
Ke mana lagi kaki kubawa pergi
Di mana lagi hati akan menemukan damai
Adakah tempat untukku bernaung
Dari kekejaman dunia yang meraung
Ke mana lagi aku harus pergi
Mencari sebuah tempat untuk si buah hati
Dalam perjalanan hidupku yang penuh liku
Derita dan air mata tak surut mengunjungiku
Ke mana lagi harus kubawa luka pergi
Melebur semua derita yang tak pernah bertepi
Tempat di mana aku bisa menemukan kedamaian
Tiada derita dan air mata yang akan kurasakan
Teguhlah hati! Kuatlah iman!
*****
"Ibu, siapa mereka? Kenapa kita harus bersembunyi? Lalu, untuk apa mereka berkumpul di rumah kita, Ibu? Siapa mereka?" cecar Salim dengan suara berbisik di telinga Sumayah.
Ia dan Salim baru saja turun dari angkot yang mengantar mereka kembali ke rumah. Alangkah terkejutnya Sumayah! Saat tinggal beberapa meter lagi dari rumahnya, ia mendapati para pengawal Kevin mengepung rumahnya. Di antara mereka ada seorang pemuda yang lamarannya ia tolak, juga seorang warga bersamanya. Apakah mereka yang melapor karena menginginkan imbalan yang tidak sedikit dari sayembara yang disebar Kevin.
"Ibu?" Salim mencoba menyadarkan Sumayah yang justru mematung di tempat mereka bersembunyi. Di sebuah pohon besar, keduanya menyembunyikan diri dari mata-mata jahat para pengawal Kevin.
__ADS_1
"Ya, Salim! Sebaiknya kita pergi dari sini, mereka yang ingin menangkap Ibu. Mereka orang-orang jahat, Salim. Ayo, Nak! Kita pergi saja," ajak Sumayah.
Digedondangnya Salim dan berbalik dari tempat itu dengan tanpa suara. Kembali ke jalan raya menunggu angkutan kota ke mana saja asal mereka pergi dari sana.
"Ibu, kita akan pergi ke mana? Apakah kita akan menemui Ayah? Bukankah Ayah bisa menolong kita, Ibu? Kenapa tidak pergi saja pada Ayah?" cerocos Salim saat keduanya telah sampai di pinggir jalan besar. Sumayah tidak menghentikan laju kakinya, ia terus berjalan menyusuri jalanan menjauh dari desa.
Berharap angkutan akan cepat datang agar ia bisa pergi secepatnya dari tempat bahaya itu.
"Kita tidak bisa pergi ke sana, Salim. Di sana pun tidak aman. Untuk saat ini jangan bertanya soal Ayahmu, Nak. Ibu pasti akan ceritakan tentangnya, tapi setelah kita berada di tempat yang aman. Jadi, tenanglah kita harus pergi dulu," sahut Sumayah yang membuat Salim terdiam tak bertanya lagi.
Perasaan Sumayah menjadi lega saat sebuah angkutan kota melintas di jalan tersebut. Ia langsung menaikinya bersama Salim yang duduk di pangkuan. Ia masih saja merasa was-was meskipun wajahnya tertutupi cadar yang membuatnya tidak mudah dikenali.
Namun, tidak dengan Salim. Para pengawal Kevin akan mengenalinya saat mereka melihat bocah itu. Wajahnya yang begitu serupa dengan Kevin yang dikhawatirkan Sumayah. Ia pasti akan tertangkap atau bahkan dipisahkan dan dibunuh mereka.
"Ibu mau ke mana?" tanya supir angkot melirik Sumayah dari kaca spion tengah.
"Tujuan akhir dari angkot ini ke mana, Pak?" Sumayah balik bertanya karena ia sendiri tidak tahu ke mana harus pergi.
"Mmm ... apa di sana ada tempat tinggal untuk pendatang seperti saya? Saya ingin mencari tempat tinggal baru yang jauh dari keramaian," sahut Sumayah lagi sembari menatap manik sang supir dari kaca yang sama.
"Oh, ada desa nelayan tak jauh dari pasar. Ibu bisa pergi ke sana kalau mau, tapi penduduk di sana sebagian besar adalah nelayan. Kehidupan di sana pun jauh dari hingar bingar kota, Bu. Asal kuat saja dengan bau ikan setiap waktu," celetuk supir itu asal.
"Tidak apa-apa, Pak. Tolong, antar kami ke sana!" pinta Sumayah dengan pasti. Tak apalah untuk sementara ia akan bersembunyi di desa nelayan itu. Semoga di sana jauh dari jangkauan Kevin dan para pengawalnya.
Angkutan kota itu terus melaju dengan hanya membawa penumpang Sumayah seorang. Mobil itu berhenti tepat di terminal kota. Keadaan sudah hampir gelap saat mereka tiba.
"Pak, ke arah mana desa nelayan?" tanya Sumayah sesaat setelah ia membayar ongkosnya.
"Ibu naik ojek saja dari sini, tukang ojek itu yang akan mengantar Ibu," ucapnya sembari menunjuk pada sekumpulan Bapak-bapak di sebuah pangkalan.
"Oh, baik terima kasih, Pak," tuturnya seraya mengajak Salim mendekati kumpulan.
Mata Sumayah memindai seluruh terminal. Gambar-gambar dirinya jelas terpampang di mana-mana. Di setiap sudut, di tiang-tiang listrik dan tiang terminal. Di ruko-ruko juga poster yang terpampang sangat besar di pinggir jalan.
__ADS_1
Ia menyembunyikan wajah Salim agar bocah itu tidak berbicara soal gambar dirinya. Banyak telinga yang terbuka, juga mata yang memandang.
"Assalamu'alaikum! Maaf, Pak. Ada yang bisa antar saya ke desa nelayan?" sapa Sumayah pada sekumpulan laki-laki yang sedang asik berbincang. Mendengar suara sapaan sontak mereka menoleh. Mata mereka memindai dari ujung kepala Sumayah hingga alas yang ia kenakan.
"Wa'alaikumussalaam, iya bisa," jawab salah satunya, "ayo, saya antar," lanjutnya seraya mendekati motor miliknya.
"Alhamdulillah!" sahut Sumayah seraya beranjak naik ke atas motor bersama Salim yang masih ia sembunyikan wajahnya.
Beruntung, di gambar tersebut tidak ada foto Salim sehingga membuatnya lebih tenang karena para penduduk tentunya tidak mengenali bocah itu.
Motor yang membawa Sumayah memasuki sebuah gang yang tidak terlalu sempit juga tidak terlalu besar. Mungkin akses lain untuk memasuki desa nelayan.
Cukup lama mereka berada di atas motor sebelum memasuki desa. Rumah-rumah yang terbuat dari bambu seadanya. Juga, bambu-bambu yang dianyam di depan rumah sebagai tempat untuk mereka menjemur ikan.
Deburan ombak menyambut rungu keduanya begitu mereka mulai memasuki desa. Sebuah hunian penduduk yang tak jauh dari pesisir pantai dan berbau khas ikan.
"Sudah sampai, Bu," ucap tukang ojek yang mengantar Sumayah sampai memasuki desa.
"Oya, Pak, di mana saya bisa menemukan kontrakan di sini? Apa ada yang menyewakannya?" tanya Sumayah sembari memberikan ongkos kepada laki-laki itu.
"Oh ... itu, di belakang masjid di sana ada kontrakan. Tengah saja, Bu. Kontrakan di sini terbilang murah," jawabnya menunjuk pada sebuah kubah masjid yang tertutup rumah-rumah penduduk.
"Terima kasih sekali lagi, Pak. Saya permisi, assalamu'alaikum!" pamit Sumayah seraya berjalan ke arah masjid yang ditunjukkan tukang ojek tadi.
Ia akan beristirahat di sana sembari menunaikan tiga raka'at sebelum pergi ke kontrakan.
"Ibu, apa kita akan tinggal di sini?" tanya Salim sesaat mereka duduk di serambi masjid.
"Iya, sayang. Uang yang Ibu punya tinggal sedikit, Ibu harus mengumpulkan uang untuk kita pergi dari kota ini. Di sini, Ibu bisa menjadi penjual ikan atau sebagainya. Setelah uang Ibu cukup, kita akan langsung pergi dari kota ini," jawab Sumayah apa adanya.
Salim tak lagi bertanya, mereka beranjak saat adzan Maghrib berkumandang. Menunaikan ibadah tiga raka'at bersama penduduk desa. Menerima sebuah wejangan usai dzikir dilakukan.
Setelahnya, Sumayah pergi ke kontrakan yang dimaksud. Kontrakan yang tak seberapa luas, hanya dua ruang di dalamnya. Tempat tidur dan juga dapur. Tak apa, yang penting tempatnya nyaman untuk ditinggali. Malam ini, ia akan beristirahat dan esok akan memulai perjuangannya di desa tersebut.
__ADS_1