
"Hati-hati, Nyonya! Apa sakit?" tanya wanita renta yang membantu Sumayah berjalan di kegelapan hutan. Sesekali terdengar desisan dari bibir Sumayah saat luka di kaki terasa menusuk.
"Tidak apa-apa, Bu. Tidak terlalu sakit jika memakai alas seperti ini," sahut Sumayah tersenyum tegar.
Ketiganya berjalan menyusuri hutan rimba menuju desa Selatan. Laki-laki tua bertugas menggendong Salim dan wanita tua membantu Sumayah berjalan.
"Apa desa Selatan itu masih jauh dari sini? Kita sudah sangat lama berjalan," tanya Sumayah yang sudah kepayahan membawa kakinya melangkah.
"Ada di balik hutan ini, Nyonya. Tak lama lagi, biasanya desa akan sepi saat tengah malam," sahut Pak tua yang memimpin jalan mereka.
Tak ada lagi yang berbicara, mereka terus membawa langkah melewati pohon-pohon tinggi menjulang di sepanjang hutan. Cahaya rembulan bahkan tak dapat menebus dedaunannya yang rimbun.
Sudah sekitar tiga jam lamanya, mereka berjalan di dalam hutan. Mereka akan berhenti hanya saat Salim menangis dan Sumayah harus menyusui agar tangis bayi itu tak berkelanjutan.
Laki-laki tua menghentikan langkah dan berbalik menghadap belakang. Ia menyerahkan Salim pada istrinya.
"Kau bawa Nyonya dan bayi ini melewati jalan belakang rumah. Bapak akan membukakan pintu untuk kalian dari depan," ucapnya seraya melimpahkan bayi Salim pada istrinya.
Tanpa memprotes wanita renta itu mengambil alih Salim dan menggendongnya. Cahaya di kejauhan telah terlihat, itu lampu-lampu jalan yang mengarah ke desa Selatan.
"Lihat! Kita sudah dekat, ujung hutan ini sudah terlihat. Itu lampu jalan yang mengarah ke desa Selatan," tunjuk Pak tua pada cahaya yang terlihat samar di kejauhan.
"Benar, itu jalannya!" sahut si wanita sembari menatap Sumayah dengan senyum di bibir.
"Kita akan berpisah di ujung jalan sana. Ibu harus mengambil jalan lain yang mengarah ke belakang rumah. Bapak akan melewati jalan desa yang biasa dilewati penduduk," katanya memberi arahan.
"Bapak hati-hati!" ingat sang Istri cemas.
"Tidak usah mengkhawatirkan Bapak, Ibu yang harus berhati-hati menjaga Nyonya. Jangan sampai hal sekecil apa pun mengundang perhatian penduduk setempat," timpal Pak tua itu dengan tegas.
__ADS_1
"Iya, Pak."
Sumayah hanya terdiam, ia tidak tahu bagaimana keadaan penduduk di desa Selatan saat ini. Semua berubah setelah gadis ular yang datang dari desa Selatan merusak citra nama baiknya.
Mereka berpisah di ujung jalan hutan. Laki-laki tua itu menunggu kepergian Istri dan Nyonya-nya sebelum ia pun membawa langkah meninggalkan hutan. Ia menyusuri jalan desa yang biasa dilalui penduduk setempat.
Benar, saat tengah malam seperti ini keadaan desa amatlah lengang. Tak satu pun dari penduduk terlihat berkeliaran di luar. Ia bernapas lega, berjalan tanpa beban melewati rumah-rumah penduduk di sepanjang kanan dan kiri.
Ia harus melewati perkebunan warga untuk sampai di rumahnya yang berada di ujung desa. Rumah semi permanen yang dibangunkan putra mereka sebelum pindah desa. Berbeda dengan rumah mereka di desa Hulu Sungai yang hanya terbuat dari anyaman bambu saja.
Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan dengan kasar begitu pintu rumah yang terbuat dari kayu jati itu berada di hadapan. Ia tahu, Istri dan Nyonya-nya sudah menunggu di pintu belakang yang sengaja tak diberi penerangan.
"Eh ... Pak! Baru pulang? Kenapa sendiri, Istri Bapak ke mana?" tegur salah satu warga yang entah dari mana asalnya tiba-tiba sudah berada di belakang tubuhnya.
Ia tersentak kaget, sebelum menoleh ke belakang ia mengurai keterkejutannya. Tersenyum meski terpaksa.
"Iya, Pak. Ladang kami di desa Hulu terendam banjir karena hujan semalam. Maklum ladang kami berada di pinggir sungai besar, jadi ... terkena imbas dari air sungai yang naik," jawabnya berusaha menekan rasa gugup dalam dirinya.
Pak tua itu menganggukkan kepala mendengar saran darinya.
"Saya masih sayang untuk sekarang, Pak, tapi nanti tidak tahu." Ia menggerutu dalam hati, mengusir tanpa dapat berucap. Hanya menunggu dengan geram kepergiannya.
"Ya sudah, Pak. Saya pulang dulu, Bapak juga sepertinya harus beristirahat. Jangan ditinggalkan sendiri Istri Bapak apa lagi bersama orang asing," ucapnya yang sukses membuat tubuh renta laki-laki itu menegang seketika.
"Haha. Bercanda, Pak. Di sana pasti Istri Bapak sendirian, bukan? Saya hanya mengingatkan takutnya ada orang asing yang berbuat jahat padanya," kilahnya sembari menepuk bahu laki-laki tua itu sebelum berlalu dari halaman rumahnya.
"Apa dia tahu soal Istriku dan Nyonya yang menunggu di belakang?" gumamnya sebelum akhirnya membuka pintu dengan cepat untuk memastikan keadaan ketiga orang di belakang rumah tersebut.
"Bu, ayo, masuk!" titahnya setengah berbisik saat ia membuka pintu belakang rumah.
__ADS_1
"Ayo, Nyonya! Jangan sungkan, di sini hanya kami berdua yang tinggal," ucap si wanita memberi jalan pada Sumayah untuk masuk terlebih dahulu.
Rumah itu nampak sederhana dari luar, tapi di dalamnya telah dilengkapi dengan berbagai macam perabotan rumah tangga yang modern. Sumayah digiring menuju sofa, bersama Salim ia menunggu wanita tua itu menyelesaikan pekerjaannya.
"Nyonya Anda bisa beristirahat di dalam sana!" tunjuknya pada sebuah kamar yang baru saja dibersihkannya.
Sumayah beranjak dengan hati-hati, bersama Salim di gendongannya ia masuk ke dalam kamar yang ditunjuk wanita tadi.
Kamar bernuansa serba hitam dan putih, khas seorang laki-laki lengkap dengan segala hiasan yang terpasang di rak dinding. Aneka miniatur robot, pahlawan dalam cerita fiksi, dan kendaraan menjadi penghias kamar itu.
"Apa ini kamar putra kalian?" tanya Sumayah melirik pada dua orang tua yang berdiri di ambang pintu.
"Benar, Nyonya. Dia sangat jarang pulang, bekerja di kota katanya sebagai bodyguard atau apalah itu. Sekali pun dia pulang hanya menginap sehari di rumah ini," jawab wanita tua itu dengan bergetar.
Pandangannya sendu, mungkin dia merindukan sosok putranya itu. Sumayah kembali melihat-lihat seisi kamar.
"Kami permisi, Nyonya! Anda segeralah tidur, istirahatkan tubuh Anda, Nyonya." Keduanya undur diri secara perlahan menutup pintu dan ikut beristirahat di kamar mereka.
Sumayah beralih pada ranjang king size yang dibalut seprei bercorak catur. Ia merebahkan Salim dengan hati-hati. Merasa tak nyaman dengan keadaan tubuhnya, ia ingin membersihkannya sekejap.
Berendam sebentar membuat semua otot di tubuhnya merenggang dan terasa nyaman. Sumayah merangkak perlahan-lahan agar tidak membangunkan Salim yang terlelap. Ia merebahkan diri di samping bayi itu, merangkulnya dengan lembut.
Sebelum kelopak matanya menutup, tak sengaja matanya menangkap sebuah figura kecil yang terpasang di atas nakas samping ranjang. Sumayah mengambilnya dengan hati-hati. Menelisik foto seorang pemuda yang gagah berdiri mengenakan pakaian serba hitam.
Dahinya berkerut. Sontak ia beranjak duduk saat ingatannya tentang pemuda itu mencuat ke permukaan.
"Di-dia? Jadi ... mereka ...?" Lidah Sumayah kelu tak dapat melanjutkan kalimat yang sudah berada di ujung lisannya. Ia menggeleng sembari menutup mulutnya agar tidak menjerit.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Bagaimana jika ...?" Sumayah kembali menggeleng, rasa cemas yang sempat hilang beberapa saat kembali hadir dan membuatnya gelisah.
__ADS_1
Ia meletakkan kembali figura itu di tempatnya. Berbaring dengan rasa gundah yang melanda.
"Aku harus memastikannya pada mereka esok!" ucapnya sebelum memejamkan mata.