
Jangan pikir, saat kau meminta pertolongan kepada Allah ... maka Allah sendiri yang akan langsung menolongmu. Tidak! Allah akan mengirimkan tangan kanannya berupa seseorang atau apa pun itu untuk menjemputmu dari kesulitan hidup dan masalah. Maka sambutlah dengan gembira saat pertolongan itu datang.
******
Di bawa teriknya sinar matahari yang berada tepat di atas kepala, membuat kaki Sumayah mengayun semakin lemah. Berkali-kali ia membenarkan kain yang ia gunakan untuk menggendong bayinya agar tidak terjatuh.
"Ya Allah ... terik sekali! di mana ini?" gumamnya sembari menoleh ke kanan dan kiri. Tak ada apa pun, hanya pesawahan di sebelah kiri tubuhnya dan aliran sungai di sebelah kanannya.
Sumayah meneguk ludah membasahi tenggorokannya yang kembali mengering. Kerutan di dahinya semakin banyak berlipat, pening mendera hebat kepalanya. Kejoranya nampak memburam, penglihatannya berkunang-kunang tak jelas. Dunia sekitar berputar membuat denyutan di pelipis semakin menjadi-jadi.
"Ya Allah!" Sumayah merintih. Tangan kanannya memegangi kepala menahan nyeri yang mendera. Ia mengerjapkan mata guna mengembalikan penglihatannya. Namun, sia-sia semua.
Matanya menggelap, dunia berubah menjadi hitam pekat dalam penglihatan Sumayah.
"Ya Allah, ada apa ini?"
Brugh!
Sumayah terjatuh. Kesadarannya hilang direnggut rasa sakit juga lelah yang tak kuasa lagi ia tahan.
Tangisan Salim menggemparkan ikan-ikan di sungai. Menerbangkan burung-burung yang bertengger di dedahanan pohon. Bayi itu menangis sekuat-kuatnya mencari siapa saja yang bersedia menolong Ibunya lewat jerit tangis yang ia perdengarkan.
Dua orang tua renta yang sedang menggarap sawah, tertegun saat rungu mereka menangkap suara tangisan bayi yang samar.
"Pak, apa Bapak dengar suara itu? Itu seperti suara bayi?" tanya wanita tua di ladang itu.
"Iya, Bu. Bapak dengar, suara bayi siapa, ya? Bukankah di sekitar sini tidak ada rumah penduduk?" tanya laki-laki itu pula dengan gurat bingung di wajahnya.
"Itu suaranya terdengar dari arah sungai di sana, Pak!" tunjuk wanita itu ke arah sungai yang selama ini menjadi tumpuan para petani di pinggiran desa Hulu Sungai ini.
"Benar, Bu. Ayo, coba kita lihat!"
Keduanya bergegas mendatangi sumber suara. Menerobos semak yang menjadi pembatas antara sungai dan pesawahan yang mereka garap.
"Pak, suaranya dari sana! Semakin keras dia menangis, Pak!" seru sang wanita menunjuk ke arah hilir sungai.
Mereka berlari saat suara tangisan bayi itu semakin keras terdengar.
"Maa syaa Allah, Pak! Ada orang di sana, Pak!" Ia kembali berseru begitu mata tuanya menangkap sosok Sumayah yang berbaring tak sadarkan diri. Di dekatnya, bayi merah tak henti menangis dan meronta. Sesekali tangannya akan mengemuti ibu jarinya sembari sesenggukan.
__ADS_1
"Ya Allah!" Wanita renta itu mengambil bayi dan menimangnya dalam gendongan. Sementara si lelaki membalik tubuh Sumayah menjadi terlentang.
"Ya Allah, Bu! Ini Nyonya!" Suara rentanya memekik terkejut. Menyentak wanita yang sedang menenangkan Salim di gendongan.
"Iya, Pak! Ini Nyonya! Ayo, Pak bawa ke gubuk!" Sigap lelaki tua itu mengangkat tubuh Sumayah yang kurus. Otot rentanya masih kuat menahan bobot Sumayah yang tak seberapa. Mereka membawanya ke sebuah gubuk di tengah ladang yang mereka garap. Gubuk yang mereka gunakan untuk beristirahat dari berladang.
"Ya Allah, apa yang terjadi pada Nyonya?" Wanita renta itu menangis melihat bagaimana bentuk tubuh Sumayah yang dipenuhi dengan luka. Terutama di bagian telapak kakinya yang terus mengeluarkan darah.
"Bu, Bapak cari susu sama obat dulu ke desa, ya. Jaga Nyonya di sini," pamitnya dengan segera mendapat anggukan kepala dari istrinya. Ia berjalan cepat bahkan sesekali akan berlari di pematang sawah yang terasa licin karena guyuran hujan semalam.
Butuh perjuangan untuk laki-laki tua itu agar sampai di jalan menuju desa. Ia terus mengayuh kaki menuju desa Hulu Sungai. Sesampainya di desa, tanpa menunggu waktu ia membeli semua yang dia perlukan.
"Terima kasih, Bu!" ucapnya tergesa.
"Eh, Pak. Ngomong-ngomong beli susu bayi untuk anak siapa? Apa Bapak sudah punya cucu?" tanya pemilik warung ingin tahu.
"Ah ... ini titipan, Bu. Punya saya cuma ini saja karena kaki istri saya terluka saat di ladang," jawabnya menyunggingkan senyum gugup.
Ia tak lagi bicara, gegas membawa langkahnya pergi. Ia takut terlambat menolong mereka berdua.
"Kau dengar? Nyonya kabur dari mansion Tuan, dan sekarang orang-orang Tuan sedang mencarinya." Laki-laki tua tadi menghentikan langkah mendengarkan dengan saksama kabar tentang Nyonya.
"Iya, pasti ada alasan kenapa Nyonya sampai melarikan diri dari sana. Ini pasti konspirasi untuk menjatuhkan nama Nyonya."
Pendapat penduduk itu membuat laki-laki renta tadi tersadar bahwa ia harus segera menyelamatkan Nyonya-nya.
"Kudengar orang-orang Tuan sedang menuju ke desa ini, mereka mencari Nyonya ke setiap sudut rumah."
Samar percakapan itu masih tertangkap indera rungunya.
"Aku harus cepat! Kalau sampai terlambat mereka akan menemukan Nyonya dan istriku," gumamnya seraya berlari meninggalkan desa. Lewati pematang sawah berlomba dengan mereka yang berseragam serba hitam.
"Bu! Kita harus memindahkan Nyonya dari sini!" serunya begitu tiba di dalam gubuk kecil itu.
"Kenapa, Pak?"
"Nyonya dalam bahaya, Bu! Kita harus mencari tempat aman untuk Nyonya bersembunyi," ucapnya lagi panik.
"Iya, tapi di mana, Pak?" Wanita renta itu turut gelisah mendengar penuturan suaminya.
__ADS_1
Di saat rasa cemas melanda keduanya, Sumayah melenguh disertai ringisan akibat nyeri di sekujur tubuhnya.
"Nyonya!" Keduanya segera menghadap Sumayah yang masih terbaring dengan mata terpejam. Mendengar suara yang memanggilnya, perlahan Sumayah membuka kelopak mata. Seketika kepalanya berdenyut saat ia membuka mata dan menatap kedua orang tua asing di depannya.
"Siapa kalian? Dan di mana ini?" tanya-nya bingung.
"Kami hanya penduduk di sini, Nyonya. Semua itu tidaklah penting, yang terpenting kita harus segera membawa Nyonya dari sini karena orang-orang Tuan sedang menuju ke desa ini," ucapnya.
"Air!" Sumayah meneguk ludah. "Ah ... di mana bayiku!" pekiknya saat sadar bahwa ia bersama bayinya tadi.
"Dia di sini, Nyonya." Wanita renta itu memperlihatkan Salim di gendongannya. Sumayah mendesah lega. Ia mengambil air yang diberikan laki-laki renta padanya.
"Nyonya, apa Anda bisa berjalan? Kita harus cepat pergi dari sini!" tanya laki-laki itu semakin gelisah.
Sumayah mengangguk, dengan dibantu laki-laki tua ia beranjak berdiri. Meninggalkan tempat itu dan pergi ke arah belakang gubuk. Entah ke mana dua orang tua itu akan membawanya. Sumayah pasrah karena untuk berlari ia tak lagi sanggup melakukannya.
"Pak, di mana kita akan menyembunyikan Nyonya?" tanya sang Istri di tengah-tengah perjalanan mereka.
"Kita pikirkan nanti saat sudah menjauh dari tempat itu." Ia membenarkan rangkulan tangan Sumayah di pundaknya. Mereka bertiga terus melangkah menyusuri pematang sawah dengan hati-hati. Di kejauhan suara derap langkah yang terdengar banyak menambah ketegangan mereka.
"Mereka datang!" bisik si laki-laki tua. Ia mempercepat langkah membuat kaki Sumayah yang terluka kembali harus terseret rerumputan yang tumbuh di pematang itu.
"Cepat, Pak!" Gemetar suara wanita renta tadi seraya membawa langkahnya semakin cepat. Beruntung, ia sigap membuatkan susu untuk Salim begitu suaminya tiba di gubuk.
Mereka tiba di pinggiran hutan desa, masuk ke dalam dan bersembunyi di balik sebuah pohon mengistirahatkan tubuh mereka sejenak sembari berpikir di mana mereka akan menyembunyikan Sumayah.
"Istirahat dulu!"
"Pak, bukannya di sekitar sini ada rumah pohon yang dibangun? Bisa tidak kita pergi ke sana?" ucap wanita renta saat mengingat tempat tersembunyi di hutan itu.
"Ibu benar, sebaiknya kita ke sana!" Mereka kembali berdiri. Berkejaran dengan langkah orang-orang yang semakin banyak. Derap langkah mereka bahkan seolah menggetarkan tanah yang mereka pijak.
"Cepat, Pak!" Panik dan takut semakin membuat ketiganya gemetar.
"Apa masih jauh? Aku lelah, kakiku sakit," keluh Sumayah dengan napas tersengal.
"Sebentar lagi, Nyonya. Tahan sebentar lagi!" ucap laki-laki tua itu menyemangati Sumayah.
"Di sana!"
__ADS_1
Suara teriakan itu menyentak ketiganya.