
Entah bagaimana caranya, tapi pengacara muda itu berhasil membuat Sumayah bebas meskipun bersyarat. Ia akan mencari bukti dan saksi terkait kasus yang dialami Sumayah.
"Nyonya, terakhir saya dengar orang-orang yang Anda sebutkan telah berpindah kewarganegaraan, tapi Anda tidak perlu cemas saya sudah mengantongi alamat mereka. Hanya doakan saya agar saya berhasil membujuk mereka untuk ikut menjadi saksi nanti," ucap pengacara muda itu dengan tegas.
Sumayah terharu, ia tersenyum. Baginya, dapat menghirup udara bebas saja sudah cukup. Namun, ia pun bertekad membuka semua dan membeberkannya kepada Kevin.
"Baiklah, terima kasih. Aku tidak dapat membalas apa-apa atas apa yang kau lakukan untukku. Terima kasih," sahut Sumayah sembari menepuk lembut bahunya.
"Saya yang berterimakasih kepada Anda, Nyonya karena berkat kebaikan Anda Bapak saya selamat dari fitnah," katanya lagi.
"Apakah kita impas?" tanya Sumayah lagi sembari menilik manik hazel miliknya.
"Kita impas! Tapi belum karena saya belum bisa membebaskan Anda dari semua tuduhan," katanya lagi.
Sumayah memeluknya, pengacara muda itu lebih pantas menjadi adiknya. Yah ... apa salahnya jika mereka menjalin persaudaraan, bukan?
"Kami pergi, saya akan membawa serta Bapak karena saya tahu siapa mantan suami Anda. Dia bisa melakukan hal yang lebih kejam dari binatang buas sekali pun," ucapnya setelah melepas pelukan.
Keduanya berpisah, Sumayah kembali ke tempat persembunyiannya selama ini, sedangkan pengacara muda itu pergi bersama bapaknya. Semoga saja semua masalah dapat diselesaikan tanpa hambatan.
"Aku ingin bertemu Salim, apakah anak itu menjalankan perintah dariku?" gumam Sumayah saat ia berjalan menyusuri jalan besar yang tanpa sadar mengarah pada mansion Kevin.
Sudah satu Minggu berlalu sejak sidang pertama usai. Salim bersikap baik di rumah itu. Ia selalu ingat pesan Sumayah.
"Buat dia menyukai Salim dan menjauhlah dari wanita ular itu. Jangan menerima apa pun darinya, kalau bisa jauhkan juga ayahmu dari wanita itu juga anaknya." Pesan Sumayah selalu terngiang di telinganya.
Salim sedang bermain bersama Kevin. Melihat sikap Salim yang baik dan mulai patuh padanya, Kevin semakin menyayanginya. Ia memberikan perhatian penuh kepadanya dan pelan-pelan melupakan keberadaan Priscilla juga anaknya.
"Ayah, apa Ayah masih mencintai Ibu? Bagaimana kalau Ayah dan Ibu bersatu lagi? Salim akan sangat bahagia," ucap Salim di sela-sela permainannya.
Kevin terdiam, tak tahu apa yang harus ia katakan untuk menyahuti permintaan Salim.
"Kalau pun tidak kembali, pekerjakan saja Ibu menjadi pengasuh Salim. Ibu pasti tidak keberatan, dan dengan Ibu melihat Salim setiap hati Ayah tidak perlu khawatir lagi Ibu akan mengambil Salim dari rumah Ayah ini," lanjutnya kembali memberi saran.
"Akan Ayah pikirkan," sahut Kevin sembari mengusap rambut anaknya.
"Sial! Semakin lama anak itu semakin kurang ajar. Dia meracuni otak Kevin untuk dapat membawa wanita itu kembali ke rumah ini."
__ADS_1
Priscilla yang menguping geram mendengar percakapan keduanya. Semakin benci hatinya pada Salim. Ia berbalik meninggalkan ruang bermain bersama anaknya.
Sementara Sumayah kini telah berdiri di depan gerbang mansion milik Kevin.
"Aku ingin bertemu Tuan kalian!" katanya pada penjaga gerbang yang waspada saat melihat kedatangannya.
"Untuk apa Anda ingin bertemu dengan Tuan?" tanya penjaga dengan sikap yang keras.
"Jangan terlalu keras padaku, suatu saat kau akan memohon pengampunan dariku. Hanya panggilkan saja Kevin aku ingin bicara dengannya," ucap Sumayah bergeming pada pendiriannya.
Salah satu dari mereka masuk ke dalam mansion untuk melapor. Tak lama Kevin keluar bersama Salim. Ia sedikit terkejut saat mendengar Sumayah berada di depan gerbangnya. Bukankah wanita itu ada di dalam penjara?
Ia berjalan menghampiri, Salim mengikuti di belakang. Bocah itu sekuat hati menahan diri untuk tidak berlari ke arah Sumayah.
"Untuk apa kau datang?" tanya Kevin tanpa berniat menerima Sumayah sebagai tamu di rumahnya.
"Izinkan aku satu hari ini bermain bersama Salim, setelah itu aku akan pergi dan tidak akan mengganggu kalian lagi," pinta Sumayah tanpa ekspresi di wajahnya.
Kevin gusar, ia melirik Salim yang melayangkan tatap memohon padanya. Sudah satu Minggu ini ia menikmati senyum dan tawa anak itu. Ia tidak ingin kehilangannya lagi.
"Kalau kau takut aku akan membawanya pergi, maka kau bisa ikut untuk memantau kami," lanjut Sumayah lagi.
Ketiganya pergi menggunakan mobil Kevin, hal itu dilihat Priscilla dari jendela kamarnya. Ia menggeram kesal, marah dan kecewa juga sakit hati.
"Ikuti mereka! Dan laporkan padaku apa yang dilakukan mereka," titah Priscilla pada pengawalnya.
"Salim mau main di mana? Apa Salim pernah main di taman?" tanya Sumayah sembari mengusap kepala Salim yang duduk di pangkuan.
"Taman? Salim belum pernah main di taman," sahut Salim melirik Sumayah.
"Mmm ... apa Ayah belum pernah mengajak Salim bermain di taman? Di sana banyak anak-anak seusia Salim. Salim bisa berteman dengan mereka dan bermain bersama," lanjut Sumayah yang membangkitkan antusias Salim.
"Benarkah?" tanya Salim.
Mendengar percakapan Ibu dan anak itu, Kevin melirik ke arah mereka. Seandainya tak ada rasa benci, ia pasti sudah merasakan bahagia jalan-jalan bersama seperti saat ini.
"Ayah belum pernah membawa Salim ke mana pun, tapi Ayah selalu menemani Salim bermain di rumah," ucap Salim memuji Kevin.
__ADS_1
Membangga hati laki-laki itu mendengar Salim memujinya. Sumayah melirik dan mencibir.
"Oya? Sesekali mintalah pada Ayahmu untuk mengajakmu bermain di luar," saran Sumayah yang diangguki Salim.
Keduanya asik bermain di taman, berbaur dengan anak-anak lain seusia Salim. Bermain bola dan permainan lainnya dengan riang gembira.
"Ayah, ayo bermain bola!" teriak Salim pada Kevin yang hanya duduk di bangku taman sejak mereka datang.
"Ayolah, temani Salim bermain bola!" pinta Sumayah pula dengan senyum manis yang masih sama seperti dulu.
Terenyuh hati Kevin, hari ini tak ada sirat kebencian di kejora indah milik Sumayah. Maniknya memancar penuh cinta dan kasih sayang.
"Ayah!" Suara Salim membuyarkan lamunan Kevin dari kenangan manis di masa lalu.
"Ah ... iya!" Ia beranjak berdiri bermain bola kaki bersama anaknya. Bukankah hal sederhana seperti ini yang memberikan kebahagiaan. Dua orang yang bermusuhan, kini terlihat akrab seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.
"Kurang ajar! Sialan kau, Sumayah!" Priscilla geram sendiri saat sebuah laporan video kebersamaan mereka diterimanya. Ketiganya terlihat bahagia.
Kevin tidak sadar bahwa itulah awal kehancurannya. Menjelang Dzuhur Sumayah mengajak Salim pergi ke mushola taman untuk menjalankan kewajiban.
"Ayah, ayo kita shalat berjamaah!" ajak Salim seraya menggandeng tangan Kevin menuju mushola.
Kevin yang tak pernah lagi mengenal Tuhannya semenjak kedatangan wanita ular itu pun menjadi canggung dan gugup. Namun, demi menuruti keinginan Salim ia pun ikut melaksanakan kewajiban.
Berjamaah dengan dia yang menjadi imam. Tanpa sadar air matanya menetes teringat saat di mana ia selalu menjadi imam shalat untuk Sumayah. Rasa damai menyelimuti hatinya. Sudah lama rasanya ia tak merasakan kehangatan seperti ini.
Ya Allah ... betapa aku telah jauh dari-Mu. Ampuni aku, ampuni segala dosaku.
Dalam hati Kevin menyesal.
Senja datang begitu cepat, pandangan Kevin berubah terhadap Sumayah setelah seharian menemani mereka bermain. Hati kecilnya menginginkan Sumayah. Ia ingin Sumayah kembali padanya dan hidup bahagia dengannya. Dasar tidak tahu malu!
"Salim ... Salim tidak boleh lupa pesan Ibu," ucap Sumayah mengakhiri waktu kebersamaannya.
"Ibu, kenapa Ibu tidak tinggal bersama kami saja di rumah Ayah? Kita bisa bersama-sama terus," pinta Salim.
Sumayah tersenyum, "Ibu tidak bisa, sayang. Ayah dan Ibu sudah bukan suami istri lagi, sudah tidak terikat apa pun lagi. Bahagialah Salim di sana, tapi Salim harus tahu ... Ibu selalu mengawasi Salim. Ibu akan datang di saat mereka menyakiti anak Ibu," ucap Sumayah.
__ADS_1
"Salim percaya!" Salim memeluk tubuh Sumayah. Semua itu disaksikan Kevin dengan perasaan yang lain dari biasanya. Ke mana rasa benci dan dendam yang selama ini menguasai hatinya? Hari ini seolah menghilang entah ke mana.
"Kenapa kau tidak memikirkan dulu permintaan Salim? Kau bisa kembali ke rumah itu."