan terbangun," pamitnya yang diangguki Sumayah.
__ADS_1
Rasa hangat dari air rempah menjalar ke seluruh tubuh Sumayah, melalui organ intimnya yang juga mulai merasakan gelenyar aneh yang kian merayap dan memberikan sensasi luar biasa pada tubuhnya.
Sumayah menggigit bibir bawah saat rasa perih di area itu mulai ia rasakan. Mungkin ini reaksi dari rempah yang ia duduki. Keringat mengucur di wajahnya, Sumayah menengadah dengan mata terpejam. Kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran bathtub yang ia duduki.
"Rasanya sakit, Kevin! Kau menyakiti aku sebanyak ini, sakit ini lebih terasa dari pada saat kau merenggut kegadisanku." Sumayah berdesis. Rasa perih itu kian merambat dan mengoyak seluruh organ dalam tubuhnya.
"Maya, ada apa? Hei ... kenapa kau menangis, sayang?" Kevin berucap lembut tatkala ia baru saja merenggut mahkota kesucian milik Sumayah di malam pertama pernikahan mereka.
Sumayah menangis dan merintih, Kevin memperlakukannya dengan kasar. Seperti orang kesurupan bahkan jeritan Sumayah terdengar hingga keluar di malam itu.
"Tunggu sebentar, aku akan menyiapkan sesuatu untukmu," ucapnya lagi seraya beranjak dari ranjang tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Ia masuk ke kamar mandi dan keluar lagi.
Tanpa pamit, mengangkat tubuh Sumayah dengan gurat sesal di wajah.
"Kevin! Apa yang kau lakukan!" pekik Sumayah terkejut. Kevin bergeming, ia terus mengangkat tubuh Sumayah dan membawanya masuk ke kamar mandi. Ia meletakkan tubuh Sumayah ke dalam bathtub yang telah terisi air hangat dengan aroma yang menyegarkan.
Ia sendiri berjongkok di samping bak mandi itu, menggenggam jemari lentik Sumayah dan meremasnya dengan lembut.
"Memang kau pikir aku wanita seperti apa?" sungut Sumayah merajuk.
"Hei ...," Kevin meraih dagu istrinya dengan lembut. Disapunya bibir merah alami Sumayah yang sejak semalam menjadi candu untuknya itu.
"Kupikir semua wanita sama seperti mereka yang pernah aku cicipi. Aku bahkan pernah disuguhkan gadis remaja berseragam sekolah, tapi dia sudah tak gadis lagi-"
"Ya ... aku tahu, aku brengsek, Maya. Namun, begitu aku mengenalmu dan bertekad harus memilikimu kutanggalkan sifat brengsek dalam diriku. Mungkin karena begitu lama tak melakukan hubungan itu membuatku tak dapat menahan diri hingga membuatmu kesakitan untuk pertama kalinya," sesal Kevin waktu itu sembari menciumi punggung tangan Sumayah bertubi-tubi.
"Dan kini kau kembali menjadi brengsek, Kevin!" jerit Sumayah tanpa sadar saat bayangan Kevin yang begitu lembut dan penuh perhatian membayang di pelupuk mata.
"Nyonya! Tahan, Nyonya, hanya sebentar saja," ucap wanita tua yang terkejut mendengar suara teriakan Sumayah dari dalam kamar mandi. Ia menggendong Salim yang terbangun.
Sumayah tersedu menahan perih yang mendera bagian intimnya, tapi perih luka yang dibentuk Kevin tanpa darah lebih mengoyak jiwa raganya.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaafkan kalian! Aku tidak akan mengampuni kalian!" Tangis Sumayah semakin menjadi. Ia menarik napas pendek-pendek saat rasa perihnya memuncak.
Sekujur tubuhnya berkedut terutama di bagian yang terdapat luka sayatan. Ia menjerit lagi, disambut tangisan Salim yang tak kunjung reda meskipun ia sudah dibuatkan susu oleh wanita tua itu.
"Tahan, Nyonya! Hanya sebentar," ucapnya panik. Ia ikut merasakan sakitnya, wajahnya meringis tidak tega mendengar suara kesakitan Sumayah dari dalam kamar mandi.
Rasa perih itu berangsur-angsur menghilang. Berganti dengan rasa nyaman yang menenangkan. Sumayah mulai tenang, hangat dan membuat otot di tubuhnya mengendur. Sumayah membuka mata masih dengan napas memburu.
Ia terkejut begitu melihat air yang rendaman berubah menjadi merah.
"Bu!" teriaknya memekakkan telinga. Wanita tua yang dipanggilnya meletakkan bayi Salim di atas ranjang dan segera berhambur mendatangi Sumayah.
"Ibu!" rintih Sumayah sembari menangis saat matanya beradu dengan mata renta itu. Ia berjalan dengan tenang.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Itu hanya darah kotor pasca melahirkan. Ayo, beranjak saya akan menggantinya dengan air bersih," pintanya sembari mengulurkan tangan membantu Sumayah untuk keluar dari bak mandi tersebut.
"Silahkan, Nyonya!" Sumayah kembali masuk setelah air tersebut diganti dengan yang baru masih menggunakan ramuan rempah di dalamnya yang harus ia duduki.
"Bagaimana rasanya? Apa sudah lebih baik atau masih gatal dan perih?" tanya wanita tua itu mengulas senyum keibuan.
"Sudah, Bu. Terima kasih, rasanya sudah lebih nyaman," sahut Sumayah ikut tersenyum.
"Ya sudah, berendam saja. Tuan Muda terbangun, Saya yang akan menjaganya selama Anda berendam." Ia pamit keluar kamar mandi dan kembali pada bayi Salim.
"Cepatlah tumbuh besar, Nak! Agar kau dapat melindungi Ibumu dari kekejaman dunia ini," ucapnya sembari mengelus dahi Salim yang mulai tenang.
"Ibu! A-aku ingin menanyakan satu hal padamu, boleh?" Wanita tua yang sedang bermain dengan Salim menoleh lantas mengangguk.
Sumayah tak bicara, ia mengambil sebuah figura dan menunjukkannya pada wanita renta itu.
"Apa dia putramu, Ibu?"
__ADS_1