
"Ibu! Cepatlah, aku sudah tidak sabar," teriak Salim dari teras rumahnya. Ia berdiri gelisah sesekali akan melongo ke dalam rumah melihat sudah sejauh apa persiapan yang ibunya lakukan.
"Ya, sayang, sebentar!" sahut Sumayah dengan sabar. Itu adalah panggilan ke sekian kali dari Salim. Bocah lima tahun itu tidak sabar saat Sumayah mengatakan ingin mengajaknya bermain di pantai. Ia tidak pernah tahu jika di dekat tempat tinggalnya ada sebuah pantai yang sering dikunjungi oleh warga setempat.
"Ibu lama sekali, apa yang sedang dilakukannya di dalam?" gerutu Salim sudah lelah rasanya ia menunggu. Dan ingin segera merasakan bagaimana rasanya bermain air laut yang asin.
"Ayo, Ibu harus menyiapkan bekal untuk kita makan siang nanti. Jadi, tidak perlu beli lagi," ucap Sumayah seraya mengunci pintu rumah mereka. Ia menggandeng tangan Salim menuju jalan raya untuk menunggu angkot. Di tangan satunya terdapat sebuah tas jinjing yang berisi bekal makanan untuk mereka.
"Ibu, apa pantainya sangat jauh?" tanya Salim sembari melirik Ibunya yang tak henti menengok jalan ke kanan dan kiri.
"Iya, Salim. Naik angkot saja sekitar satu jam kita baru akan sampai," jawab Sumayah mengusap kepala putranya dengan lembut.
Salim mengangguk dan diam menunggu. Kakinya yang menggantung di tempat tunggu bus ia ayunkan ke depan dan ke belakang dengan kedua tangan yang menumpu di kanan dan kiri tubuhnya.
Sumayah yang melirik tersenyum melihat Salim yang tak sabar untuk segera melihat pantai. Memang, selama mereka tinggal di desa itu sekali pun Sumayah belum pernah membawanya berlibur. Baru kali ini karena uang yang dikumpulkannya telah lebih dari cukup untuk mengajak Salim pergi berlibur.
"Ibu, apakah itu mobilnya?" tunjuk Salim pada sebuah mobil angkutan umum yang akan melintas di depan mereka.
"Iya, sayang. Ayo!" Sumayah mengajak Salim berdiri memberhentikan angkot yang hendak melintas. Ia mengajak Salim untuk duduk di belakang, bocah itu memiliki beribu pertanyaan dalam hati. Baru kali ini ia merasakan duduk di dalam sebuah mobil. Namun, ia menahannya dan akan menunggu hingga angkot itu berhenti nanti.
Wajah Sumayah yang ditutupi semacam cadar membuatnya tak dapat dikenali begitu saja. Sengaja memang ia memakai itu.
Tepat saat matahari berada di atas kepala mereka sampai di pantai. Sumayah mengajak Salim untuk beristirahat di sebuah mushola kecil yang disediakan pengelola pantai sebelum pergi bermain bersama anak-anak lain yang lebih dulu sampai di tempat tersebut.
"Ibu, ayo, aku ingin cepat bermain di sana!" Salim merengek pada Sumayah yang sedang membuka bekal mereka di serambi mushola yang sepi padahal, pengunjung pantai itu begitu banyak. Namun, tak ada satu pun yang datang ke mushola untuk beribadah.
__ADS_1
"Tunggu, Salim! Sebaiknya kita makan dulu agar Salim tidak masuk angin nantinya," ucap Sumayah sembari memberikan satu kotak bekal pada putranya.
Salim patuh, ia mengambil kotak bekal dan memakannya sesuai anjuran dari sang Ibu. Keduanya memakan bekal dengan perasaan yang bahagia. Salim yang ingin segera bermain air laut dan Sumayah yang telah berhasil menyenangkan hati putranya walau hanya mengajaknya bermain air laut.
Usai merapikan bekas makan mereka, Sumayah mengajak Salim mendekati pantai. Mungkin karena ini akhir pekan, untuk itu pengunjung cukup memadati pantai.
"Kita bermain di pinggir saja, ya. Ibu takut karena ombak itu datangnya tak terduga dan Salim belum terlalu mahir berenang," ucap Sumayah yang mendapat anggukan kepala dari Salim.
Ia duduk di bawah pohon nyiur memperhatikan putranya yang asik bermain pasir seperti anak-anak lainnya. Hanya saja, jika yang lain menggunakan alat-alat bermain, sedang Salim menggunakan barang seadanya yang ia temui di sekitar pantai. Batok kelapa atau bahkan ranting, tapi ia tetap asik bermain.
Sumayah tersenyum penuh arti melihat wajah gembira Salim yang terus memancar. Tak ada lagi yang bisa membuatnya bahagia selain melihat senyum Salim yang bahagia.
Bocah itu menoleh menunjukkan karyanya sebuah gundukan pasir yang diukirnya dengan abstrak. Kening Sumayah berkerut melihat detail ukiran di gundukan pasir yang lebih mirip sebuah kubah itu.
"Ini kubah Ibu, aku ingin mendirikan sebuah masjid di desa kita itu," jawabnya. Sumayah terenyuh mendengar keinginan besar dari hati kecil di hadapannya.
"Kenapa?"
"Agar semua warga tidak perlu lagi berjalan jauh untuk melaksanakan shalat Jum'at dan yang lebih penting tidak berdesak-desakan demi sebuah tempat. Bukankah itu baik, Ibu?" jelasnya sembari mengulas senyum jenaka khas bocah seusianya.
Sumayah semakin bangga pada sosok kecil itu, semoga kebesaran hatinya akan terbawa hingga ia dewasa nanti.
"Benar, sayang. Itu sangat baik, semoga Allah mendengar doamu ini, Salim," sahut Sumayah mengusap rambut putranya dengan lembut.
"Tentu saja Allah akan mendengar, Ibu karena doa Ibu itu melangit. Semua penduduk langit pasti mengaminkan doa Ibu untuk Salim," jawabnya lagi tegas. Raut serius tercetak tegas di wajahnya.
__ADS_1
Sumayah mengangguk saja, ia tidak tahu dari mana kata-kata itu didapatkan Salim. Namun, dari mana pun itu datangnya semoga hanya kebaikan yang diambil anak itu. Aamiin.
"Ayo, sudah sore. Cuci tangan dan bersihkan diri kita shalat ashar," ajak Sumayah sembari beranjak dari duduknya. Salim menyudahi permainannya, ia ikut berjalan meninggalkan pantai bersama Sumayah. Bermain air cukup sebentar dan bermain pasir yang penting hati bocah itu riang gembira.
"Ibu, setelah ini apa kita akan pergi ke tempat penjualan di sana?" tanya Salim menunjuk arah bazar yang ada di pinggiran pantai.
"Boleh, Salim mau beli apa?" tanya Sumayah sembari melipat mukena usai melaksanakan shalat ashar di mushola tersebut.
"Boleh tidak aku membeli baju bergambar pantai ini saja? Aku akan langsung memakaikannya," ucapnya dengan binar penuh harap di maniknya yang mirip dengan sang Ayah.
Sumayah menyapu rambutnya lembut sambil tersenyum. "Boleh, ayo!" Keduanya beranjak meninggalkan rumah Tuhan yang sepi dari para penjaganya.
Berjalan menyusuri jalanan berpasir menuju lokasi diadakannya bazar yang menjajakkan segala jenis barang khas pantai tersebut. Dengan riang gembira Salim memilih dan memilah apa yang ingin dibelinya. Ini adalah kali pertama dia memilih barang sendiri untuk dipakainya.
Pilihannya jatuh pada kaos berwarna putih dengan gambar pantai yang indah. Ia langsung mengenakannya saat itu juga. Baju lengan panjang dan celana yang panjang pula dipilih Sumayah untuk Salim.
Sepanjang jalan dari bazar netra kelam milik Salim terus menatap sederet gambar yang berjejer di sepanjang jalan. Sesekali ia melirik Sumayah yang terlihat biasa saja. Secara tiba-tiba, Salim menghentikan langkah membuat Sumayah menoleh padanya dengan dahi yang berkerut.
"Ada apa, Nak?" tanyanya berjongkok di dalam Salim.
Bocah itu melempar pandangan ke depan, "Bukankah itu gambar Ibu? Kenapa ada banyak gambar Ibu di sepanjang pantai ini? Dan mereka menjadikan Ibu seperti barang. Siapa yang menemukan Ibu dia akan mendapatkan hadiah. Katakan padaku, siapa yang melakukan ini? Siapa yang telah berani menghina Ibuku? Katakan, Bu, siapa orangnya? Aku ingin membuat perhitungan dengannya!" cecar Salim dengan raut wajah serius dan kemarahan yang tercetak jelas di sana.
Sumayah yang belum mengerti pun mengedarkan pandangan. Alangkah terkejutnya ia saat di sepanjang pantai itu tertempel gambar-gambar dirinya dengan sebuah sayembara. Sumayah panik, beruntung ia mengenakan cadar jadi tak ada yang mengenalinya.
"Nanti Ibu akan ceritakan. Sekarang kita pulang dulu!" ajaknya tanpa berkompromi. Sumayah menggendong Salim dan berjalan cepat meninggalkan pantai. Itu artinya desa ini pun sudah tidak aman lagi untuk mereka. Dan yang pasti anak-anak buah Kevin telah berpencar di tempat tinggalnya itu. Benar, bagaimana pun mereka berpakaian Sumayah tetap akan mengenalinya.
__ADS_1