Sumayah

Sumayah
Permohonan Salim


__ADS_3

Langit bergetar saat mendengarnya


Bumi berguncang melihat tangisnya


Angin menderu menyaksikan kesakitannya


Awan kelabu merasakan perih hatinya


Air beriak saat terjatuh dari pelupuknya


*****


Sumayah berdiri sembari mendekap tubuh kecil Salim dengan erat. Matanya menatap tajam penuh murka tiada terbatas. Satu demi satu ditiliknya pengawal Kevin yang mengepung. Juan, tidak ada Juan di antara mereka. Hiro, di mana dia?


"Anda tidak bisa lari lagi, Nyonya. Serahkan Tuan Muda kepada kami. Ini perintah Tuan yang tidak bisa Anda tolak!" ucap salah seorang dengan lencana kepemimpinan di dada kirinya.


Sumayah bergeming tubuhnya waspada.


"Ibu!" lirih suara Salim bergetar di telinga Sumayah. Wanita itu tidak menunjukkan kelemahannya sama sekali. Ia tetap berdiri tegak tanpa bergetar.


"Siapa kalian berani memerintahku! Aku wanita bebas, tidak patuh pada siapa pun termasuk pada bajingan itu!" ucap Sumayah penuh penekanan.


Matanya bertemu dengan netra kejam milik pemimpin pasukan itu. Sumayah baru melihatnya. Mungkin dia orang si wanita ular itu.


"Sekeras apa pun sikap Anda, kami tidak bisa membiarkan Anda pergi dengan membawa Tuan Muda lagi! Serahkan Tuan Muda kepada kami secara baik-baik dan mati dengan sukarela. Atau kami perlu melakukannya dengan kekerasan dan mati secara menyakitkan!" tegasnya tak memberi pilihan lain pada Sumayah selain melawan dan bertahan.


"Ibu!" Tangis Salim mulai terisak. Kedua tangannya yang melingkar di leher Sumayah, mengerat seiring rasa takut semakin meraja.


"Tenang, Salim! Kita akan berjuang bersama-sama!" ucap Sumayah memberi sapuan yang menenangkan pada tubuh berguncang Salim.


"Baik, jika itu pilihan Anda kami terpaksa merebutnya dari Anda! Ambil Tuan muda bagaimana pun caranya!" titahnya melirik ke belakang tubuh pada mereka yang berdiri berjejer.


"Ibu! Aku tidak mau!" isak Salim lagi semakin terbenam wajahnya di pundak Sumayah.


"Ibu tidak akan membiarkan Salim direbut mereka!" Lagi-lagi Sumayah meyakinkan anaknya meski tidak berpengaruh apa pun.


Mereka mulai bergerak, menambah waspada pada Sumayah akan serangan yang mungkin diterimanya.


Sumayah melawan, satu tendangan berhasil membuat orang yang mendekat padanya jatuh tersungkur ke belakang. Ia pernah dilatih Kevin dengan bela diri. Katanya 'agar kau bisa melindungi diri sendiri saat jauh dariku'. Manisnya!


"Kurang ajar!" Ia bangkit dan bersama yang lain mengeroyok Sumayah.

__ADS_1


Tiga atau empat orang masih bisa ditangani Sumayah, tapi keadaan tangannya yang tak bisa lepas dari Salim membuatnya melemah. Ia melawan sambil mempertahankan Salim dalam dekapan.


"Ibu! Ibu!" Suara tangis Salim semakin menjadi saat terjadi guncangan. Sumayah masih melawan dengan mengandalkan kedua kakinya yang gesit.


Sayang, jumlah yang tak imbang membuatnya harus bertahan. Pukulan demi pukulan dilayangkan pengawal Kevin pada kedua tangan Sumayah agar melepaskan Salim.


"Ibu! Ibu! Jangan pukuli Ibuku! Jangan pukuli Ibuku! Hentikan! Jangan pukuli Ibuku! Aku tidak mau ikut kalian, aku tidak mau! Berhenti memukuli Ibuku!" jerit Salim memohon.


Suara tangisnya menggentarkan langit dan bumi, meneteskan air mata para Malaikat yang jatuh sebagai hujan yang lebat. Bertahanlah, Sumayah!


Tiga orang berusaha melepaskan pelukan Salim pada Sumayah. Sisanya masih saja memukuli tubuh wanita itu yang belum juga melepaskan pelukan meski darah dan lebam sudah diterimanya di mana-mana.


"Jangan lepaskan Salim! Jangan! Biarlah Ibu mati dalam pelukanmu, Ibu tidak apa. Jika pun Ibu mati, kita akan bertemu lagi nanti. Jangan lepaskan!" pinta Sumayah berbisik di telinga Salim.


"Ibu! Ibu! Ibu tidak boleh mati. Ibu tidak boleh mati. Ibu harus hidup untuk Salim, Ibu tidak boleh mati!" mohon Salim.


Air mata keduanya berbaur dengan air hujan yang turun kian deras. Pelukan keduanya semakin mengerat di tengah hantaman para pemukul Kevin.


Sumayah berdesis, tapi ia tetap berdiri kokoh di tempatnya. Bajunya terkoyak, dua orang membuka tangannya di punggung Salim yang saling mengait.


"Jangan lepaskan, Ibu! Jangan!" Suara Salim memberi semangat pada hati Sumayah yang melemah. Ia kembali kuat.


"Jangan pukuli Ibuku! Jangan pisahkan aku dari Ibuku! Jangan pukuli Ibuku!" pinta Salim berkali-kali.


Satu balok kayu menghantam kepala Sumayah bagian belakang. Pegangannya melemah, Salim direbut paksa oleh mereka karena lemahnya tubuh Sumayah.


"Ibu! Tidak ... Tidak! Lepaskan aku! Lepaskan aku! Ibu, Ibu bangun! Tolong aku, Ibu!" jerit Salim meronta dalam dekapan salah satu dari mereka.


Sumayah ambruk dengan darah yang merembes dari belakang kepalanya.


"Sa-lim! A-nakku!" Pandangannya memburam karena luka yang begitu hebat. Pukulan itu dilayangkan dengan tidak terkira.


"Ibu, bertahanlah, Ibu! Ibu tidak boleh mati! Ibu harus kuat. Ibu, buka mata Ibu! Jangan tidur, Ibu!" Suara jeritan Salim menggema di tengah hujan.


"Kurang ajar kalian! Aku tidak mau ikut dengan kalian, lepaskan aku!" teriak Salim lagi semakin meronta-ronta.


"Sa-lim!" Tangan Sumayah terangkat dengan lemah. Jatuh tak bertenaga menghantam pasir yang basah.


Pemimpin kelompok itu maju beberapa langkah mendekati Sumayah. Berhenti di dekatnya dengan pandangan jijik yang ia berikan.


"Bunuh dia!" titahnya tanpa perasaan.

__ADS_1


Kedua mata Salim membulat sempurna. Mendengar kata bunuh, itu artinya Sumayah akan mereka bunuh. Salim menatap Sumayah yang lemah dengan mata basahnya yang tak henti mengucurkan air dari pelupuk. Ia mulai menangis histeris saat melihat Sumayah tersenyum.


Darah masih belum berhenti keluar dari kepalanya. Menggenang merah bercampur dengan air hujan.


Seseorang yang menegang balok kayu bersiap menghantam kembali kepala Sumayah. Salim semakin kuat memberontak.


"Tidak! Jangan bunuh Ibuku! Lepaskan aku! Jangan bunuh Ibuku!"


Cekalan tangan dua laki-laki itu terlepas. Kaki kecilnya berlari dengan cepat. Menubruk tubuh Sumayah yang lemah. Mendekapnya dan menciumi wajah Ibunya itu.


"Ibu ... Ibu! Jangan bunuh Ibuku! Jangan bunuh Ibuku! Jangan ... jangan!" ucap Salim mendekap tubuh Sumayah di bawah guyuran derasnya hujan.


Seseorang yang mengangkat balok kayu mematung di udara saat beberapa detik lagi ia hantamkan balok itu, kedatangan Salim menghentikannya.


"Sa-lim! Maafkan Ibu. Ibu tidak bisa melindungi Salim, Ibu tidak bisa mempertahankan Salim. Ibu begitu lemah, maafkan Ibu, Nak!" ucap Sumayah terbata-bata dan lemah.


Salim menegakkan tubuh, memandang laki-laki yang berdiri tak jauh. Ia menangkupkan kedua tangan di dada dengan mata yang terus berair.


"Tolong ... biarkan Ibuku hidup! Biarkan Ibuku hidup ... biarkan Ibuku hidup! Jangan bunuh Ibuku ... jangan! Aku akan ikut dengan kalian, tapi biarkan Ibuku hidup ... biarkan Ibuku hidup! Jangan bunuh Ibuku ... jangan! Kumohon ... kumohon ... kumohon!"


Salim menundukkan wajah memohon.


"Salim!" Suara Sumayah gemetar. Ia tak kuasa melihat putranya menangis dan memohon untuk hidupnya. Sumayah menangis.


"Kumohon! Lepaskan Ibuku! Biarkan Ibuku hidup!" mohon Salim lagi dengan nada yang lemah.


Laki-laki itu masih bergeming menatap bergantian antara Ibu dan anak yang sudah tidak berdaya. Sumayah semakin melemah karena luka di kepalanya masih saja mengeluarkan darah. Tanpa mereka bunuh pun ia akan mati dengan sendirinya.


"Baik! Biarkan dia hidup, dan bawa Tuan Muda bersama kita!" titahnya lagi.


Salim mendongak sekali lagi ia memohon, "Aku ingin memeluk Ibuku untuk yang terakhir kali. Kumohon, biarkan aku melakukannya!"


Laki-laki itu berpaling tanpa menjawab. Salim berbalik dan memeluk Sumayah.


"Kuatlah, Ibu! Ibu harus tetap hidup untuk menjemputku, aku menunggu Ibu datang menjemput! Kuatlah, Ibu! Bukankah Ibu bilang Sumayyah pun rela berpisah sementara untuk bersama lagi. Aku menunggu Ibu datang untuk kita berkumpul lagi!" bisik Salim yang seketika memberi harapan pada hati Sumayah.


Benar, ia harus tetap hidup untuk menjemput Salim. Ia harus tetap hidup untuk berkumpul bersamanya lagi.


Satu kecupan diberikan Salim pada pipi Sumayah sebelum sebuah tarikan tangan memisahkan mereka. Di bawah pandangannya yang semakin memburam, Sumayah melihat Salim pergi menjauh. Lalu, gelap pun datang menyelimuti hidupnya.


*****

__ADS_1


Episode ini ditulis dengan air mata author yang tak henti mengalir.


__ADS_2